I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Saling Terbuka


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Ody🌸


Langkah kaki ini terasa gemetar mendekati sosok keibuan yang tetap bercengkrama dengan anak anak itu. Hingga akhirnya langkah kaki ini terhenti karena ada salah satu anak yang menyadari kehadiranku.


"Bunda, lihat,,," ucapnya sambil menunjuk ke arahku.


Bunda?? Seakrab itukah Valencia dengan mereka hingga mereka memanggilnya bunda??


Dan sosok yang dipanggil bunda pun menoleh. Terpaku sejenak lantas membuang pandangannya dariku.


"Kalian main sendiri dulu ya. Bunda mau bicara dengan om itu dulu." ucap Valencia lembut dan itu membuatku ragu apa benar sosok di depanku itu benar benar Valencia yang paling pintar berkata kasar dulunya.


"Baik bunda."


Anak anak itu menuruti perintahnya dan menghambur ke sisi lain melanjutkan kegiatannya. Aku menelan saliva dengan berat melihat Valencia hanya duduk menunduk tanpa memanggilku.


"Aku mohon ampunanmu, Ody."


Baru selangkah kaki ini berjalan mendekat, suara lirih itu terdengar dan sepasang netra indah itu sudah basah oleh genangan airmata. Ku percepat langkah dan mendekatinya.


"Apa kabarmu?" tanyaku meski aku sudah tau semua dari bu Nani.


"Seperti yang kamu lihat. Alhamdulillah aku baik. Dan akan semakin baik jika kamu sudi memaafkanku." suaranya bergetar dengan cadar penutup wajahnya yang kian basah.


"Melihatmu seperti ini,,, membuat aku tak punya satu pun alasan untuk tidak memaafkanmu. Aku bahkan bukan siapa siapa yang berhak menimpakan semua dosa kepadamu. Jika Tuhan saja bisa memaafkan hambanya meski dosanya segunung, lalu mana mungkin aku yang juga hanya manusia hina ini tidak bisa memaafkanmu."


Aku berhenti. Kerongkonganku rasanya tercekat. Ingin menangis tapi berusaha tegar. Ingin memeluknya erat, memberinya kekuatan dan dukungan serta semangat agar dia bersabar atas apa yang sudah menimpanya tapi rasanya tubuh ini kaku.


"Kamu tau di mana Nada?" tanyanya memecah kesunyian di antara kami.


"Mm,, ya. Dia ada di Bali juga. Sudah menikah dan sudah punya anak." aku mengucapkan kata anak dengan lirih karena tiba tiba aku merasa bersalah telah pernah mengkhianati Valencia juga malam itu.


"Benarkah?? Di kota mana dia?" manik indah itu berbinar lalu kembali meredup seolah ia menyadari sesuatu yang buruk.

__ADS_1


"Apa dia menikah dengan Anton?" tanyanya sendu sebelum aku menjawab dua pertanyaannya tadi.


Aku menggeleng pelan dan menarik napas sebelum memberitahunya segala sesuatu tentang Nada padanya. Bagaimana pun, penuturanku mungkin akan melukai hatinya juga setelah tau aku sudah menodai keponakannya itu.


"Ada apa Ody? Sepertinya kamu berat mengatakannya. Apa Nada tidak baik baik saja? Apa pernikahannya juga tidak baik baik saja?" tanyanya menuntut banyak jawaban.


"Nada baik baik saja. Dia menikah tahun lalu. Dia tidak menikah dengan Anton melainkan dengan lelaki muda asli Bali dan sangat mencintainya. Kebaikannya berlipat lipat jika hanya dibandingkan dengan Anton."


"Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah sudah dengan begitu baik menjaga keponakan hamba." ucapnya sambil meletakkan kedua tangannya menutup dadanya.


Aku hanya bisa menghela napas berat. Sebentar lagi ia pasti akan menanyakan anak Nada.


"Lalu anaknya,,, sudah umur berapa?"


"Se,,, setahun,,, hampir setahun." jawabku gugup mengingat Valencia bukanlah perempuan bodoh.


"Belum setahun?? Artinya,,, dia hamil saat masih bersama kita?? Atau hanya sebulan sebelum dia pergi?? Tapi katamu tadi mereka menikah baru tahun lalu bukan?" Valencia yang cerdas tentu merasa itu aneh.


"Be,,, benar,,, itu benar. Nada memang hamil sebelum menikah dengan suaminya ini."


"Apa Anton yang melakukannya??" mata Valencia memicing.


