
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Ody🌸
Pada akhirnya,,, setelah hari demi hari bergulir,,,, berganti hari,,, bulan juga rajin berganti. Tak terasa hati ini juga sembuh dari duka lara. Aku tak lagi menangis kala malam menyapa,,, aku tak lagi merasa kesepian dalam hidup ini.
Dan yang terpenting adalah aku sudah ikhlas. Melihat Nada tersenyum bahagia bersama suaminya,,, melihat Birru yang makin kesini makin mirip diriku,,, ia sudah belajar berjalan di usianya yang sudah memasuki setahun.
Anak itu juga sudah pandai mengucap dan memanggil ayah baik padaku maupun pada Dewa, ayah sambungnya. Mungkin otak kecilnya masih belum bisa menerima atau mengerti kenapa ia punya dua ayah. Tapi aku yakin dalam hatinya ia bahagia bersama kedua ayahnya ini.
Tenang nak,,, suatu hari kita akan duduk bersama. Ayah,,, ibu,,, ayah Dewa dan kamu,,, kita akan berbicara hati ke hati. Kamu akan tau siapa jati dirimu. Ayah hanya ingin kamu jangan pernah mengecewakan ayah sambungmu yang sudah begitu baik menjalankan perannya untukmu dan ibu.
Maafkan ayah yang tidak bisa setiap saat bersamamu,,, tapi percayalah,,, ayah akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untukmu nak.
Birru,,, kelak kamu akan mengerti.
Ku jalani hari demi hari dengan senyuman. Rasanya tak kalah manis dengan senyum Dewa yang tiap hari juga tersungging. Aku bahagia melihatnya bahagia bersama Nada. Karena hal itu juga mempengaruhi kualitas dan kinerja kerjanya.
Dewa cukup pintar dan cepat menyerap apa yang ku ajarkan kepadanya selama ini. Sekarang bahkan aku sudah tak perlu terus menerus mendampinginya di Bali. Apalagi sejak pengangkatan dan peresmian dirinya menjadi pemimpin perusahaan ketika usia Birru mencapai tiga bulan. Aku makin sedikit pekerjaan di sini karena dia sudah bisa sendiri.
Sebenarnya aku bisa saja meninggalkan Bali dan mengurusi cabang di mana sebelumnya aku bekerja. Tapi Birru,,, bocah itu membuatku tak bisa jauh darinya. Sehari saja tak bertemu dengannya, aku akan sangat rindu.
Kondisi mama yang sama rindunya denganku juga membuatku mengambil keputusan untuk tetap tinggal di Bali dan tak mengapa jika harus bolak balik luar pulau. Tapi kami sudah tak menempati villa yang disediakan oleh bapak Artha dulunya.
Aku sudah mampu membeli rumah sendiri dengan hasil kerjaku selama ini. Kuputuskan membeli rumah di jantung kota Denpasar agar memudahkanku untuk kemana mana.
Bapak Artha tentu saja keberatan awalnya tapi beliau tidak memaksaku untuk tetap tinggal di Villa. Beliau terlalu bijak untuk jadi pemaksa. Beliau pasti bisa paham apa yang jadi pertimbanganku.
__ADS_1
Oh ya,, yang lebih menyenangkan lagi adalah tiap hari minggu, aku diperbolehkan Nada untuk membawa Birru jalan jalan bersamaku dan mama saja. Aku bisa menjemputnya pagi hari dan mengantarkannya kembali menjelang sore. Dan aku tak pernah melewati batasan itu. Aku tak mau ke depannya aku malah sulit untuk bisa mengajaknya keluar lagi.
"Hari ini kita mau kemana nenek?" tanyaku mengajari Birru bicara.
"Nyek,,, nyek,,," Birru tampak girang dalam gendonganku dan memanggil manggil neneknya, mamaku.
"Aduduuuh,,, cucu nenek semangat sekali. Nenek ingin mengajakmu mengunjungi teman nenek ya. Dia pengurus panti asuhan." ujar mama.
Alisku bertaut karena aku malah baru tau ada teman mama mengurus panti asuhan di sini. Aku juga tidak tau kapan mama merencanakan pergi kesana.
"Sekalian ajari Birru untuk hidup berbagi dengan sesama sejak dini, Ody." sambung mama.
