I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Keluarga Berkasta


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Bapak Artha🌸


Dewa Bagus Artha Narayana,,, Nama sekaligus doa yang disematkan oleh kedua orang tuaku untukku. Betapa beruntungnya diriku ini karena terlahir dalam sebuah keluarga dengan kasta tinggi yang membuat keluargaku begitu dijunjung oleh masyarakat sekitar. Mereka berkomunikasi dengan kami menggunakan bahasa Bali halus.


Katanya tidak sopan kalau berbahasa Bali biasa atau kasar. Bahkan berbicara dengan bahasa halus kepada orang berkasta bersifat diwajibkan bagi kebanyakan masyarakat.


Padahal, mau kita berkasta atau tidak, bicara dengan bahasa halus adalah dianjurkan dan sangat bagus untuk diterapkan. Tidak melulu hanya pada yang berkasta saja. Karena kadang, yang berkasta pun justru tidak bisa menunjukkan perilaku dan nilai nilai agung sebagai seorang yang berkasta.


Campah,,, Kalau dalam bahasa Bali yang artinya sepele atau menyepelekan. Mentang mentang mereka berkasta lalu bisa dengan seenaknya memposisikan orang lain lebih rendah darinya. Banyak juga yang menuntut kepada semua orang untuk memposisikan dirinya lebih tinggi, untuk disanjung.


Ya, banyak yang salah kaprah menanggapi arti dari kata kasta. Dulunya iya, saat masih dalam masa kerajaan, kasta adalah sebutan atau golongan untuk sekumpulan tertentu dengan tugas dan fungsi masing masing. Nah kalau sekarang,,, di masa modern seperti ini,,, jika masih dalam lingkup keluarga sendiri atau dirumah sendiri, silahkan jika masih ingin mempermasalahkan aturan kasta. Kalau sudah di luar,,, bersama masyarakat luas,,, bertemu dengan yang berbeda agama,,, beda kebudayaan,,, beda adat,,, alangkah lebih baik jika kasta jangan dijadikan momok.


Kembali ke cerita latar belakang keluarga kecilku,,,


Kasta yang tinggi, kemudian bisnis yang merambah kemana mana membuat keluarga kecilku,,,, terdiri dari aku, istri tercinta dan putra semata wayangku makin disegani masyarakat. Yang ku sayangkan dalam hal ini adalah istriku. Terkadang ia menjadi lupa diri atas segala kenikmatan dan titipanNYA kepada kami ini.


Seperti saat ini,,, istriku, Dayu, bersikukuh pada pendapatnya bahwa Dewa, putra kami, tidak boleh menikah dengan gadis dari kasta kelas rendah atau dibawah kami meski hanya setingkat. Dayu meminta agar kelak menantunya haruslah yang sederajat dengan kami.


Sungguh pemikiran yang masih kolot bukan? Kalau sudah urusan jodoh itu bukan lagi manusia yang merasa berkasta yang menentukan. Mau berkasta mau tidak, urusan jodoh tetap hanyalah di tanganNYA.

__ADS_1


"Ajik setuju saja kamu menikahinya, asalkan kamu juga mau menerima syarat dari Ajik." ucapku di tengah tengah diskusi keluarga kami mengenai rencana pernikahan dadakan Dewa.


Dewa putraku tiba tiba datang membawa kabar mengejutkan kepada kami selaku orang tuanya. Anak itu sudah pernah hampir menikah dengan kekasihnya terdahulu namun takdir berkata lain. Kekasihnya meninggal setelah pesta pertunangan. Setelah itu, putraku itu bagai tubuh tanpa jiwa.


Ia menjadi pribadi yang sangat tertutup. Meratapi nasib dan takdirnya seorang diri. Merasa semuanya telah hancur. Merasa seolah Tuhan tidak menyayanginya. Sedih,,, itu yang kurasakan di masa masa sulitnya itu.


Kini selang lima atau enam tahun berlalu tanpa pernah terlihat oleh kami bahwa ia pernah kembali menjalin hubungan dengan gadis mana pun, tiba tiba ia bilang ia akan menikah. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah gadisnya itu sudah berbadan dua.


Aibkah bagiku?? Tidak.


Karena putraku sudah mengatakan pada kami bahwa sejujurnya itu bukanlah hasil dari perbuatannya. Ia melakukan ini untuk melindungi bayi dan ibunya dari kecaman pedas orang orang sekitar. Ia melakukannya demi bisa memberikan nyawa tak berdosa itu sebuah pengakuan.


Jadi di mana letak aib atau aku harus malu?


Aku justru berbangga hati dengan keputusannya itu. Sungguh bisa kubanggakan sebagai putra seorang Artha Narayana.


