
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Dewa🌸
Maharani memejamkan matanya rapat rapat. Balutan kain putih yang menutup tubuhnya membuatku tak tahan untuk tidak menangis. Meski aku ini lelaki, tetap saja, aku lemah jika harus kehilangannya.
Meski sudah ku guncang guncang tubuh kakunya, ia tetap tak terbangun. Matanya tetap menutup rapat. Bibirnya memucat. Namun percayalah, kecantikan hatinya tetap terpancar.
"Bangun Maha,,, Bangun sayang. Jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku lagi. Jangan,,, Jangan,,, Mahaaa!!!"
Rupanya itu hanya mimpi. Tapi kenapa aku harus memimpikan dirinya yang sudah meninggal? Dan kenapa aku takut kehilangan dia lagi? Mungkinkah dirinya tadi sedang mengibaratkan apa yang terjadi pada Nada saat ini?
Aku terbangun di sebuah ruangan yang dengan perlahan bisa ku kenali adalah sebuah kamar di rumah sakit. Aku semakin yakin kala melihat seorang wanita berpakaian suster berjalan tergopoh menghampiriku.
"Anda sudah sadar rupanya. Biar saya panggilkan dokter dulu untuk memeriksa anda." ucapnya.
"Sus,,, di mana Nada?? Bagaimana keadaannya?" tanyaku mencegah kepergiannya.
Aku sudah bisa mengingat jelas kecelakaan yang menimpa kami berdua tadi di tikungan. Kejadian buruk itu mungkin yang membuatku bermimpi tentang Maharani. Mimpiku itu membuatku cemas pada Maharani keduaku.
Aku tak ingin ia meninggalkanku juga. Sudah cukup aku trauma dengan perginya kekasih hati. Aku tak ingin terulang lagi.
"Oh istri anda. Dia selamat. Bayinya juga selamat. Untungnya ibu dan bayinya kuat. Pertolongan yang diberikan warga setempat juga cepat jadi semua belum terlambat. Tapi istri anda belum sadarkan diri. Tunggu tuan,,, Anda mau kemana????!!!"
Aku tak peduli dengan selang infus yang tercabut paksa akibat gerakanku yang tiba tiba bangun dan turun dari ranjang pasien. Selanjutnya suster itu hanya mampu memanggil manggil aku yang tak mempedulikannya. Suster tetap mengikuti langkahku yang tak tentu arah mencari Nada.
Aku ini masih shock dengan kecelakaan tadi dan kini makin shock mendengar pernyataan suster tadi. Bak orang linglung dan gila,, Aku berjalan tak tentu arah dengan ribuan tanya di kepala.
__ADS_1
Nada hamil?? Dengan siapa?? Apa dia punya suami? Bukannya dia selalu mengatakan bahwa dirinya single? Apa kehamilan itu yang membuatnya menginginkan asinan itu? Apa ini sumber masalahnya selama ini? Apa dia sudah tau bahwa dirinya hamil??
Segudang pertanyaan bersarang di kepalaku. Aku sibuk menerka nerka dan kemudian aku kesal dengan semua kemungkinan jawabannya. Ada rasa iba sekaligus kecewa mengetahui Nada tengah berbadan dua.
Iba karena aku yakin dirinya sendiri belum tau kondisinya saat ini. Iba karena sepertinya tak ada yang bisa dimintai tanggung jawab olehnya. Namun rasa kecewa yang bertengger dalam dada juga tak kalah berkuasa.
Aku kecewa padanya yang tak bisa menjaga diri dan kehormatannya hingga akhirnya berakhir dengan garis dua seperti ini. Aku kecewa gadis manis yang sedianya akan akan kujadikan sosok pengganti wanita teristimewaku ternyata memang tak pantas disandingkan dengan Maharani.
"Kamar istri anda disini tuan." seruan suster mengakhiri kebingungan dan kelinglunganku.
Aku menoleh dan menelan ludahku. Membayangkan gadis itu masih terbaring di sana tak sadarkan diri membuatku bimbang. Aku merasa bersalah jika tak menemuinya. Akulah yang harus disalahkan dalam kecelakaan ini. Aku yang ngebut sehingga menyebabkan kami berdua jatuh. Mobil itu juga salah tapi aku juga tetap salah. Tidak bisa menjaganya.
Tapi aku kecewa padanya,,, Dia berhasil mematahkan semua harapanku. Aku tak ingin melihat wajahnya lagi tapi hati menolak untuk pergi. Aku iba membayangkan betapa histerisnya ia nanti jika tau dirinya hamil.
