I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 80


__ADS_3


NW SKYLINE BOULEVARD, PORTLAND. RUMAH KEDIAMAN RICHARD DAN MONICA CHEVALIER.


Monica menyambut kedatangan Richard dengan ciuman di pipi lelaki paruh baya yang masih tampak gagah itu. Rambut kecokelatannya tertata rapi.


"Kau pulang lebih awal?" tanya Monica sembari menggandeng suaminya itu menuju ke ruang keluarga. Richard hanya mengangguk.


Keduanya sampai di ruang keluarga yang didominasi warna merah marun itu. Kemudian duduk di atas sofa memanjang yang terletak di tengah-tengah ruangan.


Seorang pelayan wanita menghampiri mereka dan menyodorkan sebotol anggur yang telah dibuka dan dua gelas kosong. Monica menyambar botol anggurnya dan menuangkan isinya ke dalam gelas-gelas itu, lalu memberikan salah satunya pada Richard. Sang pelayan membungkuk dan meninggalkan ruangan itu.


"Richard," panggil Monica.


"Ya?" sahut lelaki berwarna mata senada dengan rambutnya itu.


"Kau tahu, Ben sedang berada di Portland, aku menemuinya kemarin di rumah Rose."


Richard yang hendak meneguk gelas anggurnya urung melakukannya. Air mukanya berubah suram.


"Hmmm ...." Richard bergumam. "Sedang apa dia di sini?" tanyanya kemudian.


"Sedang liburan sepertinya, dia membawa pacarnya, seorang gadis asia yang manis."


Terlihat wajah Richard bertambah suram. Lelaki itu meneguk gelas anggurnya hingga habis.


"Kau mau lagi?" tanya Monica. Richard mengangguk. Wanita berambut pirang itu kembali memenuhi gelas suaminya.


"Richard," panggil Monica hati-hati.


"Hmm ...."


"Bagaimana .. kalau kita undang Ben dan pacarnya makan malam di sini besok?"


Richard meletakkan gelasnya di atas meja dengan sedikit kasar. Kemudian beranjak dari duduknya.


"Terserah kau saja!" ujarnya seraya melenggang meninggalkan ruangan itu.


Monica menghela nafas berkali-kali. Kemudian menggeleng pelan. Apapun reaksi Richard, wanita itu tetap akan mempertemukan anak dan suaminya itu kembali. Perang dingin di antara mereka sudah berlangsung cukup lama dan sudah sepatutnya segera diakhiri.


***


Dengan wajah bangun tidurnya yang acak-acakkan, Laras mendekati Ben yang tengah sibuk memasang senar gitarnya pada sebuah gitar akustik yang sepertinya baru.


"Aku tidak ingat kau membawa gitar ke sini." Laras duduk di kursi kosong di sebelah Ben.

__ADS_1


"Hei, Tuan Puteri sudah bangun," sapa Ben sembari memandang lembut ke arah Laras. "Ah ya, aku baru saja membelinya, tadi sewaktu kau tidur siang." Ben menunjukkan gitar akustik bermerk Martin & Co itu.


"Kenapa membeli gitar akustik?" tanya Laras.


"Tidak apa-apa, hanya untuk latihan saja."


Laras tersenyum. Ben dengan gitarnya, bukankah sebuah pemandangan yang begitu sedap dipandang mata.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Ben heran.


Laras meringis malu. "Aku suka melihatmu."


Ben menghentikan aktifitasnya memasang senar pada gitarnya, kemudian menatap Laras dengan tatapan yang mencurigakan.


"Kemari," ucap Ben sembari menggerak-gerakkan jari telunjukknya ke arah wajahnya sendiri, memberi isyarat pada Laras untuk mendekat.


"Apa?" tanya Laras berpura-pura bodoh.


Ben mendecak. "Kemari, Laras," ulangnya.


Dengan ragu Laras mendekatkan wajahnya ke arah Ben. Ben menatap Laras dari dekat dengan tatapan sayu, atau mesum, entahlah apa arti tatapannya. Dengan lembut dipagutnya bibir Laras, sementara kedua tangannya masih memegangi gitarnya.


