I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Terbang Terakhir


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku ...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Dewa🌸


"Jadi kapan kamu mau kenalin sama Biang?"


"Kenalin siapa Biang?" Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan Biang.


"Kok siapa? Yang siapa lagi kalau bukan gadis yang membuatmu senyum senyum lagi dong Dew. Biang kan penasaran,,,Yang mana sih gadisnya? Kenal di mana? Anak asli mana? Keluarga ber,,,"


"Cukup Biang. Tidak ada siapa siapa yang bisa Dewa kenalkan pada Biang. Memang ada gadis, tapi dia tidak sespesial itu sampai harus Dewa kenalkan pada Biang. Dia hanya gadis biasa. Tidak ada hubungan apa apa antara kami. Sudah, itu saja."


"Masak??" Biang terlihat tidak percaya begitu saja dengan ucapanku.


Aku memang putra satu satunya yang selalu gak pandai berbohong kepada Biang. Aku adalah putra yang takut dosa. Sekaligus takut memberi harapan palsu. Karenanya,,,


Maaf Biang,,, Jangan berharap banyak dulu pada Dewa. Mungkin senyuman ini karena Dewa terlalu merindukan Maha dan Nada hanya berhasil mengingatkan Dewa pada Maha. Susah Biang,,, Susah membagi hati ini.


Lagipula,,, Nada adalah orang baru yang bahkan belum Dewa tau asal usulnya. Dewa hanya terhibur melihatnya dan segala tingkah lakunya. Jadi tolong,,, Buang jauh jauh harapan itu. Dewa gak mau Biang kecewa.


"Oh ya Dew,,, Anak kost baru kita itu cantik ya. Siapa namanya?? Mmm Nana ya,,, Nana apa siapa sih?? Biang lupa."


Uhuk Uhuk,,, Seketika aku tersedak kala tengah melamunkan Nada malah Biang membahasnya.


"Kamu kenapa sih??" Biang buru buru mengusap usap punggungku.


"Gatel,,, Tenggorokan Dewa gatal bu." ucapku berbohong.


"Gatel apa gatel?? Baru juga Biang sebut namanya kamu udah batuk batuk aja." goda Biang.


"Biang apaan sih??" sungutku pura pura kesal padahal dalam hati dag dig dug.


Duh Biang,,, Jangan terlalu pandai membaca hati dan pikiranku dong. Sekali saja biarkan putramu ini berbohong,,,


"Tapi beneran lho Dew,,, Dia cantik. Malah Biang rasa sebenarnya dia itu juga mirip sama Ma,,," Biang menghentikan bicaranya.


"Mirip Maha?? Iya Biang. Dewa juga merasa begitu." ujarku melanjutkan perkataannya yang pasti dihentikan karena takut aku teringat Maharani.


Biang tersenyum kemudian mengusap punggungku lagi. Namun kali ini lebih halus.

__ADS_1


"Biang yakin,,, Maha pasti bahagia melihatmu menemukan bahagiamu juga. Maha begitu mencintaimu Dew. Maha juga pasti ingin kamu bahagia meski tanpanya. Maha pasti bersedih kalau kamu hidup terus menanggung duka atas kepergiannya."


"Susah Biang. Susah menganggapnya sudah tidak ada." lirihku.


"Biang tau. Tidak mudah merelakan apa yang kita cintai diambil dari kita. Tapi ini takdir nak. TakdirNYA yang harus kamu terima. Jangan sesekali pun menyalahkan takdirNYA karena DIA tidak pernah berniat membuat semua mahkluknya menderita.Walau pun suka dan duka selalu berdampingan letaknya,,, namun percayalah nak,,, Dibalik duka itu, sudah ada bahagia yang disiapkan untukmu."


"Entahlah Biang,,,Dewa gak tau. Dewa,,,"


"Baiklah. Biang tidak akan memaksamu. Biang sembahyang ke kosan dulu ya. Sudah sore. Kamu gak mau ikut?" tanya Biang yang biasa selalu sembahyang di kosan kami setiap jam 6 sore.


"Nggak Biang."


"Yakin?? Nggak pingin ketemu Nana emangnya??" goda Biang lagi.


"Nada Biang,,, bukan Nana." sungutku.


"Oh iya iya,,, Nada deh. Gak usah sewot gitu dong ah." Biang memang paling suka menggodaku.


"Apa sih Biang ini." aku pun cemberut dibuatnya.