Aku hanya bisa menggeleng dengan cepat kemudian menghela napas berat lagi.


Aku meraih jari jemarinya namun ia menepisnya pelan.


"Maaf Ody,,, kita bukan muhrim lagi." ujarnya sembari menunduk menghapus airmatanya.


Aku terpana mendengarnya. Valencia benar benar sudah berubah dan pandai menjaga diri sekarang.


"Maaf." ucapku pendek sebelum bibir ini mampu mengucap kebenaran.


"Tidak apa apa. Aku justru yang minta maaf kalau aku jadi terkesan sok suci. Aku hanya berusaha menjalankan perintahNYA." Valencia mengira aku meminta maaf karena telah menyentuh jemarinya padahal bukan.


Iya itu salah satunya juga tapi bukan itu maksudku.


"Maaf untuk itu dan maaf untuk hal lainnya juga." lirihku kemudian.


"Ody,,, kamu tidak pernah bersalah kepadaku. Aku yang banyak salah padamu. Jadi jangan meminta maaf padaku. Kamu terlalu bersih untukku."


"Tidak Valen. Aku tidak sesuci dugaanmu."

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Aku sama saja denganmu bahkan mungkin bisa dibilang lebih bejad karena aku,,, aku,,," aku tak sanggup melanjutkannya.


Valencia terdiam dan sabar menungguku mampu melanjutkannya. Aku bisa lihat itu dari sorot mata yang tetap menuntut penjelasan itu. Aku kembali menghela napas.


"Aku minta maaf karena malam itu aku sudah melakukan hal yang seharusnya tidak ku lakukan apalagi status kita masih belum sah bercerai."


"Apa yang kamu lakukan memangnya?" tanyanya lembut seolah tak akan terluka mendengar apa pun jawabanku.


"Aku mabuk,,,"


"Aku lebih sering mabuk, Ody. Kamu jangan mengolokku dengan meminta maaf karena hanya sekali melakukannya dan kamu sudah minta maaf." ujarnya seolah malu diingatkan akan masa lalunya.


"Aku mabuk dan aku meniduri Nada hingga dia hamil." ku percepat ucapanku karena takut napasku keburu habis.


Valencia yang semula menunduk kini menatapku dengan mata berkaca kaca. Tak ada kata terucap namun airmata itu adalah jawaban dari kekecewaannya kepadaku.


"Maafkan aku. Aku begitu bodoh tidak menyadarinya. Malam itu aku mabuk dan aku hanya membayangkanmu yang menemaniku malam itu. Aku terlalu mabuk untuk tau bahwa itu bukan kamu." ujarku dengan bahu meluruh.


"Terima kasih sudah pernah begitu mencintaiku." kembali ia tertunduk dengan tetesan airmata yang kini membasahi pakaian bawahnya.


"Aku juga minta maaf karena aku tidak pernah jujur tentang ini padamu meski kita sudah rujuk saat itu. Aku tidak tau bahwa aku telah menghamilinya. Nada pergi setelah malam itu. Ia meninggalkanku seolah tak ingin aku tau bahwa aku telah melakukan hal itu. aku diam diam berusaha mencarinya selama kita rujuk Hingga akhirnya aku kembali bertemu dengannya di malam pernikahannya."


"Apa dia memaafkanmu?" tanyanya.


"Iya. Dia dan suaminya bahkan menerimaku dengan baik. Kami sepakat membesarkan anak itu bersama sama."


"Aku tau. Nada gadis baik. Dia pasti melakukannya. Dia bukan aku yang mungkin akan dendam kepadamu setelahnya. Syukurlah kalau ia mendapatkan suami yang bisa menerima keadaannya. Perempuan baik memang untuk lelaki yang baik." ujarnya kemudian.


"Lalu kita?" tanyaku.


"Maksudmu??"


"Maaf,,, apa kamu memaafkanku?"


"Yang lalu sudah berlalu Ody. Terima kasih sudah mau jujur padaku. Apa pun itu,,, tetap saja dosaku padamu lebih besar. Jangan meminta maaf lagi padaku karena apa pun itu,,, sudah pasti aku yang hina ini memaafkanmu."


Rasanya lega mendengarnya. Rasanya lega saling terbuka seperti ini. Hal sederhana yang tidak bisa kami lakukan semasa kami masih tinggal bersama dulu.


Seandainya saja dulu kamu seperti ini Valencia,,,

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸...


...bersambung,,,...


__ADS_2