
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku ...
...❤️❤️❤️...
Obrolan masih berlanjut dengan Valencia yang tak melepas tatapan tajamnya pada Anton. Ada kemarahan tergambar di wajah Valencia dan ada ketakutan tersirat di wajah Anton. Tapi itu hanya keduanya saja yang mampu mengartikannya.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan obrolan kita di meja makan saja? Kita sambil makan siang. Ayo Anton, kamu perlu cicipi masakan om." ajak Ody ramah.
"Bb,, Baik om."
"Masih saja gugup kamu ini. Ayo santai aja." Ody menghampirinya dan menepuk nepuk bahunya.
Diajaknya Anton berjalan bersamanya ke meja makan. Disusul Nada kemudian Valencia yang melangkah malas mengekori Nada.
Aneka makanan yang tersaji di meja makan membuat perut Nada bergejolak. Cacing cacing di perutnya berteriak minta segera diisi. Namun lain Nada, lain pula Anton. Pemuda yang biasanya tak pernah bisa melewatkan makan siang itu mendadak kehilangan selera makan.
Bukan karena masakan itu tak menggugah selera,,, melainkan kilatan amarah di mata Valencia yang membuatnya tidak merasa lapar.
"Ayo Anton. Jangan malu malu." tegur Ody yang mengira Anton tak bergerak karena merasa sungkan.
"Ii,,, iya om." dengan gerakan beratnya, Anton membalikkan piringnya yang masih menelungkup di depannya.
"Aku ambilin nasinya ya." Nada menawarkan dan tanpa menunggu jawaban Anton langsung mengambil piringnya.
"Mm,, Jangan banyak banyak Da." ujar Anton.
"Kenapa? Makanan ini gak enak? Kamu gak suka? Dan oh ya,,, Panggil apa kamu tadi ke keponakanku? Da?? Gak ada panggilan sayang?? Kok kalian gak romantis banget sih??" Valencia memberondong Anton dengan banyak pertanyaan yang membuat pemuda itu tersedak air putih yang tengah diminumnya.
Berharap air itu bisa sedikit menenangkannya malah kebalikannya. Air itu membuatnya makin merasa ditelanjangi di depan semuanya.
"Aku sama Anton kan berawal dari temenan tante. Jadi kita udah biasa panggil nama aja. Lagian kalau hanya panggilan sayang,,, bagi Nada gak penting banget sih. Yang lebih penting adalah sikap dan perhatian Anton ke Nada. Anton sangat menyayangi Nada, itu sudah lebih dari cukup." ucap Nada membuat Valencia ingin muntah rasanya mendengarnya.
"Terima kasih ya Anton untuk kasih sayangmu dan kesetiaanmu." Nada mengusap lengan Anton yang jadi kikuk dibuatnya.
__ADS_1
"Ii,,, iya. Sama sama." jawabnya dengan susah payah.
"Sweetnya kalian berdua. Ya udah ayo kita mulai makan. Keburu dingin nanti kurang enak."
Ody mendahului mengambil beberapa lauk dan meletakkannya di piringnya. Diikuti Nada yang tak kalah semangat dan selalu kalap kalau sudah melihat masakan Ody. Anton masih tak selera makan namun ia tak enak hati jika tak makan.
Perlahan ia mengambil lauk yang terdekat dengan dirinya saja. Bersamaan dengan Valencia yang menyendokkan sendok besarnya ke tumpukan daging coklat berbumbu.
"Nih tante ambilin. Kamu pasti suka." Valencia tiba tiba meletakkannya di piring Anton.
"Eerrghh,,," Anton ingin menolak tapi tak kuasa untuk bicara.
"Kok tante tau kalau Anton suka rendang? Pakai mata batin yaa??" gurau Nada yang suka melihat perlakuan Valencia pada kekasihnya itu.
Nada menganggap itu adalah bukti bahwa tantenya sudah bisa menerima kehadiran Anton di tengah tengah keluarga mereka.
