
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Valencia🌸
"Valencia memang gak kenal dengan istriku, tapi ku rasa itu bukan masalah. Istriku juga tidak terlalu memusingkan dengan siapa aku berteman." Johan menjelaskan.
"Lalu apa artinya pernikahan kalian kalau satu sama lainnya tidak saling memusingkan?" pertanyaan menyudutkan itu keluar dari bibir Ody.
Membuat aku dan Johan merasa gerah. Aku merasa tengah ditelan*jangi oleh Ody.
"Sayang,, Udah dong tanyanya. Kan kita kesini untuk urusan promil. Bukan untuk urusan pertemananku dengan Johan." ku usahakan membuatnya berhenti bertanya lebih jauh lagi.
Aku takut Johan salah jawab. Bisa bisa Ody makin banyak tanya. Dan itu tidak baik untuk drama kami ini.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo kita pulang. Kan aku juga sudah selesai cek ini dan itu." ajakan itu terlontar dari bibir Ody.
Terdengar tidak ingin berlama lama lagi di sini.
Sial,,, Kenapa dia sekarang seperti ini? Apa dia sedang menguji kesabaranku? Ku pikir dengan kembali padanya, aku tidak perlu banyak drama begini.
"Tunggu. Ada obat yang harus kalian minum." cegah Johan.
Ah untungnya Johan memang selalu bisa diandalkan dalam segala situasi. Diajak drama begini juga gak pernah setengah setengah. Totalitasnya tanpa batas. Dia padahal tau bahwa Ody gak sakit apa apa tapi demi meyakinkan perannya, ia pun memberinya resep obat. Aku akan memberinya bonus ekstra untuk ini,,,
"Ok." Ody yang sudah berdiri kembali duduk di posisinya.
Johan tampak sibuk menulis di lembaran berlabelkan namanya itu. Tulisan yang lebih mirip sandi rumput khas para dokter. Yang hanya bisa dibaca oleh apoteker saja. Kemudian ia juga menulis di buku pemeriksaanku.
"Untuk obatnya silahkan tebus ini di apotik. Apoteker akan menjelaskan dosisnya nanti. Dan ini juga sudah aku beri kalian jadwal untuk berhubungan. Tolong displin dan pergunakan waktu dengan sebaik baiknya agar promil kalian cepat berhasil." ucap Johan.
"Baik. Terima kasih. Kami permisi." Ody mendahuluiku berdiri dan tanpa basa basi lagi ia sudah keluar dari ruangan ini.
Ada apa sih dengannya?? Buru buru sekali.
"Thanks Jo. Aku call kamu nanti." ucapku ikut buru buru karena tak ingin ketinggalan Ody yang sudah menuju ke apotik yang juga sudah tersedia di tempat praktek Johan.
"No worries." Jawaban santai Johan itu sudah tak ku hiraukan lagi.
Aku setengah berlarian menyusul Ody.
__ADS_1
"Sayang tunggu dong. Cepat banget kamu jalannya." protesku dan Ody tak bergeming sama sekali. Ia tetap melangkah dengan lebar lebar. Butuh usaha untukku bisa mensejajarkan langkah kami.
Ody menyerahkan selembar resep obat dari Johan tadi kepada apoteker yang sudah paham harus mengambilkan obat yang mana. Sambil menunggu, aku putuskan bertanya pada Ody.
"Kenapa sama sekali tak ada pertanyaan mengenai promil kita sayang?"
"Apa yang perlu ditanyakan. Obat sudah ada resepnya. Jadwal juga sudah dibuat. Tinggal mengikutinya saja kan?"
Tidak salah jawabannya itu tapi nada bicaranya itu membuatku sedikit kesal. Datar bahkan tanpa rasa ketertarikan.
"Kamu gak suka ya aku ajak promil?"
"Pertanyaan yang lebih tepat adalah kamu yakin mau promil?" Ody malah membalik pertanyaanku.
"Kenapa kamu tanyanya seperti itu??" keningku berkerut.
"Karena kalau kamu ragu aku akan batalkan menebus obat. Buat apa juga kan aku tebus obat, aku minum obat tapi kamunya meragukan aku??"
Kenapa dia begitu pandai menyudutkanku sekarang? sekali lagi,,, tidak ada yang salah dengan jawabannya itu. Tapi intonasi bicaranya yang membuatku merasa tak mengenalinya.
"Bagaimana?? Jadi tidak??" aku tergagap dibuatnya.
"Jadi,,, Ya jadi dong sayang. Kenapa harus dibatalkan? Kan kamu juga udah dinyatakan sehat oleh Johan. Jadi kita harus optimis ya." ku usap lengannya berusaha meluluhkannya.
