
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
Di dalam mobil, suasana begitu kaku dan hening. Anton makin merasa oksigen di sekitarnya habis. Nafasnya terasa begitu sesak padahal mobil yang dinaikinya bersama Valencia bukanlah mobil type city car. Mobil berkapasitas 8 seater itu semestinya mampu membuatnya merasa leluasa. Tapi tidak pada kenyataannya. Anton merasa tak bisa berkutik.
Bernapas saja susah kok,,,
Valencia tau itu tapi dia memilih mengacuhkan Anton yang begitu tidak nyaman dengan posisinya. Valencia makin menambah kecepatan dan menyetir penuh dengan amarah. Sesekali ia tampak meremat kemudi mobil. Wajahnya begitu menegangkan membuat Anton ngeri. Tidak ada wajah cantik ala ala wanita wanita sosialita.
Amarah Valencia akhirnya sampai pada puncaknya. Ia tak bisa terus berdiam diri begini. Dengan segera ia menginjak rem hingga membuat Anton kepala Anton nyaris terbentur dashboard. Anton sudah memakai sabuk pengaman namun saking kerasnya Valencia mengerem, tubuh Anton tetap tak tertahan oleh sabuk pengaman itu.
Jalanan yang hanya dilintasi oleh mobil mereka membuat tindakan Valencia tadi jadi tidak membahayakan pengguna jalan lainnya. Valencia tetap meremat kemudi tanpa menepikan mobil. Memukul mukulnya untuk melampiaskan kemarahannya. Berharap pemuda di sebelahnya ini memulai pembicaraan.
"Ttt,,, Tan,,, Tante,,, Aa,,, Aku bisa jelasin." akhirnya keluar juga sepatah dua patah kata penuh kegugupan dari mulut Anton.
Valencia menoleh dengan berangnya. Menatap wajah Anton dengan penuh kemarahan.
"Aa,, Aku dan Na,,, Nada,,, Kk,, kami,,,"
"Sudah sejauh mana?? Berani beraninya kamu bilang kalau tante ini cuma satu satunya dalam hidup kamu!!! Parahnya lagi adalah kamu menduakan tante dengan keponakan tante sendiri!!!!"
Valencia meluapkan semua amarahnya kepada pemuda yang sama dengan pemuda yang selama ini rupanya telah memberinya kenikmatan surga dunia. Mengingat semua kesenangan materi sudah diberikannya kepada brondong sialan ini,,, Valencia begitu marah.
"Kamu sudah tiduri Nada hahh??? Sudah kamu puaskan sampai di titik mana?? Dasar anak itu,,, lugu lugu begitu ternyata juga gak bisa jaga diri. Berbeda sekali dengan ibunya yang alim dan sok menceramahiku." gerutu Valencia.
Ia merasa serba salah. Mau marah pada Nada, atas dasar apa?? Bahkan gadis itu juga belum mengakui kalau ia sudah tak gadis lagi. Kalau tiba tiba membahas masalah ini dan memarahinya,, bisa saja gadis itu akan bertanya tanya dari mana ia tau perihal itu.
Bahaya bukan??
__ADS_1
Bisa bisa tingkah polahnya di belakang Ody selama ini bisa ketahuan. Lagipula kalau pun Nada mau mengakuinya,,, Apa bedanya juga dengan dirinya? Ia bahkan jauh lebih tidak bisa jaga diri dan kehormatannya. Kehormatan suami terlebih lagi.
Tidak!! Itu bukan opsi yang bagus untuknya.
"Breng*sekkkk!!!" Valencia memukul mukul kemudi itu berkali kali untuk kembali melampiaskan kekesalannya kepada keadaan.
"Tan,,, Aku dan Nada sama sekali belum pernah melakukannya." ujar Anton kemudian.
Valencia yang menelungkupkan wajahnya di kemudi itu kemudian mengangkat wajahnya dan kembali menatap Anton lekat lekat. Tatapannya sulit diartikan. Valencia merasa senang karena dugaannya kepada Nada ternyata salah, tapi di sisi lain ia merasa kasihan pada keponakannya itu.
"Berarti aku yang mendapatkan keperjakaan brondong ini??" pikirnya.
"Bohong!!! Kamu pasti bohong!!!" ketusnya kemudian tak mau serta merta percaya pada brondong yang sudah menipunya itu.
"Sumpah tante." Anton membuat gerakan dua jari membentuk huruf V.
