I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 98


__ADS_3

"Mia! "


Daren menghambur ke arah Mia yang baru saja muncul dari pintu ruang bermainnya. Gadis itu memeluk bocah lucu dan menggemaskan itu erat.


"Hi, handsome," sapa Mia seraya menyentuh hidung mungil Daren dengan jari telunjuknya.


"Thank you, Daddy," ucap Daren pada Ben yang berdiri di ambang pintu. Pria bermata biru itu membuat huruf O dengan jari telunjuk dan jempolnya seraya mengedipkan sebelah matanya pada Daren.


Mia menoleh sekilas ke belakangnya namun Ben telah berlalu dari tempat itu.


"Ambil biolamu, Daren." Bocah itu mengangguk dengan mantap dan segera menuruti perintah Mia.


"Apa kau berlatih banyak, Daren?" tanya Mia sembari membenarkan posisi biola di bahu Daren. Gadis itu menguap sebentar. Rasa kantuk bercampur tubuh yang lelah mulai menyerangnya.


"Yeah, aku mau lagu baru," sahut Daren.


"Hmmm .. biar kupikirkan sebuah lagu untukmu." Mia mengelus - elus dagunya pertanda gadis itu tengah berpikir. Tak lama kemudian Mia menjentikkan jarinya.


"Ode To Joy by Beethoven, how about that?" tanya Mia.


"Hmmm .. I don't know that song, Mia."


"Here, let me show you first."


Mia mengambil biolanya dan mulai mengalunkan irama lagunya tanpa vibrato, agar Daren bisa mengikutinya dengan mudah.


"I love it," ujar Daren senang.


"Yeah? Do you wanna try it?"


Daren mengangguk - angguk. Mia tersenyum melihat wajah lucu bocah lelaki itu.


"Put your finger here."


.


.


"Mia, Mia, wake up!


Mia mengerjap - ngerjapkan matanya dan melihat wajah Daren yang berada beberapa centi saja dari wajahnya. Gadis itu sedikit terkejut. Beberapa saat kemudian ingatannya kembali terkumpul. Dia tertidur di ruang bermain Daren, setelah selesai memberikan les pada bocah itu. Badannya sedikit lemas dan dia memutuskan untuk duduk sejenak di atas sofa empuk yang ada di ruangan itu, namun dia ketiduran.


"Hei, Daren," ujar Mia seraya mengucek matanya. Kemudian melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 22.30. Matanya membulat sempurna. Dia tertidur selama tiga jam di ruang bermain Daren. Dan sepertinya ada yang memberi selimut padanya.


Daren tertawa - tawa kecil melihat wajah Mia yang terlihat memerah.


"Daddy gave you a blanket," ujar Daren seraya menarik selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya.

__ADS_1


"Oowh," ucapnya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Daren kembali meringis.


"Aku rasa aku harus pulang, Daren," kata Mia seraya mengemasi biolanya.


"Mia, Mr. Chevalier bilang dia akan mengantarmu pulang, dia menunggumu di ruang tamu." Jackelyn, pengasuh Daren melongok dari balik pintu. "Daren, waktunya tidur," ujarnya kemudian membuat bocah itu merengut. Namun tanpa protes menuruti kata - kata pengasuhnya itu.


"Bye, Mia." Daren melambaikan tangannya pada Mia. Gadis itu tersenyum dan menyambutnya.


Mia beranjak dari duduknya dan bergegas keluar dari ruangan itu. Langkahnya cepat menelusuri koridor dan sampai di ruang tamu. Di mana sosok Ben tengah duduk dengan sebuah buku di tangannya.


"Mr. Chevalier, aku minta maaf, aku tidak sengaja ketiduran," ucapnya dengan dada berdebar.


Ben beranjak dari duduknya. Pria tampan itu tersenyum. "It's okay, aku yang minta maaf, aku menambah jam kerjamu. Kau pasti kelelahan."


"Tidak apa - apa, aku senang Daren sangat bersemangat."


"Aku akan mengantarmu," ujar Ben seraya menyambar jaket dan kunci mobilnya, kemudian melangkah keluar sebelum Mia sempat menjawab sesuatu.


Mia merapatkan mantelnya lalu mengikuti Ben keluar rumah. Dilihatnya Ben telah membukakan pintu mobil untuknya dan mempersilahkannya masuk.


.


.


