I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Tidak Mau Dekat


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku ...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Ody🌸


Tidak terasa,,,


Hari yang terus berlalu hingga berubah menjadi hitungan bulan, tetap kulalui dengan jiwa dan raga yang sakit. Raga lemahku masih boleh jadi sembuh dengan paksaan asupan makanan atau obat. Tapi jiwa yang sakit?? Makin sakit seiring dengan bertambahnya kebahagiaan Valencia dan mama atas kehamilan Valencia.


Sungguh,,, hanya aku di rumahku sendiri yang merasa tidak bahagia.


Setiap kali mama makin memanjakan Valencia dengan perhatian dan kelembutan, di situ aku semakin takut dan cemas akan Nada. Jika ia juga hamil, siapa yang akan memperhatikannya?? Gadis itu masih terlalu muda untuk menanggung semuanya.


Setiap kali Valencia memaksaku mengelus perutnya yang kurasa mulai membuncit, setiap itu juga deraan rasa bersalah kepada Nada semakin hinggap seolah enggan untuk lenyap.


Herannya,,, aku sama sekali tak merasakan kebahagiaan yang dirasakan Valencia. Seperti tidak ada ikatan batin dan emosional dengan bayi yang kini dikandungnya. Mungkin karena aku juga tidak pernah tidur bersamanya? Sejak hamil Valencia memang tak pernah mau tidur denganku saat malam. Alasannya adalah demi menjaga keselamatan bayi kami. Ia bilang aku suka mengigau saat malam dan menendang ke segala arah. Ia takut aku mengenai perutnya.


Wajarkah seperti ini?? Apakah memang begini rasanya ketika punya istri sedang hamil buah hati kita? Apakah sedatar ini rasanya? Atau memang akunya saja yang tidak pandai bersyukur? Atau akunya saja yang memang sudah tak punya hati dan cinta untuknya?? Atau akunya saja yang sudah terlanjur mencintai yang jauh di sana???


Aku yakin menyebutnya dengan cinta karena semakin ku coba melupakannya, hati ini semakin tersiksa. Semakin ku tahan rindu di dada, semakin sesak rasa di jiwa. Semakin ku pungkiri, semakin terpatri. Semakin menganggapnya tak pernah ada, semakin aku merasa kehilangan dia.


Aku tidak bisa begini terus. Meski jiwa tersiksa, setidaknya raga harus kembali jaya. Seribu tanya di kepala harus secepatnya mendapat jawabannya.

__ADS_1


Aku harus mencarinya lagi. Memastikan ia baik baik saja. Memastikan kebahagiaan masih meliputinya dan memastikan bahwa tak ada nyawa yang bergelayut di rahimnya. Mungkin dengan begitu aku akan merasa lega. Dan jiwa ini,,, bisa perlahan merelakannya.


Ya,, Aku harus segera sembuh!!! Aku tidak boleh menyerah seperti ini. Cukup sudah berbulan bulan menjadi hiasan ranjang. Saatnya bangkit!!


"Kok aku yang hamil tapi kamu yang makin lahap makannya sayang? Aku malah yang tersiksa karena nafsu makanku hancur. Bau nasi saja aku sudah mual." seru Valencia yang menemani mama yang tengah menyuapiku.


Tak ku pungkiri, Semangat yang begitu besar untuk segera bisa mencari Nada membuat nafsu makanku bertambah. Aku hanya ingin bisa cepat sembuh.


"Sabar ya Valen. Memang begitu orang hamil. Kadang selera makan yang hancur, kadang mood juga yang tidak stabil." jawab mama, sedangkan aku hanya peduli akan makananku.


"Iya sih ma. Gak apa apa sih. Valen tetap menikmatinya kok. Apalagi mengingat ini adalah buah cinta kami berdua. Benar begitu kan sayang?" tentu pertanyaan itu untukku.


"Iya." singkat, padat dan jelas, jawabanku.


