I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Itu Anakku!!


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku ...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Nada🌸


Usia kehamilan ini sudah berjalan tujuh bulan lebih. Mendekati bulan ke delapan. Jangan Tanya apa saja yang telah ku lalui selama ini. Beragam cibiran, pandangan merendahkan bahkan hinaan langsung juga sudah pernah ku terima dari para tetangga kost maupun orang luaran yang tau persis bahwa aku tak punya suami tapi hamil besar.


Memang, tidak semuanya berlaku begitu padaku, Tapi sebagian besar, iya.


Termasuk bu Dayu, ibu kostku yang dulunya begitu ramah dan baik padaku, akhir akhir ini setelah beliau tau anak kostnya ini hamil di luar nikah, ku rasa sikapnya pun berubah. Beliau tidak pernah menyapaku lagi. Palingan datang hanya untuk menagih uang kost saja. Setelah itu langsung cepat cepat pergi.


Mungkin dalam hatinya beliau sangat ingin mengusirku namun sebagai sesama wanita, beliau bisa menahannya.Menunggu sampai aku lahiran mungkin?


Oh ya, mengenai kehidupan perekonomianku, syukurlah, pekerjaan sebagai reseller baju baju milik Dewa masih menjadi pekerjaan utamaku. Memangnya dengan perut sebesar ini, mau kerja di mana lagi aku?


Dalam hal ini, lagi lagi aku berhutang nyawa padanya. Bagaimana pun juga, suatu hari nanti aku harus bisa membalas semua kebaikannya.


Dewa masuk daftar orang orang yang tidak berubah sikap kepadaku meski ia adalah orang pertama tau apa yang menimpaku. Hanya saja hingga detik ini,, tak pernah sekali pun ia menyinggung tentang ayah bayiku.


Bang Martin, jangan ditanya lagi. Orang itu memang sudah baik padaku dari awal. Hingga detik ini pun ia masih tetap menjadi salah satu orang berjasa dalam hidupku. Setiap pulang kerja, ia akan membantuku mengepak baju baju pesanan. Kalau untuk pengirimannya sendiri, aku tidak repot lagi karena pihak kurir yang akan menjemput.


“Nad, lo masih belum mau cerita sama abang lo ini?”tanyanya sore itu.


“Cerita apa bang?" aku berlagak pilon.


“Cerita putri duyung!!! Apalagi memangnya??” gerutunya gemas.


“Hehehe,,, gak usah diceritain ah. Biar surprise.” jawabku makin membuat bibirnya mengerucut.

__ADS_1


“Awas aja tuh laki laki kalau berani nongolin diri hanya setelah bayi ini lahir. Bakal abang gebukin habis habisan.” tekadnya.


“Jangan dong. Kan kasihan kalau dia bonyok.” belaku.


“Habisnya,, udah berani nelantarin lo. Gadis baik. Lugu. Polos.” Omelnya.


Bukan dia yang ingin menelantarkanku bang,, Tapi akulah yang memilih pergi darinya. Demi kebaikan dan kebahagiaannya,,,


Sepenggal kalimat jawaban itu hanya bisa kuucapkan dalam hati. Sebenarnya selama ini, tiap bang Martin siapa ayah anak ini, aku selalu menjawabnya tapi ya hanya dalam hati. Aku sudah bertekad untuk menyembunyikan status dan siapa ayah dari anakku ini.


Om Ody,,, Dia ayah bayiku. Cukup kamu dan ibu yang tau ya nak. Percayalah pada ibu,, ayah kamu bukan orang jahat atau tidak mau bertanggung jawab kepada kita. Kelak kamu dewasa, jangan pernah membencinya. Kalau kamu mau, bencilah ibu. Ibu yang membuatmu terlahir tanpa ayah,,,


“Ngelamun lagi kan??? Tiap bahas ayah si bayi pasti ngelamun. Heran gue!! Suka banget sih melindungi lelaki breng*sek itu!!” sungut Martin.


Aku sebenarnya maklum kalau dia begitu karena dia memang menyayangiku seperti kepada adik sendiri.


“Gak baik berkata kasar di depan ibu hamil Martin!! Nanti bayinya kan jadi kebiasa mendengar dan berucap kasar juga lho.”


Sebuah suara akrab mengejutkan kami. Kalau sudah ada orang yang paling memperhatikan dan menghindari hal hal buruk untuk bayiku, ya Siapa lagi kalau bukan Dewa?


Tapi tawa itu seketika lenyap kala sebuah suara ketus terdengar. Kami serempak menoleh.


“Biang sudah bilang kan? Jauhi dia Dew!! Daripada kamu sibuk urusin dia dan pertahankan keberadaanya di sini terus, mending kamu cari istri sana. Yang gadis baik, berkasta, sederajat dengan kita, seagama, dan yang jelas,,, tidak sedang hamil gak jelas begini.”


