
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Dewa🌸
Ya Tuhan,,, Mimpi apa aku semalam? Diakui sebagai suami oleh Na,,, Diminta tetap menjadi ayah untuk Birru,,, Dipilih oleh Na,,, Tuhan, budi baik apa yang sudah kulakukan hingga aku layak mendapat balasan yang begitu membahagiakan ini??
Aku tidak sedang bermimpi kan???
Tubuh yang masih lemah terbaring dengan tangan lemahnya yang juga masih mengalung di leherku,,, isakan tangis harunya,,, bau rumah sakit,,, semua masih begitu terasa di semua inderaku. Artinya aku benar benar tidak sedang bermimpi.
Na benar benar memilihku,,,
Tapi tunggu,,, Aku tidak bisa langsung menganggap masalah selesai begitu saja dengan Na memilihku. Ini tidak melulu tentang kami berdua saja.
Ku lepaskan perlahan pelukanku atas diri Na yang sudah menyerahkan hatinya kepadaku. Ku tatap dirinya sendu. Na menghapus sisa sisa lelehan airmata sambil menatapku penuh tanya.
"Ada apa kak?" tanyanya takut seolah aku terlihat berubah pikiran.
"Na,,, ini bukan tentang kita berdua saja. Om Ody bagaimana? Apa beliau sudah tau kebenaran ini? Lalu jika beliau sudah tau, apa lantas beliau bisa menerima semua ini? Apa tidak akan melukainya?" tanyaku.
"Sempat sempatnya suamiku memikirkan perasaan orang lain. Hati kakak itu terbuat dari apa sih?" Na menggeleng gelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Na, please be serious. Kakak belum tenang kalau om Ody belum diajak bicara juga." aku tak ingin menanggapi senyuman dan bicaranya tadi meski kalau dalam situasi normal tentu aku akan melayang ke angkasa dipuji begitu oleh istri tercinta.
__ADS_1
Entahlah,,, Rasanya sulit bagiku untuk bisa bersenang senang di atas penderitaan orang lain. Apalah artinya sebuah tawa bahagia tersungging di wajah ini jika ada wajah lain tengah berurai airmata. Apalah artinya bahagia di hati ini jika ada hati lain yang terluka.
"Baiklah. Kalau begitu,,, sebelum kita berdua bicara kepadanya, Na minta ijin untuk bertemu dan bicara empat mata dulu dengan om Ody ya kak. Itu pun kalau kakak percaya sama Na."
Ya Tuhan,,, rasanya bahagia sekali mendapat perlakuan seperti ini dari gadis yang rupanya sudah mau menempatkan dirinya sebagai istriku. Na meminta ijinku selayaknya istri meminta ijin kepada suaminya.
"Tentu kakak ijinkan Na. Bagaimana pun, kebahagiaan kita belum lengkap jika om Ody tidak bisa menerimanya. Kakak berikan kesempatan untuk Na menyelesaikan urusan apa pun yang belum selesai di antara kalian berdua. Masa lalu Na itu sepenuhnya milik Na, tapi kalau bisa jangan sampai dibawa bawa ke masa depan." ujarku bersikap dewasa meski jujur dalam hati aku takut hal itu terjadi.
"Terima kasih kak atas kepercayaan kakak." ku tanggapi ucapan itu dengan senyuman.
Dalam hati aku tetap berdoa semoga pertemuan mereka kelak akan menemukan titik terang penyelesaian masalah ini. Semoga ke depannya, baik diriku sendiri, Na, om Ody, termasuk ajik dan biang,,, kelak semua bisa menerima kebenaran tentang Birru.
Ajik dan biang adalah dua orang yang tak akan kulewatkan untuk tau masalah ini. Aku yakin, kedua orang bijaksana itu mampu mencerna dan menyikapi hal ini.
Yang paling utama adalah Birru,,, Semoga kelak ia tidak akan pernah menyalahkan keputusan ibunya untuk memilihku. Semoga kelak ia tidak membenciku dan merasa akulah yang membuat dirinya tidak bisa berkumpul dengan ayah kandungnya. Semoga Birru juga tidak akan pernah menyalahkan om Ody karena telah membuatnya terlahir di dunia ini dengan status yang rumit.
Sekali lagi,,, ini bukan salah siapa siapa. Ini adalah bagian dari indahnya takdir yang ditulis oleh Tuhan. Bila kita tersenyum dan ikhlas menjalani,,, maka akan terasa indah. Dan bila terus kita sesali,,, maka hanya derita yang terasa.
