I Am Yours,Mr Chevalier!

I Am Yours,Mr Chevalier!
Part 57


__ADS_3

"Kau kejam sekali, Laras?" ujar Catherine,


sembari memasukkan satu gigitan burger ke dalam mulutnya. Keduanya tengah duduk di tempat favorit mereka di kampus, yaitu kursi di bawah pohon oak yang rindang.


"Kenapa juga dia harus menyuruh orang untuk mengawasiku, aku merasa seperti seorang penjahat," sahut Laras.Kemudian menyeruput kaleng sodanya.


Catherine mendesis. Gemas dengan sahabatnya ini.


"Kau ini sungguh naif, Laras, itu artinya dia sangat mengkhawatirkanmu, dia takut kau akan kembali dengan James," rutuk Catherine.


Laras terdiam. Mungkin sahabatnya ini benar. Laras bisa merasakannya, tapi Ben sungguh berlebihan. Tapi apa benar Ben sungguh-sungguh menyukainya? Laras berkutat dengan pikirannya sendiri.


"Kau tidak tahu berapa wanita di luar sana yang ingin berada di posisimu, gadis bodoh?"


maki Catherine gemas.


Laras mendecak. "Kau tahu sendiri dia Ben Chevalier, reputasinya buruk sekali tentang wanita .. aku juga beberapa kali melihat dengan mata kepala sendiri wanita-wanita itu mendatanginya, dan Ben ...." Laras menarik nafas dalam-dalam. Memberi jeda pada perkataannya. "Menerima mereka dengan tangan terbuka," lanjutnya.


Catherine memandang sahabatnya itu lekat. Dilihatnya wajah Laras muram. Matanya memandang lurus ke depan. Kosong.


"Aku takut dia menganggapku sama seperti wanita-wanita yang mengejarnya itu," ucap


Laras lirih.


Catherine menghela nafas dengan berat. Susah sekali meyakinkan gadis satu ini,batinnya. "Kau tidak mengejar Ben .. Ben yang mengejarmu, bodoh!" makinya kemudian.


Laras menoleh ke arah Catherine. Gadis bermata abu-abu itu menatapnya dengan wajah yang serius.


"Bagaimana kalau dia hanya merasa tertantang saja? Atau dia sedang taruhan dengan teman-temannya? Atau ingin melakukan hal-hal yang berbeda dari kebiasaannya," kata Laras tiba-tiba.


"Ishh .. !!" Catherine memukul puncak kepala Laras gemas.

__ADS_1


"Bisa saja kan?" tanya Laras. "Lihat aku, Cathy, aku ini gadis sederhana yang berpenampilan apa adanya, aku tidak secantik Anita Wallis, atau wanita-wanita yang dekat dengannya. Apa menurutmu tidak aneh kalau seorang Benjamin Chevalier mengejarku? Apa otaknya sedang eror?" celoteh Laras.


Catherine terbahak mendengar perkataan sahabatnya itu. "Have you ever heard about the inner beauty thing?"


"Benjamin Chevalier? Peduli dengan inner beauty seorang wanita?" Laras terbahak.


Catherine mendecak. "Laras, kau terlalu negatif dengan Ben, cobalah mengenalnya lebih dalam .. seperti .. mengenal apa yang ada di balik pakaiannya." Tawa Catherine meledak. Sukses mengerjai sahabatnya itu.Membuat muka Laras merah padam.


"Dasar gadis berotak mesum!" hardik Laras sembari memukul bahu Catherine keras. Membuat gadis itu berteriak kesakitan.


***



WHITE OAK MUSIC HALL, HOUSTON, TEXAS.


THE REBELLION REHEARSAL.


Ben sibuk mengutak-atik efek gitarnya yang dirasa belum sesuai dengan suara yang diinginkannya. Raut mukanya tampak serius.


Ben melanjutkan latihannya dengan sebuah lagu berjudul Flower Of Evil dan Funeralopolis yang diambilnya dari album pertama The Rebellion. Minus vokal tentunya, karena Ben hanya menjajal suara gitarnya. Ketiga personel yang lain, Greg, Marcus dan Liam juga melakukan hal yang sama, menjajal suara instrumen mereka masing-masing.


Hailey dan beberapa orang lain yang menonton rehearsal The Rebellion berdiri di depan panggung. Gadis itu menopangkan lengannya ke tepian panggung. Mendongak ke arah Ben yang berdiri sekitar satu meter di hadapannya. Memperhatikan lelaki bertelanjang dada yang tengah larut dalam cabikan gitarnya itu. Hailey dibuat kagum dengan teknik bermain gitar Ben yang ugal-ugalan namun tidak pernah keluar tempo.


Senyum gadis itu terus mengembang,


matanya mengikuti gerakan tubuh Ben kesana kemari.


Lagu berakhir. Liam memberi tanda untuk break. Marcus dan Greg meletakkan gitar masing-masing di stand gitar di belakang panggung. Sementara Ben masih sibuk dengan peralatannya.


Ben melirik Hailey sekilas. Baru menyadari gadis itu sedari tadi ada di hadapannya. Senyuman Hailey masih tersungging di bibirnya.

__ADS_1


"Kau tidak ada pekerjaan lain selain menguntitku?" tanya Ben, menghentikan aktifitasnya, menghadap ke arah Hailey.


Hailey meringis. "You are so damn hot!" ujar Hailey tanpa mempedulikan pertanyaan Ben.


Ben hanya mendecak. Kemudian berdiri dan meletakkan gitarnya di stand gitar. Lalu turun dari atas panggung, menuju ke meja yang terdapat botol air mineral di atasnya. Hailey menguntit dari belakang. Membuat Ben risih dibuatnya.


"What do you want, Hailey?" tanya Ben. Menyandarkan tubuhnya di dinding, memegang botol mineralnya.


"Pesonamu terlalu kuat, kau membuatku ingin selalu berada di dekatmu," kata Hailey dengan entengnya.


Ben memiringkan sudut bibirnya, tersenyum tipis. "So?"


"Jadi alangkah baiknya kalau kau mau mencoba membuka hatimu untukku," jawab Hailey,membuat Ben tergelak.


"Selain cerewet kau juga agresif ya?"


"Salahkan saja pesonamu itu!" gerutu Hailey.


Ben mengacak rambutnya kasar. "Wanita memang membingungkan!" umpatnya. Kemudian berlalu dari hadapan Hailey.


"Ben!" panggil Hailey kesal.


"Apa? Aku mau ke toliet? Kau mau ikut?"


"Dengan senang hati ..." timpal Hailey.


Ben mengibaskan tangannya. "Gadis gila!" makinya. Hailey hanya tersenyum lebar mendengar makian Ben. Dipandanginya punggung lelaki itu hingga menghilang di balik pintu kamar kecil.


***


Catatan Penulis:

__ADS_1


Lagu yang saya comot adalah:


-Flower of Evil dan Funeralopolis - Electric Wizard (Stoner Doom Metal dari Inggris).


__ADS_2