I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Hatiku Porak Poranda


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku ...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Author🌸


Mata Ody terbelalak seiring dengan menganganya kembali luka yang masih terasa segar. Mata Ody terasa panas kemudian. Pandangannya mengabur karena genangan airmata yang tiba tiba saja menumpuk di pelupuk mata.


"Kenapa meetingnya harus di Hotel A??" lirihnya.


Berbagai kepingan keningan buruk di hotel itu pun mulai bermunculan. Kenangan buruk atas istri tercinta yang membagi tubuh dan cintanya pada lelaki lain.


Sempat dalam hati bertekad tak akan pernah melewati jalanan menuju kesana. Apalagi masuk ke hotel itu lagi. Tidak akan!!!


Tapi apa mau dikata? Pekerjaan menuntutnya untuk bersikap profesional. Klien kerja menginap di hotel itu dan ingin meeting mereka hari ini dilakukan di lobby hotel itu karena klien sedang merasa kurang enak badan. Beliau tidak ingin bepergian jauh. Beliau hanya mencoba bersikap profesional. Meski kurang sehat tetap menepati janji temu yang sudah dibuat beberapa hari sebelumnya.


Ody menghela napas dalam dalam. Berusaha mengusir semua kenangan buruk itu. Berusaha meraup oksigen sebanyak banyaknya agar otaknya bisa berpikir lebih jernih lagi.


"Semangat!! Sudah 2 bulan berlalu. Yang salah itu Valencia, bukan hotelnya. Jadi tidak perlu membenci hotel itu Tidak perlu takut sakit hati lagi kalau kesana. Aku pasti bisa." ujarnya kemudian menyemangati dirinya sendiri.


Ody membereskan semua yang mungkin akan dibutuhkannya selama berada di sana nantinya. Kemudian ia bergegas menuju ke sana dengan hati yang dibentuk sekuat mungkin.


Namun nyatanya hati itu kembali melembek saat mobilnya semakin mendekati hotel itu. Makin kesini potongan potongan puzzle kenangan buruk itu makin terbentuk jelas. Menyisakan sakit dalam hati.


Ody mengerem mobilnya sebelum benar benar memasuki halaman hotel itu. Ia menarik napas dalam dalam kembali. Menenangkan jiwa yang terus berontak diajak masuk ke sana.


"Huufftt,,, Tenang Ody. Calm down. You can do it." ia mensugesti dirinya sendiri dengan kebaikan.


Kemudian kembali menginjak pedal gas dan masuk ke halaman hotel. Disambut oleh petugas valet parking yang begitu ramah menawarkan bantuannya untuk mencarikan tempat parkir.


Kembali helaan napas berat Ody menghiasi langkahnya sebelum benar benar memasuki hotel itu. Bertepatan dengan notif pesan dari klien yang merubah pertemuan mereka di restoran hotel saja, bukan lobby.

__ADS_1


"Baik bapak. Saya segera kesana." ketik Ody cepat.


Ia juga segera bergegas ke restoran yang dimaksud. Ia tentu tak ingin kliennya yang sedang kurang sehat itu harus berlama lama menunggunya.


Langkahnya terhenti sejenak karena ada yang melambai padanya. Itu adalah kliennya. Ody melihat kliennya itu membawa wanita bersamanya yang kemungkinan adalah sekretarisnya. Ody tersenyum, balas melambai kemudian mendekati mereka.


"Selamat siang bapak. Mohon maaf sudah membuat anda menunggu." Ody menjabat tangan kliennya.


"Tidak apa apa. Silahkan duduk." kliennya yang terlihat lebih tua jauh darinya itu tampak senang dengan kehadirannya.


"Selamat siang,,, Mmmm nona,,,," Ody ganti menyapa wanita disebelahnya yang sedari tadi menunduk dan sibuk dengan ponselnya dengan perasaan tak menentu.


"Ya siang." sahutnya ketus tanpa mendongakkan kepalanya.Tapi tak usah mendongak juga Ody tau siapa wanita itu.


Valencia!!!


Hanya saja ia heran apa yang dilakukannya dengan kliennya ini. Jadi sekretarisnya?? Mana mungkin dalam 2 bulan wanita yang masih belum resmi bercerai dengannya secara hukum itu sudah menguasai ilmu managemen bisnis dan semacamnya untuk bisa menjadi sekretaris dari seorang pengusaha besar itu.


Atau ia jadi gun*diknya???


