
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Nada🌸
Matahari telah tersenyum cerah di langit Bali pagi ini seolah menyambut kedatangan jiwa baru yang ingin memulai hidup barunya ini. Semoga Bali ramah kepadaku seperti kata kata orang.
Hari sudah berganti nama. Perjalanan panjang yang ku tempuh dari kotaku seakan tak menyisakan lelah sedikit pun di tubuhku. Aku begitu menikmati hawa dan atmosfer khas pulau yang disebut dengan pulau dewata ini.
Aroma wangi lembut dari dupa dupa yang dibakar oleh para wanita yang melakukan persembahyangan pagi mereka, memberikan efek relaksasi di otak dan tubuhku. Belum lagi senyum ramah yang diberikan mereka yang ku lalui.
Keindahan terhampar di sepanjang mataku memandang. Aku tiba di Bali saat ada sebuah perayaan agama di mana akhirnya aku bisa melihat langsung dengan mata kepalaku sendiri indahnya perbedaan dan adat istiadat.
Wanita wanita memakai kebaya khas Bali lengkap dengan kain dan selendangnya. Mereka mengusung sebuah rangkaian buah buahan dan bunga di atas kepalanya. Aku takjub melihatnya. Betapa kuat kepala mereka menyangga beban seberat itu. Wanita wanita perkasa yang bisa kujadikan panutan meski hanya dalam kiasan.
Aku tidak boleh lemah. Meski kini aku hidup sendiri. Benar benar sendiri. Aku harus mampu bertahan hidup. Merangkai masa depanku sendiri. Tak dapat ku pungkiri bahwa aku tak akan pernah bisa melupakan satu satunya lelaki yang sudah menyentuhku dengan sangat dalam.
Tapi biarkan kenangan dan bayangannya cukup hidup dalam anganku saja. Biarkan ia bahagia bersama belahan hatinya. Dan aku,,, aku pun akan mencari kebahagiaanku sendiri di sini,,, di Bali.
Ku lanjutkan langkahku menuju ke alamat yang sudah menyiapkan sebuah kamar kecil untukku. Ku dapatkan alamat itu dari internet. Katanya pemiliknya menyewakan kamar kosong yang sudah dilengkapi dengan fasilitas lengkapnya.
"Dengan mbak Nada?" sapa seorang ibu ibu yang umurnya mungkin sekitar 50 tahun. Tampaknya beliau adalah pemilik kost ini.
"Benar ibu. Saya Nada." jawabku ramah.
"Saya ibu Dayu. Pemilik kosan ini. Mari saya tunjukkan kamarnya." ajaknya kemudian tanpa menanyakan lebih banyak tentang diriku seperti ibu kost di kotaku sebelumnya.
Tampaknya di sini, orang orang tak begitu peduli dengan urusan masing masing. Mereka tampak menjaga jarak dan privasi. Itu semua bisa ku simpulkan dengan bentuk kamar kosan yang masing masing dibatasi oleh tembok setinggi orang dewasa hingga tak memungkinkan penghuni satu kamar dengan kamar sebelahnya bisa melihat apa yang dilakukan tetangganya.
__ADS_1
Belum lagi setiap pintunya juga dilengkapi pagar mini hingga makin memperkuat kesan privacy. Baguslah,,, setidaknya tidak ada yang akan menanyaiku dan masa laluku. Itu hanya akan jadi milik dan rahasiaku.
Aku menurut saja kemana langkah ibu Dayu. Hingga akhirnya beliau menghentikan langkahnya di sebuah kamar yang terletak di tengah tengah bangunan yang kalau aku tidak salah terdiri dari 20 kamar.
"Nah, ini kamarnya. Silahkan dilihat lihat dulu." ucapnya mempersilahkan.
"Permisi bu." dengan sopan aku melangkah masuk lebih dulu.
Kamar dengan angka 9A itu tampak tak terlalu kecil dibanding bayanganku. Untuk ku tempati sendiri, kamar ini sudah cukup luas. Ada kasur ukuran 160x200 yang sudah dilengkapi 2 bantal dan sebuah guling. Selimut tebal juga sudah tersedia. Ada kamar mandi dengan toilet duduk lengkap shower. Ada juga dapur lengkap dengan mini pantry dan kompornya.
"Ada piring dan beberapa perlengkapan makan di lacinya mbak." ucap bu Dayu ketika melihat aku termenung memandang kompor.
"Oh iya bu. Ibu tau saja saya sedang berpikir." ucapku malu karena bu Dayu tampaknya paham aku tengah berpikir dengan kompor tanpa peralatan masak dan makan juga akan percuma.
