
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Dewa🌸
Hehehe,,, senangnya hatiku,,, turun panas demamku,,, Na Na Na Na oh istriku,,,
Hati yang terlalu bahagia mendapat lampu hijau dari Na membuat aku menyanyi sekenanya saja. Padahal itu lagu untuk iklan obat penurun panas anak anak tapi malah ku plesetkan. Tapi tenang saja,, aku cuma menyanyi dalam hati saja kok.
Hehehe,,, Aku jadi cengengesan sendiri.
Aku mendampingi istri dan anakku yang sedang saling terhubung melalui asi, ikatan terkuat antara ibu dan anak yang tak ingin ku lewatkan juga.
Aku juga teringat pada sebuah artikel yang diam diam pernah ku baca setelah Na mengiyakan ajakanku untuk menikah denganku. Artikel tentang peran suami saat istri sedang menyusui.
Katanya,,, Menyusui itu bukanlah pekerjaan sendiri, butuh dukungan ayah saat ibu memberikan asi kepada si buah hati. Asi merupakan asupan penting untuk bayi sebagai proteksi utama untuk melindungi kesehatannya, serta mendukung tumbuh kembangnya. Dan dalam hal ini,,,, Dukungan ayah juga turut serta dalam memperlancar asi ibu dan juga perkembangan si kecil.
Memang benar, secara alamiah, menyusui itu hanya melibatkan kontak ibu dan anak. Dan proses ini berlangsung hingga anak menginjak sekitar usia 3 tahun.
Tapi dukungan ayah dalam mendampingi ibu saat pemberian asi sangatlah berarti. Sebuah penelitian juga mengungkapkan, bahwa dukungan dan semangat si ayah dapat memperlancar asi dan membuat ibu mampu bertahan menyusui lebih lama.
Kadang sang ibu merasa kelelahan. Bahkan sebagian ibu merasakan sakit pada gundukan kenyalnya saat menyusui. Nah,,, di sinilah peran Ayah untuk mendampingi dan memberi kekuatan kepada ibu, sehingga pemberian ASI akan terasa lebih menyenangkan.
Duhh,,, membayangkan gundukan kenyal malah membuat bulu buluku berdesir. Apalagi ingat anggukan Na tadi,,, hmmm,,, Sesuatu mulai memberontak di bawah sana.
Sebagai ayah yang baik untuk Birru dan juga suami yang baik untuk Na,,, maka ku putuskan membantu Na agar lebih rileks saat menyusui. Ku berikan bantal pada kepala atau lengan Na sehingga posisi menyusui lebih mudah dan nyaman.
__ADS_1
Sialnya adalah saat melakukannya, Aku beberapa kali tak sengaja menyentuh sumber kehidupan Birru itu dan lagi lagi darahku terasa berdesir.
Haduuhhh sabar boy,,,
Untuk mengusir pikiran pikiran me*sumku sendiri, maka aku memilih menyetel musik lembut. Itu juga akan membuat Na menikmati proses menyusui.
Kemudian aku duduk di sampingnya sambil memberi elusan lembut pada Birru saat proses menyusui.
"Terima kasih kak." Na tersenyum melihat betapa aku memperlakukan keduanya dengan istimewa.
"Sama sama Na. Kakak gak mau melewatkan masa masa ini bersama kalian." ujarku sambil mengusap usap punggung Na dengan lembut juga.
Tapi kalian yang baca jangan berpikiran aku sengaja untuk menarik perhatian atau membuatnya berdesir juga ya. Cukup aku saja yang kelabakan menahan terjangan si boy yang terus berontak mengajak perang.
Aku melakukan semua itu karena aku tau ketika ada proses kontak fisik, akan terjadi proses pelepasan hormon oksitosin. Hormon oksitosin membantu ikatan terjalin lebih dekat. Hal sederhana yang banyak para ayah di luar sana lupa untuk terapkan.
Tapi aku tidak mau jadi ayah seperti itu ya,,, Aku mau Birru mengenalku sejak dini. Bukan karena aku takut Birru akan menolakku kelak begitu ia tau bahwa ia punya ayah biologis yang tidak tinggal bersama ibunya. Aku hanya ingin Birru merasa tidak sekedar menjadi anak tiri. Aku ingin tidak pernah ada jarak antara kami.