"Daging merah bagus untuk stamina. Apalagi sebentar lagi kalian akan menikah. Dia perlu makan banyak daging merah agar punya stamina yang prima. Bagaimana pun ia harus bisa memuaskanmu sebagai istrinya." Valencia tersenyum tipis.
Kalimat itu membuat wajah Nada bersemu merah karena membayangkan dirinya dan Anton akan bertemu di suatu malam dalam kondisi sudah menjadi suami istri. Hal selanjutnya pasti sudah bisa ditebak.
Berbeda dengan Ody yang merasa kalimat itu sindiran keras untuknya. Ia yang dianggap tak mampu memberikan keturunan pada Valencia itu pasti karena ia tak punya stamina yang prima.
"Jangan makan rendang. Nanti kolesterol. Usia kamu berbeda dengan Anton. Kebutuhan kalian juga beda." sahut Valencia membuat Ody tak membantah lagi.
Kurang bagus rasanya menjawab itu karena Ody tak mau memicu perselisihan lagi antara dirinya dan Valencia. Apalagi ada Nada dan Anton saat ini.
Lain dengan Nada dan Ody, lain pula dengan Anton. Ia benar benar merasa serba salah. Karenanya ia pikir dengan segera menghabiskan makanan itu, ia bisa segera berpamitan agar bisa bernapas lega,,,untuk sesaat.
"Pelan pelan makannya. Buru buru amat." tegur Valencia yang memperhatikan segala tingkah laku Anton.
"Kamu ada kerjaan hari ini??" tanya Nada yang baru menyadari Anton memang begitu buru buru.
"Mmm,,, Iya. Ada pemotretan jam 2 siang ini. Sejam lagi." Anton tersenyum kaku sembari pura pura melirik jam tangannya dan mencuri pandang pada Valencia.
"Oh gitu. Perlu aku antar?" tanya Nada.
"Ng, nggak usah. Aku bisa panggil taksi online." tolak Anton.
__ADS_1
Nada mengangguk dan tak memaksa.
"Kamu mau ke arah mana? Sebentar lagi juga tante ada kerjaan di luar. Kamu bisa ikut mobil tante." Valencia mengambil langkah mematikan.
"Mmm,,,,"
"Iya Anton. Barengan aja sama tante. Lumayan kan sambil ngirit ongkos hehehe,,," Nada membuat Anton kembali harus menggigit bibir karena tak bisa berkutik.
"Benar itu. Ikut saja sama tante." timpal Ody.
"Bb,,Bb,, Baik om. Asal tidak merepotkan tante saja." Anton pasrah.
"Oh,,, sama sekali tidak. Ya sudah kalau begitu tante siap siap dulu." Valencia tersenyum menang dan berdiri meninggalkan semua di meja makan menuju ke kamarnya mengambil semua keperluannya.
Anton menatapnya dengan nanar.
"Biasakan dirimu Anton. Hari ini sama tante, mungkin besok bisa sama Om. Jangan membuat jarak dengan kami. Kami ini satu satunya keluarga Nada. Om harap kamu bisa menerima kami juga sebagai keluargamu."
"Ii,,, Iya,,, Ii,, Iya om." Ucapan Ody membuat Anton kembali gugup.
Anton makin gugup karena Valencia makin mendekat ke arah mereka. Siap untuk membawanya pergi.
"Ayo kita berangkat."
Anton tak bisa lagi menghindar atau menolak. Dengan anggukan lemahnya ia mengiyakan.
"Aa,,aku pergi dulu Da. Om,,, saya pamit." pamitnya.
"Hati hati ya tante. Jangan buat calon suamiku lecet." gurau Nada.
"Tenang saja. Dia akan aman bersama tante. Dia pasti senang kalau sudah tau watak tante yang sebenarnya bagaimana. Tante kan juga penyayang." Valencia mengerlingkan matanya ke arah Nada sambil melambaikan tangan.
"Haha,,, percaya deh percaya. Makanya om Ody betah sama tante." Nada menyenggol bahu Ody yang hanya diam dan berusaha tersenyum palsu karena semua itu tidaklah benar.
Valencia hanya manis di bibir.
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
...bersambung,,,,...