I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Sakit!!!


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku...


...❤️❤️❤️...


"Lembur di kantor mana?"


"Ya ditempat biasa dong. Memangnya dimana lagi kantorku? Udah dulu ya,,, banyak kerjaan nih. Gak enak sama modelnya udah nungguin. Bye,,,Muach,,,"


Entah kenapa Nada merasakan kebohongan dalam kalimat Anton itu. Bagaimana tidak? Dirinya saat ini masih berdiri di depan kantor satu satunya yang disebut oleh Anton namun ia tak menemukan adanya kesibukan di kantor itu.


Nada kembali mendekati satpam.


"Nah jadi dikasih saya kan mbak?" tanya satpam itu berharap besar.


"Boleh. Buat bapak saja. Tapi saya boleh masuk kesana nggak?" Nada menunjuk ke arah kantor.


"Lha mau ngapain toh mbak? Kan mas Anton juga gak ada."


"Ss,, Saya disuruh Anton untuk ambil filenya yang ketinggalan." Nada gugup tak mau satpam itu mengetahui yang sebenarnya.


Satpam tampak berpikir sejenak. Tapi perutnya yang sudah lapar tak bisa diajak kompromi. Karenanya ia iyakan saja permintaan Nada.


"Baiklah mbak. Mau ditemani apa masuk sendiri?" tanyanya kemudian.


"Sendiri saja pak. Bapak silahkan makan." dengan cepat Nada mengulurkan bawaannya dan disambut dengan senang oleh penerimanya.


Nada berjalan cepat menuju ke ruangan kerja Anton. Benar saja,,, semua orang sudah pergi. Ruangan demi ruangan yang dilewatinya sudah kosong. Tinggal meja kursinya saja.


Begitu pula dengan meja kursi yang menjadi tempat Anton bekerja. Tidak ada penghuninya. Semua peralatan kerja tampak sudah dibereskan dengan rapi pertanda orangnya punya cukup waktu untuk melakukannya.


"Kenapa kamu bohong? Kenapa harus bilang kamu lembur kalau nyatanya kamunya gak ada di sini. Di mana kamu sebenarnya? Apa yang terjadi? Ada masalah apa yang tidak aku ketahui? Perlukah sampai kamu bohong begini?"


Banyak pertanyaan hinggap di benak Nada. Ia pun memilih duduk di kursi Anton. Memperhatikan satu persatu benda benda di atas meja Anton hingga matanya tertumbuk pada secarik kertas kecil yang ada tulisan.


Melihat tulisan itu Nada sudah bisa memastikan bahwa itu memang tulisan Anton.


"Jam 5. Jalan Kenangan, no 13."

__ADS_1


"Alamat siapa ini? Jam 5??" Nada mencoba menerka nerka dan mengait ngaitkan kejadian hari ini namun otaknya buntu.


"Sebaiknya aku ke alamat ini. Mungkin Anton sedang ada di sana. Meski aku tidak tau apa alasannya berada di sana dan apa maksudnya bilang padaku kalau masih di kantor." gumam Nada.


Nada berjalan cepat keluar dari sana. Tak dihiraukannya satpam yang berteriak teriak memuji masakannya. Pikirannya hanya fokus pada alamat di secarik kertas yang kini dibawanya.


Nada menyetop taksi dan meminta diantarkan ke alamat itu. Entah akan ada sesuatu disana entah tidak namun hati kecilnya mengatakan ia harus kesana.


Pikirannya kalut sepanjang perjalanan menuju ke sana. Beragam tanya yang tak bisa ia dapatkan jawabnya membuat otaknya bekerja keras hingga akhirnya ia sampai pada satu pemikiran yang selama ini tidak pernah sekalipun hinggap dalam benaknya.


"Kenapa aku jadi curiga kepadamu sekarang? Perlukah? Haruskah? Anton,,, pernikahan kita tinggal beberapa bulan saja. Kenapa harus ada kejadian seperti ini? Pekerjaan apa yang membuatmu berpikir untuk menyembunyikannya dariku"


"Sudah sampai mbak."


Suara sopir taksi mengejutkan Nada dari semua sesi otak penuh tanyanya.


"Ergh iya pak. Tapi ini kok,,," ia heran melihat alamat yang ditujunya.


