
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku ...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Author🌸
"Keluarga pasien Nada??" seorang suster keluar dari ruang tindakan dan meneriakkan kalimat tersebut.
"Saya!!" Sontak kedua insan yang sama sama merasa menjadi keluarga terdekatnya berdiri bersamaan.
Lalu keduanya saling pandang. Dewa memandang dengan penuh tanya.
"Maaf. Om lupa keponakan om sudah menikah. Silahkan." Ody memilih mundur dengan perasaan tidak rela.
Bagaimana ia bisa rela jika wanita yang dicinta dan dirindui selama ini, kini setelah ditemukannya malah bukan lagi menjadi haknya. Bahkan untuk tau apa yang terjadi pun ia tidak bisa serta merta maju. Nada sudah ada suaminya.
Dewa yang merasa paling berkuasa atas diri Nada pun menghampiri suster.
"Bagaimana keadaan istri dan calon anak saya sus? Mereka baik baik saja kan?? Tidak terjadi apa apa kan?" tanya Dewa dengan cemas.
"Biar dokter yang menjelaskan di dalam ya. Mari ikut saya." suster yang memang memanggil hanya dengan tujuan mengajak keluarga pasien masuk, tidak ingin melangkahi dokter.
Dewa mengangguk sebelum masuk dan sempat menoleh ke arah Ody. Ody hanya mengangguk dan tersenyum. Berusaha berlapang dada menerima kenyataan.
"Nada sayang,,, Semoga kamu dan bayimu kuat." lirihnya sebelum kemudian dia dikejutkan oleh suara biang Dayu.
"Di mana putra dan menantu saya? Apa semua baik baik saja?? Kandungannya bagaimana? Tidak apa apa kan??" biang Dayu memberondong Ody dengan banyak pertanyaan sampai sampai Ody sesak napas mau menjawab yang mana dulu.
"Biang,,, tenangkan diri." titah tegas ajik Artha.
"Biang takut jik." lirih biang Dayu.
Ajik Artha mengusap usap pundaknya memberi ketenangan. Setelah biang Dayu agak tenang, baru ajik Artha bertanya kepada Ody.
"Kamu tau di mana mereka?"
"Baru saja suster meminta keluarga pasien untuk bertemu dokter bapak. Jadi putra anda masuk. Belum keluar lagi." jawab Ody sopan.
__ADS_1
"Baiklah. Selaku keluarga dari Nada juga, saya ingin kamu tetap di sini. Siapa tau kehadiranmu juga diperlukan Nada. Selama ini setau kami ia sendirian. Senang akhirnya ia menemukan keluarganya. Tapi, itu kalau kamu tidak keberatan." ucap ajik Artha.
"Tentu tidak bapak. Saya akan menemani di sini." jawab Ody yakin.
"Kabari juga ibumu. Jangan sampai beliau khawatir karena putranya tidak kunjung pulang."
"Baik bapak."
Sambil menghubungi mamanya, Ody sempat memperhatikan kedua mertua Nada yang terlihat sangat mencemaskan kondisi Nada dan calon bayinya. Beberapa kali mereka berjalan mondar mandir tidak tenang menunggu kabar dari balik pintu di mana Dewa ada di dalam.
"Sebenarnya om kecewa dengan apa yang menimpamu sayang. Melihatmu baru menikah di saat perutmu membesar sempat membuat om marah namun melihat betapa keluarga barumu ini sangat menyayangi calon cucunya, maka om bersyukur." batin Ody berkata lirih.
"Ody!!!" Ody ingin duduk namun mengurungkan niatnya karena mendengar namanya dipanggil seseorang.
Ia memilih mencari sumber suara. Dan matanya membulat melihat sesosok yang sangat dikenalnya.
"Johan?"
"Hai. Senang bertemu denganmu di sini. Bisa bicara sebentar?" pinta dokter Johan yang selama ini menjadi dokternya dan Valencia.
"Tapi,,," Ody sama sekali tak minat meluangkan waktunya untuk dokter Johan.
"Abaikan saja." Ody melengos.
Ia sudah terlalu lelah dengan kondisi kesehatan reproduksinya selama ini.
"Aku bohong selama ini Ody." tegas dokter Johan lagi yang mau tidak mau membuat Ody kembali menoleh kepadanya.
"Maksudmu?" tanya Ody dengan dahi berkerut.
