
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku ...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Nada🌸
Hari yang entah membuatku bahagia atau sebaliknya pun tiba. Segala rentetan acara pernikahan sudah kami laksanakan. Kini aku resmi menyandang status sebagai seorang istri. Jangan tanyakan masalah agama di sini, karena keluarga kak Dewa memberikan kebebasan kepadaku untuk mengikuti mereka atau tetap bertahan dengan keyakinanku sendiri.
Mereka bukan pemaksa. Mereka orang berkelas yang tidak membeda bedakan. Mereka orang kaya yang bukan hanya kaya harta melainkan juga kaya hati. Pandai menghormati dan menghargai keputusan serta hak setiap nyawa.
Segala perasaan berkecamuk dalam dada ini. Rasa bersalah telah mengkhianati cinta dalam hati,,,, sekaligus bersalah karena masih saja memikirkan cinta sepihakku kala ada insan yang begitu tulus membuka hatinya dan memberikan seluruh hidupnya kepadaku.
Kak Dewa,,,,
Ia begitu tampan hari ini dengan balutan busana pengantin adat Bali khas orang berkasta. Wajahnya tak pernah luntur dari senyuman manis berhiaskan lesung pipi di sebelah kanan saja. Ia begitu bahagia dengan pernikahan kami.
Ajik Artha,,,
Beliau juga tetap dengan wibawanya dan senyum meneduhkannya menyambut para tamu undangan. Tak jarang juga beliau langsung dengan bangganya memperkenalkan aku kepada orang orang khusus atau mungkin rekan kerja terdekatnya yang juga sangat ingin mengucapkan selamat kepadaku.
Biang Dayu,,,
Wanita yang dulu ku panggil Bu Dayu itu mulai sekarang harus kubiasakan diri ini memanggilnya Biang sesuai dengan kebiasaan keluarga kak Dewa. Biang terlihat begitu cantik dan anggun dengan kebaya Bali lengkap dengan sanggul dan segala hiasan kepalanya. Beliau terlihat sangat bahagia juga. Meski beliau tidak semangat sekali memperkenalkanku kepada para undangannya seperti yang dilakukan Ajik, tapi beliau sering tersenyum ke arahku setiap kali ada tamu undangan yang tampaknya menanyakan tentangku kepadanya.
Benar benar hanya kebahagiaan yang terpancar dari raut keluarga baruku ini.
Kontras denganku,,,,
Yang tampaknya buruk di mata semua orang. Perut membuncit yang makin terlihat buncit dengan balutan pakaian pengantin ala Bali,,, senyum yang mungkin sangat terlihat dipaksakan karena aku jujur saja merasa tak nyaman berada di sini.
Setiap tatap mata tamu undangan yang mengarah kepadaku kurasakan sebagai sebuah tuduhan dan menghakimiku.Tajam dan menusuk. Mereka seolah menyalahkanku yang telah menjebak kak Dewa dalam pernikahan ini.
__ADS_1
Aku juga sudah berusaha menolak tapi tak mampu lagi,,, Tolong mengertilah,,, Jangan menghakimiku begini,,,
Hati ini menjerit tiap kali ada tamu yang menyalami kami namun tatapannya terasa sinis. Kebanyakan adalah kaum hawa yang mungkin merupakan teman atau kenalan kak Dewa. Aku tidak kenal mereka.
Yang ku kenal hanya kak Selly,, tetangga kostku yang ku tau memang sering menggoda kak Dewa selama ini namun tidak pernah direspon. Ia begitu kesal hingga tak mau menyalamiku. Hanya kak Dewa yang ia salami.
Beruntungnya lelaki yang sudah resmi mempersuntingku itu terlalu banyak memperhatikan hal hal lain hingga tak sadar bahwa istrinya ini diperlakukan seperti itu oleh kak Selly. Aku sempat cemas kak Dewa akan marah.
"Licik kamu ya. Anak itu pasti bukan anak Dewa kan??? Beraninya kamu ya menikungku." bisiknya sinis di telingaku.
"Kak,,," aku berusaha menjelaskan namun dia sudah menepis dengan langsung meninggalkan kami karena bagaimana pun banyak tamu lain yang antre untuk menyalami kami.
Aku hanya bisa menghembuskan napas kasar dengan perlakuannya. Saat aku mulai lemah, menunduk dan tidak semangat lagi, sebuah sentuhan hangat di pinggangku terasa. Ku lihat tangan kiri Kak Dewa melingkari pinggangku. Ku angkat wajahku dan kulihat ia tersenyum.