Kesal,,, aku kesal!!!
Ody membayar obat obatan itu lalu berjalan meninggalkanku menuju ke mobil. Aku lagi lagi dibuatnya susah mensejajarkan langkah kami.
"Menurut jadwal dari Johan, Malam ini adalah jadwal kita berhubungan sayang." ucapku ketika mobil kami sudah di jalanan menuju ke rumah.
Tidak ada respon darinya,,, Ody hanya menatap lurus ke depan. Entah ia sedang fokus menyetir atau malah melamun,,,
"Sayang." ku sentuh lengannya.
"Mmm,, Apa? Apa yang kamu bilang tadi?" tanyanya tergagap.
Rupanya ia sedang tidak fokus denganku,,, Aku penasaran ada hal apa yang lebih penting dibandingkan dengan promil kami. Bukankah ia sangat menginginkannya? Sebenarnya apa atau siapa yang membuatnya tidak fokus begini? Apa ada orang lain??
Tidak boleh!! Tidak boleh ada celah,,, Aku harus makin agresif bertindak.
"Aku cuma bilang malam ini jadwal kita berhubungan." ku ulang perkataanku tadi.
Aku berusaha bersabar menghadapinya agar semua usahaku tak sia sia.
"Oh."
__ADS_1
Hanya kata "Oh". Sama sekali tak ada ketertarikan. Datar dan datar saja. Sekarang jadi aku yang pusing memikirkan kalimat selanjutnya.
Aku putuskan diam saja sampai kami tiba di rumah. Garing dan kehabisan ide lagi mau bicara apa. Sikapnya yang dingin membuat otakku beku. Tak bisa berpikir.
"Kalian sudah pulang rupanya. Bagaimana hari ini? Apa semua urusan kalian lancar?" mama menyambut kedatangan kami.
"Lancar ma. Semua berkat doa mama." jawab Ody yang langsung salim sungkem pada mertuaku itu.
Aku mengikutinya namun dalam hatiku mencibir ucapannya. "Ini bukan karena doa mama melainkan usahaku bersama Johan."
"Valen,,, Kamu jadi ajak Ody langsung periksa ke dokter tadi?" tanya mama lagi.
"Jadi dong ma. Valen kan gak mau menunda nunda lagi. Dan hasil periksaku hari ini adalah keajaiban ma. Aku dinyatakan sehat oleh dokter. Jadi kurasa mama tidak perlu repot repot membuat ramuan herbal untukku. Sudah ada obat dari dokter. Dokter pilihan Valencia adalah dokter terbaik jadi mama jangan ragukan obatnya ya."
Ody mendahului menjawab padahal aku yang ditanya oleh mama. Tapi lagi lagi aku tak suka dengan cara dan intonasi bicaranya. Kali ini ia terdengar menyindirku.
"Syukurlah kalau begitu. Semoga promil ini cepat berhasil ya. Kalian istirahat dulu kalau begitu. Orang promil gak boleh kecapekan. Stamina harus selalu bagus." ujar mama.
"Baik ma. Kalau begitu Ody ke kamar dulu."
"Valen susul Ody ya ma." pamitku juga disusul dengan senyum dan anggukan mama.
Sesampainya di kamar, ku lihat Ody hanya berdiri di jendela kamar kami. Tatapan jauh.
"Kamu lagi ada masalah apa sayang?"
"Tidak ada. Aku hanya memikirkan Nada. Aku rindu padanya. Bagaimana kalau kita,,,"
"Sayang,,, Kita sudah bahas ini sebelumnya. Tidak ada Nada lagi dalam hidup kita. Anak itu sudah cukup dewasa untuk bisa hidup sendiri. Kita sudah cukup,,,"
"Cukup. Aku lelah. Aku mau istirahat."
Jika tadi aku yang memotong bicaranya, kali ini bicaraku yang dipotong olehnya.
"Kok kamu malah tidur? Kan ini jadwal kita untuk,,,"
"Masih ada jadwal selanjutnya kan? Lagipula dalam kondisi lelah begini juga tidak akan bagus kalau dipaksakan." Ody memotong bicaraku lagi lalu menarik selimutnya dan menutup rapat rapat mata dan tubuhnya.
Kurang ajar,,,!!! Jual mahal sekali kamu,,,
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,,...
...Halo,,, Udah selasa lagi lho. Sudah ada yang ngevote karya ini belom??? Please yaaa,,, Jangan pelit pelit sama author nanti author ngambek lhoo,,, 😆...
__ADS_1