
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Nada🌸
Selesai!!
Aku puas mengerjai mahkluk aneh itu. Sudah ku ganti kembali foto profilku menggunakan foto hasil screen shoot dari gugel kesukaanku. Jujur,, semua foto fotoku sudah kuhapus. Karenanya aku gak punya bahan foto untuk dipajang di profilku.
Rebahan lagi ah,,, Namun baru saja akan kembali rebahan,,, ponselku berbunyi.
Pesan masuk dari si aneh,,,
"Kembali pasang foto kita dan Jangan gonta ganti foto lagi atau aku usir kamu dari kost ini?? Jangan kira aku gak bisa melakukan hal itu kepadamu!!"
Mataku membulat sempurna. Aku pandai mengeja dan membaca jadi aku paham betul arti dari kata usir itu. Itu artinya adalah buruk dan akan makin memperburuk keadaanku.
Uangku sudah habis dan hanya kamar ini tempatku berlindung dari panas dan hujan. Dari siang dan malam. Nah kalau aku diusir???
Tidak,,,!! Aku gak siap jadi gembel!! Gembel karena ganti foto profil dan diusir dari kost itu gak lucu!!
Ku tutup wajahku dengan kedua tanganku. Membayangkannya saja sudah membuatku takut. Karenanya, secepatnya ku ganti kembali dengan foto kami berdua hasil jepretannya tadi.
"Anak pinter." sebuah emoji jempol tangan menyertai pesan darinya begitu profil terganti.
Huuuuuhhh,,, aku geregetan!!! Ingin melawan tapi tak berdaya. Tunggu saja nanti ya kalau aku sudah punya uang. Aku akan pindah kost!! Gak mau aku kost ditempat dengan pemilik aneh ini!!!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
🌸Pov Author 🌸
__ADS_1
Ibu Dayu masuk ke rumah selepas menyelesaikan persembahyangannya. Beliau menatap heran kepada putranya yang duduk di taman samping rumah. Di tepian kolam renang itu, Dewa, putra semata wayangnya tengah senyum senyum sendiri.
Lelehan airmata jatuh membasahi wajah ibu Dayu. Sudah lama ia tak melihat putranya itu tersenyum. Sudah lima tahun yang lalu tepatnya putranya itu terakhir menyuguhkan senyumannya sejak peristiwa buruk itu.
Kini senyum itu kembali terukir.
Ibu Dayu ingin tau,,, hal apa yang telah mengembalikan senyum putranya itu? Siapa yang sudah berhasil melengkungkan bibir itu?
"Dew,,," sapa ibu Dayu setelah mengusap airmatanya.Bagaimana pun beliau tak ingin putranya melihatnya menangis.
"Biang? Ada apa?" tanya Dewa yang kaget oleh kehadiran ibu Dayu.
"Gak apa apa. Biang hanya senang melihatmu tersenyum kembali. Teruslah seperti ini nak. Biang merasa hidup kembali melihatmu tersenyum begini." ibu Dayu mengusap bahu Dewa lalu berlalu meninggalkan Dewa sendirian kembali di tepian kolam itu.
Dewa terdiam. Ia tak pernah menyalahkan ucapan Biangnya itu. Wajar jika seorang ibu ikut merasakan kepedihan putranya.
"Maharani,,, Sudah 5 tahun semenjak kamu pergi. Aku selalu membuat Biang sedih. Tapi semenjak gadis itu datang,,, ia membuatku merasa seolah melihatmu,,, kekasihku yang sudah lama pergi dan kini telah datang kembali. Kamu sudah pulang Maha. Dia begitu mirip denganmu Maha. Maafkan aku Maha,,, Bukan niatku ingin membagi hati dan cintaku tapi kehadirannya membuatku merasa kamu kembali hidup."
Dewa mengusap usap layar ponsel yang memperlihatkan wajah cantik tersenyum dan tangannya menunjukkan sebuah cincin melingkar di jari manisnya.
Maharani yang berprofesi sebagai seorang pramugari dinyatakan sebagai salah satu korban meninggal dari terjatuhnya pesawat komersil yang selama ini menjadi kendaraan terbangnya.
Kecelakaan itu terjadi tepat sehari berselang dari hari pertunangan mereka. Dewa bagai kehilangan nyawa mendengar kabar duka itu. Wanita tercintanya telah terbang jauh meninggalkannya dan tak akan pernah kembali.
