I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 95


__ADS_3

Mia mengetuk pelan pintu rumah besar bercat merah muda milik Madame Rose yang kini ditinggali oleh Benjamin Chevalier dan putranya Daren. Setelah menunggu beberapa menit, pintu pun dibuka dari dalam oleh seorang pria berambut hitam panjang yang Mia kenali sebagai salah satu personel The Rebellion. Hanya saja dia tidak ingat namanya.


Ya ampun, bertemu dengan orang - orang terkenal yang hanya pernah dilihat di media - media sungguh membuat perutku keram.


"Yes, Miss .. can I help you?"


"Emm .. aku guru les biola Daren," jawab Mia gugup.


"Owh, tentu saja." Pria itu melirik ke arah tas biola yang digendong Mia. "Silahkan masuk," ujarnya kemudian.


Mia mengangguk dan kemudian segera masuk ke dalam rumah. Menuju ke ruang bermain Daren, gadis itu harus melewati sebuah ruang tamu yang cukup luas. Dadanya berdegup kencang ketika mendapati para personel The Rebellion termasuk Ben, tengah berkumpul di sana. Pria yang tadi membukakan pintu untuknya kini duduk di antara mereka.


Mia membungkuk pelan, ketika menyadari ke empat pria yang semuanya berambut panjang itu menatap ke arahnya. Salah satu dari mereka, melambai padanya dan melemparkan senyum. Mia hanya membalasnya dengan kembali membungkuk pelan. Dengan perasaan yang campur aduk, Mia segera bergegas menuju ruang bermain Daren.


.


.


"Dari mana kau dapat guru les biola semanis itu untuk Daren?" tanya Marcus pada Ben sembari terkekeh. Liam memukul kepala Marcus pelan. Pria itu mengaduh.


Ben terbahak melihat tingkah keduanya. "Rekomendasi dari Rose," jawab Ben sembari menyetem gitar akustiknya.


"Damn, Rose pintar sekali memilih guru yang cantik untuk bocah kecil itu. Sepertinya aku akan sering datang kemari di akhir pekan," ujar Marcus yang disambut dengan desisan Greg dan Liam.


Ben hanya mengedikkan bahunya. Tak menanggapi kata - kata Marcus barusan.


"Siapa namanya?" tanya Marcus.


Ben menoleh ke arah Marcus. "Mia."


"Hmmm .. Mia, Mia ...." gumam Marcus. Greg dan Liam terkekeh. Keduanya menggeleng.


"Apa aku boleh mendekatinya, Ben?" tanya Marcus kembali.


Ben mengerenyitkan dahinya. "Terserah kau saja, bukan urusanku."


Marcus melonjak kegirangan. Kembali terdengar desisan dari mulut Greg dan Liam.


.


.


"Miaaa!" seru Daren begitu melihat Mia muncul dari balik pintu. Bocah kecil itu menghambur ke arahnya.


"Hello, Daren, you look good," puji Mia sembari memeluk Daren. "Hi, Jackelyn," sapanya kemudian pada baby sitter Daren yang tengah merapikan mainan yang berserakan di lantai.

__ADS_1


"Hi, Mia," sahut Jackelyn sembari melambai ke arah gadis itu. "Daren, aku akan meninggakanmu dengan Mia, okay?" ujarnya seraya meninggalkan ruangan itu.


"Ookayyy!" seru Daren penuh semangat.


"Daren, ambil biolamu," perintah Mia ketika hanya ada mereka berdua di dalam ruangan.


Daren bergegas mengambil biola kecilnya. Kemudian dengan terampil mulai meletakannya di bahunya.


"Ayo belajar lagu twinkle twinkle little star."


"Yeaayy!"


"Okay, Daren, mulai dengan open string di kunci A, kemudian open string di kunci E. Coba kau gesek bow mu."


Daren mengangguk. Dengan gerakan yang masih kaku, bocah kecil itu mulai menggesekkan bow nya ke atas senar yang diinstruksikan Mia.


"Twinkle, twinkle .. little star, open string A, open string E, lalu G, coba kau tekan senarnya dengan jari tengahmu, Daren."


Mia membimbing jemari kecil Daren menekan kunci G. "Yes, like this, good job," puji Mia. Daren meringis senang.


Setengah jam lebih kemudian, setelah trial and error yang dilakukan Daren tanpa menyerah, bocah tampan itu berhasil memainkan lagunya dengan baik. Walaupun bownya masih sering bergesekan dengan senar yang seharusnya tidak digesek.


"Wow, kau belajar dengan cepat, Daren." Mia bertepuk tangan ketika Daren menyelesaikan lagunya.


"I wanna thhry another songzh," ujar Daren dengan suara cadelnya.