Benda bulat kecoklatan yang sedari tadi sibuk dimainkan Birru pun terlepas dari bibir mungilnya. Birru sudah tertidur pulas rupanya. Namun bukan Birru lagi yang jadi pusat perhatianku melainkan benda bulat yang masih terlihat basah oleh cairan asi itu.
Na bangkit untuk meletakkan Birru di tempat tidur tanpa membenarkan pakaiannya yang terbuka itu. Na yang masih sibuk dengan kedua tangannya juga tak terlihat menyadari bahwa aku tengah menelan ludah dengan susah payah melihat pemandangan itu.
Ya Tuhan,,, masa bodoh lah ya,,, toh wanita cantik ini sudah sah bagiku. Kali ini biarkan hambaMU ini yang bertindak. Boy sudah tak tahan lagi Tuhan. Tolong jangan siksa kami berdua lagi dengan menyuguhkan hal hal semacam ini.
Ku dekati wanitaku itu. Begitu ia berbalik badan,,, aku sudah sigap memeluknya.
"Kak." Na pasti terkejut.
"Sekarang boleh ya Na. Please,,," rengekku tak tau malu.
Wajah Na memerah tapi malah membuat si boy lunjak lunjak minta segera diberi jalan. Na yang mengangguk pelan juga seakan menantang untukku segera bertindak sebagai suami.
__ADS_1
Ku angkat dagu yang tertunduk itu. Mata Na terpejam dengan bibir yang menggoda. Rasanya yang sudah sempat ku cicipi tadi membuat aku makin tak tahan lagi. Segera ku lahap bibir ranum itu. Tapi kulakukan dengan sangat lembut takut menyakiti Na.
Na membalas gerakan lembut lidahku. Membuka bibirnya dan meloloskan lidahku untuk terus bergerilya di dalam sana. Memindai keseluruhan yang ada di dalam sana sampai puas.
Puas bermain di sana,,, ku tarik lidah dan bibirku untuk bergerak turun menyusuri leher putih milik Na. Sampai di sana darahku makin berdesir dan ada sesuatu yang harus tertuntaskan pokoknya malam ini.
Na meleng*uh pelan saat lidahku mulai menyapu lehernya dengan lembut. Tanganku yang semula memeluk pinggangnya tak mau diam. Ikut bergerilya mendaki dua bukit yang terasa sangat padat dan basah di ujung bulatannya.
Ku pilin lembut dan membuat Na bergelinjang. Des*ahan lembut juga terdengar di telingaku yang pas berada di depan bibirnya. Ku lirik bibir Na yang digigit di bagian bawahnya seolah ia tengah menahan desiran rasa yang bergelora.
Aku bahagia,,, istriku rupanya menikmatinya.
Sudah cukup senam jari di bukit kembar. Saatnya lidah yang menari. Bulatan basah itu ku sapu dengan ujung lidahku. Aku mengernyit merasakan sensasi rasa cairan putih yang sangat digemari oleh Birru itu. Awalnya aneh,,, tapi kemudian aku tak mau kalah mengenyot dari Birru.
Maaf ya nak,,, ayah pinjam dulu mainanmu ini.
Na bergerak makin tak tentu arah. Tubuhnya bereaksi hebat oleh ulahku kali ini. Kurasakan tangannya menjambak rambutku namun aku tak kesakitan justru keenakan. Ku biarkan saja ia menarik ulur kepalaku. Menikmati setiap sentuhanku.
Hingga,,,
"Kak,,,please,,, jangan siksa Na." racaunya sambil terengah engah menahan semua gelora rasa yang kian membuncah.
"Sabar sayang,,, sebentar lagi ya. Kakak masih suka di sini." kembali ku sibukkan bibir dan lidahku dengan bulatan coklat itu.
Na kembali meleng*uh dan menarik narik rambutku. Kadang menarik kadang malah semakin membenamkan wajahku seolah ia ingin aku melakukannya lebih dalam lagi.
Lalu,,,apalagi???
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,...
__ADS_1
Hehehe,,, author kepanasan nih ngetiknya. Jeda dulu ya 😂😂