
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku ...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Ody🌸
Bukankah itu,,,, Nada???
Apa mataku yang salah lihat? Apa karena aku yang sangat sangat merindukannya hingga ketika ada yang mirip dengannya maka aku akan mengira itu dia?
Mataku tak berkedip menatap pengantin wanita yang kini tengah meminum segelas air yang diulurkan suaminya. Tampak jelas di mataku suaminya tengah mengusap perutnya lalu si wanita mengangguk dengan tersenyum.
Kembali mata ini menatap perut besarnya. Aku jadi ingat ucapan miring tentangnya tadi.
Hamil di luar nikah. Menjebak. Perempuan nakal. Bukan anak Dewa.
Kalau mendengar itu semua, rasanya mustahil dan tidak percaya kalau Nadaku melakukannya. Jadi mungkin memang bukan Nada wanita yang duduk di pelaminan itu. Mungkin memang hanya efek make up artist yang di jaman sekarang terlalu pandai memanipulasi mata.
Bukan,,, itu pasti bukan Nada.
Nada gadis yang baik. Tau mana baik dan buruk. Bukan gadis nakal apalagi sampai bisa menjebak laki laki mana pun. Dia saja malah terjebak dalam permainan Anton kok. Jadi itu tidak mungkin Nada.
Terlepas dari benar tidaknya ucapan miring tadi pernikahan akibat skandal yang dilakukan putra bos besarku ini,,, istrinya sudah pasti bukan Nada.
Lagipula,,, ini baru beberapa bulan saja aku mencarinya. Hmm kalau ku ingat ingat ini sekitar bulan ke sembilan aku mencarinya. Mana mungkin tiba tiba ku temukan Nada dalam kondisi hamil besar??
Kalau pun dia hamil besar juga mana mungkin itu perbuatan putra bosku? Mereka kan tidak saling kenal sebelumnya. Jadi kalau pun putra bosku itu punya skandal dan memang menghamili gadis yang kini dinikahinya itu, sudah bisa ku pastikan mereka melakukannya beberapa kali dan mungkin sejak tahun lalu.
Sudahlah,,, pokoknya itu bukan Nada!! Hanya mirip Nada.
"Ody,,, Kamu lihat apa sih? Sampai bengong begitu?" tegur mama menyadarkanku.
__ADS_1
"Eh itu,,Ody,,," aku gelagapan.
"Jangan dengarkan dan ikut ikutan orang menuduh atau mencela pengantinnya. Kita tidak pernah tau kebenarannya bukan? Lagipula tujuan kita datang kesini adalah memberi ucapan selamat dan doa. Jangan ikut ikutan julid."
"Mama dengar juga?" tanyaku.
"Mama walau sudah tua tapi belum tuli. Sudah ayo ambil makanan.Mama lapar lihat banyak makanan tersaji. Sepertinya enak semua."
Ucapan mama serta merta membuatku tersenyum. Aku pun lupa dan acuh dengan pembahasan tentang si pengantin. Aku jadi ikut fokus memilih makanan. Benar kata mama,,, semuanya tampak menggugah selera.
Sempat ku lihat pengantin sudah berdiri dan masuk ke dalam. Tampaknya mereka sudah sangat kewalahan menyalami para undangan jadi memutuskan untuk masuk saja. Ini artinya aku makin tak punya kesempatan mengucapkan selamat langsung kepada mereka.
"Bagaimana hidangannya?"
Bapak Artha menghampiriku dan menanyakannya. Kali ini tanpa ditemani sang istri. Mungkin istrinya sedang menemui undangan lainnya.
"Lezat sekali Bapak. Belum pernah makan masakan selezat ini di tempat kami." mama memuji.
"Nantinya ibu akan punya kesempatan untuk sering makan masakan seperti ini. Kan kalian juga akan tinggal di Bali." senyum bapak Artha mengembang.
"Ody,,, terima kasih sudah bersedia menerima tugas dari saya. Dan ibu,,, terima kasih juga sudah berkenan mengikuti putra ibu untuk tinggal di Bali." Bapak Artha memang jago urusan sopan santun.
