I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Minta Peluk


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku ...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Nada🌸


Meyakinkan diri untuk menerima Dewa memang tidaklah mudah awalnya. Namun berkat dukungan dan saran yang tidak pernah putus dari bang Martin, keleluasaan yang diberikan oleh kak Dewa dan keluarganya kepadaku mengenai agama dan kasta,,, membuat hati ini akhirnya luluh juga.


Aku bersedia,,, belajar menjadi istrinya.


Tentang sosok masa lalu kak Dewa,,, yakni Maharani,,, aku tak terlalu mengambil pusing. Bagaimana pun wanita itu sudah tiada. Sudah tenang di alam yang berbeda. Tidak baik rasanya jika masih terus membawa bawa namanya.


Biarlah dia menjadi sosok terindah dari barisan masa lalu kak Dewa. Aku tidak perlu cemburu. Hey,,, cemburu?? Kenapa juga harus cemburu? Rasanya cemburu itu masih jauh. Belum ada alasan untukku cemburu pada sosok yang sudah jauh lebih dulu bernaung dalam hati kak Dewa.


Dilindungi olehnya saja sudah sangat bersyukur. Aku tidak meminta lebih meski kak Dewa selalu mengatakan bahwa ia punya cinta yang sangat besar untukku dan anakku.


"Bukan,,, bukan anakku, melainkan anak kita."


Aku teringat ucapannya itu saat aku menyebut bayi ini sebagai anakku. Kak Dewa memotong bicaraku dan memintaku juga untuk belajar membiasakan diri menyebut bayi ini sebagai anak kita.


"Nak,,, Maafkan ibu ya. Ibu bukan ingin memisahkanmu dari ayah. Ayah tetaplah ayah yang darahnya mengalir dalam tubuhmu. Biarlah hanya ibu yang tau siapa ayahmu ya nak. Biarlah cukup saat kamu dalam kandungan ibu saja ibu katakan kepadamu siapa ayahmu. Suatu saat nanti,,, jika sudah tiba masanya, saat kamu bisa memahami semuanya, ibu janji akan ceritakan semuanya kepadamu. Sekarang yang ibu minta darimu,, terimalah ayah sambungmu ini ya nak. Dia sudah begitu baik pada kita. Jangan kecewakan dia ya nak."


Sebuah gerakan kecil namun berulang ulang ku rasakan di perutku. Akhir akhir ini bayi ini memang makin aktif bergerak. Sepertinya ini juga termasuk bentuk responnya terhadap apa yang kukatakan kepadanya.


Ku elus lembut perut besarku ini. Aku sangat menyayangi satu satunya kenangan atas cinta terlarangku pada om Ody. Sebenarnya aku merasa sangat malu harus bersanding di pelaminan dengan kak Dewa dalam kondisi perut besar begini.

__ADS_1


Tapi lagi lagi keluarga kak Dewa membesarkan hatiku. Ajik Artha begitu baik saat pertama kali kami bertemu. Begitu juga bu Dayu yang terakhir kali sempat marah marah,,, kemarin tidak lagi begitu.


Sikap keduanya membuatku merasa punya keluarga lagi. Aku bersyukur atas segala nikmatNYA yang telah menggariskan sebuah takdir indah untukku. Sangat bersyukur karena dipertemukan dengan keluarga berhati baik hingga aku dan anak ini nantinya tidak perlu merasakan yang namanya hidup sebatang kara.


"Sedang ngelamunin apa?? Bukan ngelamunin aku kan??"


Kak Dewa menepuk lembut bahuku. Aku sedikit terkejut karena terus terang aku memang sedang melamun hingga tak menyadari kedatangannya.


"Kak Dewa,,, Maaf. Nada gak tau kakak datang. Mau dibuatin kopi?" tanyaku basa basi.


"Gak usah. Nanti kamu malah repot dan capek. Aku gak lama kok. Cuma mau menunjukkan undangan kita yang sudah jadi. Nih,,,"


Kak Dewa mengulurkan sebuah undangan yang di halaman depannya terpampang foto kami berdua yang beberapa hari lalu sempat menjalani pemotretan khusus untuk undangan ini. Jangan tanya seperti apa wajahku dan senyumku di sana. Aku susah sekali berekspresi saat itu tapi demi menjaga perasaan kak Dewa, ku coba semaksimal mungkin mengikuti arahan fotografer. Di undangan itu juga tertulis namaku dan namanya.