Dering ponsel Ben membuat keduanya terkesiap. Laras menarik wajahnya kembali dan membenarkan posisi duduknya. Ben memeriksa ponselnya, nama Monica tertera di layar.


"Ya, Monica, what's up?" sapa Ben. "Uh-huh?


Ben tampak berpikir sebentar. Lelaki itu berjalan mondar-mandir, mendengarkan Monica yang sepertinya masih berbicara di seberang sana. Ben memandang Laras sekilas, lalu menyibakkan anak rambutnya yang menutupi dahinya.


"Okay .. I'll think about it, bye."


Ben kembali duduk di samping Laras dan menghela nafas dalam-dalam.


"Ada apa, Ben?" tanya Laras.


"Monica mengundang kita makan malam nanti."


"Kenapa kau terlihat bingung?"


"Makan malam di rumahnya, kau tahu kan artinya .. aku akan bertemu Richard."


Laras tersenyum. Terlihat kegundahan di wajah Ben.


"Bukankah itu bagus?"


"Hmm .. entahlah, aku sudah lama sekali tidak berbicara dengannya."

__ADS_1


Laras mengelus lengan Ben lembut. "He's your dad, Ben .. you know, you're so lucky you still have a father."


Dada Ben berdesir mendengar ucapan Laras. Dilihatnya mata Laras sedikit berkaca-kaca. Mungkin gadis itu teringat ayahnya yang sudah tiada.


"Aku akan memikirkannya." kata Ben sembari meraih kepala Laras dan membawanya ke pelukannya.


***



"Bagaimana penampilanku?" tanya Ben gugup.


Laras memperhatikan penampilan Ben yang terlihat rapi.


"Kau .. rapi sekali," ujar Laras sedikit heran, tidak biasanya seorang Ben berdandan rapi seperti ini. Dengan setelan jas hitam, dan dasi?


"Aku tidak ingin terlihat seperti gelandangan di depan ayahku," kekeh Ben sembari menyisir rambut gondrongnya dengan jari.


"Ah, ya, benar juga," timpal Laras. "Bagaimana denganku?" tanya Laras sembari memutar badannya. Laras mengenakan mini dress gaya 70an berwarna hitam andalannya dan stoking warna putih dipadu dengan sepatu vintage yang berwarna senada dengan gaunnya. Tak lupa pula syal yang membalut lehernya.



"You're perfect," ujar Ben sembari meremas bahu Laras lembut. Mata Laras berbinar mendengar pujian Ben.


"Shall we?"


Laras mengangguk. Lalu mengikuti Ben berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.


"Rasa gugupmu menulariku," ujar laras ketika keduanya telah berada di dalam mobil dan Ben mengemudikan mobilnya keluar dari area Sherwood.


"Ohya? Why?" tanya Ben.


"Bagaimana jika ayahmu tidak menyukaiku," ujar Laras.


"Memangnya kenapa?" tanya Ben sembari menoleh ke arah Laras sekilas.


Laras menggeleng. Ben mengelus kepala Laras dengan tangan kanannya. Wajah gadis itu terlihat cemas.


"Relax, baby," hibur Ben. "Lagipula siapa peduli dia akan menyukaimu apa tidak, aku tidak perlu persetujuannya untuk menikahimu."


Tenggorokan Laras tercekat seketika, apa tadi yang dia bilang? Menikahiku? Laras berusaha menelan ludahnya yang tiba-tiba macet ditenggorokannya. Antara girang dan kaget bercampur jadi satu. Ben terkekeh melihat reaksi wajah Laras yang kini telah memerah meskipun make up yang dipolesnya mininalis saja.


"Hei, Laras .. kau baik-baik saja?"


"Ah, i-iya, aku baik-baik saja."

__ADS_1


Laras mencoba bersikap senormal mungkin. Dia tidak ingin terlihat kegirangan mendengar kata-kata menikah dari mulut Ben.


***


__ADS_2