I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Biru #2


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Dewa🌸


"Kakak kerja dulu ya. Doakan semuanya lancar. Semoga kakak bisa segera memahami dan mempelajari semua tentang bisnis ajik." pamitku pada istriku.


"Hati hati kak. Na doakan semua yang terbaik untuk kak Dewa. Semangat. Jangan kecewakan ajik. Beliau tidak punya orang lain lagi yang bisa dipercaya. Hanya kak Dewa. Karenanya jangan buat ajik kecewa."


"Pasti Na. Kakak akan berusaha maksimal. Na baik baik di rumah sama biang ya. Kalau perlu apa apa jangan sungkan sungkan minta bantuan biang." pesanku.


"Anggap rumah ini rumah sendiri dan biang ini ibumu sendiri." Biang memegang kedua bahu Na ikut menyela.


"Pokoknya nyamankan dirimu di rumah ini ya Nad. Ajik pinjam suami kamu dulu. Sudah saatnya suamimu ini belajar berbisnis." ujar ajik menambahi.


"Iya ajik,,, iya biang." malu malu sekali istriku ini.


"Ya sudah ajik sama Dewa berangkat saja dulu. Kalian berdua kan gak suka telat. Urusan Nada serahkan pada biang. Biang lebih mengerti harus melakukan apa saja dengannya." ujar biang mengusir kami sekaligus menyombong.


"Cium buat ajik mana?" seru ajik yang memang meski di usia yang tidak lagi muda, tetap saja menjunjung tinggi yang namanya keharmonisan dengan biang.


Kata ajik,, usia boleh memakan raganya, tapi tidak dengan cintanya kepada biang. Cinta itu selalu tumbuh dan berkembang.


Biang melakukan apa yang sudah menjadi kebiasaan mereka berdua tak peduli di sini juga ada aku dan Nada yang jadi kikuk dibuatnya. Ingin rasanya ku dapatkan hal yang sama dari Nada tapi aku harus bersabar.


Hingga ritual kemesraan ala ajik dan biang sudah selesai dan ajik sudah masuk ke mobil diantar oleh biang,,, kami berdua masih saling berdiri kaku.


"Kak,," panggilan Na menyadarkanku dan sekaligus membuatku heran kala ia mengulurkan tangannya kepadaku, seperti ingin bersalaman.


Ragu ragu kusambut tangannya dan detik berikutnya jiwaku melambung tinggi. Tidak perlu diberi kecupan mesra seperti ajik,, tapi dengan punggung tanganku dicium begitu aku merasa cinta Na begitu besar untukku. Itu menandakan Na menghormatiku juga.

__ADS_1


Lebay gak sih aku ini? Disungkemi begitu saja sudah melayang ke angkasa,,,


"Sudah sudah,,, ditunggu ajik tuh." biang mengganggu saja, tapi benar yang dikatakan beliau.


Sekali lagi aku berpamitan dan menitipkan Na pada biang. Kepergian kami diiringi lambaian tangan kedua bidadari beda generasi yang punya tempat masing masing di hati kami.


Sungguh pagi yang indah,,, Langit pagi sudah sebiru kemejaku,,, bahkan sebiru cintaku,,,


Birunya cinta,,, Kita berdua,,, lalalalala,,, auto deh jiwa ini menyanyi dangdut lawas hehehe,,,


#


#


#


🌸Pov Pdy🌸


Sudah cukup bersantai santai di Bali meski bukan benar benar santai karena waktu santai kemarin kuhabiskan untuk berselancar di dunia mencari cari keberadaan Nada.


Alih alih mendapatkan berita tentang Nada, aku malah hanya dapat gosip gosip terbaru tentang Valencia yang kini kabarnya menderita. Biarkan saja. Hati ini benar benar sudah tidak peduli. Mau terjadi apa pun padanya,,, aku sudah tidak ingin tau apalagi peduli lagi. Biar saja wanita itu mengurus hidupnya sendiri.


Perceraian kami hanya tinggal menunggu akte cerai diterbitkan saja. Aku serius dengan kata kataku tentang harta gono gini. Tak ku beri sepeser pun dirinya dan beruntungnya semua permohonanku dikabulkan oleh majelis hakim. Semua itu tentu berdasarkan segala bukti yang kutunjukkan.