"Kenapa mbak?"


"Ini benar alamatnya?" Nada balik tanya.


"Jalan kenangan no 13 kan? Ya ini mbak. Hotel kecil ini."


"Iya mbak. Gimana nih? Mbak mau turun di sini apa lanjut lagi? Argonya jalan terus loh." sopir memperingatkan.


"Eh,,, Ss,,, Saya turun di sini saja."


Dengan cepat Nada mengambil selembar uang berwarna merah lantas memberikannya kepada sopir taksi.


"Kembaliannya buat bapak saja." Ucap Nada yang yakin selembar uang itu masih tersisa untuk bayar taksinya.


Nada sudah keluar dari taksi saat sopir mengucapkan terima kasih.


"Hmm dasar anak muda jaman sekarang. Mainnya ke hotel. Beda banget sama jamanku dulu." Sopir geleng geleng kepala melihat penumpangnya sudah memasuki halaman hotel kecil itu.


Ia lantas menjalankan kembali taksinya dengan harapan akan dapat beberapa penumpang lagi yang rela memberikan kembaliannya.


Nada masuk ke hotel itu dan gugup. Ini pertama kalinya ia menjejakkan kakinya ke sebuah hotel. Walaupun itu hanya hotel kecil namun baginya adalah hal tabu menjejakkan kaki ke tempat semacam itu. Pikiran pikiran dengan adegan dewasa sejenak mendominasi dirinya.


"Selamat malam. Bisa dibantu?" sapa resepsionis ramah begitu Nada menempelkan tubuhnya di meja besar itu.

__ADS_1


"Se,, Selamat malam. Ss,, S,,, Saya ingin menemui teman saya." Nada bingung sendiri harus mulai dari mana.


"Apakah teman anda menginap di sini?"


Nada mengangguk namun kemudian ia menggeleng.


"Maaf,,, Saya tidak bisa bantu memberikan data tamu kami kalau anda sendiri tidak yakin begitu."


"Ehmm,,," Nada benar benar tidak tau apakah nama Anton masuk sebagai daftar tamu yang menginap atau sekedar pengunjung seperti dirinya saja.


"An,,, Anton. Ya,,,Anton namanya. Check in sekitar jam 5 sore tadi. Coba di cek apa ada tamu menginap di sini atas nama itu."


"Baik. Ditunggu sebentar."


Resepsionis tampak sibuk memeriksa satu persatu daftar tamu di bukunya. Hotel kecil ini masih belum termasuk hotel canggih yang sudah menggunakan komputer atau laptop. Daftar tamu saja masih ditulis manual di buku.


Tidak berapa lama kemudian resepsionis itu telah selesai dan kembali tersenyum kepada Nada.


"Maaf. Tidak ada tamu bernama Anton yang bermalam di hotel kami. Mungkin anda salah informasi." ucap resepsionis itu memberikan rasa lega di hati Nada.


"Oh begitu ya."


"Iya nona. Apa masih ada yang bisa saya bantu?"


"Mmm,,, tidak. Terima kasih."


Dengan nafas lega Nada meninggalkan meja resepsionis itu.


"Sepertinya aku memang cuma curiga saja. Ya mana mungkin kan Anton ke hotel ini? Buat apa coba? Ouuwwhhh,,,," Detik berikutnya Nasa menutup mulutnya sendiri.


Matanya tak bisa lepas dari sosok laki laki yang baru saja keluar dari lift. Lelaki itu memeluk pinggang seorang wanita yang kelihatannya lebih tua darinya. Mereka tertawa cekikikan tanpa memperhatikan sekelilingnya.


Lupakan apa yang mereka lakukan saat ini.Bukan fokus pada wanitanya melainkan pada lelakinya. Dia adalah Anton!!!!


"Anton???" gumam Nada lirih setelah ia bersembunyi dibalik pilar hotel.


Segera diambilnya ponselnya. Ditelponnya nomer Anton. Tidak diangkat. Nada melihat Anton melihat siapa penelponnya namun memilih mengacuhkannya dan kembali memasukkan ponselnya ke sakunya.


Nada menggigit bibir. Airmatanya mulai menetes membasahi pipinya.


Sakit!!!

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸...


...bersambung,,,,...


__ADS_2