
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Author🌸
"Om ingin kita seperti dulu, Nada. Om ingin bertanggung jawab."
Nada seketika merasa sesak napas mendengarnya. Pernyataan Ody yang menurutnya masih ambigu itu sukses membuat otaknya tak berhenti berputar.
"A,,, Apa,,, Apa maksud om?" Nada gugup dan takut takut.
"Anak itu. Bukankah bayi itu,,,,"
Ceklek!!
Suara pintu dibuka. Semua mata tertuju ke arah pintu. Siapa pun orang yang akan masuk itu, Nada sangat bersyukur karena dia telah menyelamatkan Nada sementara waktu dari apa pun yang akan dikatakan oleh Ody selanjutnya.
Nada tidak siap jika Ody sampai tau bahwa bayi yang dilahirkannya adalah darah dagingnya. Sudah terbayang bagaimana kecewanya keluarga barunya jika tau kebenaran ini. Nada belum sanggup.
Dewa masuk bersamaan dengan kedua orang tuanya membuat pembicaraan antara Ody dan Nada terhenti.
"Kak Dewa,,," panggilnya merasa sekali lagi ciptaan Tuhan yang satu ini memang tampaknya selalu menjadi dewa penolongnya.
Bahkan saat seperti ini pun, Dewa lah yang muncul.
"Halo om. Terima kasih sudah bantu aku jaga istriku." sapanya ramah pada Ody namun dalam hati Nada makin takut jika semua terungkap.
"Sama sama. Tidak usah berterima kasih. Nada keponakan saya. Tanggung jawab saja juga." saat mengatakan kata tanggung jawab, mata Ody menatap Nada dengan tatapan tajam.
"Benar sekali. Oh ya Na,,, kita harus segera siapkan nama untuk anak kita. Segera ya. Soalnya itu untuk data di rumah sakit." ujar Dewa sambil mengusap lembut puncak kepala Nada.
"I,,, Iya kak." Nada merasa tidak enak hati pada tatapan tidak suka Ody atas perlakuan Dewa kepadanya.
"Kamu kenapa Na? Kok pucat begini? Apa ada yang sakit lagi? Na butuh apa?"
Sialnya Dewa malah seakan makin sengaja menunjukkan sikap sayangnya kepada Nada di depan Ody. Ia seakan menegaskan kepemilikannya yang sah atas diri Nada.
__ADS_1
"Ng,,, Nggak apa apa kok. Mungkin efek baru lahiran saja." sahut Nada cepat.
"Yakin Na? Kamu pucat banget lho." Dewa tak lantas percaya begitu saja.
"Birru." cetus Nada kemudian.
"Biru???" alis Dewa bertaut tanda ia tak paham.
"Iya Birru. Dobel R. Itu nama anakku." tukas Nada.
"Anak kita sayang." Dewa tersenyum lembut dan kembali mengusap kepala Nada.
"Ii,,, Iya. Anak kita. Birru. Na mau namanya diselipkan kata Birru."
"Baiklah. Tapi sesuai dengan adat keluarga, nama depan anak kita juga harus pakai nama kasta dan urutan anak ke berapa ya Na. Na gak keberatan kan?" Dewa tidak ingin memaksa meski itu keharusan dalam adat Bali.
"Urutan anak?" tanya Nada yang belum begitu paham dengan nama anak anak Bali berdasarkan urutan anak ke berapa.
"Iya Nad,, Putu atau Wayan untuk anak pertama. Kadek atau Made untuk anak kedua. Komang anak ketiga dan Ketut anak ke empat." ajik Artha menyahut dan dengan sabar menjelaskan.
Menurutnya, beliau punya tugas juga untuk menjelaskan hal ini kepada menantunya itu.
"Tentu saja Nad. Itu bebas. Kalau yang nama bawaan kasta dan urutan anak memang bersifat memaksa. Semoga kamu akan terbiasa dengan hal seperti ini ya." kata ajik Artha kemudian.
Nada hanya mengangguk mengiyakan. Berada di situasi seperti ini membuatnya gerah. Satu ruangan bersama orang yang diam diam selalu ada dalam angannya sekaligus bersamaan dengan orang orang yang telah berjasa besar dalam hidupnya,,, sungguh membuatnya sesak.
