I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Hati Oh Hati


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Nada🌸


Meski lelah melanda raga,,, ternyata Sulit rasanya memejamkan mata di tempat baru dengan suasana hati yang tidak nyaman. Himpitan rasa bersalah karena adanya tuntutan kewajiban istri yang tidak bisa ku tunaikan. Meski kak Dewa tidak menuntut, tapi tetap saja terselip rasa bersalah dalam hati.


Hati oh hati,,, apa sih maumu?


Diajak kerjasama untuk melakukan tugasku sebagai istri, kamu menolak. Tapi ketika harus Memilih tetap memegang janji pada si pemilik hati yang sebenarnya,,, kamu merasa tidak enak hati pada yang sudah membuka hati.


Dilema banget sih kamu, hati oh hati,,,


Ku lirik kak Dewa yang tampaknya sudah tertidur pulas. Dia pasti juga kelelahan setelah rentetan acara pernikahan kami. Malah pastinya lebih lelah dariku karena jauh sebelum hari H dia juga sudah disibukkan dengan urusan persiapan pernikahan. Tak heran kalau sekarang tubuh kekarnya luruh juga.


Pelan pelan ku bangunkan diri ini. Memilih duduk tanpa bersuara. Aku tak mau sampai berisik dan membangunkan kak Dewa. Ku lewati waktu dengan memandang sekeliling kamar yang begitu wangi oleh aroma bunga bungaan yang bertabur di ranjang namun tetaplah berasa kamar yang asing di jiwaku. Semua perabotan tertata rapi menandakan penghuninya adalah orang yang tidak suka berantakan. Kak Dewa memang begitu orangnya.


Pandanganku kemudian memindai setiap inci ruangan ini. Tak ku temukan sama sekali foto Maharani, perempuan yang hampir dinikahi kak Dewa. Sepertinya kak Dewa sudah memindahkan semua tentang perempuan itu. Hanya demi gadis tidak tau diri ini.


Ku usap kain penutup ranjang yang halus dan adem ini. Lagi,,, aku merasa bersalah dan tak tau diri. Seharusnya ranjang ini milik Maharani dan kak Dewa. Bukan milikku. Seharusnya yang terbaring di sini adalah wanita yang lebih mencintai kak Dewa daripada aku.


Memikirkan itu membuat aku kembali menatap sosok yang terbaring di sofa. Rasa iba melihat tubuh lelahnya meringkuk di sofa yang panjangnya tak melebihi tinggi tubuhnya. Ingin membangunkannya dan menyuruhnya pindah ke ranjang tapi pasti dia menolak. Yang ada kami malah akan berdebat dan itu artinya aku hanya mengganggu tidurnya.


Ku beranikan diri berusaha bangkit dari dudukku lalu turun dan berjalan mengendap endap mendekati kak Dewa. Semakin dekat semakin bisa ku dengar suara dengkuran halusnya.

__ADS_1


Kak Dewa tidurnya pulas sekali. Ah ia pasti benar benar lelah,,,


Ku benarkan letak selimut yang tak menutup sempurna. Kasihan kakinya tidak tertutup. Di ruangan dingin ber Ac ini, ia bisa saja masuk angin kalau begitu caranya memakai selimut. Setelah benar posisi selimut, ku pandangi wajah teduh dengan mata terpejam itu lama lama.


Baru kali ini aku berani menatapnya lama dan jelas begini. Dirinya yang sama sekali tak bergerak dan terus intens mendengkur membuatku tidak takut kepergok tengah mengamati dirinya.


Alis yang tebal, hitam,,, Hidung mancung,,, wajah bersih,,, rambut lurus yang hitam alami,,, Bahkan saat mahkluk ini tertidur pun ia punya pesona. Tak heran kalau banyak wanita mengharapkan dirinya.


Tuhan,,, kenapa ciptaanMU yang satu ini sungguh sempurna? Makhluk ini tak hanya tampan rupa tapi juga tampan hati.


Ah,, kalau dipikir pikir bukan begitu pertanyaan yang seharusnya ku lontarkan pada Tuhan. Pertanyaan yang benar adalah,,, Tuhan, kenapa makhluk sesempurna ini malah Engkau jodohkan dengan makhluk hina penuh aib ini?


Tidak pantas. Aku sungguh merasa tidak pantas bersanding dengannya.


