I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Membahas Promil


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Ody🌸


Tok,,,Tok,,, Tok.


Aku menarik napas dalam dalam. Entah apa yang kurasakan saat itu. Aku tidak senang namun tidak berdaya mengungkapkan ketidaksenanganku itu sendiri.


Tiga suara ketukan palu hakim itu akhirnya mengakhiri perjalanan kasus gugatan perceraian yang ku layangkan pada Valencia. Kami sudah dinyatakan tidak jadi bercerai.


"Terima kasih sayang atas kesempatan yang sudah kamu berikan padaku."


Valencia bergelayut manja di lengan kiriku ketika kami berdua keluar dari ruang persidangan. Kepalanya juga disandarkan di bahuku. Sikapnya itu membuat beberapa pasang mata menatap heran kepada kami berdua.


Jika biasanya yang keluar dari pintu itu selalu dengan muka masam, emosi atau tangisan tak rela atas perpisahannya,,,maka lain dengan kami berdua.


Keluar dari sana malah makin lengket membuatku risih.


"Jaga sikapmu. Ini kan di tempat umum. Banyak yang lihatin. Aku gak nyaman." ucapku setengah berbisik padanya.


Valencia melakukan apa yang kuminta meski sempat kulihat rona wajah tidak sukanya. Aku terpaksa menggunakan orang orang itu demi menyelamatkan diriku sendiri. Aku hanya merasa tidak nyaman saat ini. Hatiku berkecamuk.


Om rindu kamu sayang,,, Nadaku, gadis kecilku.


Dari semalam aku susah tidur. Memikirkan keberadaannya,,, alasan kepergiannya,,, alasan menghilangnya dariku,,, Semua itu membuatku tak bisa fokus merasakan bagaimana perasaanku dengan batalnya perceraianku dengan Valencia.


Perasaanku datar. Tidak berwarna sama sekali. Aku membeku.


"Sayang,,, Mau gak kita langsung ke dokter? Kita periksakan kondisi kesehatanmu yuk." ajak Valencia berusaha memecah kebekuanku.


"Dokter mana maksudmu?" tanyaku tanpa menoleh atau menghentikan langkahku.

__ADS_1


"Kok dokter mana sih? Ya dokter Johan dong. Kamu gak ingat perkataanku semalam? Kan aku sudah bilang kalau aku ingin kita mulai program hamil lagi." Valencia tersenyum dan mengingatkanku kalau kalau aku lupa.


"Aku ingat tapi bukan itu maksudku bertanya."


"Lalu?" ganti tatapan penuh keheranan yang diberikannya.


"Kalau ke dokter Johan lagi, ku rasa hasilnya akan sama saja. Sekali ini,,, turuti kemauanku. Kalau kamu memang mau kita segera program,,, kita coba dokter lain dulu. Biar aku yang memilih kali ini." ujarku.


Valencia terlihat gelisah mendengarnya. Ia bahkan menghentikan langkahnya. Aku baru menyadari ia ketinggalan beberapa langkah dariku. Karenanya aku jadi ikut berhenti. Menoleh kepadanya. Ia tampak keberatan dan berpikir keras. Aku tak tau apa yang membuatnya begitu anti dengan dokter lain.


"Bagaimana?" tanyaku mendekatinya dan membuatnya sedikit tergagap.


"Mm,,, ke dokter lain ya??"


"Ya. Siapa tau ditempat lain hasilnya berbeda. Ya kalau kamu kuatir dapat dokter yang kurang bagus, kita browsing dulu lah. Cari referensi dulu mungkin."


Valencia berpikir lagi. Susah sekali baginya langsung mengiyakan. Padahal juga aku yang bayar.


Oh ya,,, sejujurnya aku tak begitu tertarik dengan program hamilnya ini. Bagaimana bisa tertarik atau bersemangat kalau hati dan pikiranku sendiri masih ngalor ngidul gak jelas arahnya mau kemana. Apa dengan pikiran yang tak fokus begini aku bisa menunaikan tugasku sebagai suami di ranjang?? Aku bahkan tak yakin dengan satu hal itu.


"Dokter lain boleh juga sih. Tapi masalahnya aku sudah buat janji dengan dokter Johan sayang. Dan beliau sudah menyempatkan waktunya untuk kita. Seharusnya beliau ke luar kota tapi karena aku memohon kepadanya,,,maka beliau tidak enak hati mendengarnya." Valencia menjawab setelah cukup lama berpikir.


"Kita ke dokter Johan saja dulu ya. Gak enak kalau main membatalkan begini. Selanjutnya kalau memang hasilnya masih sama saja,,,kita pergi ke dokter pilihanmu. Ya sayang ya,,,please. Aku sudah gak sabar lagi memulai promil ini."


