
Mia memasukkan biola ke dalam tasnya dan merapikan kabel yang berserakan di lantai. Dilihatnya Ben pun tengah membenahi peralatan gitarnya. Sesekali pria itu menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"Kalian pasangan duet yang serasi," celetuk Sue tiba - tiba membuat Ben tergelak.
"Iya, kalian serasi sekali," sahut Madame Rose yang juga tiba - tiba datang dengan kursi rodanya.
Mia terlihat gugup. Diliriknya Ben sekilas. Pria itu hanya menggeleng pelan.
"Nana, I gotta go, aku sudah ditunggu di studio," ujar Ben sembari menenteng gitarnya dan mencium neneknya itu. "Mia, Sue, bye bye." Ben melambaikan tangannya pada Mia dan Sue.
Mia memandangi punggung Ben yang mulai menjauh dan menghilang di balik pintu.
"Tampan sekali anak itu, iya kan, Mia," ujar Sue membuat Mia tergagap. Buru - buru dialihkan pandangannya pada Sue.
"Iya, kurasa begitu," jawab Mia sekenanya. "Emm .. sepertinya aku harus melanjutkan pekerjaanku, see you later, Ladies," ujar Mia sembari menggendong tas biolanya dan berlalu dari hadapan dua wanita itu.
"Apa kau berpikir untuk menjodohkan mereka?" tanya Sue.
"Well, aku sempat memikirkan ide itu, tapi, kau tahu, Ben sangat sulit membuka hatinya untuk wanita."
"Tapi kurasa mereka cocok, kau lihat mereka tadi di atas panggung? Kau bisa mendeteksi chemistry di antara mereka?"
Madame Rose mengangguk.
"I hope so, I really really hope so."
***
Mia memperhatikan layar ponselnya dengan senyum tersungging dari bibirnya. Tadi sempat diabadikannya moment bersama Ben di atas panggung dengan bantuan salah satu suster jaga.
Dibukanya akun instagramnya lalu diuploadnya video itu ke dalam feednya.
Such an honour. Mia menulis tiga kata untuk caption videonya. Kemudian mencari - cari nama Benjamin Chevalier untuk membubuhkan tag di dalan video, namun dia tidak menemukan nama itu. Sepertinya pria itu tidak mempunyai akun instagram.
Mia memencet tombol untuk mengupload video. Dadanya berdesir menunggu komentar - komentar apa yang akan ditulis teman - temannya yang rata - rata berada di Indonesia.
Wih, gilee, main bareng Ben Chevalier, Lam?
Duhh, ngiriii tauuu!
Kok bisa sih, Lam. Mimpi apa lu.
Lamiaaa, ya ampun, duet ama Ben Chevalier Rebellion? Duh salamin dong.
Udah go international aje lu, Lam!
Ganteng banget sih Ben, ampuuunnn. Lam, mintain nomer telpnya dung.
Mia tersenyum - senyum sendiri membaca komentar - komentar dari teman - temannya. Yang pastinya kaget melihatnya berada satu panggung dengan frontman The Rebellion itu. Ada rasa bangga menyeruak dalam dadanya.
Dipandanginya langit - langit kamarnya, dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya. Wajah Ben memenuhi kepalanya. Berdekatan dengan pria itu membuat apapun yang ada dalam dirinya bergejolak tak menentu.
Kenapa begini?
***
"Kau menyukainya, Ben?"
"Siapa?"
__ADS_1
"Guru les Daren."
Ben menghela nafas dalam - dalam. Matanya menelusuri setiap jengkal tubuh Laras yang dibalut gaun putih indah itu.
"Tidak."
"Tapi kau merasa nyaman ketika berada di dekatnya, bukan?"
"Dia sedikit mengingatkanku padamu. Aku rasa hanya sebatas itu."
Laras menggeleng, lalu beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Ben. Wanita itu meraih tangan Ben dan menciumnya lembut.
"Alam semesta sedang bekerja untukmu, Ben."
.
.
STUDIO THE REBELLION, TIME WARNER CENTER, MANHATTAN.
Hailey Smith menekan bel pintu studio beberapa kali. Menunggu beberapa menit, Marry sang asisten muncul.
"Selamat siang, Nona .. ada yang bisa kubantu?"
"Hi, aku teman Rebellion, namaku Hailey, aku ingin mengunjungi mereka."
Marry meneliti wanita berambut hitam di hadapannya itu dan tersenyum.
"Tunggu sebentar, Nona." Marry memperlihatkan jari telunjuknya pada Hailey, mengisyaratkan padanya untuk menunggu.