"Saya yang berterima kasih sudah diberikan kepercayaan yang begitu besar dari Bapak. Suatu kehormatan yang besar ditunjuk sebagai pendamping putra Bapak." ucapku merendah dan itu tulus.
"Yah begitulah. Saya minta anda sabar mengajarinya. Dia benar benar masih zero wawasannya dalam urusan bisnis ini." ujar Bapak Artha.
"Baik bapak. Tapi kapan kira kira saya bisa mulai mengenal putra bapak? Sekalian saya ingin mengucapkan selamat atas pernikahannya."
"Oh itu mereka,,, wah,,, sudah masuk rupanya." ucap bapak Artha saat berusaha mencari cari keberadaan putranya yang ku tahu memang sudah masuk tadi.
"Tidak apa apa bapak. Mungkin lain kali saja pas bertemu di kantor." ujarku.
"Ya ya. Begitu saja. Untuk sementara, silahkan anda nikmati saja hidangannya. Saya tinggal sebentar menemui tamu lainnya. Untuk jadwal kantor selanjutnya,,, nanti bisa saya email kepada anda."
"Baik bapak."
__ADS_1
Bapak Artha pun berlalu meninggalkanku dan mama. Kami lanjut menikmati santapan lezat kami kemudian pulang setelah dirasa cukup lama berada di sana. Bagaimana pun tamu undangan yang masih saja berdatangan juga masih banyak dan butuh tempat duduk juga.
Kulihat pengantin keluar lagi kali ini dalam balutan busana yang berbeda. Ternyata mereka tadi masuk untuk berganti baju juga. Sesi menyalami pengantin kembali dibuka tapi melihat antrean yang mengular membuat hati ini enggan juga.
Kasihan mama kalau pulangnya terlalu malam mengingat kami langsung kesini begitu tiba di Bali. Mama belum istirahat.
"Kita pulang saja ya ma. Tidak usah menyalami pengantin dulu. Lihat itu panjang sekali antriannya." ujarku seraya menunjuk barisan panjang itu.
"Tidak apa apa?? Itu kan calon bosmu juga lho. Masak tidak kamu beri ucapan langsung?" tanya mama.
Benar juga kata mama tapi kembali pada kata Bapak Artha tadi bahwa kami juga akan bertemu lagi dan tentunya dalam suasana yang lebih formal dan dekat. Rasanya tidak masalah untuk mengucapkan selamat saat itu saja.
"Tidak apa apa ma. Ayo kita pulang dan berpamitan saja kepada Bapak dan Ibu Artha."
Mama setuju lalu kami lebih memilih mencari keberadaan bosku dan istrinya saja ketimbang mengantri ke arah pelaminan.
"Bapak,,, kami pamit mau pulang." ucapku begitu bertemu dengan bapak Artha.
"Oh ya. Terima kasih atas kehadirannya. Untuk tempat tinggal, sudah dikoordinasi kan tadi?" tanya beliau memastikan kami sudah mendapatkan tempat tinggal.
"Sudah bapak. Tadi kamu sudah dijemput dan diantarkan ke Villa. Terima kasih untuk fasilitas yang diberikan kepada saya dan mama." aku berterima kasih atas villa indah nan nyaman yang sudah disiapkan beliau untuk kami tempati.
Hunian yang jauh dari bayanganku. Terlampau mewah untuk diberikan kepada karyawan sepertiku.
"Saya senang kalau anda dan ibu suka." ujar bapak Artha tetap dengan wibawanya.
Akhirnya usai saling berterima kasih, aku dan mama pun kembali ke Villa diantarkan oleh seorang sopir pribadi yang lagi lagi ini adalah sebagian fasilitas yang disediakan bapak Artha untukku.
Bosku itu benar benar berlebihan memperlakukanku. Aku jadi sangat tidak enak kalau sampai pekerjaanku atau apa pun yang kulakukan nantinya mengecewakan beliau.
Sebelum benar benar meninggalkan gedung resepsi, mata ini sempat memandang pengantin lagi. Mata ini masih saja tertipu oleh riasan make up pengantin.
Hanya mirip Nada, Ody. Bukan Nada. Kamu hanya terlampau merindukannya sampai sampai yang mirip saja sudah kamu sangka dirinya.
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
...bersambung,,,...