"Auwh" aku mengaduh pelan ketika ku rasakan bayi dalam kandunganku bangun dan menendang keras dinding rahimku.


"Tapi nak,,, Dia bukan,,,Auuuwwwhhh,,, Auuuwhhhh,,,," aku sampai harus menutup mulutku agar tak bersuara dan membangunkan kak Dewa.


"Iya iya,,, maafkan ibu. Dia ayah kamu. Yang sangat menyayangimu dan ibu. Ibu akan belajar menjadi istri yang baik untuk ayahmu ini."


Bak mendapat paksaan dari sang bayi, aku jadi membuat pernyataan seperti itu. Dan anehnya,,, gerakan bayi ini memelan. Tak lama kemudian makin tidak terasa. Sepertinya ia benar benar menyayangi ayah barunya ini.


Om Ody,,,maafkan Nada. Bukan Nada tidak pernah mengajari anak kita cara untuk mencintaimu om tapi anak ini memang butuh kasih sayang dan perlindungan dari sosok ayah,,,Sama sepertiku dulu.


Kak Dewa bergerak dan itu membuatku sedikit tersentak. Untungnya ia hanya membalikkan badan yang semula menghadap ke sandaran sofa,,, kali ini menghadap ke arahku. Ku goyang goyangkan tanganku di depan matanya namun ia tak merespon. Kak Dewa masih tidur.


Kembali ku betulkan letak selimut yang berubah karena pergerakannya barusan. Kemudian memberanikan diri mengusap pipinya dengan sentuhan yang mengambang.


"Terima kasih kak atas semuanya. Bayi ini sangat menyayangimu. Karenanya,,,demi dia dan kakak,,,aku akan berusaha." lirihku pelan.

__ADS_1


Puas memandanginya,,, aku kembali berjalan mengendap kembali ke ranjangku. Kembali merebahkan tubuh lelahku. Mulai mencoba memejamkan mata ketika himpitan rasa bersalah sedikit mereda setelah hati bertekad akan berusaha.


Hati oh Hati,,, Jangan plin plan lagi.


🌸Pov Dewa🌸


Ku buka mataku saat Na sudah berbaring kembali ke tempat tidurnya.


Terima kasih Na,,, istriku sayang. Begini saja sudah cukup. Na membetulkan selimut kakak, rasanya sudah sebagai bukti bahwa harapan itu ada. Kakak hanya harus bersabar menunggu sampai cinta itu hadir dalam relung hati Na.


Bukan tidak tau ketika Na belum tidur. Aku sengaja pura pura tidur agar tau kalau malam Na suka melakukan apa. Bukan tidak percaya padanya,,,melainkan perhatian dan ingin mencari tau apa yang bisa kulakukan untuknya di kemudian hari.


Kalau aku bertanya langsung,,, tentu Na hanya akan diam atau memilih tak memberitahuku.


Aku tau saat ia duduk,,, kemudian berjalan mengendap. Meski tubuh ini membelakanginya, tapi cinta yang begitu membara ini membuat panca inderaku seolah menajam. Aku bisa merasakan kehadirannya hanya dari aroma tubuhnya. Aku bisa merasakan ia semakin mendekat dengan hanya mengandalkan detakan jantung yang makin cepat.


Puncaknya,,, saat Na membetulkan selimutku dan mengusap wajahku. Rasanya ingin langsung membuka mata dan membawanya dalam pelukan. Tapi aku menahannya sekuat tenaga. Aku tak mau membuatnya malu ketauan menyentuhku diam diam.


Na,,, selimut ini tidak akan kakak cuci agar aroma tangan Na tidak hilang. Selimut ini adalah saksi bisu di mana Na menunjukkan cinta Na pada kakak. Meski hanya perhatian kecil,,, kakak anggap ini adalah cinta.


Lalu bagaimana dengan wajahku yang sudah dibelainya lembut meski mengambang dan malah membuat bulu bulu halus wajahku meremang??


Boleh gak aku gak usah mandi?? Takut bekas sentuhan Na luntur hehehehe,,,,


Hati oh Hati,,, Kenapa jadi begini? Sekalinya memilih tak bisa lagi beralih.


...🌸🌸🌸🌸...


...bersambung,,,...

__ADS_1


__ADS_2