Hingga hari itu tiba,,,
Gadis polos dan lugu yang datang untuk menyewa kamar yang dulunya juga disewakan dan ditempati oleh Maharani. Maharani yang merupakan kekasih hati Dewa itu rupanya dulu juga adalah salah satu anak kost ibu Dayu. Kamar kost Maharani yang dulunya tidak pernah boleh disewakan,, entah kenapa kali ini memang niat untuk disewakan.
Dan datanglah dia,,, Gadis bernama Nada.
"Dia membawa senyuman yang sama seperti milikmu Maha. Dia juga aneh sepertimu. Dia suka membantah sepertimu. Dia seperti kucing kedinginan yang selalu butuh untuk dilindungi dan dihangatkan. Persis sepertimu dulunya saat kamu pertama kali datang padaku." kenang Dewa.
Sesaat ia tersenyum mengingat tingkah Nada yang mengingatkannya pada sosok Maharani, namun kemudian airmata pun menetes dan turut menghiasi mengingat buruknya tragedi.
"Maha,,, Apa kamu marah kalau aku membuka hati kembali? Apa kamu akan terluka disana melihatku menemukan penggantimu??"
__ADS_1
"Tidak nak. Maharani justru akan sangat bahagia di sana. Justru kalau kamu terus hidup dengan dukamu untuknya, Maharani putriku malah akan senantiasa tidak tenang nak."
Suara itu mengejutkan Dewa.
"Ibu?? Kapan datang? Kenapa gak minta Dewa jemput ibu?" Dewa menyeka airmatanya lantas menyalimi tangan wanita yang dipanggilnya ibu itu.
Ibu Saraswati, ibunda dari Maharani yang sering datang menengoknya atau lebih tepatnya melihat perkembangan pemuda yang semula adalah calon menantunya namun kini sudah ditinggal pergi oleh putrinya itu.
Ibu Saras turut merasakan kepedihan Dewa dan calon besannya yang selalu berharap putranya itu bisa kembali hidup normal.
"Sudah lima tahun nak. Maharani putri ibu tidak akan pernah menyalahkanmu. Kamu masih hidup dan harus tetap melanjutkan hidupmu. Biarlah putri ibu yang menanggung takdir hidupnya yang singkat. Ibu yakin ia sudah mendapat tempat terbaik di sisiNYA. Tapi ibu mohon kepadamu nak,,, Jangan ciptakan kesedihan berkepanjangan untuk Maharani. Jangan beratkan langkahnya menuju ke penciptaNYA. Bahagiamu adalah jalan terang baginya."
Ibu Saras menitikkan airmata sambil mengusap usap wajah Dewa. Betapa besar keinginannya menjadikan lelaki muda itu sebagai menantunya namun takdir memaksanya untuk memupus keinginan itu.
"Terima kasih atas cintamu pada putri ibu. Tapi nak,,, Maha sudah kembali pada pemilikNYA. Relakan dia. Kamu berhak untuk bahagia. Kamu anak baik." lanjutnya kemudian disusul dengan pelukan hangat Dewa.
"Ibu." Keduanya bertangisan diikuti oleh ibu Dayu dan suaminya yang menyaksikan dari jauh.
"Biang yang telpon ibu Saras?" tanya Ajik. (Ajik adalah sebutan ayah untuk orang berkasta di Bali).
Ibu Dayu mengangguk perlahan.
"Biang tadinya senang melihat Dewa tersenyum. Tapi kemudian Biang sadar, Dewa akan kembali murung kalau ia terus menganggap bahwa senyumnya itu akan membuat Maharani bersedih. Karenanya Biang telepon ibu Saras. Biar ibu Saras yang meyakinkan bahwa apa yang dipikirkannya selama ini, tidaklah benar." ujar ibu Dayu.
"Tapi apa ini tidak terkesan kalau kita mementingkan kebahagiaan putra kita saja Biang?" tanya Ajik.
"Biang rasa ibu Saras tidak pernah punya pikiran demikian Jik. Ibu Saras mengerti ini semua di luar kuasa dan kendali kita sebagai mahklukNYA. Kepergian Maharani juga atas takdirNYA. Bukan kehendak kita."
Ajik memeluk ibu Dayu. Membiarkan wanita itu menumpahkan kepedihan hatinya selama lima tahun belakangan ini tiap kali melihat putranya bagai tubuh tak berjiwa.
"Dewa tetap anak ibu walau Maha sudah pergi. Siapa pun pendampingmu kelak,,, kamu tetap menantu ibu. Ibu ikhlas begitu juga Maha." lirih ibu Saras dengan lelehan airmata bahagia mengetahui bahwa sang calon menantu mulai menemukan bahagianya.
Dewa tak kuasa berkata kata. Ia hanya memeluk wanita itu erat erat.
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
...bersambung,,,...