
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Nada🌸
Ku pegangi benda berkilau yang melingkar di leherku. Ku pandangi juga pantulan diri ini beserta satu satunya barang kesayanganku itu. Kalung emas peninggalan almarhumah mama ini adalah benda termahal menurutku.
Mahal bukan dari segi nominalnya melainkan kenangannya. Kalung ini adalah pemberian mama di ulang tahun terakhirku bersama mama dan papa. Karenanya,,, bagiku ini adalah benda mahal.
Namun kini,,, benda mahal ini seolah berada di posisi ujung tanduk. Aku tak rela kalau harus menjualnya tapi kalau tidak dijual, aku gak punya barang berharga lainnya.
Mama,,, Mama marah gak kalau Nada jual dulu kalung ini demi bisa bertahan hidup? Mama marah gak sama Nada karena Nada ini gak becus menjaga peninggalan mama?
Duh kalau begini ini aku menyesal kenapa dulu mengiyakan saja saat tante Valencia menjual semua aset berharga mama dan papa dan memasukkannya ke tabungan atau deposito yang hanya bisa dicairkan jika sudah waktunya saja. Dan yang lebih ku sesalkan adalah tabungan tabungan itu atas nama tante Valencia.
Usiaku yang masih dibawah umur saat itu tidak bisa dijadikan atas nama. Begitu kata bagian customer service bank waktu itu. Entah aku yang salah dengar atau aku yang masih terlalu kecil untuk memusingkan itu semua saat itu.
Intinya,,, sekarang tinggallah aku sebatang kara.
"Halo,,, Haloooo,,, Permisi,,," sebuah suara yang kukenali sebagai Martin tetangga sebelah kamarku membuyarkan lamunanku.
"Ya bang,,, Tunggu." sahutku sambil menyeka airmataku dulu.
Aku tak ingin tetanggaku sekaligus kenalan baruku itu melihatku seperti ini. Oh ya, aku mengenalnya baru tadi. Orangnya lumayan ramah dan baik.
Gak kayak si Mr Dewa itu,,,
"Ada apa bang?" tanyaku begitu pintu kamar ku buka.
"Lagi sibuk ya?" tanyanya.
"Nggak juga."
"Jangan boong. Habis sibuk nangis kan? Tuh matanya masih merah." ujarnya membuatku merasa malu karena ketahuan.
__ADS_1
"Jangan dipikirin lelaki kayak gitu. Gak ada gunanya. Meski di dunia ini stok perempuan 2x lebih banyak daripada lelaki, tapi bukan berarti gadis cantik manis lembut sepertimu harus merasa gak ada lagi yang mampu menggantikan lelakimu sebelumnya. Pasti ada yang lebih baik darinya,,, contohnya,,,, Abang Martin nih hehehe,,"
Ucapannya membuatku tertawa. Dia sok tau akan apa masalahku tapi menurutku itu letak kelucuannya.
"Kok ketawa sih? Apanya yang lucu??" Martin keheranan.
"Nada tuh gak lagi mikirin lelaki mana pun bang. Nada single. Gak perlu siapin waktu untuk mikirin lelaki." tegasku.
"Oh gitu. Trus nangisin apa dong?" Martin ingin tau.
Ku tatap lekat lekat lelaki yang menurutku baik itu. Dalam hati aku berpikir, mungkin bisa meminta tolong padanya. Tapi apa pantas ya baru sehari kenal sudah pinjam uang? Nanti kalau dia minta jaminan kan aku juga gak punya.
Sudahlah,,, mau gak mau memang hanya kalung pemberian mama penolongku saat ini.
"Nad,,, Kok malah ngelamun sih?? Lo lagi ada masalah? Cerita sama abang. Siapa tau kan abang cakepmu ini bisa bantu." Martin menaikturunkan alisnya.
Kalau begini,,,dia kok kayak playboy aja ya hehehe,,,
"Bang Martin tau gak di mana toko perhiasan terdekat?" tanyaku pelan.
"Tau dong. Kamu mau beli perhiasan? Yuk abang antar." ajaknya semangat namun sayangnya aku malah yang ganti gak semangat.
