I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Trauma


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku ...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Nada🌸


“Terima kasih untuk hari ini ya bang Martin. Oh ya, ini nasi untuk bang Martin.” Ucapku seraya menyerahkan sebungkus nasi yang sengaja ku beli untuknya sebagai ucapan terima kasihku padanya.


“Walah Nad, kok repot repot sih? Abang kan nganterin kamu ikhlas dan dengan senang hati. Abang gak ngarep dibalas begini.”


“Diterima aja bang. Mubazir kalau ditolak kan? Ini namanya rejeki.”


Entah lelaki yang berbeda agama denganku itu paham atau tidak dengan kata kataku, namun ia mengiyakannya. Kurasa semua agama mengajarkan umatnya untuk tidak menolak rejeki. Jadi aku yakin ia paham juga.


“Ya udah kalau begitu. Abang terima ya. Terima kasih banget lho. Kamu tau aja abang masih ngirit buat beli makan hehehe,,,”


Aku tergelak karenanya namun bibir ini langsung menciut begitu mataku menangkap sosok yang sangat ku kenali tengah berjalan mendekat dengan wajah masamnya.


“Sudah dapat jualan belum?” tanyanya ketus tanpa senyum.


“Eh busett ne anak main nyamber aja. Tanya dulu dong ini kami dari mana saja.” Martin yang protes, bukan aku.


Dewa tidak menjawabnya tapi hanya menatapnya tajam. Tatapannya terasa mengintimidasi sekaligus mengusir.


Aku yang tidak ditatap saja bisa merasakan atmosfernya, apalagi bang Martin?


“Iya deh gue cabut." seru Martin kemudian, tuh kan benar dugaan dan perasaanku. Tatapan itu memang mengusir.


"Oh ya Nad, jangan sungkan sungkan panggil abang kalau butuh bantuan lagi ya.” Ujar Martin sebelum menyingkir dari sana.


Aku hanya balas senyum dan anggukan meski dalam hati ini juga tak berencana atau ingin meminta bantuannya lagi. Bagaimana pun, aku tak ingin terus bergantung kepada orang lain terus. Aku ingin belajar mandiri.


“Maaf, aku belum bisa menjual bajumu satu pun. Aku,,,A,, Aku gak punya kontak atau channel yang bisa ku tawari.” Ku tundukkan wajah ini hanya demi menghindari tatapan tajam itu.


“Kenapa tidak bilang dari awal? Kenapa mengiyakan? Kenapa tidak minta tolong? Kenapa tidak bertanya padaku? Kenapa malah jalan jalan sama Martin yang jelas jelas juga gak bisa kasih kamu solusi untuk masalah ini?”


Pertanyaan bertubi tubi itu membuatku tergagap dan kepalaku seketika pusing memikirkan serta mengurutkan jawabannya.


“Jawab!!! Kenapa malah pergi sama Martin? Kan seharusnya yang kamu ajak pergi itu aku. Aku bisa kenalkan kamu dengan beberapa sahabat atau saudara saudaraku dan meminta mereka membeli darimu. Dasar gak bisa menempatkan diri.” sungutnya.

__ADS_1


Aku melongo mendengarkan omelan yang ujung ujungnya adalah menjadi sebuah kalimat protes atau bisa ku bilang itu kalimat iri. Dia ingin dirinya yang diajak, bukan bang Martin.


Ah lucunya kalau orang dingin dan gengsian menginginkan sesuatu. Gak bisa langsung to the point saja apa ya hehehe,,,


“Kenapa senyum senyum? Ada yang lucu?” sengitnya kesal dan membuatku berhenti senyum senyum.


“Nih. Jangan ngomel ngomel mulu ntar makin dicap sadis sama anak anak kost di sini.”


Ku ulurkan saja sebungkus nasi yang sebenarnya juga sudah kusediakan untuknya. Aku memang berniat membayar hutang nasiku kepadanya ketika dapat uang jual kalung mama tadi.


"Apa ini??" Dewa menerimanya dengan wajah bingung.


“Temani aku makan bisa?” tanyaku sopan.


“Ogah!!!” sahutnya sambal beringsut pergi menuju ke kamar Martin.


Dihhh nih orang yaaaa,,, mana nasi yang kuberi tetap dibawa pergi juga. Woy nasi mana woyyy,, kalau gak mau balikin juga dong nasinya,,


Bertemu dengannya selalu sukses membuatku geregetan sampai ke ubun ubun. Akibatnya aku jadi makan dengan rakus demi meluapkan emosiku. Untungnya makanan ini benar benar enak jadi setidaknya walau makannya disertai emosi, tetap saja merasakan nikmatnya makanan ini.


