I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 123


__ADS_3

THE MEADOWS MUSIC AND ARTS FESTIVAL, CITI FIELD, QUEENS, BROOKLYN.



DAY 1


Citi Field, stadion luas yang adalah sebuah lapangan bisbol dan merupakan kandang dari team bisbol kenamaan New York, New York Mets, disulap menjadi perkampungan sementara dengan banyaknya tenda - tenda yang berisi pameran seni dari lukisan, fotografi hingga pahat kontemporer. Dan juga tenda - tenda dari pengunjung festival yang datang dari berbagai daerah di New York bahkan dari luar negara bagian itu.


Di bagian musical performance, ada beberapa panggung sedang yang diperuntukkan bagi band - band pendatang baru yang akan tampil hari pertama, dan satu panggung besar untuk line up band - band dan penyanyi besar yang salah satunya adalah The Rebellion dan beberapa nama - nama besar lainnya, yang akan tampil di acara pamungkas di hari ke dua.


.


.


Mia menarik nafas dalam - dalam. Berusaha menetralisir rasa gugup yang menyerangnya. Berkali - kali gadis itu membungkuk memegangi perutnya yang rasanya seperti terkena keram. Suasana backstage cukup ramai oleh beberapa band dan penyanyi solo baru yang akan tampil.


Suara Master of Ceremony masih terdengar dari atas panggung. Sorak - sorai penonton semakin membuat rasa nervousnya menjadi - jadi.


"Ya Tuhan," ucapnya lirih. Mia mengibas - ibaskan jemarinya yang terasa kaku.


"Lamia, kau tidak apa - apa?" tanya Brandon yang sedari tadi memperhatikan gerak - gerik gadis itu.


"I'm so nervous."


"Don't be!" Brandon menggenggam tangan Mia dengan erat. Berusaha memberikan ketenangan pada gadis itu. Namun Mia masih tampak gugup. Hingga pria itu meraih tubuh mungilnya dan mendekapnya.


"Hei, kau pemain biola yang hebat. Kau pasti bisa!" bisiknya. Mia mengangguk dalam dekapan Brandon. Gadis itu kini merasa lebih tenang.


Brandon mengusap punggung Mia lembut. Lalu melepaskan pelukannya. Menatap mata gadis itu dengan tatapan penuh kasih.


"Lamia, I love you, I always do ...."


Mia tercengang. Dipandangnya wajah Brandon yang tampak tegang, namun serius. Tatapan mata cokelatnya tajam menghujam lubuk hatinya.


"Please welcome, a Brooklyn newcomer band, Funeralopolis!!


Seruan Master Of Ceremony dari atas panggung membuat keduanya terkesiap. Brandon meremas telapak tangan Mia berusaha memberikan sekali lagi semangatnya.


"Come on, guys!" seru William yang melihat Mia dan Brandon masih berdiri saling menatap.


Kini keduanya telah memegang alat musik masing - masing dan berjalan naik ke atas panggung. Teriakan penonton seketika terdengar begitu mereka muncul.


Mia tersenyum lebar. Sambutan penonton begitu antusias. Tidak seperti ketakutannya selama ini. Dia melihat ke arah Brandon yang sudah siap dengan gitarnya, dan tersenyum manis ke arahnya. Dadanya berdesir. Tak pernah disadarinya selama ini jika Brandon bisa terlihat setampan itu.


***

__ADS_1


"Aku tahu kau menyukainya."


Laras menyentuh dada Ben yang tengah duduk bersandar di kursinya.


"Kau pikir begitu?"


"Ikuti kata hatimu, Ben."


"Bagaimana denganmu?"


"Aku akan selalu ada di sini. Di dalam satu ruang khusus di sini." Laras menunjuk dada Ben dan mengetukkannya beberapa kali. "I'm not going anywhere."


"Tapi ada satu ruang kosong dalam hatimu yang harus kau siapkan untuknya. Akan menjadi ruang khusus baginya. Dan jangan pernah membawaku ke sana."


***


DAY 2


Ben duduk menyandarkan kepalanya di kaca bus yang membawanya dan kru Rebellion yang lain menuju Queens. Tangannya sibuk mengutak - atik ponsel di tangannya namun hanya menggulir layar ke atas dan bawah tanpa ada hal spesifik yang dicarinya.


Ben menatap satu nama di layar ponselnya. Beberapa menit berkutat dengan keraguan apakah dia akan men - dial nama itu atau tidak, akhirnya ditekannya tombol virtual berbentuk telepon itu dan menunggu sampai seseorang yang berada di seberang sana bersuara.