"Di mana kau tinggal?" tanya Ben sembari mengemudikan mobilnya.


Ben mengangguk. Lalu membanting setirnya pelan keluar dari jalanan utama Manhattan menuju Brooklyn.


"Aku pernah melihatmu di Bar Belly," ujar Ben memecah kesunyian yang menyelimuti keduanya.


"Owh." Hanya itu yang keluar dari mulut Mia. Terkejut. Tentu saja. Mia tidak ingat kapan tepatnya ada seorang Ben Chevalier di bar di mana dia dan bandnya biasa perform.


"Kau punya band yang bagus." Ben melirik Mia sekilas. Gadis itu terlihat salah tingkah. "Berapa alat musik yang bisa kau mainkan? Aku lihat permainan pianomu juga cukup bagus."


"Emm .. biola, piano dan sedikit gitar."


"Ow, you play guitar. Nice."


"Hanya sedikit. Aku lebih fokus pada biola."


Ben terdiam sejenak. Lalu menarik nafas dalam - dalam. "Aku kira Daren akan lebih tertarik pada gitar, tapi ternyata dia lebih suka biola." Ben terkekeh.


"Mungkin suatu saat. Dia masih sangat kecil, ketertarikannya bisa berubah sewaktu - waktu."


"Hmm .. yeah, you're right."


Mia tersenyum tipis. "Kita sudah sampai," ujar Mia sembari menunjuk gedung apartemen yang tak terlalu tinggi di depan mereka. Ben menghentikan mobilnya tepat di depan gedung.

__ADS_1


"Thanks, Mr. Chevalier," ucap Mia sembari membuka pintu mobil.


"No problem." Ben mengangguk dan tersenyum.


Mia masih berdiri di samping mobil Ben dengan kaca jendela yang terbuka, saat Ashley tiba - tiba berlarian menghampirinya dengan satu tas belanjaan di tangan kirinya. Melongok ke dalam mobil dan menutup mulutnya yang menganga rapat - rapat dengan telapak tangan kanannya ketika melihat siapa yang ada di sana.


Ben melambai ke arah Mia dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Sepeninggal Ben, Ashley menarik lengan Mia sembari bersiap - siap memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan.


"It's Ben Chevalier, Lammy .. kau harus menjelaskannya padaku!" seru Ashley dengan mata penuh selidik. "Sekarang!"


"Bagaimana kalau kita masuk dulu?" tawar Mia dengan malas.


Ashley menyeret tangan Mia dengan terburu - buru masuk ke dalam gedung apartemen. Sesampainya di dalam flat mereka, Ashley tak memberi kesempatan pada Mia untuk masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu mendudukkan sahabatnya itu di sofa.


"Bagaimana bisa?" tanya Ashley. Rasa penasarannya tak terbendung lagi.


"Aku mengajar anaknya biola."


"Bagaimana kau bisa mengajar anaknya biola?" cecar Ashley.


"Nenek Ben adalah pasien di Linden Center. Dia cukup akrab denganku, dia yang mengenalkanku pada Ben. Dan dia merekomendasikanku untuk menjadi guru les Daren, anak Ben."


Ashley manggut - manggut. Kemudian menatap Mia dengan tatapan menusuk.


"Lelaki bermata biru, lagu yang kau tulis, dia Ben Chevalier, bukan?"


"What? No, no ...."


"Oh, ayolah Lammy, kenapa kau tidak jujur saja padaku."


Mia mengacak rambutnya asal. Sahabatnya ini sungguh sangat menyebalkan. Dilihatnya Ashley tengah menaikkan kedua alisnya menatap ke arahnya, menunggunya mengakui tuduhan yang disematkan padanya.


"So what?" gerutu Mia yang langsung disambut dengan pekikan kegirangan Ashley.


"Oh My Gosh, Lamia ...."


"Shut up, Ash!" seru Mia sembari beranjak dari duduknya dan menghambur ke dalam kamarnya.


"Apa Ben juga menyukaimu?" teriak Ashley.


"I can't hear you!" sahut Mia seraya menutup pintu kamarnya rapat - rapat.


Mia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya. Ditariknya nafas dalam - dalam.


Ashley sungguh berlebihan, seakan - akan diantara aku dan Ben ada sesuatu. Sungguh - sungguh berlebihan.


***

__ADS_1


Hi, guys .. I'm back😋


__ADS_2