
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku ...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Dewa🌸
"Terjadi komplikasi. Karenanya kami harus segera mengambil tindakan operasi. Kondisi sang ibu yang tiba tiba turun seperti ini membuat kami ragu jika kehamilan ini dilanjutkan secara normal." ujar dokter membuat kepalaku pusing dan ribuan rasa takut menyerang.
"Lakukan apa pun yang terbaik untuk istri dan calon anak kami dok." hanya itu yang mampu ku ucapkan.
Meski memang ini belum waktunya Nada melahirkan, tapi aku membenarkan perkataan dokter tadi. Tindakan berjaga jaga selalu jauh lebih baik.
Dokter mengatakan bahwa timnya segera melakukan persiapan. Aku diminta tanda tangan di selembar kertas yang setahuku adalah semacam surat persetujuan pengambilan tindakan.
Semoga keputusanku ini benar ya Tuhan. Selamatkan anak dan istriku.
Aku berjalan keluar dengan gontai namun tetap dengan seribu harap dalam dada. Ku temui ajik dan biang yang sudah menunggu dengan wajah cemasnya.
"Bagaimana? Apa kata dokter? Nada baik baik saja kan? Anaknya juga kan?" biang menyerbuku.
"Kata dokter, akan diambil tindakan operasi saja daripada nanti terjadi hal hal yang tidak diinginkan mengingat kondisi Nada yang bisa tiba tiba turun begini." lirihku.
"Ya tuhan,,, lindungi menantu dan calon cucu kami." biang berdoa sambil menangis.
"Yang kuat ya. Berdoa saja yang terbaik untuk anak istrimu. Ajik yakin, Nada gadis yang kuat." ucapan ajik terdengar menguatkan hatiku.
Ya,,, Na itu gadis yang kuat. Bahkan bayi dalam kandungannya juga kuat. Meski tumbuh dalam status tidak jelas, tapi ia tetap tumbuh sehat dalam rahim Na. Kali ini, bukan tidak mungkin juga bahwa ia tetap kuat bertahan hidup.
Yang kuat ya nak,,,Ada ayah yang menanti kehadiranmu di dunia ini. Ada kami semua yang akan memberimu perlindungan dan status yang kuat,,,
Aku duduk. Memandang ke sekeliling di mana netraku kemudian bersitatap dengan netra om Ody. Seniorku itu menatapku tanpa berkedip.
Ah,,, Bagaimana bisa aku lupa untuk tak memberitahunya juga tentang keadaan keponakannya? Bagaimana pun, meski aku sendiri belum tau jelas silsilah keluarga mereka, tapi sebagai suami Na, aku wajib menghormati keluarganya juga.
Ku hampiri om Ody yang tetap menatapku tanpa sebuah kedipan. Mungkin beliau takut ingin menanyakan kondisi keponakannya karena aku adalah bosnya saat ini.
Bos saat kerja saja,,,di luar jam kerja,,, om Ody adalah om ku juga sekarang.
__ADS_1
"Nada harus di operasi om. Terjadi komplikasi." ucapku.
"Sejak kapan kalian punya hubungan?"
Aku sedikit terkejut mendengarnya mempertanyakan hal itu. Apalagi nadanya seperti menyelidik.
"Sudah cukup lama om." akhirnya ku jawab begitu karena delapan bulanan mengenal Na, bagiku itu sudah lama.
"Kenapa om?" tanyaku ketika pria di sampingku itu terdiam sesaat.
"Anak yang dikandungnya itu,,,"
"Bapak Dewa,,,"
"Ya!!" aku langsung menyahut dan berdiri menuju tempat perawat yang memanggilku berdiri menungguku. Aku tak sempat mendengarkan ucapan Om Ody selanjutnya.
"Anda diminta masuk mendampingi istri anda." kata perawat yang langsung ku iyakan tanpa pikir panjang lagi.
Perawat itu membantuku memakai pakaian khusus untuk masuk ke ruang operasi. Ku lihat Na sudah terbaring di sana dengan banyak peralatan medis yang tak kupahami fungsinya satu persatu.
"Hai,,," sapaku pada gadis tercintaku yang tengah menatap langit langit ruangan ini.