Nyeri yang sama tiba tiba terasa merobek robek hati Ody yang tak pernah sembuh dari luka akibat perpisahannya dengan Valencia. Susah payah ia menelan semua itu selama ini, namun belum juga habis tertelan,,, ia sudah dijejali dengan kenyataan pahit lagi.


Hal itu membuat Ody tersenyum kecut, pahit, dan menahan sakit. Mengetahui wanita tercintanya yang hingga kini sebenarnya masih tetap bertahta dihatinya itu kini malah menjadi wanita simpanan bos.


"Valen,,, Andai aku bisa menyelamatkanmu dari situasi dan kondisi seperti ini,,, andai kamu mau,,, aku mungkin akan,,,,"


"Mari kita bahas urusan kita." gumaman dalam hati Ody seketika terhenti oleh ucapan si klien yang membawanya kembali ke dunia nyata.


"Baik bapak."


Ody mencoba keras bersikap profesional meski pikirannya tidak fokus. Sesekali ia mencuri curi pandang pada wanita yang benar benar belum menyadari keberadaannya itu. Wanita itu hanya senyum senyum sendiri sambil terus bermain gadgetnya.


"Sepertinya Valencia menikmati posisinya. Ia sama sekali tak terlihat menderita atau terpaksa."


"Jadi bagaimana menurut anda??"

__ADS_1


"Hah,,, Saya? Menurut saya?" Ody tergagap oleh pertanyaan sang klien.


"Iya. Bagaimana menurut anda dengan planing yang saya sampaikan barusan?" klien mengulang pertanyaannya.


"Oh iya bapak. Bagus. Sangat bagus. Saya setuju." jawab Ody cepat walau jujur ia sama sekali tak mendengarkan tadinya.


Ia hanya fokus pada Valencia. Ody baru menyadari bahwa wanita itu tetaplah nomer satu dihatinya terlepas dari semua yang sudah dilakukannya kepadanya. Valencia tetaplah yang menguasainya.


"Aku melepasmu bukan untuk menjadi seperti ini Valencia. Aku ingin kamu berubah. Tuhan,,, salahkah langkah yang ku ambil ini? Melepaskannya ternyata hanya membuatnya makin hidup dalam kubangan dosa."


"Papih,,, aku ke toilet dulu ya." Valencia memasukkan ponselnya ke tasnya lalu mengecup pipi peyot berduit itu.


Sesaat kemudian matanya bertemu dengan mata Ody. Mata itu membulat baru menyadari ada sosok dari masa lalu yang pastinya sudah menyadari keberadaannya disini sedari tadi.


Ada sorot mata panik, malu, takut, terancam dan tatapan tatapan aneh lainnya. Valencia kaku ditempatnya.


"Katanya mau ke toilet. Sana dulu. Aku tunggu di sini. Meetingku sebentar lagi selesai jadi kita bisa kembali ke kamar lagi." seru si tua memutus tatapan mata antara dua insan itu.


"Ergh,,, Ii,,,iya papih." sahut Valencia gugup.


Segera ia mengambil beberapa lembar tissue lalu meninggalkan kedua lelaki itu. Sesekali ia masih menoleh ke belakang dan Ody masih menatapnya dengan sorot mata sedihnya.


Lama hilang bagai ditelan bumi, nomer ponsel tidak bisa dihubungi, medsos tidak aktif,,, tau tau ia punya kehidupan barunya sebagai wanita simpanan bos.


"Cantik kan?" celetuk sang klien membuat Ody mengerjap beberapa kali dan menahan malu karena ketauan memandangi Valencia.


"Maaf bapak. Saya hanya,,,"


"Gak apa apa. Gak usah merasa tidak enak. Kalau kamu mau,,, nih,,,aku kasih nomer kontaknya. Kami biasa bergantian memakainya. Kan yang penting ininya jelas." ujar sang klien dengan memainkan ujung ujung jarinya membuat gerakan lambang uang.


"Terima kasih bapak." Ody menerima kertas bertuliskan nomer nomer Valencia itu dengan senyum kecut. Fakta Valencia menjajakan dirinya itu sangat membuat perasaannya bimbang.


Rasa bersalah melepaskannya,,, Rasa ingin menyelamatkannya dari lumpur nista,,, serta rasa sakit akibat pengkhianatan Valencia. Semua campur aduk jadi satu.


"Kamu selalu berhasil memporakporandakan hatiku Valen."

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸...


...bersambung,,,,...


__ADS_2