Akankah ia histeris?? Atau sebenarnya ia sudah tau kondisinya tapi tak pernah mengatakannya kepadaku?? Kenapa dia diam saja selama ini? Kenapa tak mengatakannya? Kenapa gak jujur saja?? Membuatku menanam harapan yang sia sia saja.
Sisi negatif diriku mulai menghakiminya. Aku menyalahkannya atas pupusnya harapanku kepadanya. Aku menyalahkan kehadirannya dalam hidup ini. Aku menyalahkan ketidakjujurannya mengakui statusnya.
"Mari tuan. Istri anda mulai sadar. Anda temani dulu di sini biar saya panggil dokter." suster memaksaku masuk.
Baiklah,, mari masuk sebagai orang yang bertanggung jawab telah mencelakakannya tadi. Tidak usah lebih dari itu. Buang dulu kecewamu Dewa. Bertanggung jawablah!!
"Dewa." panggilnya lirih ketika melihatku.
Iba,,,aku iba padanya. Hati ini ternyata tetap menyayanginya. Rasa ingin melindunginya ternyata masih sangat besar ketika tubuh lemah itu berusaha menggapaiku.
"Jangan banyak gerak dulu. Tunggu dokter datang dan selesai memeriksamu." pertama kalinya aku bicara lembut kepadanya.
Dan pertama kalinya juga ia menurutiku. Nada mengangguk lemah. Memegangi kepalanya yang mungkin masih pusing karena pengaruh obat tadi. Tak lama kemudian dokter pun datang. Menyapa lalu memeriksa.
Hingga tiba di perut ratanya,,, dokter tersenyum.
"Ibu dan bayinya sudah sama sama sehat. Hanya perlu istirahat saja untuk memulihkan kondisi pasca injeksi obat. Nanti juga sudah boleh pulang. Tidak ada luka serius."
__ADS_1
Aku penasaran dengan reaksinya mendengar dokter berkata demikian.
🌸Pov Nada🌸
Meski kepalaku masih terasa sangat pusing, namun aku yakin kedua telingaku ini masih normal dan aku tidak salah dengar.
"Ibu dan bayinya sudah sama sama sehat. Hanya perlu istirahat saja untuk memulihkan kondisi pasca injeksi obat. Nanti juga sudah boleh pulang. Tidak ada luka serius."
Aku bisa dengar itu semua dengan baik namun aku tak bisa menerima itu dengan baik baik saja. Airmataku mengalir tanpa bisa kukendalikan. Meski tidak berpengalaman tapi sekali lagi kutegaskan bahwa aku bukan gadis bodoh yang tidak bisa mencerna kata kata itu.
Ibu dan bayi,,, Artinya,,, Aku hamil.
Pantas saja aku belum dapat haidku bulan ini. Pantas saja aku menginginkan asinan itu. Pantas saja aku merasa akhir akhir ini aku sering merasa cepat lelah meski tidak disertai dengan mual muntah seperti pada kebanyakan wanita hamil muda lainnya.
Setelah ku ingat ingat semua memang pantas. Kecuali statusku yang tak bersuami ini. Itu sangat tidak pantas mengingat ada nyawa dalam rahim yang perlu pengakuan nantinya.
"Emosinya dijaga ya bu. Jangan terlalu berbahagia juga jangan terlalu sedih. Kasihan janinnya. Dia bisa merasakan kesedihan ibunya. Intinya distabilkan saja ya. Seimbang." ucap dokter.
Aku masih tak bisa berhenti menangis.
Biarkan saja dokter bicara semaunya. Ia tidak tau apa yang kutangisi. Ia tak tau apa masalahku. Tidak ada satu pun yang tau. Biarkan saja semua bicara semaunya!!
"Saya akan menjaganya baik baik dok. Jangan khawatir."
Tangan kekar itu tiba tiba terasa lembut ketika membelai keningku dan perlahan menyeka airmataku. Bibir yang sering memancing keributan itu juga kini terdengar menyejukkan kata katanya.
"Sebagai suami, memang begitu seharusnya. Sekali lagi saya ucapkan selamat atas kehamilan istri anda." dokter menyalami Dewa sebelum akhirnya berlalu membiarkan kami berdua saja di kamar itu.
"Terima kasih dok."
Sekarang dia pasti akan bertanya banyak padaku. Lalu dari mana aku mulai menjawabnya?? Ini semua aib,,,
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
...bersambung...
...Halo,,, sudah senin lagi nih. Pasti pada punya stock vote kan? Bagi dong sama author 😂🤭 Udah triple up lho,, masak gak dikasi hadiah sih author kesayangannya ini?? 😆...