"Cukup dengan kamu mau melanjutkan usaha dan bisnis yang sudah Ajik rintis. Kamu satu satunya penerus keluarga kita Dewa,,, Jangan lepas tangan. Dengan kamu bisa menerima tanggung jawab ini, maka Ajik dan Biang akan menerima gadis itu dan anaknya sebagai bagian dari keluarga kita."


Kuberikan syarat yang sebenarnya hanya sebagai pemanis saja. Meski ia tak menyanggupinya, aku juga tidak akan menolak pernikahannya. Aku hanya terlalu tau bahwa putraku itu tidak mau meneruskan bisnisku. Selama ini ia lebih suka memajukan usahanya sendiri dengan dalih ingin mandiri.


Bagus memang,,, patut diacungi jempol empat bahkan. Tapi kalau bukan dia yang kuserahi semua ini,,, lantas siapa?? Hanya dia yang kumiliki sebagai penerus kerajaan bisnisku.


"Tapi Jik,,," istriku, Dayu terdengar tidak terima dengan keputusanku namun segera ku minta untuk diam dan tidak menyela.


"Biang,,, Kasta hanya gelar dari manusia untuk manusia,, di depan sang Maha Pencipta,,, tidak ada yang namanya kasta. Semua sama Biang. Harta juga hanya titipan,,,bisa diambil dan hilang sewaktu waktu. Tapi putra kita,,, selamanya akan terikat pada kita. Jangan karena sebuah kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahannya,,, kita menghukumnya." ujarku menasehati istriku.


Dayu tidak begitu saja bisa menerima ucapanku. Terlihat dari wajahnya yang masam.

__ADS_1


Ah istriku itu memang bukan wanita dengan latar belakang pendidikan yang tinggi. Karenanya kadang perkataan demikian sulit ia cerna. Aku menikahinya tanpa syarat dulunya. Tanpa memandang gelar atau pun hartanya atau pendidikannya.


Saat itu aku hanya jatuh cinta padanya. Dan berbekal cinta itulah ku bawa ia dalam kehidupan bergelimang harta. Cinta itu memberiku semangat untuk menghidupinya dengan selayaknya. Cinta itu menjadi motivasi untukku tetap berkarya dan memperlebar sayap kerajaan bisnisku.


"Biang,,, tidak baik menggolong golongkan manusia seakan kita ini yang paling tinggi. Kita semua sama. Bukan apa apa di hadapan sang Pencipta. Di dunia ini kita bukan rajanya. Kita semua sama sama hanya sebagai hambaNYA." ujarku lagi.


"Tapi Biang malu Jik. Apa kata orang nanti kalau Dewa menikah karena menghamili anak gadis orang? Lebih buruknya lagi kalau mereka tau bahwa anak itu malah bukan anak Dewa. Seperti sudah tidak laku saja kan anak kita. Mau maunya jadi tumbal penutup aib perempuan nakal itu." seru Dayu.


"Biang,,, sebagai seorang yang mengaku dan selalu menjunjung sebuah kasta, Ajik rasa ucapan Biang barusan malah menunjukkan betapa rendahnya diri Biang sebenarnya." sindirku membuatnya terdiam.


Maaf istriku sayang,,, terkadang jika istri sudah keterlaluan, suami patut mengingatkan. Jika tak bisa dengan bahasa yang lembut, maka tak apa dengan sedikit sindiran pedas.


"Kalau memang ada yang menghinanya kelak,,, jawab saja dengan lantang. Memangnya kalian yang menghina putraku ini bisa dan mampu melakukan hal mulia seperti ini?? Tanyakan saja balik kepada mereka seperti itu." aku kembali mengajarinya.


Dayu mengangguk perlahan. Tampak dari raut wajahnya, ia menyesali sikap dan bicaranya tadi.


"Jadi Biang setuju kan putra kita menikahi Nada?" tanyaku memastikan.


"Biang hanya ingin Dewa dapat yang terbaik Jik. Jika memang Nada adalah pilihan terbaiknya, maka Biang akan berusaha keras menerimanya menjadi anggota keluarga kita. Selama ia bisa memberikan kebahagiaan pada putra kita, maka Biang rela dan setuju."


"Biang." putraku tak dapat menahan lagi tangisnya dan langsung merangkul tubuh wanita yang telah melahirkannya.


"Terima kasih Biang." lirih Dewa disambut dengan anggukan dan pelukan hangat sang bunda.


"Bawa Nada kesini. Kita atur secepatnya pernikahan kalian." titahku yang langsung diiyakan oleh Dewa.


...🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


...bersambung,,,...


__ADS_2