Bu Dayu, si empunya kost, ibunya Dewa,,, memarahi anaknya sekaligus menyindirku dengan suara keras membuat para penghuni kost yang kebetulan ada di kamar masing masing jadi keluar untuk mencari tau apa yang terjadi. Aku tak terlalu memperhatikan reaksi mereka karena otakku masih berusaha keras mencerna perkataan bu Dayu barusan.


Pertahankan keberadaanku di sini?? Apa Dewa sungguh melakukannya? Tapi untuk apa?


“Biang!! Pelankan suara Biang. Tidak bagus untuk tumbuh kembang bayinya.” Jawban Dewa membuatku senang sudah selalu diperhatikan sekaligus membuatku tambah tak enak hati pada bu Dayu.


“Buat apa kamu pedulikan anaknya?? Mau dia tumbuh seperti apa juga masa bodoh. Itu kan bukan,,,”


“Itu anak Dewa!!! Cucu Biang!!” Potong Dewa sebelum bu Dayu selesai bicara.

__ADS_1


Deg!!!


Jantung ini berasa copot dan entah sudah terlempar kemana. Mataku nanar mendengar sebuah pengakuan yang sudah pasti ku tahu bahwa itu palsu, malah keluar dari bibir Dewa. Sempat ku lihat ekspresi kaget setengah mati dari bang Martin dan bu Dayu. Tunggu,,, Bukan mereka saja,, tapi semua yang hari itu mendengarnya.


“Dewa!!! Jangan sembarangan kamu ngomongnya!! Jangan bercanda sama Biang. Ini gak lucu!! Sama sekali gak lucu!!!” bentak bu Dayu yang sudah menguasai kembali kesadarannya secara keseluruhan.


“Mana pernah Dewa melucu? Apa yang Dewa katakan adalah kebenaran. Anak yang dikandung Nada adalah anak Dewa. Karenanya, jangan pernah larang Dewa untuk memperdulikan segala sesuatu tentangnya. Masalah kasta dan agama,,, Kalau Biang merasa ia berasal dari agama dan kasta berbeda, tidak sederajat dengan kita,maka Jangan cemas Biang! Dewa rela melepas semua yang melekat pada diri ini. Dewa akan menyetarakan derajat kami agar kami berdua berada di level yang sama di mata Biang. Dewa rela melakukan semua itu demi bisa hidup bahagia bersama anak dan istri Dewa.”


Gila,,,Benar benar sebuah pernyataan gila!!


“Dewa!!!” sekali lagi bu Dayu membentaknya.


Tapi si pemilik nama sama sekali tak bergeming. Bahkan ia kembali dengan lantang membuat satu pernyataan lagi di depan semua yang masih menonton.


“Dengar baik baik semuanya. Jangan pernah lagi ada yang menjelek jelekkan atau mencibir Nada. Karena jika bagi kalian semua ini adalah kesalahan dan ada yang harus disalahkan atau dicibir di sini, maka orang itu adalah aku. Aku yang menodainya dan membuatnya hamil. Aku juga yang baru hari ini memiliki kekuatan mengakuinya di depan kalian semua.” tegas Dewa dengan suara lantang.


“DEWA BAGUS ARYA ASOKA!!! Hentikan omong kosong ini!!!” saking geramnya bu Dayu sampai menekankannya dengan menyebut nama lengkap Dewa yang baru kali ini juga ku dengar.


“Maaf Biang. Tapi ini semua bukan omong kosong. Ini adalah fakta yang suka tidak suka harus Biang terima. Tapi jika Biang memang benar benar tak bisa menerimanya, tidak mengapa. Biar Dewa yang pergi membawanya menjauh dari Biang.” Ujar Dewa kali ini dengan lembut mengharap pengertian sang ibunda.


“Kamu sudah gila Dewa!!” bu Dayu tampaknya sudah kehabisan kata.


“Nggih Biang. Dewa Nak mula sampun buduh.”


****(Bahasa Bali halus Yang artinya,,, Iya ibu, Dewa memang sudah gila).****


“Dewa tidak bisa menahan diri ini lagi saat melakukannya. Biang tau kan seberapa besar rindu dan cinta Dewa pada Maharani? Dewa tidak mau kehilangan dia lagi Biang. Tolong Biang mengerti.”


Siapa lagi itu Maharani? Apa hubungannya denganku??


Kepalaku serasa berputar. Aku yang menjadi bahan utama perdebatan ini akhirnya hanya bisa pingsan. Untungnya ada yang cepat menyangga tubuhku hingga tubuh berat lengkap dengan bayi ini tak sampai jatuh ke lantai. Entah siapa menahanku.


Mungkin bang Martin?

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸...


...Bersambung,,,,...


__ADS_2