
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku ...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Nada🌸
"Ayo."
"Kemana kita hari ini?" tanyaku pada pemuda gengsian yang akhirnya tiap hari kini membuang gengsinya dan selalu mengajakku mengunjungi tempat tempat teman dan saudaranya.
Hanya demi membuat kontak di ponselku terisi saja.
Herannya, setiap teman dan saudara yang dikunjungi selalu terperanjat melihat kedatangan kami awalnya. Lalu memeluk Dewa dengan senyum sekaligus tangisan. Aku pernah menanyakan padanya kenapa mereka begitu. Tapi jawabannya selalu saja,,,
Aku kan memang saudara dan teman kesayangan. Wajar saja mereka merindukanku.
Dih,, Pedenya bukan main kan? Mana ada yang merindukan lelaki dingin, gengsian dan gak peka serta seenaknya sendiri sepertinya. Aku saja betah betahin diri demi bisa segera mengumpulkan banyak cuan.
Aku ingin menebus kembali kalung mama. Meski mungkin kalung itu sudah tidak ada ketika aku kembali ke sana. Tetap dalam hati ini berdoa, semoga masih ada.
"Pegangan. Nanti jatuh. Harus berapa kali sih aku ingatkan?" ketusnya ketika motor yang kami kendarai sudah melaju di jalanan.
Dan seperti biasa, aku mengalungkan tanganku ke pinggangnya.
"Harus disuruh dulu ya semuanya??" ketusnya lagi.
"Kurang bagaimana lagi sih aku? Suruh pegangan, sudah kulakukan. Kenapa masih bicara begitu lagi?" sifat alamiku, protes.
"Yang erat!! Nempel doang begitu mana bisa menahanmu kalau kita kenapa kenapa." serunya lagi.
"Memangnya kita mau kenapa? Selama kamu mengendarainya dengan baik dan benar ya gak akan apa apa." omelku tak mau kalah.
"Ya sudah. Yang penting aku sudah ingatkan kamu."
Tumben ia mengalah dan pasrah dengan jawabanku. Biasanya ini akan menjadi perdebatan panjang. Setiap hari begitu.
Tak terasa ini sudah sebulan lewat aku tinggal di pulau Bali yang indah ini. Dan semua keindahannya juga kunikmati bersama lelaki ketus di depanku ini. Mengingatnya jadi membuatku ingin menggetok kepalanya. Tapi karena takut dia marah, ya aku julur julurkan saja lidahku di belakangnya. Hanya untuk mengurangi kekesalan di hati akan ulahnya yang tiap hari buat gaduh.
__ADS_1
Tapi kemudian aku tersenyum memandangi kepala yang selama ini selalu tegak menolongku. Membantuku sampai aku benar benar bisa hidup dengan pundi pundi uang yang kudapat dari berjualan baju baju miliknya.
Sementara, aku memang belum mendapat panggilan kerja dari mana mana tempat yang sudah ku kirimi lamaran kerja. Sepertinya pengalamanku yang masih zero adalah alasan utama para pemilik usaha tidak menginginkanku menjadi salah satu pegawainya.
Mengingat susahnya cari kerja, membuat hatiku meluluh kepada si aneh ini. Bagaimana pun, aku berhutang budi padanya. Hutang nyawa bahkan. Kalau tidak ada dia, mungkin saat ini aku sudah tinggal nama. Mati kelaparan.
Terima kasih sudah jadi dewa penolongku,,,
Ku eratkan pelukanku di pinggangnya lalu sedikit ku sandarkan kepalaku di punggung lebarnya. Sungguh menghangatkan. Sampai kemudian kehangatan itu kembali menjadi perdebatan.
"Awas saja kamu ngantuk dan ketiduran!! Sudah aku bilang kan,, jangan begadang!! Perjalanan kita jauh hari ini." omelnya.
Huuuhh,,, ku lepaskan tanganku dari pinggangnya dan refleks mendorong punggungnya. Aku kesal bukan main.
"Siapa suruh lepas pegangan?? Pegang lagi. Yang erat!! Sudah seperti bicara sama anak kecil saja aku ini. Musti lengkap dan berulang ulang." gerutunya sembari menarik kembali tanganku dan meletakkannya lagi di pinggangnya.
Aku berusaha menariknya kembali tapi ditarik lagi olehnya. Berulang kali begitu sampai akhirnya ia sama sekali tak melepaskan tanganku. Dewa memilih menyetir dengan satu tangan saja sementara tangan satunya menahan tanganku agar tetap di pinggangnya. Sudah bak pasangan muda yang baru baru jatuh cinta saja kan?
