I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 78


__ADS_3

"Ben, aku mau berjalan-jalan sebentar." Laras berpamitan pada Ben ketika menemukan lelaki itu tengah duduk di mini bar dapur. Ben tidak sendiri, di sampingnya duduk seorang wanita paruh baya berambut pirang yang masih terlihat ramping dan cantik. Keduanya tengah menikmati sebotol champagne.


"Laras, perkenalkan ini Monica, ibuku." Ben berdiri dan menyuruh Laras yang terbengong di depan pintu untuk mendekat.


"Hai, senang bertemu denganmu, Laras .. kau cantik sekali, Ben bercerita banyak tentangmu," ujar Monica sembari menyalami Laras.


"Hi, Mrs. Chevalier," sapa Laras sedikit gugup.


"Ah, panggil Monica saja ...." Monica mengibaskan telapak tangannya. "Ow, tadi kau bilang kau mau berjalan-jalan, biar kutemani."


"Emm .. tidak - usah, Monica, aku tidak mau merepotkan," ujar Laras.


"Aku tidak merasa direpotkan, ah, Ben, kau di sini saja, ini urusan wanita." Monica kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Ben.


Lelaki itu mengangkat kedua telapak tangannya pertanda dia tidak akan ikut campur.


Monica mengajak Laras berjalan-jalan ke belakang rumah tepatnya di pinggir danau. Udara pagi itu terasa dingin.


"Pemandangannya bagus sekali, sungguh mengagumkan," gumam Laras seraya menyapu pandangan berkeliling.


"Kau harus datang lagi di musim panas, fantastik," sahut Monica.


Laras tersenyum. Memandang Monica sekilas. Kini gadis itu tahu garis wajah tampan Ben diturunkan dari siapa. Ibunya Ben ini cantik sekali, tubuhnya pun semampai, dan dia adalah seorang wanita yang sangat ramah.


Monica mengajak Laras duduk di sebuah bangku panjang yang ada di pinggir danau.


"Kalian beruntung sekali, memiliki tempat seindah ini," puji Laras. Monica tertawa renyah. Lalu mengibaskan telapak tangannya.


"Tempat ini milik Rose, nenek Ben, kau sudah bertemu dengannya? Dia tinggal di Manhattan."


Laras mengangguk. "Sebelumnya aku pernah bekerja paruh waktu di rumah Madame Rose."


"Oh bernarkah?"


"Iya, Ben tidak bercerita padamu tentang itu?" tanya Laras.


"Tidak, dia sibuk menceritakan tentang betapa dia sangat mencintaimu dan beruntung bisa memilikimu."


Laras terkekeh mendengar perkataan Monica.


Dasar Ben, sungguh berlebihan.

__ADS_1


"Mungkin akulah yang beruntung, aku bukan selebriti atau anak jutawan, hanya gadis biasa yang mencoba bertahan hidup di New York," ungkap Laras.


"Apakah semua itu penting jika cinta sudah berbicara?" sahut Monica. "Aku tahu seperti apa Ben, kalau dia sudah jatuh cinta, dia tidak akan main-main lagi."


Hati Laras berdesir mendengar ucapan Monica. Ada rasa hangat yang mengalir di dalam hatinya. Rasa kesalnya pada Ben berangsur-angsur memudar. Ah, berbicara dengan Monica membuat Laras merindukan Ben, padahal si menyebalkan itu ada di dalam rumah. Laras mentertawakan dirinya dalam hati.


"Aku rasa anak itu benar-benar jatuh cinta padamu, Laras," ucap Monica yang membuat dada Laras bergemuruh. "Baru kali ini dia mengenalkan pacarnya padaku, bahkan mantan pacarnya dulu, emm, Wallis, tidak dia kenalkan padaku."


Laras tersipu. Kini pipinya memerah. Ucapan Monica membuat hatinya semakin menghangat. Ingin rasanya berlari ke dalam rumah dan memeluk si menyebalkan itu dengan erat.


"Ah, kau mengambil jurusan apa di Columbia?" tanya Monica membuyarkan lamunan Laras.


"Pelatihan guru," jawab Laras.


"How nice." kata Monica. Laras tersenyum. Ah sungguh nyaman berbicara dengan wanita ini. Dia begitu antusias menanggapi semua perkataan Laras.


"Ben bilang kau berasal dari Indonesia .. aku pernah berlibur ke Bali, sepertinya Ben juga sudah pernah berlibur ke sana beberapa tahun lalu. Heaven on earth," ujar Monica dengan mata berbinar.


