I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Dua Garis Biru


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku ...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Ody🌸


Ku biarkan saja dokter yang dipanggil Valencia memeriksa tubuhku yang sudah terlanjur lemas ini. Setelah selesai dengan tugasnya, dokter itu pun merapikan peralatannya.


"Sebenarnya bapak tidak apa apa. Semuanya bagus. Tekanan darah normal. Detak jantung juga normal. Secara medis, Tidak ada yang perlu dicemaskan sebenarnya." tuturnya kemudian.


"Tapi kenapa suami saya bisa lemas begini dok?" Valencia tak terima begitu saja pernyataan dokter.


"Bapak,,, Kalau ada masalah sebaiknya dibicarakan saja ya. Jangan dipendam sendiri. Itu tidak bagus untuk kondisi kejiwaan bapak nantinya." dokter tidak menjawab Valencia melainkan memberiku saran.


Aku hanya mengangguk malas.


Seandainya saja memang semua ini bisa ku bicarakan dok,, aku gak mungkin begini. Sayangnya aku sudah terlambat. Dia sudah tidak ada di sini. Yang tersisa di sini hanya orang orang yang tak mungkin ku ajak membahas masalahku.


"Saya hanya akan memberi vitamin saja untuk bapak. Semoga bisa membantu menjaga staminanya. Tetap diingatkan untuk makan teratur sehari 3x. Dan diajak komunikasi. Itu yang terpenting. Sebaiknya juga jangan ditinggal sendirian."


Aku dengar dokter bicara begitu sebelum Valencia benar benar mengantarkannya keluar dari kamarku. Aku sempat melihat Valencia mengangguk mengiyakan semua pesan dokter.


Ah Valencia,,,walaupun kamu memberiku makan sehari 3x,,, vitamin dari dokter,,, mengajakku bicara,,, tetap saja aku tak akan membaik. Saat ini bukan kamu yang kubutuhkan.


"Ada apa sebenarnya Ody? Bicara sama mama kalau Valencia menurutmu bukan orang yang tepat untuk diajak bicara."


Tutur lembut mama membuatku yang semula hanya menatap kosong keluar jendela, kini memandang wajah yang tak lagi mulus milik mama.

__ADS_1


Bolehkah aku jujur ma?? Aku,,, aku telah merenggut masa depan seorang gadis yang seharusnya ku lindungi. Dan kini gadis itu telah pergi membawa masa depan buruknya. Menjauhiku. Padahal semua ini salahku ma. Seandainya saja malam itu aku tak terlalu memikirkan Valencia dan bisa kontrol diri untuk tidak mabuk, semua itu tak akan terjadi ma. Gadis kecilku itu sekarang malah membebaskanku dari segala tanggung jawab yang semestinya didapatkannya. Tapi aku tidak suka ma. Lihat aku ma,,, putramu!! Aku bagai pecundang. Betapa memalukannya diriku ini ma.


Tatapan mata dan hatiku saja yang bisa bicara pada mama. Tapi aku yakin beliau yang bukan ahli telepati tentu tak bisa membaca pikiranku saat ini. Apa yang kukatakan tadi juga tentu tak diketahuinya.


"Ody baik baik saja ma." akhirnya hanya itu yang ku katakan.


Mama menarik napas berat. Beliau tau aku tak pandai berbohong apalagi pada beliau.


"Baiklah. Mama tidak akan memaksa kalau kamu belum mau membagi bebanmu dengan mama. Hanya saja, mama ingin kamu melawan semua masalahmu saat ini tak peduli seberat apa pun itu." ucap mama lembut.


Sama sekali tak ada intonasi memaksa. Hanya tulus menyayangi namun menyayangkan aku yang tak terbuka pada beliau.


"Kamu gak sendirian sayang. Masih ada aku yang akan tetap mendampingimu. Berusahalah untuk melawan semuanya ya. Ingat, rencana masa depan kita." Valencia muncul kembali setelah mengantar dokter ke depan.


Ia juga mengucapkan kalimat itu seraya mengusap usap perut rampingnya. Aku paham, ia berharap besar untuk bisa segera hamil. Apalagi kami juga sudah melakukannya semalam.


Tuhan,, Jangan biarkan ia sampai hamil setidaknya sampai aku menemukan Nada. Aku mohon. Aku benar benar tidak siap menjadi ayah dari anak dari rahimnya sebelum aku tau, tidak ada anakku di rahim gadis kecilku.


