
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku ...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Nada🌸
Mataku memicing melihat tamu yang datang. Dua sosok itu aku mengenalnya. Sosok mungil itu juga pasti Birru. Tapi siapa lagi satu?
Wanita bercadar yang tampak tidak yakin dengan langkah kakinya sendiri. Ia terlihat beberapa kali menghentikan langkah namun setelah om Ody terlihat meyakinkannya, maka ia kembali berjalan mendekat.
"Wah anak ibu sudah pulang rupanya." tuturku menyambut kedatangan putra tercintaku.
Birru melonjak lonjak meminta ku gendong. Seharian bersama ayah dan neneknya tentu membuatnya merindukan dua mainan kenyalnya ini.
"Sebentar ya. Nada beri asi Birru dulu. Mmm,,, silahkan duduk." ku persilahkan tamu baru yang aneh itu.
Wanita itu hanya mengangguk dan bisa kulihat kedua netranya basah.
"Nada,,, Sebaiknya segera susui Birru dulu, lalu cepatlah kembali kemari." pinta om Ody lembut dan aku hanya mengangguk mengiyakan.
Sebenarnya masih heran tapi daripada berlama lama bertanya tanya sendiri, lebih baik segera ku susui Birru. Lagipula dia sudah mulai rewel karena haus dan mengantuk.
Aku bergegas masuk lalu sekitar 15 menit kemudian sudah keluar kembali menemui mereka. Birru yang terlalu lelah rupanya cepat terlelap begitu benda kenyal kesayangannya masuk ke mulut mungilnya.
"Silahkan di minum." berbasa basi ku persilahkan mereka meminum minuman yang sudah disiapkan asisten rumah tangga di rumah ini.
"Ini siapa om??" tanyaku ketika mereka telah meletakkan kembali cangkir masing masing, kecuali wanita bercadar yang memang sama sekali tak menyentuh cangkirnya.
Sedari tadi ia hanya menatapku dengan mata basahnya.
"Ini,,,"
"Maafkan tante sayang,,,,"
Gerakan tiba tiba yang dibuat wanita itu membuatku terkejut hingga rasanya jantung ini mau lepas. Wanita itu duduk bersimpuh di kakiku menangis. Aku benar benar heran.
Kemudian kalimat yang diucapkannya membuatku mulai menyadari dan mengenalinya. Suara itu masih sangat kuhafal.
"Tante??" aku masih kaku ditempatku.
__ADS_1
"Maafkan tante sayang. Maafkan semua perbuatan buruk tante selama ini kepadamu." wanita yang semakin kuyakini adalah tante Valencia itu makin histeris.
"Tante,,, bangunlah. Tidak baik seperti ini." aku jadi tidak enak disembah begini. Bagaimana pun, ia lebih tua dariku.
"Tidak sayang. Sebelum tante dengar kamu memaafkan tante." tante Valencia menolak.
"Tante,,,"
Aku memilih turun dan memeluk tubuh yang kurasa makin kurus itu. Betapa aku sangat menghormatinya dulu dan sempat menjadikannya panutan. Lantas aku tau betapa bobroknya ia, hingga rasanya tak pantas kujadikan contoh. Aku sempat membencinya untuk urusan Anton tapi melihatnya hari ini,,,
Yang kurasakan hanya rindu,,, rindu sosok ibu.
"Jangan minta maaf lagi. Nada sudah memaafkan tante sejak lama. Lagipula, seharusnya Nada yang meminta maaf. Nada pernah mengkhianati tante. Nada pernah mengambil milik tante." kubisikkan kalimat itu lalu tubuhnya semakin bergetar.
Aku masih selalu merasa bersalah tiap kali mengingat kejadian malam itu. Meski semua sepakat untuk tidak membahasnya lagi, tapi tetap saja itu meninggalkan bekas untukku.
"Kamu gak salah sayang. Tante yang salah." tante Valencia tetap tergugu dalam pelukanku.
Acara peluk pelukan berlanjut lumayan lama sampai tante Valencia benar benar merasa lebih tenang. Aku lantas mengajaknya duduk di sebelahku dengan tanganku yang terus menggenggam tangannya. Sempat ku lihat baik om Ody dan mamanya menyeka airmata mereka. Mereka ikut terharu sepertinya.
"Tante apa kabar?" lucu karena aku baru ingat menanyakan kabarnya.
"Seperti yang kamu lihat sayang." lirihnya.
Cukup lama Ku peluk kembali tubuh ringkih yang terbalut gamis longgar itu.