Pagi ini,, ku tinggalkan dulu dunia maya. Saatnya kembali ke dunia nyata. Menjadi pendamping tuan muda putra big boss bukan hal yang bisa disepelekan. Karenanya aku tidak boleh lalai.


Ku siapkan setelan baju kerja. Hari ini entah kenapa aku ingin memakai kemeja biru. Kemeja yang belum pernah ku pakai dan kalau boleh jujur sebenarnya aku tidak tau untuk apa aku membelinya. Belakangan ini aku hanya menyukai warna biru. Warna yang bahkan sebenarnya bukan warna kesukaanku tapi entah kenapa aku kini menyukainya seperti ini sebuah keharusan.


Perfect,,,


Biru bukan warna yang buruk untukku rupanya. Menunjang penampilanku hari ini dengan cukup baik. Membuatku percaya diri melangkahkan kaki menuju ke ruangan presdir di mana big boss dan putranya akan menemuiku.


Senyumku mengembang menyapa setiap pekerja di kantor itu. Meski ini hari pertamaku masuk dengan posisi yang cukup berpengaruh, tidak lantas membuatku sombong. Aku tidak ingin memancing sifat iri dalam hati mereka.


"Selamat pagi bapak Ody. Bapak Artha dan putranya masih dalam perjalanan kesini. Silahkan menunggu di sini dulu." wanita cantik yang bisa ku tebak sebagai sekretaris bapak Artha mempersilahkanku.

__ADS_1


"Terima kasih."


Aku duduk dan mencoba mengusir rasa grogiku dengan membuka buka koran pagi itu. Beberapa media masih meliput pernikahan putra bapak Artha tempo hari yang terbilang dirayakan dengan sangat mewah. Beberapa media juga melebih lebihkan cerita dengan menambahkan tanda tanya di hati pembaca ketika mereka menyinggung tentang slentingan skandal yang dilakukan putra bosku itu.


Pandangan mata ini tertuju kepada sepasang pengantin yang lagi lagi membuat mata ini seolah tertipu. Menantu bapak Artha benar benar mirip Nada. Ingin rasanya memarahi sang MUA yang begitu pandai membuat jiwaku mendayu dayu.


Nada,,, Om rindu. Kamu di mana sebenarnya?? Kemana om harus mencarimu? Kenapa kamu begitu mahir bersembunyi?


"Selamat pagi Ody."


Suara bariton yang kukenal membuyarkan lamunanku. Serta merta ku letakkan koran dengan gambar pengantin itu ke sofa kemudian aku berdiri.


"Selamat pagi bapak Artha." mataku tertarik dengan penampilan seseorang dengan penampilan mirip mirip denganku hari ini.


"Wah kalian berdua rupanya punya selera yang sama urusan baju. Mungkin ini pertanda yang baik karena bisa saja selera dan pemikiran kalian dalam pekerjaan akan senada juga." puji bapak Artha yang membuatku yakin siapa sosok di sebelahnya itu.


"Selamat pagi bapak,,,,???"


"Dewa. Nama saya Dewa. Jadi anda bapak Ody? Yang akan membantu saya?" bos mudaku terkesan sangat ramah dan tampan jika tersenyum begitu.


Warna biru kemejanya juga memberikan aura kewibawaannya makin terpancar. Ditambah lagi dengan dasi dengan warna yang lebih gelap itu. Sangat cocok dengan warna kulitnya yang bersih terawat. Wajahnya berseri seri layaknya pengantin baru yang tengah mereguk manis manisnya malam pengantin.


"Ini pilihan istri saya. Saya tidak pandai memilih pakaian. Ajik hanya melebih lebihkan kalau mengatakan selera kita sama. Apa pakaian anda juga pilihan istri anda bapak Ody?" tanya bos mudaku itu.


"Bukan bapak Dewa. Ini pilihan saya sendiri. Saya sudah bercerai jadi harus mandiri." jawabku mengulas senyum.


"Oh maaf. Saya tidak tau." bos mudaku tampak tidak enak hati.


"Tidak apa apa." aku tidak mempermasalahkannya lagipula perceraianku ini tidak membuatku terpuruk malah merasa terpacu.


"Kita lanjutkan bincang bincang dan perkenalan di dalam saja." suara tegas milik big boss kembali terdengar dan membuatku dan bos muda hanya bisa menurut.


Berjalan mengekori sang raja menuju singgasananya,,,


...🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


...bersambung,,,...


__ADS_2