
"Pesan dari siapa?" tanya Brandon ketika melihat perubahan di wajah Mia. Gadis itu terlihat gelisah.
Mia meringis. "Ben."
"Owh, nice."
"Tadi dia ada di Linden, melihatku bersamamu."
Brandon terkekeh. "Uugh, itu tidak bagus."
"Biarkan saja." Mia menyimpan ponsel dalam tas selempangnya.
Brandon mengambil beberapa lembar pecahan dua puluh dollar dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja. Kemudian bangkit dari duduknya dan mengajak Mia untuk keluar dari cafe.
"Kuantar kau sampai apartemenmu," ujar Brandon sembari berjalan menelusuri sidewalk yang lengang.
Mia tersenyum sembari mensejajarkan langkahnya dengan pria itu.
"Dingin sekali." Mia merapatkan mantelnya untuk menghalau udara dingin yang menusuk.
Brandon melepas mantel panjangnya dan mengenakannya pada Mia. Kini tubuh kokohnya hanya dibalut dengan kaos dan sweater yang tak terlalu tebal.
"Apa kau tidak kedinginan?" tanya Mia sembari meraih telapak tangan Brandon yang tak bersarung tangan dan menggenggamnya.
"Aku lahir dan tumbuh besar di sini, aku sudah terbiasa dengan udara musim dingin. Sementara kau, gadis tropikal yang manis ...." Brandon mengacak puncak kepala Mia dengan tangan kanannya. "Tubuh mungilmu ini masih harus terus beradaptasi, bukan?"
Mia semakin mempererat genggaman tangannya. Dan Brandon pun meremas telapak tangan Mia dengan lembut. Sembari saling menatap sekilas dan tersenyum.
"Ayo kita fokus pada Meadow Music Festival. Tinggal satu minggu lagi."
"Apa kau bisa fokus latihan dengan Sarah yang selalu menempelimu? Sepertinya dia takut ada yang akan merebutmu," goda Mia.
Brandon terbahak. "She's a little bit out of her mind," ujarnya seraya memutar - mutar jari telunjuknya di samping keningnya.
"But she's pretty."
"Tidak secantik dirimu."
"Dasar pembohong!"
Mia memukul pinggang Brandon pelan. Pria itu tak sempat menghindar. Namun tawanya meledak sejurus kemudian.
***
LINDEN CENTER, BROOKLYN.
Seperti biasa, Mia mengantarkan makan siang pada Madame Rose di kamarnya. Beberapa hari ini, wanita itu sedang tidak terlalu sehat. Dan Mia bertugas untuk melayani segala kebutuhan kecilnya.
Madame Rose tengah tertidur di atas ranjangnya. Tangannya masih memegang sebuah buku. Kacamatanya pun masih terpakai. Rupanya wanita berambut putih itu ketiduran ketika sedang membaca buku.
Pelan Mia menyentuh bahu Madame Rose. Wanita itu membuka matanya dan tersenyum melihat kehadirannya.
"Aku bawakan makan siang, Rose."
"Ah, Mia, senang sekali melihatmu."
Mia terbahak. "Tadi pagi kau juga sudah melihatku ketika mengantarkan sarapan dan handuk baru."
"Entahlah, aku selalu senang melihatmu. Melihat wajahmu yang manis ini."
Pipi Mia bersemu merah mendengar perkataan Madame Rose. Entah benar atau tidak yang dikatakan wanita itu, yang jelas hal itu membuatnya ingin melihat pantulan wajahnya sendiri di kaca.
Brandon juga bilang kalau aku manis.
"Beberapa hari ini Ben selalu kemari menjengukku. Apa dia menemuimu?" tanya Madame Rose membuat Mia terkesiap.
__ADS_1
"Emm .. tidak."
Madame Rose mendecak. "Anak itu!" Lalu menghela nafas pelan. "Dia bilang padaku dia merasa nyaman bersama ...."
"Nana, kau bicara apa?"
Madame Rose tak melanjutkan kata - katanya demi mendengar suara berat dari arah pintu kamar. Ben bersandar di samping pintu sembari melipat kedua lengannya.
"Owh, Ben, kau sudah datang," ujar Madame Rose.
Mia tak berani menoleh ke belakang. Hingga akhirnya Ben menarik kursi dan duduk di sebelahnya.
"Hi, Lamia," sapa Ben dengan senyum manisnya. Anak rambut panjangnya jatuh di pipinya. Dia mengikat sebagian rambut pirangnya. Terlihat berantakan. Memang begitulah gayanya.
"Hi, Ben." Mia hanya mengangguk kecil pada pria itu. "Rose, sudah ada Ben di sini, aku akan melanjutkan pekerjaanku."
Mia beranjak dari duduknya dan hendak berlalu. Ketika dirasakannya ada yang menarik tangannya pelan.
"Kau di sini saja."
Mia terkejut melihat telapak tangan Ben yang kini tengah memegang lengannya. Dadanya berdesir hebat. Ben mengangguk, memberi isyarat agar Mia tetap berada di sana.
"Ya, kau di sini saja Mia. Mungkin Ben ingin mengobrol denganmu." Madame Rose tersenyum menggodanya. Gerakan matanya terlihat jahil.
"Emm .. aku harus membantu Chante menyiapkan makan siang untuk para pegawai yang lain." Mia tidak berbohong. Chante sedang menunggunya di dapur.