Bu Dayu hanya tersenyum menanggapiku. Beliau memberikanku waktu menyusuri tiap inci kamar ini. Memastikan apakah aku akan mengambilnya atau tidak.
"Berapa harga sewanya bu?" akhirnya aku menanyakan hal penting itu.
"Dua juta belum termasuk listrik dan air." jawab bu Dayu lumayan membuatku lega karena saldo tabunganku masih cukuplah untuk membayar kamar ini untuk 5 bulan ke depan.
"Baik bu. Saya ambil sekalian untuk 5 bulan dulu boleh?" tanyaku.
"Di sini bayarnya bulanan saja mbak. Tidak perlu langsung bayar 5 bulan. Takutnya nanti mbak Nada gak betah. Kan kasihan uangnya sudah dibayarkan semua dan saya tidak bisa mengembalikannya kalau sudah dibayar di muka begitu." ucapnya.
"Oh begitu ya bu. Baiklah kalau begitu saya bayar untuk bulan pertama dulu ya."
Ku keluarkan dompet dan ku ambil uang sejumlah harga yang disepakati dan ku serahkan kepadanya. Beliau tampak menghitung dengan teliti kemudian tersenyum kembali.
"Ini kuncinya. Semoga betah ya. Oh ya, untuk peraturan di kost ini sudah tertulis semua di balik pintu kamar. Silahkan di baca dan dipahami. Kalau ada yang kurang paham, bisa tanyakan pada saya."
"Baik ibu."
"Mbak Nada sendirian saja tinggalnya?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Iya bu. Saya sendiri saja."
"Belum punya pasangan?" kali ini aku hanya menjawab dengan menggeleng pelan.
"Cantik begini kok masih single sih? Mau sama anak saya? Anak saya juga masih jomblo tuh,,," ucapnya sembari mengeraskan suaranya dan menunjuk ke arah seorang pemuda yang tengah menyapu halaman kost kosan ini.
"Biaaaang!!!" teriaknya kesal pada bu Dayu. (Biang adalah panggilan untuk ibu bagi mereka yang berkasta tinggi).
"Hehehe,,, namanya Dewa. Mbak Nada akan sering bertemu dengannya di sini. Dia yang selalu menjaga kos ini. Siapa tau jodoh,, ya kan??" bu Dayu masih saja menggoda kami.
Aku hanya tersenyum saja tanpa niatan mengiyakannya. Aku tau ini hanya candaan bu Dayu saja. Lagipula,,, mau dia Dewa, ksatria, pendekar atau bahkan raja sekalipun,,, Dia bukan siapa siapa di mata dan hatiku karena hatiku telah memilih dewa pujaannya sendiri.
I love you, Om Ody,,, aku baru menyadarinya setelah dengan sukarela menyerahkan milikku yang paling berharga padamu,,,
"Biang udah deh. Apaan sih?" pemuda bernama Dewa itu makin kesal dengan ulah Biangnya dan itu membuatku tersadar dari lamunan.
Aku memang harus berhenti melamun.
Bangun Nada!! Ini dunia nyata yang harus kamu hadapi. Jangan hidup hanya dalam mimpi. Raih masa depan dan bahagiamu sendiri.
"Maafkan biang. Beliau memang suka begitu. Jangan diambil hati ucapannya." Dewa menghampiriku dengan wajah dinginnya.
"Yang ramah sedikit kenapa sih kamu itu Wa?? Anak baru kan biar betah di sini." tegur bu Dayu.
Dewa tak menjawab dan langsung pergi lagi. Melanjutkan kegiatannya tadi.
"Anak itu ya,,, hmmm. Jangan kaget ya mbak Nada. Memang seperti itu dia. Tapi sebenarnya dia baik hati kok. Hanya judes saja kelihatannya. Baiklah, selamat beristirahat ya. Saya permisi dulu." pamit bu Dayu setelah panjang lebar menjelaskan tentang sosok Dewa yang sama sekali tak ingin ku tau sebenarnya.
Bodo amatlah,,, lebih baik aku istirahat dulu sebelum disibukkan dengan urusan cari pekerjaan. Untuk hari ini cukup berinteraksi dengan 2 orang dulu, bu Dayu dan Dewa si judes itu. Malam ini dan sebulan kedepan yang jelas aku sudah punya tempat tinggal. Itu sudah cukup bagiku yang mulai hidup baru ini.
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,...
__ADS_1