Percayalah,,, Akan ada pelangi dibalik hujan.
🌸Pov Ody🌸
"Birru adalah anak om. Anak yang terlahir karena kebodohan Nada malam itu om."
Diam terpaku!!!
Ucapan Nada membuatku hanya bisa diam terpaku. Sengatan rasa yang datang menggelora dalam dada ini terlalu rumit untuk ku jabarkan bagaimana tepatnya. Aku tentu saja menyalahkan diriku sendiri untuk itu. Seandainya saja malam itu aku tidak mabuk, mungkin Birru tidak perlu lahir dalam situasi seperti ini.
Tapi aku juga berterima kasih kepada diri yang mabuk malam itu karena akhirnya diri ini punya keturunan. Sudah terlalu lama aku menginginkannya. Apalagi anak itu terlahir dari rahim gadis yang ku dalam perjalanannya ku cintai sebatas keponakan lantas cinta itu membuta.
__ADS_1
Namun semua itu kini bukan hanya tentang diri ini dan Nada. Ada sesosok gagah lainnya yang kini sudah resmi menyandang gelar sebagai suami Nada sekaligus bos mudaku. Aku tak bisa mengabaikannya begitu saja.
Rasanya ingin memeluk dan menciumi ibu dari anakku ini. Ingin rasanya ucapkan ribuan terima kasih kepadanya karena telah sudi mengandung benih diri ini dan merawatnya hingga Birru terlahir. Ingin rasanya menyerahkan seluruh jiwa raga ini sebagai ganti karena dirinya telah berani bertaruh nyawa demi bisa melahirkan putraku.
Tapi,,, Meski banyak yang ingin ku lakukan, status kami tidak memungkinkan untukku melakukannya salah satunya.
Tuhan,,, Kenapa perjalanan hidup dan cintaku begitu rumit??? Apa salah dan dosaku hingga Engkau seakan menghukumku seperti ini? Ampuni aku tuhan,,,
"Maafkan om. Om yang salah dalam hal ini. Om yang tidak bisa jaga diri malam itu. Om yang sudah merenggut milikmu yang berharga. Jangan pernah salahkan dirimu sendiri, Nada sayang."
"Semua sudah terjadi om. Sekarang lebih baik kita bicarakan saja bagaimana ke depannya." tegas gadis kecilku itu.
Ada binar bahagia dan secercah harapan dalam hati melihatnya begitu tegas berbicara seolah tak ada beban. Ia bahkan menemuiku sendirian setelah dirinya pulih pasca operasi.
Mungkinkah ia akan memilihku daripada suami kaya rayanya?? Nadaku yang sederhana,,, yang tak pernah tergoda oleh gelimang harta. Ah,, aku tak sabar menunggunya berbicara lagi. Suara itu bagai candu di telingaku.
"Nada akui malam itu Nada juga menyerahkannya dengan sukarela karena merasa Nada mencintai om. Tapi seiring waktu berlalu dan kini Nada juga sudah menikah,,,, pemikiran Nada juga sudah berubah om. Bagi Nada, menikah itu cukup hanya sekali seumur hidup. Birru memang anak biologis om. Dan selamanya kenyataan itu tidak akan berubah atau pun Nada ingkari. Birru juga akan mendapat kebebasan dari kami berdua untuk bertemu dengan om. Karenanya,,, Nada mohon,,, Om merelakannya tinggal bersama kami."
Harapan yang semula memutik kini layu bahkan gugur sebelum sempat mengembang. Ucapan sekaligus penegasan Nada menghancurkan segalanya.
Aku kehilangan cintaku,,,, Cintaku memilih berlabuh di dermaga lain.
Tapi setidaknya,,, aku telah memiliki alasan baru untuk tetap hidup. Ada tubuh kecil yang butuh kasih sayang dan pengakuanku juga. Ada anak yang berhak untuk mendapatkan penghidupan yang layak dariku juga.
Birru,,, anakku. Jangan membenciku karena telah membuatmu hadir dalam dunia ini. Jangan salahkan ibumu atas keputusannya. Percayalah,,, meski kita tidak bisa bersama sama,,, tapi cinta ayah dan ibu sama besarnya untukmu, nak.
"Baiklah Nada sayang." ucapan singkatku mampu menerbitkan senyum di wajah cantiknya dan itu membuatku bahagia.
Tak selamanya cinta harus saling memiliki,,, kini aku merasakannya.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,...