Sepuluh jari lentik Valencia sudah tertaut dan membentuk segitiga di depanku.Ia terlihat begitu tak enak hati kalau harus batalkan janji. Dengan wajah penuh harapnya itu dia memohon.


"Seharusnya sebelum buat janji, kamu bertanya dulu padaku." ujarku tak langsung mengiyakannya dan itu membuatnya terperangah.


Pasti ia heran dengan perubahan sikapku,, Biarin aja!!


Pada kesempatan kedua yang kuberikan padanya kali ini aku merasa berhak mendominasi. Bukankah aku sudah berbaik hati menerimanya kembali,,, artinya aku juga berhak untuk disenangkan olehnya.


Salah satunya adalah mengiyakan apa mauku. Jika dulu semua adalah tentang Valencia saja,,, maka di kesempatan kedua ini aku ingin semua setara.


Dalam benakku sebenarnya tersirat pemikiran bahwa ini bukan cinta namanya kalau aku mengharap balasan. Ini bukan ketulusan namanya kalau aku masih itung itungan timbal balik.


Tapi setelah semuanya,,, apa aku tidak berhak untuk meminta kebahagiaanku darinya?? Apa aku tidak cukup layak memintanya untuk berusaha lebih keras lagi??

__ADS_1


"Maaf ya. Lain kali aku tidak akan begini lagi." Valencia menggenggam jemariku dan ini pertama kalinya dengan lugas ia mengucap kata maaf. Membuat aku ganti yang tertegun dibuatnya.


Setelah bertahun tahun bersamanya,,,baru kali ini ia bicara maaf. Tapi entah kenapa aku malah merasa aneh dengarnya. Seperti ada udang dibalik batu,,,


"Baiklah. Kita berangkat sekarang." ajakku tak mau berlama lama di kantor pengadilan ini dan membahas dokter Johan terus.


Valencia mengangguk lalu melepaskan genggaman tangannya. Dia berjalan menuju ke samping mobil dan membuka sendiri pintunya. Biasanya aku yang akan tergopoh gopoh membukakan pintu mobil untuknya. Namun kali ini, aku tak melakukannya.


Dalam perjalanan menuju ke tempat dokter Johan, hanya Valencia yang mendominasi pembicaraan. Ia selalu punya topik untuk dibahas. Sementara aku,,,hanya sekedar menjawab dan menanggapi.


"Kok dari tadi aku terus sih buka topik sayang. Gantian kamu dong,,,Ayo katakan ada masalah apa yang ingin kita bahas bersama. Aku ingin kita sama sama terbuka sayang." tangan Valencia hinggap di paha kiriku.


Ia kemudian memberikan sedikit usap usapan lembut di sana.


"Jangan begini. Aku jadi gak fokus menyetir." ucapku tanpa bermaksud membuatnya mengira aku terang*sang.


"Iya maaf. Oh ya,,,jadi ada pembahasan tidak?" tanyanya lagi.


Aku diam tak menjawab. Mataku memandang lurus ke depan tanpa berkedip. Aku tengah menimbang nimbang perlukah membahas kejadian bersama Nada malam itu yang berimbas dengan menghilangnya Nada saat ini. Aku sendiri tidak bisa mengingat betul kejadiannya seperti apa, jadi aku sedikit bingung dari mana memulainya.


"Kenapa kamu tidak pernah bertanya tentang Nada?" akhirnya itu pertanyaan yang kuberikan begitu aku diberikan kesempatan buka topik pembicaraan.


"Nada?? Apa tidak ada hal lain yang lebih penting untuk kita bahas saat ini sayang?" ku tangkap nada nada kurang suka dari ucapan Valencia itu.


"Bukannya apa. Dia itu kan sudah seperti anak kita sendiri. Kamu bahkan sepertinya sudah tidak memperdulikannya lagi. Seharusnya kamu ingat,,, bagaimana pun,,, kamu tetap bersalah padanya. Tidak inginkah berusaha meminta maaf lagi?" tanyaku dengan wajah datar namun menyindir.


Valencia diam. Menunduk kemudian memalingkan wajahnya ke arah luar jendela. Kulihat ia meremat jari jemarinya kuat kuat.


"Sudahlah,,, kalau begitu kamu saja yang terus buka topik. Sepertinya pembahasan dariku tidak menarik perhatianmu."


Ku percepat laju mobil sehingga membuat tubuhnya tertarik karena gerakanku yang tiba tiba itu. Valencia kaget dan menoleh kembali ke arahku.


"Kamu marah sayang?" tanyanya.


Tak ku jawab. Lebih baik tak kulanjutkan lagi obrolan ini daripada moodku makin memburuk.


...🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


...bersambung,,,...


__ADS_2