"Kamu itu pembohong!! Kamu sudah ketahuan masih saja ngeles. Mana ada laki laki suka main begituan sama perempuan lain terus sama kekasih yang sudah dilamar sama sekali gak ngapa ngapain. Bohong banget!!!" ketus Valencia.
"Tante kan tau sendiri pertama kalinya kita berbuat itu bagaimana kondisiku. Aku tepar karena semua yang tante lakukan. Aku kalah karena itu benar benar kali pertama aku melakukannya. Tante yang dapat keperjakaanku." ujar Anton menjelaskan.
Bugh,,, Bugh,,,Bugh,,,
Detik berikutnya Anton merasa tubuhnya dihantam sesuatu berulang kali. Anton berusaha melihat apa yang terjadi dengan sebelah matanya. Rupanya Valencia tengah memukulinya dengan tas brandednya yang berat itu.
"Sakit tante,,," rengek Anton.
"Diam kamu!! Berani beraninya menjadikan aku pelampiasanmu!!!" Bugh,bugh, bugh,,,Valencia terus memukulinya.
"Apa bedanya sama tante?? Tante juga butuh pelampiasan kan?? Om Ody gak guna kan??" Anton membela diri.
Ucapannya itu mampu membuat Valencia berhenti memukulinya. Anton mengusap usap lengannya yang terasa ngilu akibat pukulan pukulan Valencia tadi.
"Tante sebaiknya pikir pikir deh. Tante mau tetap seperti ini sama aku, jadi pelampiasanku atau tante lebih rela aku "gituin" ponakan tante?? Kalau memang lebih rela aku sama Nada asyik asyiknya,,, aku akan rayu dia. Lagipula kalian juga sudah menyetujui kami kan? Aku bisa memberinya pengertian untuk ke depannya aku akan bertanggung jawab." Anton terkekeh mengatakannya seolah ia tak sungguh sungguh akan bertanggung jawab.
__ADS_1
"Breng*sek!! Brondong sial*an!!!"
"Ingat tante,, kartu tante ada di tanganku lho. Aku bisa saja membongkar semua aib tante sama om Ody. Gak apa apa aku kehilangan Nada, tapi tante juga bisa kehilangan semuanya." ancam Anton yang makin berani.
"Kamu!!!" Valencia kesal karena brondong itu memberinya pilihan sulit.
"Santai tante sayang,,, Mending sekarang pindah posisi deh. Aku yang nyetir dan tante duduk santai di sini. Aku bawa tante ke surga dunia kita. Mau kan?? Jangan marah marah trus. Biar gak cepat tua. Nanti pesonanya hilang siapa yang mau muasin tante???" Anton kembali terkekeh.
"Diam kamu!!!" bentak Valencia.
Anton yang dirasa makin berani ini memang harus diberi pelajaran. Valencia memikirkan sesuatu namun terlambat. Tangan Anton sudah terlebih dahulu bergerilya di paha mulusnya dan menelusup ke dalam celah surga duniawinya. Membuat Valencia tidak bisa konsentrasi tapi juga tidak bisa menolaknya.
"Antooon,,, Sshhh,,," Napas Valencia mulai berat dan perlahan ia melebarkan kakinya, memberi Anton jalan lebih mudah untuk mengeksplorasi miliknya.
Anton tersenyum menang.
"Dasar tante girang,,, diginiin aja udah meleleh." batinnya.
Valencia sudah merem melek dibuatnya. Hampir saja ia mencapai puncaknya namun Anton menarik tangannya. Menghentikan segala aktifitasnya dan membuat pelepasan Valencia menjadi tanggung.
"Kok berhenti sih???" sungutnya.
"Janji dulu gak bakal bongkar rahasia dan tetap jadi tante tanteku yang bisa kasih uang banyak tiap kali aku puaskan." Anton mulai memerasnya.
"Brondong sial*an. Dia malah memerasku sekarang." batin Valencia kesal.
"Mau gak???"
"Ii,, iyaa. Tapi lanjutin dong. Tanggung nih,,," Valencia tak tau malu meminta Anton melanjutkan perbuatannya tadi.
Anton menurutinya. Membuatnya mendapatkan pelepasan sempurna meski hanya didalam mobil yang terparkir di pinggir jalan dan hanya bermodalkan jari jari terampilnya.
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
...bersambung,,,,...