Dewa & Nada,,,


Tiba tiba hati ini terasa mellow. Setetes kristal bening yang semula hanya mengembun kini luruh membasahi pipi. Entah aku harus bahagia atau sedih. Sungguh dalam hati dan angan tak pernah membayangkan jika kelak nama kami disandingkan.


Aku yang sekarang dipanggilnya dengan kata "Na" itu hanya menggeleng namun tangisku justru makin tak terhenti.


Kak Dewa,, jangan terlalu baik padaku. Semakin kamu baik, aku makin sedih. Aku belum punya apa apa untuk kuberikan kepadamu. Aku belum bisa berbuat apa pun untuk membalas kebaikanmu. Jangan tambahi lagi kak,,,


Ucapan itu hanya bisa kuucapkan dalam hati. Aku takut mengucapkannya di bibir. Takut makin menegaskan bahwa aku tak punya cinta untuk kak Dewa dan itu akan membuatnya terluka. Meski ia sudah tau, tapi aku tak mau saja makin menegaskan.


"Terus Na maunya apa? Jangan nangis dong Na. Kalau Na nangis nanti anak kita ikutan sedih. Na mau anak kita terganggu tumbuh kembangnya? Nggak kan??"


Mendengarnya tentu membuat kepala ini auto menggeleng karena aku memang tak mau anak ini turut merasakan kepedihan dalam hatiku.


"Makanya berhenti menangisnya ya. Kalau ada masalah atau ada hal yang gak berkenan di hati Na,,, sampaikan saja. Jangan ditahan tahan. Sebisa mungkin kakak akan mencoba mengimbangi dan menuruti apa maunya Na."

__ADS_1


Wajah tampan itu lagi lagi semakin tampan dengan seulas senyum menghiasi. Aku tercekat. Lidahku kelu. Dalam hati ini begitu memahami ciptaan Tuhan yang satu ini. Satu sisi hati begitu berbangga hati karena telah dipilih oleh makhluk yang tak hanya tampan rupa namun juga tampan hati.


Tapi sisi lain hati tak bisa dan belum bisa menghapus memori tentang om Ody. Bukankah keduanya sama sama tampan dan sama sama baik hati? Ini berat jika ada yang memintaku untuk memilih.


Om Ody,, Apa kabar om di sana? Bahagiakah om saat ini? Anak kita sebentar lagi lahir om. Maafkan Nada jika Nada memilih menyembunyikannya dari om.


"Na,,, Kamu gak apa apa?" genggaman lembut di tanganku menyadarkanku kembali dari bayangan cinta terlarangku.


"Nggak apa apa kok kak. Na hanya senang. Na tidak punya pilihan kata terbaik untuk mengungkapkan perasaan Na saat ini. Sedih, senang, bersalah pada kak Dewa dan bayi ini, semua campur aduk. Akhirnya hanya airmata ini yang bisa mewakili." ujarku setengah berbohong karena nyatanya tidak hanya itu yang membuatku melamun.


Ya tuhan maafkan hambaMU yang masih saja egois ini. Di depan lelaki yang telah menyerahkan segalanya kepadaku saja aku masih memikirkan lelaki lain. Jahatnya aku.


"Kakak ngerti. Tapi belajarlah membagi segala rasa yang ada ya. Biar kakak bisa turut merasakannya. Siapa tau kakak bisa membantumu memilihkan kata yang tepat untuk mengungkapkan. Bagaimana pun juga,,, kakak kan memang lebih cerdas dan peka toh dari Na." kelakarnya mencairkan suasana.


Aku jadi menarik bibir ini untuk tersenyum mendengarnya walau mata masih basah. Selalu saja sosok satu ini mampu membolak balikkan perasaanku. Tiba tiba membuatku menangisi kebaikannya lalu tersenyum dengan leluconnya.


Jahat,,, aku sungguh sudah jahat kepadanya jika terus memikirkan Om Ody. Sudah waktunya aku mulai menutup lembaran masa lalu dan membuka lembaran baru bersama kak Dewa dan anak kami.


"Kak,,," lirihku.


"Ya?" sigapnya ia menyahut.


"Na boleh minta peluk?" kuberanikan diri meminta.


Kak Dewa tertegun mendengarnya. Tampak ia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Beberapa detik berlalu,,, kemudian ia sadar ini bukan mimpi.


"Kemarilah. Labuhkan segala rasamu kepadaku." Kak Dewa membawaku kedalam dekapan yang terasa begitu berbeda.


Lembut,,, penuh perlindungan dan cinta.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸...


...bersambung,,,...


__ADS_2