"Hallo?"


"Hi, Lamia, emm .. how was your performance?"


"Great." Ben terdiam sejenak. "Kau masih di Citi Field?" tanyanya ketika mendengar suara ramai di seberang sana.


"Yeah, sedikit bersenang - senang di sini." Mia terkekeh.


"Nice, see you there, then." Ben menepuk kepalanya pelan. Untuk apa dia mengucapkan kata - kata itu. Tentu saja mungkin mereka tidak akan bertemu di sana. Ben akan sibuk dengan Rebellion, sementara Mia mungkin akan bersenang - senang dengan teman - temannya.


Namun dalam hati Ben berharap Mia akan menonton penampilannya di atas panggung.


.


.


"Hello, America .... What's up, Queens!"


Riuh penonton menggema menyambut seruan Ben yang berdiri mencangklong gitarnya di depan microphone.


"This one is called Riding The Dune."


Hentakkan gitar dan drum secara bersamaan mengawali lagu yang di ambil dari album ke tiga Rebellion, The Sun Kingdom Queen, disambut oleh teriakan histeris para penonton yang sebagian adalah penggemar, yang merindukan kembalinya band kenamaan itu ke atas panggung.

__ADS_1


Ben, dengan bertelanjang dada, seperti biasa, adalah magnet bagi ribuan pasang mata yang menyaksikan di bawah sana. Mencabik - cabik gitarnya tanpa mempedulikan rambut panjangnya yang menutupi sebagian wajahnya. Ben merasakan kembali betapa lepasnya dia di atas panggung. Seakan - akan beban menumpuk yang selama ini dipikulnya, berangsur - angsur hilang. Semangatnya kembali membara. Berkobar seiring deru musik cadas yang tengah dimainkannya. Tiga lagu dari album ke tiga Rebellion berhasil mereka bawakan dengan sempurna.


"Thank You!" Ben berseru mengakhiri penampilan mereka malam itu.


Keempat personel The Rebellion undur diri turun dari panggung diiringi dengan sorak sorai penonton yang masih terdengar hingga mereka berada di ruang ganti yang dikhususkan untuk mereka.


Di ruang itu ada Jack, sang manager, Marry, sang asisten dan beberapa kru yang telah menunggu. Rebellion disambut dengan beberapa krat bir untuk diminum bersama.


Seorang pria berjenggot panjang yang merupakan salah satu kru Rebellion berjalan mendekati Ben dan membisikkan sesuatu padanya. Ben mengangguk - angguk sembari tersenyum dan dari gerakan bibirnya dia mengucapkan kata terimakasih pada pria itu.


Ben segera menyambar jaket bertutup kepala miliknya yang tergeletak di atas meja kemudian mengenakannya.


"Guys, I gotta go," ujarnya sembari melangkah keluar menuju pintu.


"Where are you fu**ing going?" tanya Marcus.


Ben hanya terbahak sembari membuka pintu dan menghilang di baliknya.


.


.


"Cheers!"


William mengangkat gelasnya yang telah terisi Bruichladdich, jenis minuman whiskey dari Scotland yang dibawanya berkemah malam itu di pelataran Citi Field, bersama personel Funeralopolis lainnya.


Mereka memang memutuskan untuk berkemah dari hari pertama hingga festival selesai besok pagi.


"Ini terlalu kuat, Lammy, kau tidak harus meminumnya." Brandon berusaha mencegah Mia meminum gelas yang berisi cairan berwarna cokelat kekuningan yang tengah dipegangnya.


"Aku akan mencobanya sedikit." Mia meringis sembari meneguk sedikit gelasnya. Gadis itu bergidig. Tenggorokannya seketika terasa terbakar.


"I told you," ujar Brandon.


"Woohoo .. Lammy, go, Lammy!" William justru menyemangati Mia untuk melanjutkan minumnya.


"Hey, guys, guys!!" panggil Bryan seraya menyikut lengan William yang tengah tertawa terbahak - bahak. "Lihat siapa yang datang," ujarnya seraya menunjuk sesosok jangkung berbalut jaket tebal dan penutup kepala yang tengah berdiri di bawah tiang lampu tak jauh dari tenda mereka.


William menghentikan tawanya seketika.


"Holy S**t!"


***


Catatan :

__ADS_1


Lagu yang aku comot di part ini adalah :


Valley of The sun - Riding The Dune ( Stoner Rock Band dari Cincinnati, Ohio, USA ).


__ADS_2