
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku ...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Dewa🌸
Apa aku mimpi? Na memintaku memeluknya?
Diam. Beku. Bengong. Itu yang pertama kali diri ini lakukan ketika kedua telinga tidak salah dengar. Na minta aku peluk? Bodohnya aku isi bengong segala.
Bukankah ini awal yang bagus untuk kisah kami?
Segera diri ini memberikan pelukan terbaik untuknya. Ku biarkan saja tangisnya pecah dalam dekapanku. Kubiarkan kaos yang mulai terasa basah oleh airmatanya. Ini belum seberapa. Na akan tau betapa besar cinta ini untuknya.
Jantungku? Apa kabar? Jangan ditanya juga. Jantungku menggila. Berdekatan dengan Na sepertinya tidak baik untuk jantungku karena detakannya menjadi lebih cepat. Namun jantung boleh berlompatan, yang penting hati makin mencinta.
Terbunuh oleh cintaku padanya pun tak mengapa. Aku rela asal Na bahagia. Asal anak kami kelak tak akan pernah dikucilkan.
"Na,,, boleh kakak sentuh perut kamu?" tanyaku ketika kurasa detak napas Na mulai beraturan. Sepertinya tangisnya telah mereda.
"Boleh kak." ujarnya lirih nyaris tak terdengar.
Gemetar rasanya jari jemari ini ketika perlahan makin mendekati pelindung dari calon anak kami. Bahkan bisa kurasakan jemariku makin gemetar ketika perlahan kurasakan ada yang bergerak gerak di sana.
Ku tarik cepat karena terkejut namun aku kembali mengulanginya. Semakin lama kenapa rasanya membahagiakan. Sepertinya jagoan kecilku menyambut kehadiranku.
Na melepaskan dirinya dari pelukanku. Mungkin sudah cukup baginya. Tak apa. Aku tak akan memaksanya. Akan kuberikan semua secukupnya. Kini aku memilih turun dan duduk di lantai agar bisa beralih mendekatkan wajahku ke perutnya. Ku beranikan diri menempelkan telingaku di perut Na.
Tidak ada penolakan dari Na membuatku senang dan merasa diterima. Begitu telinga ini menempel sempurna,, aku merasa akulah calon ayah terbahagia di dunia ini.
Siapa pun disana,,, pemilik sesungguhnya bayi ini,,, Maafkan aku jika aku mengambil apa yang menjadi hakmu. Maafkan aku jika kebahagiaan yang semestinya kamu rasakan,,, kini malah aku lebih dulu rasakan.
__ADS_1
Kalimat itu kutujukan bagi seorang pria nan jauh di sana yang tak pernah kukenal dan sepertinya hanya akan selalu berada dalam hati Na. Pria yang seharusnya saat ini melakukan apa yang kulakukan terhadap Na. Tapi karena Tuhan lebih memilihku daripadanya sebagai penjaga Na,,, Maka akan kulakukan sebaik mungkin.
"Hai jagoan,,, Ini ayah Dewa. Ayah janji,,, ayah akan menyayangimu dan ibu. Ayah akan jadi pelindung terbaik kalian. Cepatlah lahir ke dunia ini agar Ayah bisa segera menimangmu. Agar dunia dan hidup ayah makin berarti. Terima kasih telah hadir dalam rahim ibu." bisikku pada perut itu.
Namun bisikan yang tentu masih bisa didengar oleh Na itu membuat kepalaku terasa basah. Na menangis. Mungkin terharu mendengar ucapanku. Tetap kubiarkan dia meluapkan segala rasanya. Aku tetap menempelkan wajahku pada perutnya dan tanganku pun melingkar di pinggang yang tidak ramping itu.
Untuk beberapa saat kami sama sama terbuai dengan perasaan masing masing sampai abai dengan beberapa tetangga kost Na yang mungkin melihat adegan ini.
Biar saja,,, biar mereka makin percaya bahwa jagoan kecil ini memang milikku. Biar makin tak ada yang berani menghina kehadirannya kelak.
Jagoan ayah,,, ayah rela nama ayah yang dihina. Tapi ayah tidak akan pernah rela jika kamu dan ibu yang dihina. Kalian adalah permata hati ayah.
Sebuah gerakan halus kembali terasa dan kuanggap itu adalah jawaban atas apa yang kukatakan dalam hati. Jagoanku merespon dan itu sungguh menjadi sebuah rasa yang sulit kuungkapkan bagaimana rasanya.