Tapi kini, dengan sadar aku memohon pada Tuhan untuk tak membuatnya hamil. Sebenarnya, jika mengingat kondisi kesehatan alat reproduksiku sebelumnya, aku tak perlu takut Nada hamil. Karena aku mandul. Tapi tetap saja, rasa bersalah telah merenggut miliknya yang berharga tak bisa ku kalahkan begitu saja.


Memang, Dokter Johan bilang kondisiku sudah membaik tapi aku juga tidak sejak kapan itu membaik.


Aduh, mengingatnya membuatku panas dingin. Bagaimana kalau benar aku sudah sehat? Bagaimana kalau kondisi sehatku itu sebelum kejadian malam itu? Bagaimana kalau Nada hamil? Lalu semalam,,, Bagaimana kalau Valencia juga hamil?? Tidak mungkin aku menjadikan Nada madunya bukan? Tapi lebih tidak mungkin juga kalau aku lepas tangan pada anak Nada.


Berhari hari terus memikirkan sendiri semua kemungkinan buruk itu membuat kinerja tubuhku makin memburuk. Bibirku bagai lupa dengan ribuan kosakata karena aku terus berdiam diri. Bicara sih, tapi hanya secukupnya. Selebihnya aku akan menghabiskan waktu untuk melamun. Jika malam tiba, aku akan begadang dengan ponselku. Mencari dan terus mencari keberadaan Nada.


Meski baik mama dan Valencia terus merawatku siang malam, membuatkan aneka makanan yang mungkin bisa membangkitkan selera makanku, namun Tubuhku sudah terlanjur menolak asupan makanan. Hingga akhirnya aku pun jatuh sakit.


Aku tau mama atau mungkin Valencia juga, pasti bersedih dengan kondisiku ini. Apa pun yang berusaha mereka lakukan untuk menyenangkanku, seperti tak ada gunanya. Aku tak tertarik lagi dengan aneka kesenangan lainnya.


Aku hanya ingin bisa tau di mana Nadaku.

__ADS_1


Tepat hari ke sepuluh sejak aku melakukannya dengan Valencia, pagi ini ia datang menghampiriku dengan senyuman tersungging manis di wajahnya. Tak lupa sebuah benda pipih putih memanjang disodorkannya kepadaku.


"Apa ini?" lirihku lemah.


"Buka saja dulu." pintanya lembut.


"Mau mama bantu?" mama yang ikut masuk ke kamarku dengan senyuman membuatku merasa terpancing melihat benda pipih apakah itu.


Aku menerimanya. Benda itu kini serasa tak asing di mata dan otakku. Aku tau benda apa itu. Itu adalah sebuah testpack untuk mengetahui seorang wanita hamil atau tidak.


Deg,,,Deg,,, Deg,,,


Jantungku berpacu makin keras. Aku belum berani membalik sisi yang akan menunjukkan hasil dari testpack itu. Otakku serasa menyuruhku untuk tidak melakukannnya karena otakku sudah bisa menebak. Jika seorang istri tiba tiba tersenyum di pagi hari dengan testpack di tangannya, itu berarti,,,


Tidak. Jangan Tuhan, jangan. Ku mohon Jangan.


Hanya itu doa yang terus ku panjatkan sambil pelan pelan membuka sisi sebelah benda itu. Perlahan namun pasti, netra ini, yang belum rabun, bisa membaca dengan jelas dan menyimpulkan hasilnya.


Dua garis biru itu,,,Valencia,,, Tidak Tuhan. Kenapa Engkau tidak mengabulkan doaku?? Kenapa membiarkan Valencia hamil? Sekarang aku harus bagaimana? Tak mungkin aku meninggalkannya. Lalu Nada,,,Bagaimana???


"Sembuh ya sayang,,, Kita akan segera punya anak. Bangkitlah dari keterpurukanmu ini. Ada aku dan anak kita yang perlu kamu bahagiakan dan jaga." ucap Valencia.


Gampang sekali kamu mengatakannya Valencia,,, Sementara di luar sana ada keponakanmu yang sama sekali tak bisa mendapatkan bahagianya dan penjagaanku karena kehamilanmu ini.


"Selamat ya nak. Akhirnya kalian akan segera dikaruniai seorang anak. Mama sangat bahagia untuk kalian."


Menantu dan mertua itu saling berpelukan bahagia. Sementara aku,,,, makin merasa terpuruk dalam dosa.


...🌸🌸🌸🌸...


...bersambung,,,...

__ADS_1


__ADS_2