I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Biru


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku ...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Dewa🌸


Tak ingin membuat Biang maupun istriku menunggu lebih lama lagi, maka ku percepat ritual mandiku. Aku yang biasanya bisa menghabiskan waktu 45 menit untuk mandi, sebaiknya mulai belajar mempersingkat waktu. Karenanya dengan usaha yang sudah sangat maksimal menurutku,,, kali ini aku berhasil selesai mandi dalam waktu hanya 20 menit.


Biang pasti akan memujiku kali ini hehehe,,,


Biasanya Bianglah yang selalu mengomeliku kalau aku kelamaan berada di kamar mandi. Entahlah,,, memangnya ada yang salah kalau aku betah berlama lama di kamar mandi? Aku justru heran jika mendengar teman temanku yang bilang bahwa mereka cuma perlu 5-10 menit saja untuk mandi.


Kalau aku,,, waktu segitu hanya habis untuk ritual luluran 🤣,,,


Tergesa gesa aku keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk mandiku di leherku. Selebihnya aku tak memakai apa apa. Itu kebiasaanku. Aku tidak suka berpakaian di dalam kamar mandi. Nanti basah bajuku dan menurutku itu tidak perfect.


"Awww kak,,, Pakai bajunya dulu." pekik Na sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Astaga,,, lagi lagi aku lupa aku sudah menikah. Aku lupa bahwa dalam kamar ini isinya bukan aku saja.


"Maaf Na,,, Maaf,,," Refleks ku tarik handuk di leher dan kulingkarkan di tubuh bawahku saja.


"Sudah belum?" tanya Na masih dengan menutupi wajahnya membuat Timbul rasa iseng dalam dada.


Ku kerjai saja istriku ini ya,,, Jawab saja sudah ya. Lalu ku biarkan si piton boyku bergelantungan manja di depan matanya. Siapa tau dengan begitu Na akan terpesona dan keinginan bercintanya timbul. Kalau tidak timbul juga ya ku perkosa saja lah. Lagipula siapa yang akan menyalahkanku kalau aku menuntut jatahku? Apa salahnya bertelanjang ria di depan istri sendiri?


Hehehe,,, Sayangnya otak mesumku itu kalah dengan cinta suci dan tulus dalam hatiku untuk Na. Hati ini menyadarkan bahwa semua yang dipaksakan itu tidak akan indah. Bersabar adalah hal yang harus ku lakukan.


Bersabar sampai tiba waktunya,,, Saat Na sendiri yang akan sukarela menyerahkan dirinya seutuhnya sebagai istriku. Kali ini biarkan hanya status saja yang berbicara.

__ADS_1


"Belum Na. Tunggu ya. Tutup saja dulu mata Na. Kakak pakai baju dulu." kalimat itulah yang akhirnya keluar dari bibir ini mewakili hatiku.


"Iya kak. Pakaian kakak sudah aku siapkan di atas ranjang." sahutnya.


Tanpa menyahut lagi, Ku langkahkan kaki menuju ranjang di mana di atasnya sudah ada pakaianku. Yang menarik netraku adalah kemeja dan dasi serba biru senada itu. Kemeja yang sudah sangat lama tak pernah ku pakai. Kemeja yang ku beli enam tahun lalu. Kemeja yang sedianya akan ku pakai untuk sebuah acara besar.


Itu kemeja pilihan Maharani untuk acara resepsi pernikahan kami yang sedianya mengambil tema pantai dan alam bebas,,, Biru menunjukkan warna langit dan laut.


Bibir ini tertarik di kedua ujungnya. Aku tersenyum meski dengan dua perasaan yang berbeda.


Perasaan Suka karena hari ini akhirnya mengharuskanku memakainya karena bagaimana pun juga,,, ini pilihan istriku yang pastinya terbaik untukku,, Aku percaya kepada Na. Ia tak akan memilihkan sesuatu yang membuat penampilanku lebih buruk dibanding sebelumnya.


Sekaligus perasaan duka karena teringat memori akan kemeja biru itu.


"Kak,," Panggil Na lirih. Ia pasti merasa aku sudah terlalu lama.


"Iya Na. Sebentar ya." gegas ku kenakan semua yang sudah dipilihkan Na itu tanpa rasa ragu atau duka lagi.


Maharani sudah tenang di alamnya. Tidak perlu lagi hati ini terus menerus dirundung duka lara. Tidak lagi berduka Bukan berarti melupakan melainkan mengikhlaskan.