"Coba cerita sama Nada,,, bagaimana bisa tante sampai di sini? Dan om Ody,,, ketemu di mana??" aku mencecarnya dengan pertanyaan pertanyaan yang sekiranya mampu menjawab tanda tanya besarku.
Kemudian om Ody yang bantu menjawab dengan menceritakan semua. Tidak ada yang terlupa satu pun. Aku sedih sekaligus bahagia,,, aku menangis juga tersenyum,,, perasaanku campur aduk mendengar cerita perjalanan hidup tante Valencia selama ini.
"Tante yang sabar ya. Semoga tuhan mengangkat segala penyakit tante. Tetap berusaha dan berdoa. Jangan pernah putus harapan ya tante." kembali ku genggam jemarinya.
"Tante sudah pasrah sayang. Yang jelas, tante hanya akan terus berusaha berbuat baik di sisa umur tante. Berusaha tidak lagi menyakiti orang lain." mata sayu itu sedikit berbinar menunjukkan betapa semangatnya ia untuk berubah.
Sungguh,,, aku bahagia sekali dengan perubahan baiknya ini meski terselip rasa takut akan cepat kehilangan dirinya. Setahuku, kanker rahim itu termasuk jenis penyakit mematikan.
Tuhan,,, beri tante Valencia umur panjang. Beri dia waktu lebih lama lagi untuk bertobat.
"Apa ini tante?" tanyaku ketika tante Valencia menyerahkan sebuah tas yang entah apa isinya.
"Itu milikmu sayang. Dulu tante menyimpannya karena kamu masih kecil. Sekarang tante kembalikan karena kamu sudah cukup dewasa untuk bisa memilikinya." ucap tante Valencia membuat Keningku mengkerut mendengarnya.
"Bukalah." titahnya kemudian.
__ADS_1
Aku menurut saja dan membuka tas itu. Terdapat beberapa lembar lembaran yang setelah kubaca satu persatu membuatku tau apakah semua itu.
Ayah,,, ibu,,, terima kasih sudah mewariskan semua ini untuk Nada. Akan Nada jaga dan wariskan juga pada cucu cucu kalian kelak.
"Terima kasih sudah menyimpan dan menjaganya selama ini tante. Ini kenangan berharga." mataku basah oleh airmata kerinduan akan sosok kedua orang tuaku.
Cukup lama kami berbincang hingga akhirnya om Ody berpamitan dan mengatakan harus mengantar kembali tante Valencia ke panti asuhan. Aku juga berjanji akan sering sering mengunjunginya. Dalam hati terselip doa untuk keduanya.
Jika mereka masih berjodoh,,, satukanlah mereka kembali tuhan.
Malamnya setelah kak Dewa pulang dari latihan gym nya, aku menceritakan perihal kedatangan tante Valencia tadi. Kak Dewa terlihat sangat antusias mendengarnya. Ia juga menyesal karena tidak sempat berkenalan dengannya.
"Nanti kan ketemu. Kalau kita mengunjunginya." ujarku dan membuatnya sedikit lega.
Aku juga memberitahunya tentang semua peninggalan orang tuaku yang dikembalikan oleh tante Valencia.
"Hah?? Peninggalan orang tua?? Waahhh kok kakak bisa lupa memberikan pada Na sampai sekarang ya??" kak Dewa tepuk jidat.
"Memangnya kakak lupa beri Nada apa?" tanyaku heran.
"Tunggu di sini."
Kak Dewa kemudian kembali dengan sebuah kotak beludru berwarna merah dengan bentuk hati.
"Bukalah."
"Ini apa kak?" tanyaku dan kak Dewa hanya memberi isyarat untukku membukanya.
"Loh,,, ini,,, ini kan kalung hadiah ulang tahunku. Kenapa bisa ada pada kakak??"
Mataku melebar sempurna setelah membukanya. Kalung yang terpaksa ku jual demi bertahan hidup di awal awal kedatanganku di Bali. Kalung yang sempat membuatku sedih karena ketika kembali ke toko itu, katanya kalung itu sudah lama terjual.
"Di hari Na menjualnya,,, kakak membelinya dan menyimpannya untuk Na. Kakak pikir Na pasti akan bahagia mendapatkannya kembali. Gak taunya kakak malah kelupaan sampai sekarang. Bodohnya kakak."
Ku peluk erat lelaki yang sudah selalu memberi kebahagiaan bertubi tubi untukku itu.
"Terima kasih." bisikku.
Hari ini begitu membahagiakanku. Kenangan kenangan berharga atas ayah dan ibu kembali kepadaku semuanya.
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,...
__ADS_1