I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Lelaki Beda Generasi


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Author🌸


"Dewa,,, hormati bapak Ody. Kamu harus bisa menyerap semua pelajaran darinya." pesan Ajik Artha.


"Siap Jik." sahut Dewa mantap.


"Dan anda,,, Meskipun ini putra saya. Jangan kasih kendor. Jika dia bandel,, jewer saja. Perlakukan dia bukan seperti raja melainkan pegawai biasa. Saya tidak pernah memanjakan anak saya Ody. Karenanya, anda tidak usah sungkan untuk menyuruhnya melakukan apa pun itu selama itu untuk kepentingan bisnis ini." pesan Ajik Artha beralih kepada Ody.


"Baik bapak." jawab Ody yang meski sungkan jika berlaku seperti apa kata Ajik Artha tersebut namun terpaksa mengiyakan beliau.


"Baiklah. Saya tinggal kalian berdua di sini. Semoga kalian cocok." Ajik Artha mempercayakan ruangan ini kepada keduanya.


Situasi sedikit canggung sejenak karena Ody tak mau hari pertamanya kerja di sini mengacaukan segalanya. Rasa tak membuat kesalahan sedikit pun tentu menjadi beban tersendiri baginya. Berbeda dengan Dewa yang lebih merasa biasa saja karena meski dia manusia perfeksionis, tapi ia lebih suka melakukan pekerjaannya tanpa beban.


"Oh ya tuan muda,,, Sebelumnya, saya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan anda. Maaf saya tidak berkesempatan untuk bisa langsung menyalami anda dan istri." Ody berusaha membuka percakapan.


"Terima kasih. Tidak apa apa. Saya tau terlalu banyak tamu yang datang. Lagipula istri saya juga kecapekan. Jadi di tengah tengah jamuan, kami malah masuk ke dalam."


Ody hanya mengangguk angguk membenarkan. Ingin bertanya lebih jauh lagi tentang skandal itu juga tidak enak rasanya. Lebih baik diam dan fokus pada pekerjaan saja.


"Mmm mari tuan muda,,," Ody mempersilahkan Dewa mulai duduk di singgasananya.


"Berapa usia anda?" bukannya mengiyakan, Dewa malah menanyakan usia Ody.


"Memasuki kepala 4, tuan muda." jawab Ody sopan.


"Kalau begitu tidak usah panggil saya tuan muda. Lagipula saya bukan tuan muda. Saya hanya putra bapak Artha yang bukan seorang tuan besar. Panggil saja nama saya." ujar Dewa.

__ADS_1


"Saya tidak berani tuan muda." tolak Ody.


"Anda lebih tua daripada saya. Seharusnya sayalah yang lebih menunjukkan sikap hormat kepada anda."


"Tapi tuan muda,,," sergah Ody.


"Dewa!! Bukan tuan muda. Atau saya mogok kerja saja karena saya tidak nyaman bekerja dengan anda?" ancam Dewa membuat Ody mau tak mau mengalah dan menuruti kemauan anak muda itu.


"Baiklah tu,,, Mmm De,,, De,,, Dewa." susah payah Ody membiasakan mulutnya.


"Nah,,, begini kan lebih enak suasananya. Bagaimana kalau anda saya panggil om saja ya? Keberatan nggak?" Dewa dengan jiwa mudanya memang suka semaunya sendiri.


Ody tersenyum mengiyakan saja. Lagipula ia rindu dipanggil om meski bukan Dewa yang memanggil.


"Baiklah. Semoga keleluasaan ini bisa menciptakan suasana kerja yang lebih nyaman untuk kita." sikap profesional seorang Ody mulai tampak.


"Semoga saja om."


"Mari,,, Saya perkenalkan dengan,,,"


"Tapi Dewa,,, Bapak Artha,,,"


"Beliau tidak akan menyalahkan. Bagaimana pun ini juga demi kebaikan dan kemajuan bisnis ini bukan? Kalau saya tidak paham partner saya,,, mana bisa saya bergabung? Dan juga sebaliknya,,, Kita ini beda generasi om. Pasti ada perbedaan pola pikir dan tingkah laku juga. Karenanya,,, saya ingin kita membangun chemistry dulu di antara kita." tegas Dewa yang sekali lagi memotong bicara Ody.


Ody tak langsung mengiyakan namun ia menimbang nimbang terlebih dulu ucapan pemuda yang meskipun adalah putra bosnya namun dalam posisi mereka saat ini, dia merupakan juniornya.


