I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 23


__ADS_3

"Selamat siang, dengan agen Maid Home Magic, ada yang bisa kami bantu?"


Suara seorang wanita terdengar di seberang sana terdengar dari ponsel Laras.


"Selamat siang, Miss .. ada yang ingin saya tanyakan, sekitar sebulan yang lalu Maid Home Magic menyalurkan saya sebuah pekerjaan di Greenwich Village, emh .. apakah ada kemungkinan saya bisa mengganti tempat kerja saya?" tanya Laras.


"Silahkan mengisi data kembali di website kami, jangan lupa untuk memberi keterangan tempat kerja sebelumnya, setelah itu silahkan ditunggu sampai ada pemberitahuan tempat kerja baru yang akan kami kirimkan melalui email. Kami juga akan segera mengontak tempat kerja anda yang lama dan menggantikan anda dengan orang baru."


"Terimakasih."


Laras menutup telponnya. Ditariknya nafas dalam-dalam. Tekadnya bulat untuk pindah kerja dari rumah Madame Rose. Sebenarnya Laras sudah betah bekerja di sana, apalagi Madame Rose sangat baik padanya. Namun jika melanjutkan pekerjaannya di tempat wanita itu, Laras akan sering bertemu dengan Ben. Itu akan membuatnya sulit melupakan perasaannya terhadap lelaki itu.


Laras mengenakan mantel tebalnya, memakai sepatu bootnya dan menyambar tas selempangnya lalu bergegas keluar apartemennya.


***


SABTU, 2 FEBRUARI 2020


Ben menghentikan mobilnya di depan rumah Madame Rose. Seperti biasa setiap akhir pekan dia akan menginap di rumah neneknya.


Namun akhir-akhir ini entah kenapa kehadiran Laras membuatnya bersemangat menanti setiap akhir pekan. Bahkan tak biasanya Ben menolak ajakan wanita-wanitanya untuk berkencan.

__ADS_1


Lelaki bermata biru itu masuk ke dalam rumah mewah bercat pink itu. Dicarinya sosok Laras di dapur. Namun dia hanya melihat Lupita dan seorang gadis keturunan afro-american yang tengah sibuk menyiapkan makan siang untuk Madame Rose. Ben mengerenyitkan dahinya. Kenapa ada asisten baru, pikirnya.


"Lupita, kau tau di mana Laras?" tanya Ben.


"Hi Ben .. owh .. apa kau tidak tahu Laras tidak bekerja lagi di sini?" Lupita balik bertanya,


membuat Ben terkejut mendengarnya. "Dan ini Serena, yang menggantikan Laras. "Lupita memperkenalkan gadis berkulit hitam bernama Serena itu kepada Ben.


Tentu saja Serena mengenal sosok Benjamin Chevalier. Gadis itu berjingkrak kegirangan sembari menyalami Ben.


Ben menyapa gadis itu dengan ramah. Kemudian melangkah naik ke kamar Madame Rose.


"Benji," sapa Madame Rose sembari melepas kacamata yang dipakainya untuk membaca buku.


"Apa kau tahu kenapa Laras tidak bekerja di sini lagi?" tanya Ben.


"Kemarin agen yang menyalurkan Laras menelponku, mereka akan mengganti Laras dengan asisten baru, tapi mereka tidak mengatakan alasannya .. sayang sekali, padahal aku sangat menyukai gadis itu," ujar Madame Rose.


Raut muka Ben terlihat murung. Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.


Madame Rose memperhatikan perubahan mimik muka cucunya itu.

__ADS_1


"Ben, are you okay?" tanyanya membuyarkan lamunan Ben.


"Ah .. iya, Nana," sahutnya, matanya terlihat kosong.


Madame Rose tersenyum. Sepertinya telah mengetahui apa yang ada dalam pikiran Ben.


"Kau masih bisa menemui Laras di kampus bukan? Atau kau bisa juga datang ke apartemennya, kenapa kau terlihat begitu putus asa, Ben?" ujar wanita tua itu sembari tersenyum jahil.


"No, Nana .. aku hanya heran saja."


Madame Rose menaikkan alisnya. Ben masih saja berusaha menyembunyikan. perasaannya.


"Berjuanglah untuk mendapatkan sesuatu yang hatimu inginkan, seperti kau dulu berjuang untuk bisa menjadi rockstar seperti sekarang ini, tanpa bantuan orang tuamu."


Orang tua Ben adalah jutawan. Ayahnya, Richard Chevalier, anak Madame Rose, adalah seorang pengusaha properti di Oregon yang jaringan bisnisnya di mana-mana. Ibunya, Monica Chevalier, adalah seorang mantan model yang terkenal tahun 80an. Ben hengkang dari rumah orang tuanya 6 tahun lalu saat usianya 18 tahun untuk mengejar karirnya di musik. Yang tentunya ditentang oleh ayahnya yang menginginkan Ben mengikuti jejaknya dalam bisnis properti.


Pertengkaran hebat pun terjadi. Ben pergi ke New York tanpa membawa apapun. Dia ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa dia mampu menjadi sukses tanpa bantuannya.


Tinggal bersama Madame Rose selama beberapa bulan hingga akhirnya memutuskan untuk pindah ke apartemen kecilnya pada waktu itu.


Ben memandang neneknya itu heran. Kenapa dia melontarkan kata-kata itu padanya. Apa yang wanita itu pikirkan. Apakah dia bisa membaca pikirannya.

__ADS_1


***


__ADS_2