
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Ody🌸
"Eh,,, Maksud om apaan ngomong begitu?? Gak salah dengar aku?? Om juga cinta Nada?? Cinta yang seperti apa maksud om hah??"
Aku terhenyak mendengar protes Anton itu. Ku hentikan pergerakan tanganku yang semula memukulinya. Aku mundur perlahan. Melihat buku buku jariku yang sudah membengkak akibat terlalu keras memukul. Ku lihat juga wajah Anton yang sudah babak belur.
Lalu ku coba mengingat memangnya apa yang sudah ku katakan tadi? Aku juga mencintainya? Ya memang kan,,, Nada itu gadis kecilku yang sangat aku sayangi,,,
Sayang atau cinta??
Kenapa sekarang dua kata itu terdengar dan terasa berbeda ya kesannya? Sebagai om nya, aku pantas pantas saja mengatakan jika aku menyayangi Nada. Tapi mencintai,, rasanya terlalu berlebihan ya??
Tapi aku memang sangat marah dan cemburu tadi. Bahkan aku tidak bisa menahan diri. Dan sekarang tinggallah aku yang termangu memikirkan perkataan dan perasaanku sendiri.
"Dengar ya om,,, tidak peduli rasa apa yang om miliki untuk Nada, tapi aku tegaskan di sini bahwa aku gak akan mengalah dari om. Aku single yang lebih punya masa depan daripada om yang statusnya adalah suami orang. Mending kalau orang lain,,, ini malah tantenya sendiri. Om mau Nada di cap pelakor sama orang orang?? Nggak kan???"
Emosiku lagi lagi tersulut mendengarnya bicara begitu. Kembali ku hampiri Anton dan ku dorong tubuhnya sampai jatuh terjengkang ke belakang. Itu pun masih ku cengkeram lagi lehernya.
"Jangan sok suci bicara tentang status. Apa bedanya denganmu yang juga sudah tau itu tantenya tapi masih juga kamu garap?? Kamu jauh lebih hina daripada aku!! Ingat itu!!!"
Sekali lagi ku dorong tubuhnya sampai kembali terhempas di tanah.
"Hei hei,,,ada apa ini ribut ribut di depan rumah saya?? Bubar!!" seorang ibu ibu paruh baya yang ku kenali sebagai pemilik kontrakan Nada menghampiri kami berdua.
"Halo ibu. Saya Ody. Penyewa rumah ini."
"Ya ya saya ingat. Saya justru mau bilang sama kamu kalau saya gak bisa kembalikan uang yang sudah terlanjur kamu bayar." ucapnya kemudian membuatku mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Maksudnya uang apa ya bu?" tanyaku.
"Ya uang kontrakannya. Kamu kan sudah bayar untuk setahun full setiap tahunnya. Nah ini kan belum genap setahun tapi keponakanmu sudah tidak tinggal di sini. Jadi ini bukan salah saya. Jangan menuntut uang kembali!!" ketusnya.
Aku tak peduli dengan nada ketusnya itu melainkan kata katanya tentang Nada sudah tidak tinggal di rumah itu lagi.
"Pacar saya kemana bu?? Tidak tinggal di sini bagaimana maksudnya? Kemarin dia masih ada di sini kok." Anton menyeruak dan mendahuluiku untuk bertanya.
"Mana saya tau??" ibu kontrakan mengendikkan bahunya.
"Dia gak bilang mau kemana memangnya bu?" desak Anton.
"Heh,,, saya memang ibu pemilik kontrakannya tapi saya bukan ibunya jadi buat apa saya tanya dia mau kemana? Saya cuma pedulikan urusan semua penyewa kamar sudah bayar kontrakan apa belum. Saya gak peduli dengan urusan pribadinya."
Anton terdiam kemudian meringis kembali ketika perih akibat luka bekas hantamanku menyerangnya kembali.
"Sejak kapan dia pergi bu?" tanyaku lebih halus.
"Kemarin sore. Dia datang ke rumah saya dan mengembalikan kunci. Katanya sudah tidak bisa menempati rumah ini lagi." jawab si ibu dengan nada yang lebih baik lagi dibanding saat beliau menjawab Anton.