Beberapa saat kemudian, Marry muncul kembali dan mempersilahkan Hailey masuk.
"Heeii, Hailey?" Marcus yang pertama kali melihat kedatangan Hailey berseru. Keduanya saling mencium pipi.
"Ben masih di ruang musik," ujar Marcus ketika melihat Hailey melayangkan pandangannya ke sana kemari. Marcus menunjuk ke arah ruang kaca di mana terlihat Ben masih sibuk dengan gitarnya.
"Tidak apa - apa, aku datang ingin mengunjungi kalian semua, emm .. dan aku mau bilang kalau aku telah pindah ke Manhattan." ujar Hailey.
"Ohya? Cool!" seru Marcus.
"Kau mau bir?" tanya Greg pada Hailey.
"Oh, yeah, sure."
Greg beranjak menuju dapur dan beberapa saat kemudian kembali dengan satu botol bir yang telah dibuka tutup botolnya.
"Thanks," ucap Hailey seraya meraih botol bir dari tangan Greg.
"Kenapa kau memutuskan pindah ke sini?" tanya Liam, memandang ke arah Hailey yang tengah meneguk birnya.
"Well, sepertinya karir bermusikku di Chicago hanya jalan di tempat. Aku bertemu seorang produser dari Manhattan, dia akan membantuku untuk mengerjakan proyek soloku, jadi kuputuskan untuk pindah saja ke sini."
Ketiga pria berambut panjang itu mengangguk - angguk.
"Hailey?" Ben muncul dengan wajah setengah kagetnya.
"Hi Ben, long time no see, huh," ujar Hailey seraya berdiri dan mencium pipi Ben.
"How are you?" tanya Ben.
__ADS_1
"Seperti yang kau lihat," kekeh Hailey.
Ben memperhatikan penampilan Hailey. Dandanan gothic yang dulu menjadi ciri khasnya kini sudah diganti dengan gaya casual yang cukup manis. Wanita itu terlihat lebih dewasa. Sikapnya pun tidak seagresif dulu. Dia terlihat tenang.
Hailey melihat Ben tampak lebih mempesona dari terakhir dia melihat pria itu walaupun penampilannya tak ada yang berubah. Masih dengan gaya selengean yang santai. Hatinya kembali berdebar.
"Aku tinggal di Manhattan sekarang."
Ben menaikkan alisnya. "Ohya?"
Hailey mengangguk.
"Cool," sahut Ben.
"Kita bisa hang out bersama kapan - kapan," ujar Hailey bergantian memandang keempat personel The Rebellion di hadapannya itu.
"Yeah!" seru Marcus senang.
***
Ashley duduk di samping Mia yang tengah menikmati semangkuk mi instan sambil menonton acara serial TV kesukaannya, Dark. Gadis itu tersenyum - senyum sembari memandangi ponselnya.
"Lihat cara Ben memandangmu," ujarnya seraya menunjukkan layar ponselnya pada Mia.
"Kenapa memangnya? Biasa saja." Mia mengomentari video di instagramnya bersama Ben yang baru saja ditunjukkan oleh Ashley.
"Apanya yang biasa, Ben terlihat kagum padamu," sanggah Ashley.
"Jangan mengada - ada, Ash."
Ashley mendecak. "Memangnya kau tidak mau mempunyai pacar seorang Ben Chevalier?"
Mia terbahak. Menetralisir desiran aneh di dalam dadanya.
"Kau harus lebih aktif dan agresif, Lammy .. aku yakin Ben tidak akan menolakmu. Setidaknya mungkin kau bisa tidur dengannya, sekali atau dua kali."
Mia mendelik lalu melayangkan bantal ke arah Ashley. Gadis itu tertawa terbahak - bahak.
"Ben tidak mungkin melirikku, Ash." Mia menarik nafas dalam - dalam.
"Kau sendiri?"
"Huh?"
"Kau sendiri? Apa kau menyukainya?"
"Aku? Entahlah, aku tidak tahu."
Ashley kembali mendecak.
"Kau terlalu pasif. Dengar, Lammy, kalau kau menyukai seseorang, kejar dia."
"Memangnya apa yang harus aku lakukan?"
"Kau goda saja dia."
Mia terbelalak. Sungguh ide yang sembarangan sekali. Dia tidak mungkin melakukan hal - hal memalukan seperti itu. Lagi pula dia tahu, tidak ada tanda apapun kalau Ben memperhatikannya.
"I won't do that," ujar Mia.
__ADS_1
"Ppfffft .. dasar kau perawan membosankan!"
***