
"Isi wawancara dengan NBC itu benar-benar di luar dugaan, what the f***k!" seru Marcus sembari menenggak botol birnya.
Liam terbahak. Mengingat dia menjawab pertanyaan dari Mark Villiard, sang pembawa acara, tentang Marcus yang begitu buruk.
Marcus hendak memukul puncak kepala Liam namun dengan sigap Liam menyilangkan lengannya melindungi kepalanya.
"Anyway .. apa kalian masih memperebutkan Laras?" tanya Marcus pada Ben dan Greg
yang duduk di hadapannya. Greg yang tengah meneguk botol birnya hampir saja tersedak. Sementara Ben tersenyum lebar memperlihatkan gigi taringnya yang menggemaskan.
"Wah kalian sedang terlibat perang dingin ya?" celetuk Liam, persis seperti yang dikatakan Mark Villiard.
Ben dan Greg saling berpandangan. Kemudian keduanya terbahak.
"Cheers, mate!" ujar Ben dengan membuat aksen Australia yang lucu seraya mengangkat botol birnya ke arah Greg.
Greg menyentuhkan botol birnya ke botol yang dipegang Ben. Kemudian keduanya menenggaknya bersama-sama.
"Friendship is more important, isn't it?" celetuk Greg seraya merangkul Ben mesra.
"Get a room you two!" seru Marcus dengan risih melihat tingkah kedua lelaki tampan itu.
Hanya suara mereka berempat yang masih terdengar di dalam bus, kru yang lain telah terlelap kecuali sopir, tentu saja.
Perjalanan dari Chicago, Illinois menuju venue kedua Rebellion di Houston, Texas menempuh jarak sekitar 14 jam. Perjalanan malam dihabiskan keempat sekawan itu dengan obrolan tidak jelas mereka yang sesekali diselingi tawa yang meledak-ledak.
***
Ben menghidupkan lampu tanda baca di atas kepalanya. Lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur kabinnya yang empuk. Tangannya menyambar sebuah kamera saku di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Ben tersenyum melihat foto-foto yang diambilnya beberapa waktu lalu di sebuah padang rumput di Pensylvania. Menampilkan wajah Laras dengan berbagai ekspresi.
Lalu dia menghentikan gerakan telunjuknya menggeser foto tepat pada dirinya yang tengah mencium pipi Laras, dengan wajah terkejut Laras yang sangat lucu.
Ah, Ben sangat rindu dengan gadis itu. Rindu menggodanya hingga menggerutu dan bersungut-sungut. Rindu melihat ekspresi terkejutnya ketika Ben menemuinya dengan tiba-tiba, rindu segalanya tentang gadis asia yang manis itu.
Ben meraih ponselnya, ingin mengirimi Laras pesan. Jam menunjukkan pukul 3.30 pagi.
Pastilah dia sudah tidur, pikirnya. Cukup lama Ben memandangi layar ponselnya, ketika tiba-tiba ada satu pesan masuk.
__ADS_1
Ben, kenapa kau tidak pernah menjawab pesan atau mengangkat telponku?
Senyum Ben menghilang. Anita yang mengiriminya pesan. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya mengacuhkan mantan pacarnya itu. Dengan berat hati dibalasnya pesan Anita.
Hi, Anita, I'm sorry, aku sangat sibuk, aku akan menelponmu kalau aku ada waktu.
Ben menekan tombol kirim. Lalu meletakkan ponselnya sembarang. Selang beberapa menit ponselnya kembali bergetar. Dengan malas Ben meraihnya.
Ben, this is Hailey, are you awake?
Ben membulatkan matanya. Darimana Hailey mendapat nomer telponnya. Ben mendesis, Jack!
Aku sudah tidur, tolong jangan ganggu aku, Hailey.
😂😂 .. okay aku akan mengganggumu lain kali, sweet dream, handsome 😘.