"Apa dia baik baik saja bu?"
"Maksud saya,,,dia tidak sedang terluka atau sakit kan?" ucapku kemudian.
"Oh, Baik kok. Sehat sehat saja. Cuma matanya agak sembab saya rasa. Seperti habis nangis."
"Nangis??" ulangku.
"Kalian kalau ada urusan sama Nada ya kan bisa telpon saja. Kamu kan om nya,,, masak gak tau di mana keponakannya sendiri?? Kamu juga pacarnya kan,,, pacar sendiri kemana kok bisa gak tau. Aneh kalian berdua ini. Sudah ya. Saya sibuk mau beberes rumah ini."
Si ibu membuka pintu pagar kontrakan Nada lalu masuk tanpa menghiraukan kami lagi.
"Nada juga keluar dari kampus om. Apa om tau?" ucap Anton.
"Apa?? Keluar kampus??" aku terbelalak mendengarnya.
__ADS_1
Anton mengangguk sambil tetap memegangi perutnya yang pasti sakit akibat pukulan membabi butaku tadi. Melihatnya begitu aku sebenarnya kasihan tapi itu pantas untuknya.
"Kemarin dia mengajukan surat berhenti kuliah. Aku sudah coba tanya apa alasannya tapi dia masih marah padaku. Ku pikir dia sedang ada masalah pribadi. Aku memberinya ruang dan waktu untuk sendiri dulu. Hari ini aku datang lagi untuk memastikan dia baik baik saja. Tapi malah begini kejadiannya." tukasnya kemudian.
"Jadi kamu tidak tau alasan dia berhenti??"
Anton menggeleng perlahan.
"Berhenti mengaku ngaku sebagai pacar Nada kalau hal penting seperti ini pun kamu tidak tau!! Berhenti menganggap dirimu pantas untuk Nada!! Berhenti mencarinya." ketusku kesal.
"Lalu siapa yang pantas?? Om?? Lihat diri om sendiri,," Anton menunjukku.
"Apa om juga tau apa yang sebenarnya sedang dialaminya? Dimana dia saat ini? Apa masalahnya?? Om tau tidak??? Nggak kan?? Jadi berhenti merasa diri om lebih baik daripada aku!!"
"Kamu,,,!!!" aku menahan emosiku agar tak sampai memukulnya lagi.
Ku rasa perkataannya itu ada benarnya. Aku juga tak tau menahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi kepalaku ini terasa mau pecah setiap mengingat helaian rambut dan bercak darah kering di selimutku.
Apa ini semua karena kejadian malam itu? Apa ini ada hubungannya dengan ponselnya yang tidak bisa dihubungi? Apa dia marah padaku? Apa sebenarnya yang ku lakukan malam itu kepadanya?? Aaakkhhhh,,,,
Semua gara gara minuman sialan itu aku jadi begini. Seandainya saja aku gak mabuk malam itu,,, Seandainya saja aku tidak terpengaruh dengan saran saran teman untuk mabuk,,, Seandainya saja aku bisa kontrol diri,,,
Dan seandainya saja aku tak terlalu terobsesi pada Valencia,,,!!!
Obsesi?? Benarkah perasaanku kepadanya hanya sebatas obsesi? Bukan cinta?? Lalu kalau pada Valencia sekedar obsesi,,, sebenarnya siapa yang ku cinta??
Argh,,
Gelap!! Semua terasa gelap sejak Nada menghilang. Kini harus kemana lagi aku mencarinya?? Gadis kecilku itu pasti memang sedang ada masalah yang tak ingin dibaginya bersamaku. Karenanya ia menghindariku.
Apa justru akulah penyebab dan pemberi masalahnya???
Nada,,, Apa pun yang terjadi malam itu di antara kita, om sangat ingin bisa mengingatnya. Jika om melukaimu,,, memukulmu,,, membuatmu sampai berdarah,,, kamu boleh memukul balik om. Jika kamu mau bahkan kamu boleh membunuh om. Jika om mengatakan hal yang menyakiti perasaanmu,, kamu boleh balas caci maki om,,, tapi jangan pergi seperti ini,,,
Kembali sayang,,, Kembalilah belahan jiwaku,,,
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,,...