"Baik saya setuju. Mari kita pergunakan hari pertama kita ini sebagai hari perkenalan sekaligus membangun ikatan yang lebih kuat." akhirnya Ody setuju.


Detik berikutnya, kedua lelaki beda generasi itu terlibat obrolan santai namun serius mengenai diri mereka masing masing. Karena yang namanya saja membangun chemistry, tentu hal hal berbau pribadi juga tak luput dari pembahasan.


"Hahaha,,, Iya,,, Saya menikahi istri saya karena memang saya yang menghamilinya. Saya harus bertanggung jawab. Awalnya saya begitu pengecut untuk mengakuinya namun akhirnya keberanian itu datang juga. Jadi anggap saja semua bergabungnya saya dalam kantor ini juga sebagai bentuk tanggung jawab saya kepada anak dan istri saya."


Dewa tertawa menanggapi obrolan tentang skandal pernikahannya yang sempat disinggung dalam obrolan mereka. Bukan Ody yang menyinggung tentang itu melainkan Dewa sendiri yang awalnya menceritakan awal mula ia sampai mau bergabung dalam kerajaan bisnis ajiknya.


"Jadi laki laki memang harus begitu. Tanggung jawab itu nomer satu." sahut Ody.

__ADS_1


"Oh ya,, om bilang om sudah bercerai. Kalau boleh tau, kenapa? Apa yang bisa membuat rumah tangga sampai hancur begitu? Bagi pengalaman om."


"Masalah utamanya hanya saya yang terlalu mencintai istri saya hingga saya menutup mata terhadap apa pun yang dilakukannya selama itu bisa membuatnya bahagia. Saya kira awalnya tidak ada salahnya memberi istri kebebasan tapi ternyata,,, saya salah besar. Istri saya keluar jalur dan itu salah saya. Istri saya lupa diri dan itu juga salah saya. Bahkan kami tidak dikaruniai keturunan pun adalah salah saya."


Dewa terdiam. Ia bahkan murung. Dia seolah berpikir dan memposisikan dirinya di keadaan yang sama dengan cerita Ody itu.


Terlalu mencintai istri,,, memberinya kebebasan,,, selama itu membahagiakannya. Bukankah dirinya juga tengah melakukan hal yang sama? Akankah rumah tangganya juga akan berakhir demikian?


"Tapi semua itu kembali kepada wanitanya juga. Jika ia pandai menghargai suami, maka hal demikian juga kecil kemungkinan terjadi." Ody sepertinya bisa membaca jalan pikiran Dewa yang tiba tiba terlihat murung.


"Semoga istriku termasuk golongan wanita yang pandai menghargai ya om. Astungkara".


"Aamiin,,," sahut Ody sesuai agama keyakinannya.


"Om gak ada niatan menikah lagi?"


"Ada tapi kalau ketemu dengan gadis yang selalu ada dalam hati om." Ody menjawab dalam hati namun yang ditampakkannya adalah sebuah gelengan ketidakpastian.


"Tunggu apa kata nasib saja." ucapnya kemudian.


"Dewa doain semoga om segera dipertemukan dengan jodoh om ya. Bisa kembali mereguk manisnya cinta. Mendapat pengganti yang lebih baik dari wanita sebelumnya."


"Aamiin."


Obrolan beda generasi itu pun berlanjut hingga jam makan siang tiba. Setelah makan siang baru mereka akan mulai belajar bersama. Ody sangat telaten membimbing Dewa bukan karena Dewa anak bosnya melainkan sikap dewasa dan mengayominya lah yang berbicara.


"Terima kasih om atas pelajaran hari ini. Tidak hanya tentang bisnis tapi juga tentang hidup. Makan malam di rumah yuk om. Sekalian saya kenalkan pada istri saya. Saya tidak ingin istri saya bahkan tidak mengenal orang terdekat saya di kantor." ajak Dewa.


"Mmm,,, apa tidak mengganggu? Kalian kan masih pengantin baru." Ody merasa tidak enak.


"Pengantin baru itu statusnya tapi pada prakteknya om tidak lupa kan istriku sudah mau melahirkan hehehe,,, kami sudah banyak melalui masa masa mesra itu om. Jadi jangan takut menganggu. Ayolah,,,ikut pulang. Ajik dan biang juga pasti senang kalau om datang."


Ody tak mampu lagi menolak kemauan juniornya ini. Ia pun mengangguk saja demi menyenangkan Dewa.


...🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


...bersambung,,,...


__ADS_2