"Titip salam gak?? Dia cantik lho,, awas keduluan sama si Martin kamar sebelahnya." Biang masih menggoda sekaligus mengingatkan keberadaan spesies berlabel playboy yang tinggal tepat di sebelah kamar Nada.


"Awas aja si playboy itu berani mengusik Nadaku."


Ingatan lama kembali menguasai diri.


🌛Flashback on🌛


"Sehari saja kok. Boleh ya?? Aku janji ini penerbangan terakhirku." dua jari membentuk huruf V itu terpampang di sebelah wajah cantik yang selalu ku puja puja enam tahun belakangan ini.


Maharani,,, kekasihku. Calon istriku. Pertunangan kami baru selesai digelar dan rencananya pernikahan kami akan dilaksanakan minggu depan. Tapi bukannya bersiap membeli ini itu untuk perlengkapan pernikahan, Maharaniku malah memilih untuk mengisi kekosongan jadwal pramugari di penerbangan menuju Singapura.


Aku tau,,,Sebagai pramugari teladan dan juga teman yang baik, sudah menjadi nalurinya untuk menggantikan posisi teman yang mendadak sakit. Tapi entah kenapa,,, hati ini berat melepasnya.


"Kalau aku tetap melarang, memangnya akan kamu turuti??" tanyaku.


"Ya nggak juga sih hehehe,,," tawa nakalnya mulai menggodaku untuk menggelitikinya.


"Geli Dew,,, lepasin dong,,," keluhnya diantara tawa cekikikan akibat kegeliannya.


"Janji dulu,,, Ini yang terakhir. Setelah ini gak ada terbang terbang lagi." titahku sebelum benar benar melepaskannya.


"Iya hihihi,,,Iya,,," ia masih saja menggeliat sana sini.


"Iya apa dulu??" aku makin senang menggelitiki pinggang kanannya yang lebih sensitif daripada yang kiri.

__ADS_1


"Janji,,,Janji ini penerbangan terakhirku. Selanjutnya,,, Hihihi,," ia kembali cekikikan geli.


"Selanjutnya apa hayo??" desakku.


"Selanjutnya aku hanya akan terbang di hatimu." ucapnya tanpa tawa lagi bahkan dengan mimik wajah seriusnya.


Itu membuatku menghentikan kegiatanku menggelitikinya. Ku tatap dua bola mata hitam yang selalu berhasil menyihirku itu.


"Kamu yakin mau berhenti jadi pramugari demi menjadi istriku??" tanyaku memastikan.


Maharani mengangguk kemudian senyuman indahnya makin menyihirku.


"Aku rela memberikan dan melepas apa pun milikku selama itu mampu membuatmu bahagia. Bahkan nyawaku pun,,, jika memang diperlukan akan kuberikan."


Husstt,,,


Kutempelkan telunjukku di bibir mungilnya. ku gelengkan kepalaku pelan.


"Aku mencintaimu Maha,,, Sangat mencintaimu,,, Terbanglah,,, lalu kembalilah kepadaku. Akan kujadikan kamu istriku."


"Yeaaayyy,,,, Yes yes yes,,,Makasih Dew." pekiknya kegirangan membuatku manyun.


"Kamu tuh ya. Diajak romantis romantisan emang selalu gak bisa!!" omelku.


"Ih,,, nanti semakin aku romantis, kamu semakin kangen aku terus. Nanti kamu makin cinta lho sama aku." godanya.


Begitulah Maharaniku,,, Selalu bisa menjadi tawaku sekaligus tangisku. Siapa sangka penerbangannya hari itu benar benar menjadi penerbangan terakhirnya. Maharaniku benar benar terbang di hatiku,,, bukan di langit lagi.


🌛Flashback Off🌛


Ponselku berdering,,, pesan dari Martin.


"Bro,,,ada yang bening nih di sebelah. Namanya Nada. Kok gue nyesel ya bangun kesiangan. Tau gitu kan bisa ajak doi jalan jalan pagi dan sarapan."


Mataku memicing dan aku gak tahan untuk tidak membalasnya.


"Jangan macam macam. Yang itu punyaku!!" balasku.


"Wah,,, udah sembuh lo?? Udah normal lagi lo?? Udah doyan ma perempuan lagi??"


Tuh kan,,,Martin emang dasar ya!! Teman sekaligus anak kos satu ini memang harus segera disingkirkan sebelum tangan nakalnya mengusik Maharani keduaku!!!


...🌸🌸🌸🌸...


...bersambung,,,...

__ADS_1


__ADS_2