"Iya ma. Tapi mama memangnya tau tempatnya?"
"Belum tau sih tapi teman mama sudah share lokasinya kok. Kita bisa ikuti maps nya. Kalau gak salah ini di kawasan Tabanan." kata mama sambil melihat ponselnya.
"Ok ma. Kalau begitu kita berangkat sekarang. Biar tidak terlalu sore pulangnya."
"Baiklah. Mama gendong Birru ya."
Mama tak lagi membantah. Beliau juga pasti tau akan sangat melelahkan menggendong gembulku itu. Mendapat asi ekslusif dan hingga kini masih berlanjut membuat bocah gantengku itu gembul dan sehat. Berat badannya konsisten naik tiap bulannya. Tapi Nada pasti sudah mempertimbangkan dan tau batasan atau berat normal anak pada tiap usianya.
Birru tidak rewel tiap kali ku ajak pergi begini karena dia juga suka minum susu formula. Itu memudahkanku membawanya. Tak mengapa meski harus membawanya dengan tas keperluan bayi yang identik dengan gambar kartun itu. Aku selalu cuek jika diperhatikan beberapa wanita yang entah apa isi pikirannya melihat lelaki sepertiku rempong dengan bayi lengkap dengan tasnya.
Biar saja,,, kalau Dewa yang ayah sambung saja selalu percaya diri tampil begitu, kenapa aku yang ayah kandungnya harus merasa gengsi?
Perjalanan yang kami tempuh hampir sejam setengah akhirnya berakhir ketika mama tersenyum melihat sebuah papan nama bertuliskan nama panti asuhan yang dicarinya.
"Ini dia tempatnya. Ayo kita turun sayang." ujarnya pada Birru yang sempat terjaga setelah cukup lama tertidur di perjalanan.
Birru semangat sekali melihat beberapa anak kecil berlarian mengerubungi mobil kami. Pasti dia mengira anak anak itu akan mengajaknya bermain.
"Anak anak,, jangan main di jalanan. Ayo masuk." suara seorang wanita yang memanggil anak anak itu.
__ADS_1
Telingaku bagai tertarik magnet mendengar suara itu. Suara yang begitu akrab di telinga namun melihat sosok pemilik suara membuatku tidak yakin dengan pendengaranku sendiri.
"Maafkan anak anak. Apa mereka merusak mobil anda?."
Seorang wanita berhijab dan bahkan bercadar hitam keluar menghampiri anak anak itu. Ia sama sekali tak memandang kami. Ia terus menunduk seolah takut lawan bicaranya menatap matanya.
"Tidak kok. Mereka sama sekali tidak mengganggu kami. Apa benar ini panti asuhan milik ibu Nani?" tanya mama terus berinteraksi dengan wanita itu sementara aku tetap berusaha fokus pada wanita bercadar itu.
Rasanya aku tidak salah kenal suara itu,,, tapi penampilannya itu membuatku ragu. Rasanya tidak mungkin kalau itu,,,,
"Ayo Ody. Benar ini tempatnya."
"Ody???" Mendengar namaku disebut, wanita itu langsung mendongak hingga sepasang netra itu bersitatap dengan netraku.
Aku tidak mungkin salah,,, mata itu,,, mata yang pernah ku puja puja. Mata indah milik Valencia,,,
"Kamu kenal putra saya?" tanya mama yang belum mengenali siapa wanita bercadar itu.
"Mama??"
"Mama?? Kamu siapa?? Ody siapa dia?? Kamu kenal??" mama jadi bingung dipanggil mama.
"Wah tamu agung sudah datang rupanya. Valencia,, Kenapa berdiri di sana saja? Ayo ajak tamu kita masuk." wanita seusia mama yang kutebak sebagai teman mama keluar dan menjawab semua pertanyaan mama tadi.
"Valencia?? Benar ini kamu??" mama terkejut dan mengabaikan ajakan temannya.
"Kalian kenal??" tanya ibu Nani heran.
"Dia,,, dia,,,"
"Maafkan saya." Valencia segera berlari masuk meninggalkan kami yang masih terpaku bingung kenapa ia bisa berada di sini dan apa yang sudah terjadi padanya dan penampilannya.
Takdir macam apa ini tuhan? Kenapa kami harus bertemu lagi?
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,...