Tanpa disadari keduanya, Ben mengawasi aktifitas belajar mengajar itu dari luar pintu. Pria itu menyandarkan punggungnya di dinding lorong seraya melipat kedua tangannya di dada, tersenyum melihat Daren yang begitu bersemangat mengikuti arahan Mia.


***


FORT GREEN PARK, BROOKLYN, NEW YORK.


Mia merebahkan badannya di atas rerumputan yang tertutup salju tipis. Menengadahkan wajahnya ke langit, dan membiarkan salju menempel di mantel tebalnya.


"Brand ...," panggilnya pada Brandon, yang juga tengah merebahkan badan di sampingnya, berjarak beberapa centi saja.


"Ya?" sahut pria bermata cokelat itu sembari menoleh ke arah Mia. Menatap wajah manis gadis itu yang masih tengadah ke arah langit.


"New York itu keras ya? Aku merasa sangat lelah," kekeh Mia.


"Semua orang tahu kalau New York itu keras," sahutnya.


Mia menghela nafas dalam - dalam. Kemudian memejamkan matanya. Menikmati hembusan angin musim dingin yang menusuk ke dalam pori - pori wajahnya.


"Hei, kau punya aku," ujar Brandon sembari mengelus puncak kepala Mia lembut. "Aku akan selalu ada kapanpun kau membutuhkanku."

__ADS_1


Mia membuka matanya. Menoleh ke arah Brandon yang tengah menatapnya. Mata keduanya kini bertemu. Seketika pria itu terkesiap. Wajahnya terasa menghangat.


"Maksudku, kita sahabat, bukan? Kau bisa .. mengandalkanku," ujarnya gugup.


Mia tersenyum. Hampir saja gadis itu salah mengartikan kata - kata Brandon sebelumnya.


Brandon berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya. "Bagaimana pekerjaanmu? Semua lancar?" tanyanya.


"Melelahkan. Tapi baik - baik saja."


Brandon berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Mia.


"Ayo, kutraktir kau makan Pot Roast," ujarnya.


Mia tersenyum lebar sembari menyambut uluran tangan Brandon. Lalu keduanya berjalan menelusuri jalan setapak di dalam taman yang lengang.


***


Ben menggandeng tangan Daren masuk ke dalam sebuah restauran di daerah Nostrand Avenue, Brooklyn. Sebuah restauran bernama Applebee's Grill yang cukup lengang. Ben hanya berniat membungkus makanan dan membawanya ke Linden Center di mana Madame Rose tinggal.


"Daddy, that's Mia," ujar Daren seraya menunjuk ke arah meja di dekat jendela. Ben mengikuti jari telunjuk Daren dan melihat Mia yang tengah duduk menikmati menu makanan yang sepertinya adalah pot roast, bersama dengan seorang pria berambut semi panjang. Sesekali gadis itu tertawa terbahak - bahak dengan gurauan pria di hadapannya itu. Ben memperhatikan Mia beberapa saat.


"Daddy, can I say hello to Mia?" Suara Daren membuatnya terkesiap.


"No, Daren, you stay here," ujar Ben. Wajah bocah kecil itu terlihat kecewa. Bersamaan dengan itu, seorang pelayan mengantarkan bungkus pesanannya. Setelah menyelesaikan pembayaran, segera saja Ben menggandeng putranya itu keluar dari restauran.


.


.


"Hmmm .. Brand, ini enak sekali," gumam Mia dengan mulut penuh potongan pot roast. "Kau baik sekali mentraktirku makanan seenak dan semahal ini?"


Brandon terkekeh. "Agar suasana hatimu bisa lebih baik."


"Cokelat panas dan kacang panggang saja sudah cukup," ujar Mia.


"It's okay, ini bisa memperbaiki gizimu," gurau Brandon. "Agar kau kuat menghadapi New York yang keras."


Mia tertawa terbahak - bahak mendengar gurauan sahabatnya itu. Dalam hati dia membenarkan, selama tinggal sendiri, dia memang jarang makan makanan enak. Bahan makanan yang dibelinya harus disesuaikan dengan dompetnya.


Mia menoleh ke arah pintu restauran, sekilas dilihatnya seorang anak kecil yang mirip sekali dengan Daren digandeng seorang pria berambut pirang panjang baru saja keluar dari pintu dan menjauh. Gadis itu mengerenyitkan dahinya.


"Ada apa, Lammy?" tanya Brandon.


"Huh? Owh, nothing, sepertinya tadi aku melihat seseorang yang aku kenal. Tapi mungkin aku salah lihat." jawab Mia masih dengan pandangan yang tak lepas dari pintu restauran.

__ADS_1


***


__ADS_2