"Kita ketemu di cafe satu jam lagi?" tanya Ben.
"O - okay." Kata - kata itu meluncur begitu saja dari mulut Mia. Gadis itu berpamitan pada Rose dan segera melangkah keluar meninggalkan nenek dan cucunya itu.
.
.
"Maaf membuatmu menunggu." Mia menarik kursi dan duduk di hadapan Ben yang tengah memainkan ponselnya. Dua cangkir kopi panas telah tersaji di atas meja.
"Thanks." Yang benar saja, baju kerja terusan sepanjang lutut. Sweater, dan stoking tebal. Bagaimana bisa dia bilang "I look good".
"Coffee?" tawar Ben seraya mengangkat cangkirnya dan meneguk isinya.
"Thanks."
Ben terkekeh mendengar Mia mengucapkan kata terimakasih berkali - kali. Sudah sering berinteraksi, namun gadis itu masih saja terlihat gugup di hadapannya. Membuatnya sedikit gemas.
"I wanna know more about you."
Mia mendongak ke arah Ben. Terlihat dari raut wajahnya, gadis itu tengah berusaha mencerna kata - kata Ben barusan.
"Yang aku tahu, kau berasal dari Indonesia. Sama dengan Laras." Ben terkekeh. "I wanna know more about you, seriously."
Mia tercekat. Tenggorokannya terasa kering. Segera diraihnya cangkir kopi di atas meja dan meneguk cairan hitam itu.
"Lamia, maukah kau berkencan denganku?"
Mia hampir saja tersedak kopi yang susah payah ditelannya. Gadis itu menepuk dadanya pelan.
"You okay?" tanya Ben.
Mia hanya mengangguk.
"Kau tidak harus menjawabnya sekarang. Emm .. tapi kita bisa mencobanya."
Mia tertegun. Dipandanginya pria tampan frontman The Rebellion di hadapannya itu. Mata birunya, senyumnya, rambut pirang dan panjangnya, tattoo sayap burung entah apa itu yang menyembul ke lehernya.
Dia makhluk yang begitu sempurna.
__ADS_1
Tapi ....
***
"Lammy? Kau dengar aku?"
Brandon menggoyang - goyangkan telapak tangannya tepat di depan wajah Mia. Gadis itu seperti tengah tenggelam dalam pikirannya.
"Huh? What?"
"I said .. kita bagi melodynya dengan gitar dan biola. Untuk versi livenya."
"Ouwh, yeah, sure."
Gadis itu segera memberi isyarat pada Bryan untuk melanjutkan permainan drumnya. Begitu pun William kembali melanjutkan betotan bassnya.
Mia benar - benar tidak bisa berkosentrasi pada latihan kali ini. Kata - kata Ben siang tadi sungguh membuatnya bingung, atau terlalu senang. Entah perasaan macam apa yang tengah berkecamuk dalam dadanya saat ini.
Brandon tersenyum menatapnya sembari memainkan gitarnya. Mata mereka bertemu. Dada Mia berdesir. Segera dialihkannya pandangan ke arah microphone di depannya. Kemudian mulai menyanyikan lagu perdana Funeralopolis, Behind Blue Eyes.
Stranger man with his sad eyes
Cold as snow in the winter
A face without smile
With a heart shrouded in misery
I wish I knew what you were feeling
I wish I knew what you've been through
But I know now
you remain a mistery .. to me
I see something behind
Behind your .. Brown eyes.
"Blue eyes, I mean, sorry." Mia terkekeh di sela - sela nyanyiannya. Gadis itu salah lirik. Membuat semua personel menghentikan permainan mereka.
"Okay kita break dulu," ujar William sembari melepas selempang gitar basnya.
Brandon mengedikkan bahunya. Lalu meletakkan gitarnya di stand gitar yang terletak di pojok ruangan. Pria itu mendekati Sarah yang sejak tadi duduk diam menunggunya.
Mia memperhatikan Brandon dan pacarnya itu sembari membereskan peralatan biolanya. Dilihatnya wajah Sarah cemberut dan Brandon sepertinya sedang berusaha untuk menghiburnya. Kedua sejoli itu tengah terlibat pembicaraan yang cukup serius. Namun suara mereka terdengar berbisik, sehingga Mia tidak terlalu bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
Mia tersenyum kecut. Lalu mengalihkan kembali perhatiannya pada biolanya.
***
"I knew it!"
Sarah membanting tasnya ke atas sofa. Sementara Brandon hanya terdiam bersandar di dekat pintu apartemennya.
"Tell me, Brand, do you love her?" Air mata Sarah tak bisa dibendung lagi. Wanita itu menangis terisak - isak sembari terduduk di atas sofa. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"I'm sorry, Sarah." Brandon berusaha menyentuh bahu Sarah yang terguncang.
"Don't .. touch me!" Sarah menepis tangan Brandon dengan keras. Lalu menatap pria itu dengan penuh amarah.
"Sarah, it won't work between us. I'm so sorry. It's my fault."
"You're .. a jerk!" maki Sarah seraya menyambar tasnya dan melangkah keluar lalu menutup pintu dengan sangat keras.
__ADS_1
Brandon menghela nafas dalam - dalam. Diseretnya langkah menuju dapur dan membuka lemari pendingin untuk mengambil sebotol bir yang bisa mendinginkan kepalanya.
***