🌸Pov Dewa🌸


“Busett dah,,, Walau lo pemilik kost ini, bukan berarti lo bisa main masuk kamar gue tanpa permisi dong tuanku Dewa yang terhormat dan tersadis.”


“Nah bukannya jawab atau minta maaf malah senyum senyum sendiri. Dasar aneh!!!” gerutunya lagi.


“Eh eh,, gue mau tanya nih sama lo. Jawab jujur!!” serunya lagi lalu ikut berbaring di sebelahku.


“Apaan?” tanyaku cuek.


“Lo beneran udah waras?”


“Lo tuh demen banget buat gue sewot. Lo pikir gue gila selama ini?”sewotku.


“Lah apa dong namanya kalau gak gila? Lima apa enam tahun lo menutup diri dari dunia pergadisan demi hidup dalam bayang bayang dan imajinasi lo sendiri. Gue udah sering ingatkan lo bahwa Maharani tuh udah gak sama sama kita lagi tapi lo nya selalu bilang dia ada kok,, ada kok,, sampai lo gak mau lanjut hidup di alam nyata ini. Sampai lo jadi manusia terbeku sekutub selatan.”


Nafas Martin sampai tersengal sengal mengatakannya. Martin adalah salah satu orang dan sahabat baikku yang tau kisah kasihku dengan Maharani. Ia yang sudah lama kost di sini juga mengenal Maharani dengan baik. Ia juga tau betapa terpuruknya aku ketika berita yang sama sekali tak ingin ku dengar itu dipaksakan masuk ke telinga dan otakku.


“Salah gak sih kalau gue jatuh hati pada gadis lain sekarang?”lirihku tanpa menjawab atau mengomentari apa pun celotehannya tadi.


“Tergantung!!” jawabnya asal.


“Tergantung apa?” tanyaku balik penasaran.

__ADS_1


“Sama siapa lo jatuh hatinya lah. Kalau sama Sandrina cewek gue ya salah besar, kalau sama Biang lo atau ibunya Maharani apalagi.Udah pasti salahlah.”


Buukkk,,,


Ku lempar spesies menyebalkan itu dengan bantal guling tepat di kepalanya dengan harapan isi kepalanya itu bisa cair dan bisa diajak berpikir. Ya kali aku jatuh hati sama Sandrina atau pacar pacarnya yang lain dan Biang atau ibunya Maharani.


Mengada ada banget kan tuh makhluk?


“Ya terus sama siapa dong?” gerutunya sambal mengusap usap kepalanya.


“Oh gue tau!! Sama Nad mmmpphhhh,,,,” serunya lagi dan langsung ku sumbat mulut lebarnya itu dengan selimutnya.


“Apaan sih?” protesnya begitu terbebas dari sumbatanku.


“Dikontrol suaranya!!” seruku.


“Jadi benar??” dia mendekatiku dan agak berbisik dengan wajah menyelidik membuatku gemas untuk tak mengusap kasar wajahnya itu.


“Gue gak yakin. Apa dia layak untuk menggantikan Maha. Gue gak tau seluk beluknya. Asalnya. Keluarganya. Dan apa masalahnya.” Lirihku yang terdengar putus asa.


“Dekati saja dulu. Kenali baik baik. Nada itu gadis baik baik kok. Dia juga bilang masih single. Hanya saja sepertinya dia butuh bantuan saat ini. Gue baru habis antar dia ke toko emas buat jual kalung peninggalan ibunya. Kasihan dia nangis tadi tapi mau gimana lagi? Gue juga gak bisa bantu. Mungkin lo yang bisa bantu dia lagi. Tapi ubah sikap lo. Jangan terlalu dingin dan sadis. Satu lagi,," ucapannya terhenti.


"Apa??"


"Jangan sampai keduluan gue dapetin dia.” kekehnya kemudian.


“Awas aja lo berani nyerobot gue. Gue usir lo dari sini.” ancamku.


“Uuuhhh,,, sadisnya. Ampuni hamba sahayamu ini tuan muda yang tengah jatuh cinta.” Martin malah mengolok olokku.


Ini nih gak sukanya kalau spesies ini tau apa yang kupikirkan atau yang terjadi di hatiku.


“Mau gue comblangin lagi kayak lo sama Maha dulu?” tanyanya menawarkan jasa sebagai tukang comblang.


“Gak!!” tolakku tegas.


Aku ingin berusaha sendiri. Aku takut kalau mengulangi ritual comblang comblangan ala dirinya, nantinya berakhir tragis lagi. Aku yang masih trauma ini makin trauma karena Nada benar benar mirip Maharani.


Aku tak kehilangannya lagi untuk kedua kali.


...🌸🌸🌸🌸...


...bersambung...

__ADS_1


__ADS_2