
C'est la marmelade de ma grand mère
C'est la marmelade de ma grand mère
Dansons la marmelade ce soir sous les ponts
Dansons la marmelade ce soir mon garçon.
Nyanyian lagu Lady Marmelade yang terdengar seperti sekumpulan viking yang tengah berpesta pora di bagian depan tour bus The Rebellion membuat Ben yang tengah berbaring di kasurnya tersenyum dan menggeleng pelan. Dilihatnya Liam, Marcus dan beberapa kru yang ikut rombongan tour tengah bersenang-senang dengan botol bir masing-masing.
Bus meluncur di jalan panjang negara bagian Illinois. Tujuan mereka adalah Chicago. Kota pertama yang akan The Rebellion singgahi dalam tour album ke tiga mereka.
"Okay, akan segera ku sampaikan kepada mereka."
Suara Jack, sang menejer sayup-sayup terdengar. Ben menyibakkan tirai yang membatasi tempat tidurnya dengan lorong yang ada di dalam bus. Terlihat Jack tengah berjalan ke arahnya. Memberi isyarat kepada Ben untuk keluar dari peraduannya.
"Hey boys, listen up!" serunya memanggil para lelaki yang tengah larut dalam botol bir mereka itu yang serontak menghentikan nyanyian mereka.
"What's up Jack?" tanya Liam.
"Where's Greg?" Jack balik bertanya ketika tidak melihat Greg di antara mereka.
"Here!"
Seruan itu datang dari arah dapur, Greg yang tengah memakan sepiring cemilan menghentikan aktifitasnya kemudian segera bergabung.
"Baru saja pihak The Vic Theatre, venue kita di Chicago menyampaikan kalau mereka ingin menampilkan satu kolaborasi Rebellion dengan band pendatang baru yang sedang naik daun, Resistance, kalian tidak keberatan bukan? Ada waktu satu hari untuk rehearsal setelah interview di NBC Chicago," terang Jack.
"I know that band, they have a hot female vocalist(vocalist wanita yang seksi)," celetuk Marcus. Disambut dengan kikikan Liam dan para kru.
Jack memutar bola matanya.
"I'm not talking about their hot female vocalist here, Marc, so .. are you guys okay with that?"
"Yeah, sure," jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Ben?"Jack mengalihkan pandangannya pada Ben yang tengah menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kau atur saja," jawab Ben sekenanya.
"Great!" Jack menjentikkan ibu jari dan jari telunjuknya tanda semua beres. "Ayo lanjutkan birnya," sambungnya kemudian.
"Yeah!" seru mereka bersamaan. Kemudian melanjutkan kembali acara bersenang-senang mereka.
Ben kembali merebahkan badannya di kasur sempitnya yang empuk. Menyambar ponselnya dan memeriksa apakah ada pesan masuk yang begitu diharapkannya. Hanya beberapa pesan dari Anita yang enggan untuk dibacanya.
Laras, apa kau masih marah padaku?
Ben menulis kembali pesan untuk Laras, sejak kemarin gadis itu tidak mau mengangkat telponnya ataupun membalas pesannya.
Beberapa menit kemudian,
Sorry Ben, I was busy, didn't have time to reply your messages.
Ben tersenyum membaca pesan masuk dari gadis yang memenuhi pikirannya itu.
Can I call you now?
Tombol "kirim" telah ditekannya. Setelah sepuluh menit menunggu,
Ya.
Jawaban pendek Laras membuatnya berseri-seri. Segera saja ditekannya nomer telpon Laras yang tertera di layar ponselnya.
"Hi Ben." Suara Laras dari seberang sana.
Sebuah suara yang mampu menghangatkan relung hatinya. Ben begitu merindukan gadis itu.
"Hey, aku tidak mengganggumu kan?" tanya Ben. Mendengar sayup-sayup orang yang tengah mengobrol dan suara musik di seberang sana.
"Tidak terlalu, aku baru saja selesai kerja dan menunggu temanku untuk pulang bersama-sama."
Ben melirik arloji di lengannya. Menunjukkan pukul 7.30 malam. Ini hari sabtu. Artinya Laras tengah berada di restauran Boucherie.
__ADS_1
"Apa si Perancis itu mengganggumu lagi?" tanya Ben yang tiba-tiba teringat menejer restauran yang diceritakan Laras beberapa waktu lalu.
Terdengar Laras terkekeh. "Sedikit."
"Akan kukirim seseorang untuk menjagamu kalau begitu."
"Oh come on Ben," protes Laras. "I'm fine."
"Bagaimana dengan mantan pacarmu? Apa dia menemuimu lagi?"
"Nope"
"Beri tahu aku kalau dia macam-macam denganmu, Laras."
Di seberang, Laras menghela nafas pelan. Kemudian terdengar percakapan di seberang sana yang membuat dada Ben bergemuruh.
"Laras, mau ku antar pulang?"
"Oh, merci Monsieur Jourdain, aku akan pulang dengan Maya."
"D'accord, a demain, ma belle."
Dada Ben semakin bergemuruh mendengar pembicaraan Laras dengan menejernya itu.
"Sorry Ben, sampai di mana kita tadi?"
Ben menghela nafas berat. Mendadak tidak lagi bersemangat untuk berbicara lebih lama dengan Laras.
"Lupakan saja," ujar Ben lesu. "Aku akan menelponmu lagi lain kali. Selamat malam, Laras," ucap Ben mengakhiri telponnya.
Meninggalkan Laras di seberang sana yang duduk mematung memandangi layar ponselnya.
***
Catatan Penulis:
Dalam bahasa Perancis:
__ADS_1
-Merci, Monsieur Jourdain - Terimakasih Pak Jourdain.
-D'accord, a demain, ma belle - Okay, sampai besok, cantikku.