"Aku tinggal di Jogjakarta."


"Hmm .. aku pernah mendengar nama kota itu, mungkin lain kali aku akan berkunjung ke sana .. dan mengajak Ben." Senyum Monica terbit. Entah apa makna dari senyum itu. Laras hanya bisa membalas senyuman wanita itu.


Kembali disapunya pandangan ke sekeliling. Masih saja takjub dengan pemandangan yang terbentang di hadapannya itu.


***


"Bagaimana jalan-jalannya?"


Laras hampir saja menyemburkan cairan yang ada di mulutnya karena terkejut mendengar suara Ben yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.


"Kenapa kau suka sekali mengagetkanku?" gerutu Laras. Wajahnya bersungut-sungut ketika melihat Ben yang tengah mentertawakannya.


"Owh .. I'm sorry, baby," ucap Ben di sela-sela tawanya. Didekatinya gadis itu dan direngkuhnya kepala Laras ke dalam pelukannya tanpa perlawanan apapun.


"Apa marahnya sudah selesai?" tanya Ben.


"Masih," sungut Laras. Namun tak berusaha melepaskan pelukan Ben.


"Baiklah." Ben menciumi puncak kepala Laras dengan gemas. Selanjutnya diangkatnya dagu gadis itu kemudian dipagutnya bibir Laras dengan lembut. Laras memejamkan matanya, menikmati ciuman Ben yang mampu membuatnya melayang itu.


"Boleh aku tidur di kamarmu malam ini?" bisik Ben seraya menciumi leher Laras dan membuat gadis itu membuka matanya.

__ADS_1


"Tidak!" ujarnya seraya mendorong dada Ben pelan. Senyum jahil Laras mengembang melihat reaksi kecewa dari wajah Ben. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Ben yang tampak frustasi.


"Baby .. come on!" seru Ben ketika Laras berjalan menjauhinya dan menghilang di balik pintu.


***


Laras membuka matanya ketika dirasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang sembari menciumi tengkuknya.


"What are you doing here?" lenguh Laras pelan.


"Mencumbui kekasihku," jawab Ben tanpa menghentikan aktifitasnya.


"Jam berapa ini, aku mengantuk sekali," sahut Laras. Namun tubuhnya tidak sinkron dengan perkataannya. Laras menikmati setiap sentuhan Ben di lekuk tubuhnya.


"Ohya? Kita lihat saja apa setelah ini kau masih mengantuk."


Ben membalikkan tubuh Laras dan kembali menciumi leher Laras dan terus turun menelusuri bagian dada dan pinggang.


"Ben, stop it." Laras berusaha mendorong kepala Ben pelan.


"I can't stop," ucap Ben dengan nafasnya yang memburu.


"Please," lenguh Laras.


"Aku tidak bisa mendengarmu," ujar Ben tanpa mempedulikan ucapan Laras.


"Babe, stop!"


"You call me what?" tanya Ben seraya menghentikan aktifitasnya. "How sweet," ujar Ben seraya mensejajarkan kepalanya dengan wajah Laras.


"Aku masih marah padamu!" seru Laras sembari memalingkan wajahnya ke samping.


"Ohya?" Ben mengambil dagu Laras menghadap wajahnya kembali. "Kau yakin?" tanya Ben seraya memasang wajah tertampannya. Mengacak rambutnya hingga anak-anak rambutnya jatuh di atas keningnya. Lalu ditariknya sudut bibirnya ke atas membentuk senyuman miring.


Oh, ibu alam semesta, makhluk apa ini menggemaskan sekali.


Tawa Laras berderai-derai. "Wajah tampanmu tidak bisa menolongmu dari kemarahanku," ujar Laras. Dadanya berdegup kencang. Hingga Ben hampir bisa mendengarnya suara degupannya.


"Baiklah kalau begitu, aku terpaksa melakukan ini." Ben menangkap pergelangan tangan Laras dan membawa kedua lengannya ke atas kepala gadis itu dan menahannya dengan satu tangan Ben, sedang tangan yang lain dengan leluasa bergerak membuka kancing baju di dada Laras. Mata gadis itu membulat sempurna.


"Kau mau apa?" tanya Laras berpura-pura bodoh. Tentu saja dia tahu apa yang akan dilakukan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Ben!!"


***


__ADS_2