Ben kembali melempar ponselnya sembarang. Diletakkannya kedua lengan di belakang kepalanya. Matanya menatap langit-langit yang hanya berjarak setengah meter dari wajahnya. Dimatikannya lampu tanda baca yang masih menyala, menarik selimut tebalnya dan mencoba memejamkan matanya.
***
Ketukan pintu membuat Laras yang baru saja tiba di apartemennya dan hendak membuat makan siang, mengurungkan niatnya dan segera membuka pintu. Wajah James dengan senyumannya menyembul.
Laras menghela nafas dalam-dalam. Kemudian mempersilahkan James masuk.
"Just like old time huh?" ujar James. Keduanya telah duduk di meja makan. Dua piring besar orange chicken dan tumis brokoli segar, serta dua piring nasi yang telah di masak Laras terhidang di atas meja.
Laras hanya tersenyum menanggapi kata-kata mantan pacarnya itu.
"Di mana kau sekarang tinggal, James?" tanya Laras memulai pembicaraan.
"Aku tinggal di Brooklyn," jawab James sembari menyuapkan sepotong brokoli ke dalam mulutnya.
"Kau masih bekerja di City Limits (Majalah di New York)?"
"Ya tapi mereka memindahkanku sebagai fotografer di bagian khusus sport."
"I see," gumam Laras.
James memandang Laras lekat. Membuat gadis itu merasa jengah.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu, Laras?" tanya James.
Laras mengedikkan bahunya. "Aku masih bekerja di McFadden, dan di akhir pekan aku bekerja di sebuah restauran."
"Lalu, kau dan Benjamin Chevalier.."
"I don't wanna talk about it," sanggah Laras. Menyendok potongan orange chicken dengan sedikit kasar.
"I'm sorry, I'm just curious .. karena, jika aku harus bersaing dengan Benjamin Chevalier untuk mendapatkanmu kembali, sepertinya tidak akan terlalu mudah." James terkekeh.
Laras menatap James. "Kenapa kau ingin kembali?" tanya Laras dengan sorot mata tajamnya.
James mengurungkan niatnya untuk menyuapi dirinya sendiri dengan sesendok nasi. Meletakkan sendoknya di atas piring. Kemudian membalas tatapan Laras.
"Aku khilaf, aku sadar, aku melakukan kesalahan besar telah meninggalkanmu."
Laras tersenyum sinis. Enak sekali dia bicara begitu, batinnya. James menyibakkan rambut hitamnya ke belakang, frustasi.
"Please, Laras .. give me one more chance, I promise I won't hurt you anymore, I'm gonna make you the happiest girl in the world."
"James .. aku tidak bisa, aku .. tidak punya perasaan yang sama lagi padamu seperti dulu," ucap Laras. Dilihatnya James memejamkan matanya sembari menghela nafas dalam.
"Okay, aku bersedia menunggu sampai kau membuka hatimu kembali untukku."
"James," ucap Laras lirih. Satu hal yang dibenci Laras pada dirinya sendiri adalah selalu merasa kasihan terhadap orang lain, sehingga sulit untuk menyatakan kata "tidak" dengan gamblang.
Wajah memelas James membuat Laras merasa tidak tega. Walaupun pada kenyataannya, lelaki di hadapannya ini telah menorehkan luka yang dalam dan membuatnya trauma untuk percaya lagi dengan makhluk yang bernama lelaki.
"I gotta go to work," ujar Laras sembari membereskan sisa makanan yang ada di atas meja.
Laras melangkah meninggalkan James yang masih termangu di meja makan. Memandangi punggung Laras yang hilang di balik pintu kamarnya.
Dua puluh menit kemudian Laras keluar dari pintu kamar dengan seragam kerja yang dibalut mantelnya. Wajahnya terlihat segar dengan polesan make up tipis.
"Kau akan ikut turun?" tanya Laras yang melihat James masih duduk di meja makan.
James mengangguk. Lalu mengikuti Laras keluar dari apartemennya.
***
__ADS_1