
STUDIO FUNERALOPOLIS, KEDIAMAN WILLIAM, BROOKLYN.
Hasil mixing dan mastering lagu berjudul Behind Blue Eyes baru saja selesai diperdengarkan. Keempat personel Funeralopolis, yaitu Will, Bryan, Brandon dan Mia terlihat puas dengan hasil rekaman yang sesuai dengan keinginan mereka itu.
Mia melirik Brandon yang duduk tak jauh di hadapannya, dengan Sarah yang selalu menempel di sampingnya. Seakan - akan tak rela pria itu didekati oleh wanita manapun.
"Lammy, coba kau perdengarkan lagunya pada Benjamin Chevalier, aku penasaran dengan reviewnya." William menyeletuk. Membuat Brandon yang tengah mengobrol dengan Sarah, kini memandang ke arah Mia, dengan wajah muram.
"Emm, mungkin," ujarnya.
"Yeah, good idea!" Brandon berujar. "Kau sudah cukup dekat dengannya, bukan?" tanyanya. Namun lebih pada sindiran.
"Hold on." Sarah menyela. "Is it Benjamin Chevalier from Rebellion you guys are talking about?"
"Yeah, that Benjamin Chevalier." Bryan menyahut.
"O wow, Lamia, how come?" Sarah tampak antusias. Sementara Brandon membuang mukanya ke arah lain.
Mia hanya mengedikkan bahunya. Tak berniat untuk menceritakan apapun tentang Ben dan dirinya pada Sarah. Gadis itu kembali melirik Brandon. Dihelanya nafas pelan.
Pacarmu ada di dekatmu, kenapa wajahmu muram begitu, Brand?
"We gotta go." Brandon bangkit dari duduknya dan memberi isyarat pada Sarah untuk mengikutinya.
"See you, guys." Sarah melambai kepada tiga orang yang masih berada di ruangan itu dan menggandeng lengan Brandon yang tengah melangkah keluar.
Mia hanya bisa memandang kepergian dua sejoli itu, entah dengan perasaan seperti apa. Dia tidak bisa mendefinisikannya.
"Wanita itu menempel terus pada Brandon, Geez .. kita bahkan sudah jarang hang out bersama." Bryan menggerutu.
"Kau tidak pernah jatuh cinta ya?" William memukul pelan puncak kepala Bryan.
Bryan meringis. "Yeah, aku hanya peduli pada Brandon, dia terlihat tidak nyaman."
"Kenapa kau bisa bilang begitu?" Kini Mia yang bertanya. Gadis itu tergelitik dengan kata - kata Bryan barusan.
"Kau tidak lihat reaksi Brandon setiap kali Sarah memegangnya?"
Tentu saja aku melihatnya. Aku juga heran kenapa.
Mia menggeleng pelan.
"Aku tidak mengerti. Untuk apa Brandon berpacaran dengan orang yang tidak membuatnya nyaman." Bryan bergumam.
"Sebagai pelarian mungkin," sahut Will. Entah kenapa dada Mia berdesir mendengarnya.
"Pelarian? Dari apa?" tanya Bryan seraya mengerenyitkan keningnya.
"Dari seseorang yang menolak cintanya." William terbahak.
__ADS_1
Mia hanya tersenyum mendengar selorohan teman - temannya itu. Rasa rindu minum cokelat panas dengan Brandon di cafe langganan dekat apartemennya tiba - tiba muncul kembali. Namun rasanya hal itu mustahil bisa terjadi. Semua terasa begitu jauh sekarang.
***
LINDEN CENTER, BROOKLYN.
Mia menyambar mantelnya yang tergantung di ruang loker karyawan. Memakainya untuk menutupi seragam kerjanya, dan melangkah keluar dari gedung megah itu.
Hawa dingin seketika menyambutnya begitu dia membuka pintu kaca utama. Baju berlapisnya seakan - akan tidak bisa melindunginya dari udara musim dingin yang terkadang membuatnya kewalahan. Tulang - tulang di tubuh mungilnya terasa linu.
Sampai di luar pelataran gedung, matanya menangkap sesosok jangkung nan kokoh berbalut mantel panjang dan mengenakan topi rajut musim dingin di puncak kepalanya, menyisakan rambut kecokelatan semi gondrongnya menutupi kening dan kedua pipinya. Bersandar pada pintu mobilnya sembari melipat kedua lengannya.
