I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Harapan Palsu


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Mama🌸


Kalau ada yang tanya apakah aku bahagia atau tidak melihat putraku memutuskan rujuk dengan Valencia lagi,,, tentu aku bingung menjawabnya. Aku tidak bisa serta merta mengucap syukur atas keputusan mereka kembali menjalankan bahtera rumah tangganya bersama sama. Tapi sebagai seorang ibu, tentu aku harusnya bahagia jika putraku tak jadi menduda. Hanya saja aku masih ragu mengucap syukur.


Bagaimana tidak?


Aku masih sangat,,,, sangatlah ingat saat wanita yang kini tetap berstatus sebagai menantuku itu selalu menolak mentah mentah kedatanganku dulunya. Ia selalu punya alasan untuk tidak mengijinkanku masuk menemui putraku sendiri. Bahkan,,, kemudian ia malah tak pernah mau menemuiku. Ia menyuruh satpam rumah mereka yang mengusirku.


Sangat tidak sopan menurutku waktu itu.


Hingga kemudian mereka pindah rumah entah kemana. Aku kehilangan jejaknya. Aku ragu kalau Ody putraku tau selama ini aku telah berusaha keras menemuinya namun selalu ditolak istrinya. Kemudian,,, Bertahun tahun aku hidup sebatang kara dalam kerasnya hidup di usia yang tak lagi muda lalu tiba tiba wanita berstatus menantuku itu kembali hadir menemuiku.


Ya,,, kali itu dia yang menemuiku. Sendirian.


Ia memintaku pulang bersamanya. Ia bilang bahwa putraku sangat merindukanku. Yang itu aku jelas aku percaya karena memang aku tau, Odyku sangat menyayangiku terlepas dari apa pun masalah rumah tanggaku dengan papanya dulu. Yang paling bersedih atas perpisahan kami adalah Ody. Dia yang paling tak menginginkannya karena sayangnya yang begitu besar kepadaku.


Yang tidak langsung bisa ku percaya adalah niat wanita itu tiba tiba muncul dan membawaku pulang ke rumah mereka yang baru. Wanita itu bercerita banyak padaku hingga akhirnya aku paham,,, Ia membutuhkanku untuk melunakkan hati putraku kembali.


Mereka di ambang perceraian. Mengingat perceraian adalah satu hal yang tidak dianjurkan kecuali sudah tak ada kebaikan jika dipaksa dilanjutkan,,,, aku pun berusaha menyatukan mereka kembali. ku putuskan melupakan segala rasa kecewa akan perlakuan menantuku itu semasa sering mengusirku.


Bukankah manusia memang tempatnya salah dan dosa? Tapi tetap saja,,, manusia selalu punya hak diberi kesempatan dan cara untuk kembali bertobat. Karenanya,,, aku memberikannya kepercayaan dan kesempatan. Semoga Valencia, menantuku memang sudah berubah.


Hingga kemudian,,, keputusan mencabut perkara perceraian mereka membawa sebuah keajaiban dan kebahagiaan. Valencia dinyatakan hamil setelah sekian tahun menjalani biduk rumah tangga dengan putraku.


Sungguh Tuhan memang Maha membolak balikkan hati. Mampu mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Mampu menyembuhkan putraku yang sudah divonis mandul.

__ADS_1


Mungkin ini yang namanya jodoh. Mungkin inilah istilah jodoh tak akan kemana. Sudah hampir cerai begitu batal malah dapat anugerahNYA. Tapi melihat raut wajah putraku akhir akhir ini,,,hingga akhirnya ia jatuh sakit, aku tak yakin ia menganggap semua itu adalah anugerah.


Sesuatu yang aneh juga kurasakan pada diri menantuku itu. Aku tau dia memang porsi makannya sedikit dan disertai ngidamnya juga. Tapi apa iya perutnya tidak begitu besar di usia kehamilan yang sudah memasuki bulan ke tujuh ini?


"Mama,,, Valen gak bantuin gak apa apa kan?"


Menantuku meminta untuk membantuku menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan syukuran tujuh bulanan kehamilannya.


"Iya sayang. Gak apa apa. Kan kamu lagi hamil gitu. Gak boleh capek capek. Lagipula sudah ada banyak orang dengan bagian masing masing untuk membantu menyiapkan semuanya." aku maklum dengan kondisinya itu.


"Iya ma. Itu maksud Valen. Sudah ada banyak orang yang kita bayar. Kalau gitu Valen ke kamar saja ya ma." pamitnya.


"Iya istirahat saja dulu sebelum perias wajahmu datang. Mama sudah panggilkan make up artist terbaik di kota ini. Dia juga membawa banyak baju yang mungkin akan cocok untukmu sayang." ujarku.