Na membuka tangannya perlahan lahan seolah tak percaya dengan perkataanku. Namun sejurus kemudian ia tersenyum melihatku sudah tampan tentunya dengan setelah serba biru ini.


"Dasinya masih miring. Boleh Na rapikan?" ijinnya.


Tentu saja aku mengangguk mengiyakan. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini? Besok,,, belum tentu ada. Na mendekatiku,,, berdiri tepat di hadapanku. Fokus merapikan letak dasi yang memang jujur aku paling tidak mahir memakainya.


"Sudah rapi." ucapnya lengkap dengan senyumnya.


"Terima kasih istriku." ucapku membuatnya tertunduk malu.


Gemasnya kakak sama kamu Na,,, Ingin rasanya segera ku peluk dan ku gendong kamu ke ranjang itu. Ku tumpahkan segala keinginan terpendamku.


"Kita turun yuk." lagi lagi bukan isi otak yang terungkap melainkan isi hati yang waras.

__ADS_1


Na mengangguk dan membiarkanku menggenggam tangannya untuk ku bimbing berjalan menuruni satu persatu anak tangga.


"Dew,,,Kemeja ini,,,"


Biang tercengang melihatku dengan kemeja biru itu. Ajik pun menoleh ke arah kami yang terus berjalan mendekati meja makan. Mereka berdua sudah tau story kemeja biru itu. Tak heran jika mereka heran melihatku memakainya hari ini.


"Bagus kan pilihan istri Dewa?" tanyaku sembari mengerlingkan mata memberi kode agar mereka tak membahas apa apa lagi tentang kemeja biru ini.


"Bagus banget. Ajik sampai gak yakin kalau yang pakai ini adalah putra Ajik. Pandainya menantu ajik memilihkan baju untuk anak ajik. Terima kasih Nada. " sahut Ajik yang paling pandai mencairkan suasana.


"Sama sama Ajik." Na terdengar masih kaku dengan panggilan itu.


"Ayo duduk di sini Nad." Biang juga menariknya dari pegangan tanganku lalu memeluknya erat sebelum akhirnya menarikkan sebuah kursi untuk Na duduk.


Tampak biang sangat menyayanginya. Bagaimana pun, ia sekarang merupakan wanita kedua dalam rumah ini. Biang akan punya teman cerita dan teman bertukar pikiran sesama wanita.


"Terima kasih Biang." lagi lagi suara Na masih terdengar kaku.


Sarapan pun di mulai tanpa ada satu pun yang berbicara. Itu adalah aturan yang selalu diterapkan oleh Ajik kepada kami.Tidak boleh bersuara saat makan. Untungnya Na yang belum sempat ku beri tau aturan di meja makan tampaknya juga bisa menyesuaikan. Meskipun mungkin diamnya karena perasaan tak nyamannya.


"Na,, Sebenarnya siapa ayah dari bayimu ini? Jangan salah paham pada biang kalau biang menanyakannya. Biang hanya tidak ingin nantinya ada masalah ke depannya. Biang takut saja tiba tiba ayah si bayi datang dan mengambilnya."


Pertanyaan sekaligus pernyataan yang benar namun salah dari biang itu terlontar saat kami sudah selesai sarapan. Hal itu membuat Na tertunduk. Bulir bulir bening terlihat menetes membasahi tangannya yang merremas ujung gaunnya.


"Bayi ini anaknya Dewa biang. Ayahnya ya Dewa. Tidak perlu lagi dipertanyakan siapa ayahnya. Dan kalau pun ketakutan biang itu terjadi,,, Nada tidak perlu takut. Jika Dewa sebagai suami Na tidak mampu mengatasi masalah ini,,, Maka ajik yang akan maju paling depan mempertahankan cucu ajik ini. Bayi ini sudah menjadi anggota keluarga ini dan tidak ada satu pun yang boleh mengambilnya."


Ucapan tegas dari ajik menenangkan hatiku sekaligus membuat tangis haru Na makin menjadi.


"Biang minta maaf. Biang tidak bermaksud apa apa. Biang hanya takut kehilangan cucu biang ini."


Ku biarkan biang yang mendekapnya kali ini. Bagaimana pun, biang memang perlu menjelaskan maksud dari pertanyaannya tadi.


...🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


...Bersambung,,,,...


__ADS_2