
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
"Aku baik baik saja. Tidak usah cemas. Udah ya. Aku mau istirahat dulu. Capek."
"Tapi beib,,,"
"Apa sih??" Valencia mulai kesal.
"Ini Nada pingin video call sama kamu." jelas Ody.
"Berikan telponnya pada Nada. Biar aku yang jelasin ke dia."
"Gak usah deh beib. Dia udah masuk ke kamarnya. Biar aku yang coba jelasin nanti sama dia ya. Kamu kan lagi capek. Istirahat saja sayang ya." Ody tak ingin memaksa lagi toh Nada sepertinya sudah kecewa.
"Ok. Dari tadi juga begitu mauku. Bye."
Valencia mengakhiri pembicaraannya dengan Ody di telepon tanpa menunggu respon apa pun dari Ody. Meski alasan meminta video call adalah karena Nada rindu kepadanya, namun jelas Valencia menolak.
Tidak mungkin mereka video call karena bisa memperlihatkan kondisi dirinya yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit selepas melakukan pengangkatan rahimnya kemarin.
Operasi itu memang lancar tanpa ada kendala apa pun. Kondisi Valencia yang memang prima membuat semua baik baik saja tapi tetap saja membuat Valencia mau tidak mau harus bedrest dulu pasca operasi.
"Usia anda masih muda. Apakah anda yakin?? Anda pasti tau bahwa setelah ini anda tidak akan pernah bisa untuk hamil? Apa suami anda tidak keberatan dengan keputusan ini?"
"Yakin seyakin yakinnya. Lakukan saja."
Dan semua pertanyaan dokter kemarin sudah dijawab dengan gamblang oleh Valencia. Sehingga dokter pun tak bisa lagi mengelak untuk tidak melakukannya. Bahkan saat dokter meminta surat persetujuan dari pihak suami, Valencia pun bisa memberikannya.
"Untung Nancy udah jaga jaga buatin surat persetujuan palsu dari Ody." gumam Valencia mengingat kejadian itu.
"Gimana keadaan lo? Masih nyeri? Perlu dikasih obat pengurang rasa sakit nggak??"
Nancy masuk ke ruang inap Valencia. Oa membawa beberapa kantong belanja yang sepertinya isinya adalah makanan dan minuman untuk mereka.
"Lo bawa makanan apa? Gue mau dong." Valencia tak menjawab semua pertanyaan Nancy dan malah balik tanya.
"Eh kunyuk,,, lo tu baru habis dioperasi. Taat dikit sama aturan dokter kenapa sih? Makan makanan dari rumah sakit dulu. Demi kesembuhan lo. Lo mau cepat bisa balik kan? Lo gak mau kan lakik lo curiga kalau lo kelamaan di sini?" omel Nancy.
Valencia mengerucutkan bibirnya. Temannya satu ini memang cerewet tapi juga sangat perhatian pada kondisi kesehatannya.
"Nih,,, ada air putih aja buat lo."
Nancy mengulurkan sebotol air lengkap beserta sedotannya karena Valencia memang belum bisa minum dengan duduk. Ia hanya bisa rebahan. Makan dan minum pun dalam kondisi rebahan.
"Ogah ah. Mending gue tidur aja. Gue masih pusing dan ngantuk. Kenapa ya??" tanya Valencia.
"Ya karena masih pengaruh obat bius lah." jawab Nancy.
"Oh iya benar juga hehehe,,," Valencia nyengir kuda.
Tok,,, tok,,tok,,
"Nada sayang,,, buka pintunya dong. Om mau bicara." panggil Ody pelan di balik pintu kamar Nada.
Klek,,, Nada pun membukanya.
__ADS_1
"Kenapa sayang kok mukanya manyun gitu?? Kesal sama tante ya? Biar om jewer besok tante karena udah bikin anak cantik ini kecewa dan manyun. Tapi sebelum itu, om mau ambil karet gelang dulu deh." seru Ody.
"Buat apa om??"
"Buat ngikat bibir Nada tuh udah maju sampai lima senti tuh. Udah bisa dikuncir."