"Mmm mama dicancel aja make up artistnya. Valen bisa make up sendiri saja. Pakaian juga sudah Valen siapkan kok. Mama gak usah pikirkan tentang itu." tolaknya dengan wajah pucatnya.


Menantuku itu sering tiba tiba terlihat pucat dan salah tingkah tiap kali menyangkut urusan perutnya. Diusap suami selalu banyak alasan,,, aku pegang juga selalu menghindar. Tidur pun gak mau sekamar dengan suami. Periksa kehamilan juga selalu sendiri. Bahkan urusan baju untuk pesta syukuran pun ia tak mau kubantu pilihkan. Maunya pilihan sendiri.


Entah kenapa aku malah curiga dengan sikapnya ini. Tapi aku selalu berharap kecurigaanku itu salah.


Tapi semoga saja memang kehamilannya tidak menyusahkan. Memang sehat dan kuat. Walau sedikit aneh.


Kulanjutkan kegiatanku memandu para pekerja untuk menyelesaikan tugasnya masing masing. Ody putraku saat ini malah tidak bisa hadir karena tempat kerjanya, atau bos besarnya yang berada di pulau Bali memintanya untuk datang ke sana dan menjelaskan sendiri tentang beberapa hal. Katanya beliau tidak puas jika jawaban itu diwakilkan.


"Halo ma. Apa kabar di sana? Apa semua persiapan sudah selesai?" Baru saja kupikirkan, putraku sudah menelponku.


"Belum tapi mama yakin akan selesai tepat waktu. Kamu tenang saja. Yang fokus kerjanya. Ingat yang kamu temui ini adalah bos besarmu. Jangan sampai melakukan hal hal yang kurang menyenangkan." ujarku.


"Siap ma. Valen mana ma? Apa dia baik baik saja?"


"Kamu itu lucu. Padahal kamu punya kan nomer ponsel istrimu. Tapi kamu malah tanyanya ke mama. Telponlah sendiri dia. Lihat sendiri kondisinya. Dia itu hamil Ody,,, anak kalian butuh interaksi dengan ayahnya. Lakukan itu sejak dini."


Kulihat raut wajah putraku langsung berubah. Semacam tidak tertarik melakukan apa yang kuperintahkan barusan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Mama lihat dulu dia di kamarnya. Tadi sih baik baik saja." bergegas aku menaiki tangga menuju ke kamar menantuku sambil tetap memegang ponselku.


"Valen,,," langsung saja ku buka pintu kamar yang tidak tertutup rapat tanpa mengetuknya.


"Ah mama!!!!"


Menantuku memekik bersamaan dengan sesuatu yang terjatuh dari tangannya. Gerakan yang begitu cepat membuatku tak begitu memahami apa yang terjadi.


"Apa yang jatuh??" tanyaku menyelidik saat menantuku itu langsung berdiri membelakangiku.


"Bbb,, Brraaa Valen ma. Mama keluar saja dulu ya. Valen malu nih." usirnya kasar.


"Gak apa apa mama bantu ambilin saja. Kamu kan lagi hamil. Susah ambil barang jatuh." ujarku terus mendekat.


"Jangan ma!!! Kalau Valen suruh keluar ya keluar!!! Valen bisa sendiri!!!" ketusnya dengan nada membentak.


"Valen!!!! Yang sopan sama mama!!!"


Ah,, aku lupa kalau tangan ini masih memegang ponsel yang dilayarnya masih ada wajah putraku. Kami memang belum selesai video call. Jadi putraku bisa mendengar semuanya langsung.


"Ody??? Mama sengaja ya bikin Ody marah sama aku???" Valen berbalik dengan wajah kesalnya padaku.


Bibirku kelu melihat apa yang kulihat langsung dengan mataku ini. Mata ini juga reflek melihat benda apa yang sempat terjatuh tadi.


"Valen,,, itu,,, kamu,,, kok,,, perutmu,,???,"


Valencia panik,,, merebut ponselku dengan paksa dan mematikan sambungan telponku dengan Ody. Berkali kali Ody coba menelpon namun tidak dibiarkannya aku menjawab.


"Ma aku mohon,,, Diam ma,,, Aku gak mau kehilangan Ody ma." menantuku menangis dan berlutut di depanku yang sudah melihat bahwa dirinya tidaklah hamil selama ini.


Benda yang jatuh tadi hanyalah bantal kecil yang selama ini ternyata diikatkannya di perutnya.


"Kamu,,, kenapa tega melakukannya?? Kenapa memberi kami harapan palsu???" lirihku dengan perasaan yang sulit kujabarkan.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸...


...bersambung,,,,...


__ADS_2