Demi apa coba??
"Diam!! Bandel banget sih." omelnya lagi saat aku kembali berusaha menarik tanganku.
"Berhenti!!!" teriakku dan membuatnya menghentikan laju motornya.
"Kamu maunya apa sih?? Kamu mau aku berhenti dan aku turunkan di sini?? Begitu maumu?? Baik. Turun saja sana!! Jalan sendiri pulang!! Aku lelah mempedulikanmu terus. Lelah melindungimu. Lelah mencoba mengerti dan mengimbangimu. Sampai kapan sih bisa sedikit saja tidak membuatku serba salah begini???!!!."
Aku melongo mendengar curahan hatinya yang panjang lebar itu. Padahal aku cuma mau,,,
"Itu." tunjukku pada sebuah lapak kecil di pinggir jalan.
"Apa???" ketusnya emosi.
"Aku,,, Aku cuma mau beli itu." ku tunjuk pedagang asinan buah yang sebenarnya bukan kesukaanku, tapi entah kenapa aku ngiler melihatnya. Sepertinya sangat menggoda selera.
"Itu saja?? Sampai harus teriak??" protesnya.
"Kalau lihat dari awal ya sudah siap dan gak usah teriaklah. Pokoknya aku mau ituuuuu. Huaaaa,,," percaya tak percaya aku sampai menangis menginginkan asinan mangga itu.
Demi apa pun, aku juga merasa aneh dengan diriku dan keinginanku ini. Padahal gak pernah mencoba atau beli asinan sebelumnya.
"Iya iya!! Gak usah nangis segala." bisiknya mencubit kecil tanganku hingga aku merasakan sensasi panas di kulit.
__ADS_1
Uuuaaaaa,,,aku menjerit kembali membuat beberapa pembeli di pedagang asinan pun menoleh ke arah kami. Dewa jadi panik karena menjadi pusat perhatian.
"Kenapa itu istrinya?? Diapain??" seorang bapak bapak sampai menghampiri kami mengira terjadi sesuatu pada kami.
Hah istri?? Seketika tangisku berhenti.
"Oh ini pak. Istri saya lagi hamil muda dan rewel pingin asinan. Ini saya baru mau belikan. Ayo sayang pelan pelan turunnya. Jadi beli asinan kan??."
Aku melotot mendengar jawaban sekaligus pertanyaan Dewa itu. Tapi matanya yang memberi kode memaksaku untuk mengangguk dan turun mengikuti skenarionya. Bapak yang bertanya tadi hanya mengangguk angguk memaklumi.
Seenaknya saja mengakui aku istrinya. Pakai bilang aku hamil muda lagi. Memangnya ada tampang tampang aku ini sedang hamil?? Perut saja rata. Haidku juga,,,
Tunggu,,, Kapan aku terakhir haid ya??
"Jadi mau beli yang mana??" pertanyaan itu mengusik konsentrasiku.
"Mmm,,, yang ini,,, ini,,, ini,,, dan itu juga." aku menunjuk banyak pilihan asinan buah.
Yang semula hanya ingin asinan mangga, kini aku menginginkan semuanya. Rasanya semua menggoda. Heran juga,, aku jarang dan bisa dikatakan gak suka makan buah tapi kali ini aku malah minta beli banyak. Untungnya si suami bohonganku ini mau membelikan semuanya hehehe,,,
"Aku mau makan sekarang." pintaku begitu semua sudah ditangannya.
"Nanti saja. Sekarang kita sudah ditunggu temanku." larangnya dan itu sukses membuat liurku akhirnya keluar tak tertahankan.
"Astaga joroknya kamu ini!!!" umpatnya.
"Makanya beri aku satu." sungutku.
"Makannya sambil jalan kalau begitu. Biar keburu waktunya." serunya sambil menarik tanganku untuk kembali ke motornya yang diparkir di sisi jalan.
Aku mengangguk saja mengiyakan dan menikmati asinan yang benar benar terasa nikmat ini. Baru kali ini aku tau rasa asinan dan ini sangat membuatku senang.
Dewa sedikit menambah kecepatan laju motornya. Mungkin memang benar sedang mengejar waktu. Hingga akhirnya, di sebuah tikungan,,,
Brrraaaakkk,,,,
Aku terlempar beserta asinan nikmatku. Aku tak paham dengan apa yang terjadi. Terakhir kali yang kulihat adalah sebuah mobil yang melaju kencang dan berlawanan arah dengan kami tapi saat tiba di tikungan, mobil itu lepas kendali. Setelah itu,,, aku tak tau.
Semua gelap.
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
...bersambung,,,...