Senyum Mia terbit. Hawa dingin yang sedari tadi menyerangnya tiba - tiba mulai menghangat.
"Brand, sedang apa di sini?" tanya Mia sembari menoleh ke samping kanan dan kirinya.
"Menjemputmu." Senyum jahilnya tersungging.
"Menjemputku?" tanya Mia heran. Namun rasa gembira yang bergolak dalam dadanya tak bisa lagi dipungkirinya.
"Ya, apa gadis manis ini masih bersedia jika aku ajak untuk menikmati cokelat panas kesukaannya?"
Mia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Hanya menikmati cokelat panas bersama pria ini, tapi dia bahagia sekali.
"Aku mau." Mia mengangguk mantap. Kemudian menghambur ke pelukan Brandon yang terkejut namun sejurus kemudian disambutnya pelukan Mia dengan erat.
"I miss you too, Silly!"
Brandon mengacak rambut Mia dengan gemas. Kemudian membuka pintu mobil dan mempersilahkan Mia masuk ke dalamnya.
.
.
Langkah Ben terhenti begitu keluar dari gedung Linden Center dan melihat Mia tengah berada di pelukan seseorang. Ya, seseorang yang gadis itu ceritakan sebagai sahabat baiknya.
Ben tertegun memandang keduanya dari kejauhan. Pria itu berusaha mencerna perasaan macam apa yang kini berkecamuk dalam dadanya.
Hingga keduanya memasuki mobil dan berlalu, Ben masih saja mematung di tempatnya berdiri.
***
Mia menggosok - gosokkan kedua telapak tangannya kemudian menangkupkannya pada cangkir bulat berisi cokelat panas kesukaannya. Senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya. Memandangi Brandon yang kini duduk di hadapannya.
"Kau tidak bekerja hari ini?" tanya Mia.
"I'm taking a day off."
"Sarah tahu kau menjemputku?"
__ADS_1
Brandon menggeleng.
"Aku merasa tidak enak."
"Hey, I do what I want, okay? And you're my best friend, she's gonna have to accept that."
Mia meringis.
"Brand ...." panggilnya pelan.
"Yes?"
"Boleh aku menanyakan sesuatu?"
"Go ahead."
Mia menarik nafas dalam - dalam. Dia teringat kata - kata Bryan kemarin, dan sangat ingin menanyakannya langsung pada Brandon.
"Apa kau bahagia dengan Sarah?"
Brandon menyipitkan kedua matanya. Sedikit terkejut dengan pertanyaan gadis manis di hadapannya itu.
"Aku tahu, tidak seharusnya aku menanyakannya. Lupakan saja." Mia menarik kembali kata - katanya.
Brandon terdiam sejenak. Memandang Mia dengan tatapan mata sayu.
"Aku ...." Mencintaimu. "Bahagia, tentu saja, Lammy, kenapa kau lontarkan pertanyaan bodoh itu," Brandon terbahak.
Mia meringis. "Aku tahu," ujarnya tersipu malu.
"Hei, kau berutang cerita padaku tentang kau dan Ben Chevalier."
"Apa yang ingin kau tahu?" Mia menyeruput cokelatnya dengan semangat.
"Perkembangan hubunganmu dengannya, mungkin."
"Well, I don't really know what he wants from me." Mia terkekeh. "Aku tidak bisa menebak isi kepalanya."
Mia menghela nafas pelan. "Dia mengajakku makan malam beberapa hari yang lalu di sebuah restauran mahal. Kami berbicara banyak hal. Sebagian besar tentang mendiang isterinya."
"Kau tidak keberatan dengan itu?"
"Emm .. aku tidak tahu." Mia berpikir sejenak. Aku sibuk memikirkan kapan kau dan aku bisa menikmati secangkir cokelat panas kembali.
Ponsel Mia bergetar. Satu pesan masuk tertera di layar. Gadis itu membukanya dan matanya membulat sempurna.
Hi, Lamia. Aku tadi ada di Linden. Aku berniat mengajakmu jalan - jalan. Tapi kulihat kau sedang bersama seseorang. Jadi, mungkin lain kali saja. Ben.
***
__ADS_1