Bahagia yang terlalu bahagia itu bagaimana deskripsinya?? Ada yang bisa bantu jelaskan??
Setelah merasa cukup berbincang dengan anak kami dan kurasa tangis ibunya juga sudah berhenti, aku kembali duduk di samping gadis pujaan hatiku.
"Terima kasih kak."
"Terima kasih sudah mau menantikan kehadirannya." lirihnya dengan menunduk.
Aku paham apa maksudnya. Selama ini aku tau, dalam diamnya, Na punya ketakutan besar jika anak ini lahir. Na pasti cemas kalau dunia ini menolaknya.
Aku tak punya rangkaian kata yang lebih indah lagi. Kupilih untuk kembali mendekap tubuhnya. Sudah lama tak bersentuhan dengan gadis mana pun rupanya mendatangkan Getaran aneh yang kurasa mulai menguasai otak dan jiwaku. Harus kuhentikan sebelum aku merasakan sensasi yang lebih jauh lagi.
Aku harus menahan diri. Bagaimana pun aku tak ingin memaksa Na. Bila ia belum siap,,, maka aku akan menunggu. Bila tak kunjung siap pun,,,maka aku masih punya ribuan kesabaran lainnya untuk menunggu.
"Na,,, Kita pergi yuk." ajakku demi mengalihkan kejaran rasa aneh dalam dada.
"Kemana kak?"
"Kita bisa ke tempat pemesanan kebaya pengantin untuk fitting. Kita juga bisa ke gedung gedung yang sudah dipilihkan oleh Ajik untuk kita pilih salah satunya sebagai tempat resepsi pernikahan kita."
"Kak,,apa kakak yakin? Kakak gak malu dengan kondisiku ini? Apa tidak bisa kalau pernikahan kita dibuat sederhana saja dan di rumah saja?" tanyanya pelan mungkin takut menyinggungku.
__ADS_1
"Justru kakak mau seluruh dunia tau siapa istri kakak. Jangan cemas urusan jagoan kita. Kan memang dia kebanggaan kita. Biar saja seluruh dunia juga tau sebentar lagi dia akan hadir di dunia ini."
"Tapi kak,,,"
"Semua akan baik baik saja Na. Percaya sama kakak."
Akhirnya Na mengangguk. Kubantu gadis yang mulai susah bergerak itu untuk bisa berdiri. Lalu kubimbing ia menuju ke mobil yang sudah kuparkir di halaman kost tadi. Dengan perut yang makin membesar sangat tidak memungkinkan bagiku membawanya naik motor lagi.
Keselamatannya dan bayi kami termasuk deretan prioritasku.
🌸Pov Martin🌸
Tak terasa airmata ini jatuh juga melihat sepasang muda mudi yang tengah berjalan menuju ke mobil itu. Dewa dan Nada,,, akhirnya pernikahan keduanya di depan mata.
Mungkin akulah yang paling bahagia saat ini. Aku merasa lega karena Nada adikku mendapatkan penjaga terbaiknya. Dewa bisa kuandalkan. Aku terlalu tau bagaimana sifat dan watak lelaki itu.
"Dih enak banget si Nada. Bisa kawin sama orang kaya. Kok aku gak yakin ya itu anaknya Dewa. Pasti Nada yang menjebaknya."
Sebuah suara yang akrab ditelinga membuat tangisan bahagia ini berubah jadi emosi. Segera aku keluar untuk memaki yang sudah bicara itu. Hati ini begitu tak terima Nada dibilang menjebak Dewa meski memang benar bayi itu bukan hasil perbuatan Dewa.
"Heh tukang ghibah,,, Kapan sih kualatnya?? Lama banget sih karma datang. Pingin banget gue lihat lidah lo tuh kesamber geledek." ceracauku.
Selly,,, tetangga kost yang memang sedari dulu terang terangan naksir dan ngejar ngejar Dewa langsung diam dan melirikku dengan pandangan sinisnya.
"Udah dapat jatah juga ya kok jinak banget sama Nada??" sindirnya.
"Waaah ini baskom pecah ya,,, emang suka ngalir kemana mana. Gue tambal juga tu mulut ya." sungutku.
"Ban bocor keles ditambal. Huuuhhh,,," ujarnya dan untungnya ia memilih segera masuk ke kamarnya lagi sehingga aku tak perlu lagi sahut menyahut gak penting dengannya.
Bikin tambah dosa saja.
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,...
__ADS_1