"Yang kuat ya. Na pasti bisa menahan sakitnya." ku pikir ia kesakitan.
"Maafkan Na." lirihnya kemudian.
"Kok minta maaf. Na gak salah apa apa. Sudah, jangan berpikir yang macam macam. Cukup fokus sama bayi kita. Ayahnya ini sudah tak sabar menunggunya." ku elus puncak kepala Na dengan lembut.
Ingin ku kecup keningnya namun aku takut ia tak menyukainya. Karenanya, aku memilih menahan diri.
Tim dokter tampaknya sudah mulai bekerja di bawah sana. Aku dan Na tak bisa melihat apa pun karena pandangan kami ditutupi dengan kain pembatas.
"Sudah pikirkan nama untuk bayi kita?" tanyaku untuk membuat situasi tidak garing.
Bagaimana pun aku ingat pesan perawat tadi. Aku diminta mengajak bicara istriku agar kesadarannya tetap terjaga.
"Belum." jawab Na lirih.
"Wah,,, bagaimana ibu ini dek. Masak kamu belum disiapin nama sih? Ibu nakal ya,,," aku bersikap seolah tengah berbicara dengan mahkluk kecil yang sebentar lagi akan bisa ku sentuh itu.
"Boleh kakak yang beri nama? Atau Na mau kakak minta pendapat dari om Ody? Dia kan keluarga Na." cetusku mengingatkan bahwa Na tidak lagi sendirian sekarang.
__ADS_1
Ia punya keluarga.
"Kok nangis lagi? Ibu cengeng nih dek. Nangis terus." aku heran kenapa Na terus menangis.
"Apa om Ody ada di luar kak?" tanyanya kemudian setelah ku seka airmatanya.
"Ya. Om Ody setia ikut menjaga kamu. Beliau juga sangat mencemaskanmu. Tadi kami sempat ngobrol sebentar. Lucunya adalah beliau tadi sempat bertanya sejak kapan kita punya hubungan?" ujarku dengan niat mencari bahas obrolan.
Berdekatan dengan Na seperti ini membuat degup jantungku semakin berpacu. Kadang aku merasa garing saking groginya. Aku selalu merasa takut bicara salah atau berbuat sesuatu yang tidak Na sukai.
"Terus kakak jawab apa?" Na terdengar penasaran.
"Kakak sedikit bingung sih jawabnya mengingat jalan cerita kita seperti apa. Sepertinya tadi om Ody ingin menanyakan anak dalam kandunganmu ini tapi untungnya perawat memanggil kakak. Jadi kakak tak perlu terlihat bodoh di depan om Ody. Bagaimana pun, kakak takut salah jawab hehehe,,," aku malah cengengesan.
"Kak,,," Na tiba tiba menggenggam tanganku dengan tatapan memelas.
"Ya. Kenapa Na?"
"Anak ini,,,"
Oeeee,,, Oeeee,,,,
Sungguh suara yang indah yang pernah ku dengar. Perhatianku langsung teralihkan pada suara itu. Sungguh aku baru tau, begini rasanya menjadi seorang ayah. Di ruangan bersalin merasakan ketakutan yang sama meski tidak rasa sakit yang sama dengan yang Na rasakan.
"Selamat bapak dan ibu. Bayinya laki laki. Normal dan sehat." suara dokter makin membuatku tak bisa menjelaskan bagaimana rasanya menjadi aku saat ini.
Ada debar debar aneh menyadari bahwa statusku sudah berganti menjadi seorang ayah.
"Anak kita sudah lahir Na. Terima kasih sudah berjuang. Terima kasih sudah memberi kakak kesempatan untuk menjadi ayahnya." aku tak bisa menahan diri lagi.
Ku kecup kening dan pipi Na kemudian jemarinya juga tak luput dari kecupanku sebagai wujud tanda terima kasihku kepadanya karena telah memberiku kesempatan untuk merasakan momen bahagia ini.
"Kak,,," kembali Na menangis.
Aku tau,,, ia menangis karena terharu. Perjuangan panjangnya yang mungkin melelahkan telah berhasil. Ia pasti juga merasakan hal yang sepertiku.
Menjadi orang tua,,, entah bagaimana caranya mengungkapkan rasanya.
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,...
__ADS_1