"Ody, kamu tuh cepat sembuh. Sering sering juga ajak bayimu ngobrol. Dielus elus perutnya Valen. Biar anak kalian juga mengenal papanya.Nanti kalau emosi dan jiwa kamu sudah stabil, dicoba tidur lagi bareng Valen ya. Dengan begitu, mama yakin ikatan emosional kalian dengan bayi kalian akan makin terjalin kuat. Mama dulu juga begitu pas hamil kamu. Papamu selalu tidur di depan perut mama. Papa malah selalu melarang mama pakai baju. Papa suka lihat langsung perut buncit mama."


"Iya ma. Ini juga Ody sedang berusaha sembuh, makanya Ody makan banyak." ucapku membuat mama tersenyum lega.Namun mataku menangkap wajah gelisah Valencia. Ia tampak berpikir keras.


Singkat kata,,, Aku sembuh.


Aku mulai bisa beraktifitas kembali bahkan juga sudah mulai ngantor lagi. Jari jariku sempat terasa kaku ketika mengetik di laptop setelah sekian lama cuti karena sakit. Intinya,,, kehidupanku kembali berjalan meski beban di jiwa makin hari makin terasa beratnya.


"Perut kamu kok masih segini segini aja ya Valen?" tanya mama suatu pagi, memancingku untuk melirik kepada Valencia yang masih berdiri kikuk.


Benar juga kata mama, Usia kehamilannya telah memasuki bulan ke tujuh tapi perutnya seolah tak ada perkembangan yang berarti. Masih segitu gitu aja seperti kata mama.


"Oh ini,,, Memang kurang gede ya ma??" tanya Valencia sambil nyengir.

__ADS_1


"Kalau mama dulu sih usia kehamilan tujuh bulan sudah mulai berat berjalan. Sudah mulai gampang lelah karena perut sudah membesar. Lebih besar dari perutmu yang jelas." jawab mama.


Ku lihat wajah Valencia memucat. Aku yang tidak atau kurang paham masalah ukuran perut wanita hamil memilih tidak komentar dan diam diam hanya browsing di internet untuk sekedar mencari tau.


"**,,, Ta,, Tapi kata Johan, ini wajar kok ma. Terakhir kali check kandungan kemarin juga katanya bayinya sehat dan aktif kok. Cuman mungkin karenanya akunya yang jarang makan kali ya ma. karena aku yang kurus jadi perutku ikutan kecil hehehe,,," Valencia gugup tapi berhasil menyelesaikan perkataannya yang lumayan masuk akal.


"Iya juga sih. Ya sudah, kalau kata doktermu ini wajar dan juga sudah dipastikan kalau bayinya sehat, ya gak apa apa. Mungkin bayimu gak mau kalau mamanya gak good looking selama mengandung." mama tersenyum.


"Boleh aku belai perutmu? Aku ingin dengar detak jantung anakku." ujarku tiba tiba yang berhasil membuat Valencia salah tingkah.


"Mmm nanti dulu ya sayang. Aku mendadak mual nih." tolaknya langsung buru buru pergi.


Selalu seperti itu. Setiap kali aku memintanya mendekat, ia selalu punya alibi menjauh.


"Valen kenapa selalu gitu ya ma?" tanyaku dengan nafas berat. Sejujurnya aku mulai berusaha menerima kenyataan bahwa aku memang ayah dari bayinya. Karenanya aku mencoba dekat dengannya.


"Wajar. Memang ada kok istri yang hamil tapi gak mau dekat suami. Itu juga bisa dibilang bawaan hamil lho. Tapi ada juga yang malah gak bisa banget jauh dari suami. Nah yang ini malah sebenarnya yang agak merepotkan karena suami akhirnya gak bisa kerja." kata mama.


Aku manggut manggut mengiyakan ucapan orang yang lebih senior dariku ini.


"Diambil positifnya saja. Dengan begini kamu masih tetap bisa kerja dan menyiapkan segala kebutuhan untuk masa depan bayi kalian. Bukan begitu?" tanya mama.


"Iya ma. Benar kata mama."


Dengan begini aku juga masih bebas mencari dan mencari Nada,,,


...🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


...bersambung,,,,...


__ADS_2