"Capek ya? Mau duduk? Jangan dipaksakan berdiri. Tamu undangan Ajik dan Biang banyak sekali. Nanti kalau Na paksakan berdiri, kaki Na bisa bengkak seperti kaki gajah lho,,," guraunya membuatku merasa senang sangat diperhatikan.
Selanjutnya ia memberi kode pada seseorang untuk membawakan kami kursi. Pegal di pinggang dan kaki setelah cukup lama berdiri akhirnya bisa teruraikan sedikit demi sedikit.
Ajik dan Biang yang melihat kami rupanya tau kalau kami, terutama aku yang hamil besar ini kelelahan. Karenanya mereka menutup sesi menyalami pengantin dengan segera. Memberi jeda kepada kami untuk istirahat.
Akhirnya acara resepsi ini tidak melibatkan kami langsung. Kami hanya duduk di pelaminan indah ini dan menyaksikan para tamu yang hilir mudik memilih makanan yang sudah sangat banyak ragam di sediakan. Sepertinya aneka masakan dari Sabang sampai Merauke tersedia.
"Kenapa? Na lapar? Mau makan? Kakak ambilkan dulu ya." ucap kak Dewa lembut.
"Na pingin yang itu." tunjukku ke sebuah olahan ayam yang kurasa ku kenali.
"Ayam Betutu? Na suka itu?" tanya kak Dewa.
Aku mengangguk pelan karena sebenarnya aku maluuuuuu sekali kepadanya. Harusnya aku sebagai istri yang meladeninya tapi malah dia yang melakukannya.
"Mau lauk apa lagi?"
"Itu saja kak." jawabku karena memang hanya itu yang kuinginkan saat ini. Sepertinya bayi ini tau bahwa makanan itulah yang pertama kali dibelikan oleh kak Dewa dulu.
Bayiku atau aku sebenarnya yang ingin bernostalgia ya???
__ADS_1
Kak Dewa beranjak lalu segera kembali membawa sepiring nasi lengkap dengan ayam betutu yang ku mau.
"Kakak suapin ya."
Aku hanya mengangguk dan menurutinya. Aku sudah terlalu lapar untuk menolak. Akhirnya perhatianku hanya tertuju pada makanan dan kak Dewa. Dia begitu tampan dalam jarak dekat begini.
🌸Pov Ody🌸
"Terima kasih sudah hadir."
Bapak Artha, bos besarku, menyambut kedatanganku dan mama di acara pernikahan putra tunggalnya ini. Acaranya begitu mewah. Maklum, mereka adalah keluarga kaya jadi pesta semacam ini tak akan menguras dompetnya.
Tampak juga beberapa relasi bisnis yang ku kenal juga. Mereka saling menyapa dengan anggukan bila tak sengaja netranya menatapku.
"Boleh kami mengucapkan selamat kepada pengantinnya?" tanya mama meminta ijin.
"Oh itu,,, maaf. Sesi menyalami pengantin sedang kami hentikan. Mereka masih istirahat." wanita yang kalau tidak salah adalah Ibu Dayu, yang ku tau sebagai istri dari Bapak Artha menyahut.
"Oh begitu. Tidak apa apa. Mohon disampaikan saja salam dari kami." ucapku.
"Baik. Terima kasih. Silahkan mencicipi hidangan ala kadarnya ya."
Tuan rumah sangat merendahkan diri menyebut hidangan ala kadarnya sedangkan sejauh mata memandang,,, aneka masakan yang menggugah selera sudah terhampar di meja.
Pandanganku menyapu seluruh ruangan. Semua tamu sibuk dengan makanan mereka. Beberapa juga terdengar mengomentari rasa masakan dan beberapa terdengar berbisik bisik membicarakan pengantinnya.
"Perutnya sudah besar. Hamil di luar nikah. Tapi aku yakin ini cuma jebakan. Dewa kan bukan pemuda begajulan. Ini pasti ulah perempuan nakal itu. Dia hamil anak orang lain tapi minta pertanggungjawaban Dewa. Menyebalkan sekali." aku bisa dengar ucapan itu dari seorang perempuan berpakaian lumayan minim yang kebetulan tempat duduknya tidak jauh dari tempatku.
Beberapa teman wanita itu pun hanyut dalam pembahasan yang tidak semestinya itu. Bahkan mata mereka memandang ke arah pelaminan. Anehnya mataku juga malah ikut memandang ke sana.
Tampak pengantin yang tengah begitu mesra duduk di sana. Pengantin pria terlihat begitu mesra menyuapi sang wanitanya yang benar,,, perutnya terlihat besar. Ku perkirakan kehamilannya sudah masuk trimester ketiga.
Pengantin wanita menoleh ke arah para tamu dan membuat jantung ini berdegup kencang.
Bukankah itu,,,???
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸...
...Bersambung,,,,...