"Mmm biar kakak pikirkan nama apa yang sesuai untuk anak kita. Mmmm,,,,Dewa Bagus Putu mmmmm Birru??? Mmm,,,, apa ya yang bagus? Mmm,,,," Dewa berpikir.
"Maharadja."
Sontak mata Nada membulat ketika ide itu rupanya bukan keluar dari bibir Dewa melainkan Ody. Ayah biologis sang bayi.
"Dewa Bagus Putu Maharadja Al Birru." kembali Ody menegaskan nama itu kali ini dengan lengkap.
Nama bawaan dari sang ayah status, nama pilihan ibunya dan sekaligus nama pilihan ayah biologisnya.
"Kak,,," Nada merasa tidak enak kepada Dewa. Ia takut Dewa merasa dilangkahi oleh Ody. Tidak enak juga kepada ajik Artha dan biang Dayu juga.
"Maharadja? Mm setuju. Aku suka nama itu om. Terima kasih atas idenya." ternyata Dewa malah setuju membuat jantung Nada semakin berdegup kencang.
"Ya. Ajik juga setuju. Ternyata selain pandai dalam pekerjaan, kamu juga jago beri nama untuk anak, Ody." puji ajik Artha.
__ADS_1
Ody hanya tersenyum tipis. Matanya masih tetap menatap Nada yang makin merasa tidak nyaman di tempatnya. Nada bahagia sekaligus merasa takut. Bahagia karena sang anak mendapatkan nama pilihan ayah biologisnya sekaligus takut jika hari ini saja sang ayah biologis bisa memberi nama maka hari lain bisa saja mengambilnya.
"Biang bagaimana? Suka kalau cucu kita pakai nama itu?" tanya ajik Artha kepada istrinya.
"Ajik ini,,, kok malah biang yang ditanya. Ibunya dong yang ditanya. Kalau biang, apa pun itu asal cocok untuk anaknya, biang setuju saja. Kamu juga Dew, tanyakan sama Nada dong." seru biang Dayu.
"Na suka?"
"Ah,,, Mmm,,, Iii,,, Iya Na suka. Ba,,, Bagus. Terima kasih om atas idenya." suka tidak suka Nada harus mengatakannya. Hatinya serasa mencelos.
"Baiklah kalau begitu kakak ke bagian administrasi dulu ya. Biar kakak urus semuanya." ujar Dewa dijawab anggukan kepala Nada.
"Ajik ikut." seru ajik Artha tanpa bisa ditolak lagi karena beliau sudah bangkit dari duduknya.
Setelah Dewa dan ajik Artha keluar, ganti biang Dayu yang baru ingat bahwa mereka semua belum makan.
"Nad,,, biang keluar beli makanan dulu ya. Nada gak apa apa kan ditinggal di sini dulu sama om nya?" tanya biang Dayu lembut.
"Tidak apa apa bu. Tinggal saja. Biar saya yang menjaganya." jawab Ody mendahului Nada.
Nada hanya bisa menarik napas berat karena jujur ia jadi takut ditinggalkan berdua saja dengan Ody. Tapi ia juga tak punya alasan untuk bilang tidak.
"Terima kasih. Untung ada anda." biang Dayu merasa terbantu oleh kehadiran Ody.
Segera biang Dayu meraih dompetnya dan meninggalkan dua insan itu di dalam kamar.
"Nada,,, Om tau apa yang sudah om lakukan kepadamu malam itu,, om ingat akan kejadian malam itu. Om menemukan bercak darah di seprai tempat tidur om. Om bisa menduga darah siapa itu. Dan kepergianmu yang mendadak juga semakin meyakinkan om."
Deg deg deg,,, jantung Nada bertalu talu.
"Om tidak mandul Nada." cetus Ody sekali lagi.
"Maksud om??"
"Katakan pada om,,, Siapa ayah Birru??!!"
Deg,,, dunia terasa terbalik di mata Nada. Siapa yang bisa membantunya keluar dari situasi ini sekarang???
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,...
__ADS_1