Nada menutup mulutnya dengan tangannya. Merasakan apa benar seperti yang Ody bilang itu.
"Nggak ah. Bibir Nada masih sama aja."elaknya yang tak pelak membuat Ody tertawa.
"Emang nggak kok."
"Om bohongin Nada ya???"
"Bukan bohong tapi hanya berusaha menghibur hati Nada biar gak kesal lagi sama tante. Kasihan kan tante kalau Nada begini? Tante pergi kan juga demi Nada. Biar Nada cepat punya adik bayi. Nada paham kan?"
Nada mengangguk pasti.
"Biar Nada gak sedih lagi,,, gimana kalau kita main di taman saja yuk. Di sana ada ayunannya juga loh. Nada suka ayunan gak?"
"Mau nggak nih?? Kalau nggak mau,,, om Ody main aja sendiri deh." Ody kembali merayu Nada.
"Mauuu,,," akhirnya Nada tertarik juga dengan ajakan itu.
"Okelah kalau begitu. Mau digendong om Ody apa mau jalan sendiri??"
"Jalan sendiri aja om. Nada sudah besar. Nanti om Ody capek." tolak Nada.
"Baiklah tapi kita gandengan tangan ya. Om Ody gak mau kehilangan kamu."
Nada mengangguk mengiyakan. Meski jarak taman itu dari rumah mereka tidaklah jauh dan bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki saja tapi Nada merasa sangat terlindungi oleh genggaman erat tangan Ody.
"Om,," panggilnya lirih saat mereka sudah berjalan bergandengan.
"Ya,,," Ody melihat ke bawah karena tinggi Nada saat itu memang masih belum melewati bahunya.
__ADS_1
"Terima kasih ya udah selalu baik sama Nada. Sudah mau jadi ayah Nada."
Ody tersenyum mendengar ucapan gadis kecil itu.
"Kamu boleh jadikan om ini ayah, abang, teman, sahabat atau apa pun yang kamu mau. Yang penting bukan jadi suami kelak ya karena tante Valencia akan menangis kehilangan om Ody hehehehe,,,"
Nada ikut nyengir mendengar gurauan Ody itu. Ya mana mungkin juga Nada menginginkannya sebagai suaminya. Usia mereka saja terpaut lumayan jauh.
Baik Nada mau pun Ody tak lagi memikirkannya karena mereka telah tiba di taman. Ada beberapa ibu ibu yang juga membawa anak anaknya untuk bermain di sana.
"Kok yang main ke taman banyakan ibu ibu ya om. Om gak malu bawa Nada ke taman? Harusnya kan tante Valen yang ajak Nada ke sini." Nada kembali murung mengingat Valencia.
Ody jongkok di depannya dan memegang kedua tangan Nada.
"Pertama,,, ibu ibu itu punya lebih banyak waktu dibanding suami suaminya untuk bisa temani anak mereka main. Ayah anak anak itu tidak ikut main ke taman bukan karena mereka tidak sayang pada anak anaknya melainkan mereka tengah bekerja keras demi bisa menjamin masa depan anak anaknya kelak. Demi bisa mencukupi kebutuhan anak istrinya juga."
Nada tampak mendengarkan penjelasan Ody yang lugas namun mudah dimengerti oleh anak seusianya.
"Kedua,,, om gak malu kok. Ngapain harus malu? Justru om akan merasa malu kalau dalam kondisi seperti ini,,, saat tantemu tidak bisa menemani dan om sendiri sedang tidak sibuk,,, tapi om gak mau temani Nada ke taman."
"Makasih om."
"Sini om gendong ke ayunan itu."
Ody membopong tubuh kecil itu. Membawanya menuju ayunan yang sudah tidak ada yang memainkan. Sesampainya disana, Ody membantu Nada naik ke ayunan dan mulai perlahan mengayunnya.
"Om jangan tinggi tinggi, Nada takut."
"Selama ada om Ody, jangan pernah takut apa pun karena om Ody akan selalu menjaga Nada."
Ucapan itu tersimpan di hati dan memory gadis 12 tahun itu dengan baik.
...*🌸🌸🌸🌸*...
...*bersambung*,,,,...
__ADS_1