"Neh kan,, ngelamun lagi. Nad, jangan suka ngelamun di Bali. Ntar kesambet lho." Martin memperingatkanku.
Ih amit amit,,, jangan sampai deh!!
"Antarin Nada sekarang bisa bang? Nada mau jual kalung ini." ujarku sambil memegang kalungku.
"Kenapa dijual?? Bagus lho itu. Udah bosan pakainya ya?" tebaknya dan aku menggeleng pelan disertai airmata yang terjun bebas.
"Lah dia nangis,,, Abang salah ngomong ya??" Martin panik.
"Nada gak punya uang lagi bang. Tadi pagi Nada kecopetan. Dan semua uang ada didompet. Atm ada tapi udah terlanjur tarik tunai semua dan malah dicopet." keluhku.
"Astaga,,, Nad, abang pinginnya bantu kamu tapi sayangnya ini tanggal tua hehehe."
Ucapan Martin menegaskan bahwa aku memang gak bisa mengandalkan dirinya untuk bisa meminjamiku uang.
"Gak apa apa bang. Nada ngerti kok. Antar saja Nada ke toko itu."
__ADS_1
Martin mengangguk lalu pamit ambil kunci sepeda motor di kamarnya. Gak sampai lima menit dia sudah kembali lengkap dengan helm di kepala dan di tangannya.
"Pakai ini biar gak kepanasan di jalan. Ntar hitam ilang cantiknya." ujarnya sambil memakaikannya di kepalaku.
"Terima kasih bang."
"Yuk, cus. Pegangan."
Martin menarik tanganku untuk melingkar di pinggangnya membuatku sedikit risih karena harus menempelkan tubuh depanku padanya. Tapi mau protes sudah gak sempat. Martin sudah melajukan motornya dengan lumayan kencang membuatku mengeratkan peganganku.
"Pelan pelan bang." teriakku tapi Martin hanya tertawa cekikikan saja.
Bang Martin,,, aku masih pingin hidup walau sebatang kara dan menanggung semua derita jiwa akibat cinta terlarang yang tak mendapatkan sambutan. Jadi jangan celakakan aku bang,,,,
Hatiku menjerit ketakutan begitu juga tubuhku. Semakin ia ngebut, semakin ku eratkan peganganku. Aku bertekad memarahinya nanti setelah sampai tujuan. Aku belum pernah naik motor dan ini mengerikan. Si kardus Anton dulu saja selalu ku tolak ajakannya naik motor gedenya.
Lebih baik aku naik taksi saja nanti pulangnya. Sekarang tak apalah karena tak ada pilihan lagi. Mau bayar taksi juga belum punya uang, ya kan?
🌸Pov Dewa🌸
"Mau kemana mereka?? Dasar Martin,,, gercep banget. Nada juga,,, Gampangan banget diajak keluar cowok. Ternyata dia seperti itu. Terlalu baik rasanya kalau ku anggap dia sebagai pengganti Maharani."
Aku menggerutu saat netra ini menangkap sepasang muda mudi berboncengan dengan si perempuan memeluk erat si lelaki di depannya. Dari kendaraannya, aku bisa memastikan itu milik Martin dan aku tau pengendaranya juga sudah pasti Martin karena playboy itu gak pernah mau meminjamkan motornya pada siapa pun dengan alasan apa pun.
Dan gadis di belakangnya,,, aku juga tau itu Nada. Aku masih ingat pakaian terakhir yang dipakainya tadi.
"Baru kenal sudah main peluk pelukan. Sudah mau diajak boncengan. Kemana lagi kalau gak ke hotel. Aku sudah paham banget dengan tindak tanduk Martin."
Hati ini terus menggerutu dan mulai dipenuhi rasa kecewa karena perkiraanku meleset.
Nada gak semanis dugaanku,,,
Karenanya, kuputuskan memupus harapan yang baru saja memutik ini. Tidak pantas jika hatiku kuberikan pada gadis gampangan sepertinya.
Maharaniku tak sepadan jika disejajarkan padanya yang gampangan!!!
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,...
__ADS_1