"Semua yang ku katakan kepadamu, semuanya salah. Semuanya bohong. Kamu,,,"
"Tunggu!!!" Ody menghentikan bicara dokter Johan karena ia ingin meminta ijin kepada ajik Artha terlebih dulu untuk pindah tempat agar ia dan dokter Johan lebih leluasa berbicara.
"Silahkan Ody." ujar ajik Artha memberi kesempatan dan waktu karena tampaknya orang berpakaian dokter yang mengajak bicara Ody itu punya urusan penting dengan Ody.
Ody menarik dokter Johan agak menjauh dari tempat ajik Artha.
"Katakan apa maksudmu tadi. Kenapa dengan kesehatanku? Apanya yang salah? Bohong bagaimana?" cecar Ody.
Dokter Johan menghela napas berat sebelum bicara tentang kebenaran.
__ADS_1
"Sebelumnya aku ingin minta maaf kalau selama ini sebenarnya aku punya hubungan istimewa dengan Valencia. Aku,,,"
"Tidak usah bahas itu. Dari dulu aku juga sudah curiga kepada kalian tapi tidak pernah ku ambil pusing. Lagipula aku dan Valencia sudah bercerai." potong Ody cepat karena bukan itu yang ingin didengarnya.
"Maaf. Aku tau kalian bercerai dan karena perceraian kalian itulah keluargaku juga hancur." lirih dokter Johan.
Ody mengerutkan kening mendengarnya. Ia tak paham apa hubungannya dengan kehancuran keluarga dokter Johan.
"Valencia nekad datang menemui istriku dan membeberkan semua fakta perselingkuhan kami selama ini. Itu membuat istriku murka. Ia masih mencintaiku dan mau memaafkanku dengan satu syarat. Aku harus minta maaf padamu dan jujur akan kondisi kesehatanmu yang sebenarnya." ujar dokter Johan.
Ody diam tak menyela. Ia fokus mendengarkan saja. Dokter Johan kembali menarik napas dalam dalam demi bisa mengatakan kebenaran itu.
"Kamu tidak pernah mandul Ody. Sejak awal Valencia mengajakmu menemuiku, kamu tidak mandul. Valencia yang memintaku untuk melanggar kode etik kedokteran dan memberi imbalan dengan tubuhnya. Ia hanya ingin menutupi kebohongan terbesarnya kepadamu tentang operasi angkat rahimnya. Saat ia kunyatakan hamil, itu juga akal akalan kami berdua. Aku yang memberikannya sebuah alat tespack positif milik salah satu pasienku. Ia tak ingin terlihat bersalah dalam hal ini, karenanya ia mengorbankanmu." suara dokter Johan memelan dengan penuh nada bersalah.
"Operasi angkat rahim itu aku sudah tau dan itulah alasan utamaku menceraikannya. Ia sudah berbohong dan itu fatal. Sudah cukup membahas Valencia!! Aku hanya ingin kamu kembali menjelaskan kondisiku saja." ucap Ody dengan nafas tersengal menahan gemuruh dalam dada yang tiba tiba bergelora saat ia menyadari sesuatu.
"Jadi aku normal?"
Dokter Johan mengangguk pelan.
"Tidak mandul?" kembali dokter Johan mengiyakan.
"Artinya aku bisa menghamili perempuan mana pun yang memang tidak memiliki kekurangan???"
"Ia Ody. Kamu saya nyatakan sehat 100% dan bisa membuahi. Itu kondisi kamu yang sebenarnya dari mulai awal kamu datang dan periksa kepadaku. Kondisi itu tidak pernah berubah bahkan sampai saat terakhir kali kalian datang ke tempatku." penegasan dokter Johan itu membuat tubuh Ody seketika melemas.
"Ody,,, Ody,,, kamu tidak apa apa??" dokter Johan cemas melihatnya melemas seketika.
"Tidak. Aku hanya ingin sendiri sekarang. Pergilah. Datangi istrimu dan katakan kepadanya aku memaafkanmu. Binalah kembali keluarga kecilmu. Jauhi Valencia. Ia tak baik untuk siapa pun." lirih Ody mengusir halus.
"Terima kasih Ody. Tapi kamu yakin kamu tidak apa apa?"
Anggukan kepala Ody membuat dokter Johan tak punya alasan lagi untuk tinggal. Ia pun lantas pergi meninggalkan Ody yang masih duduk merenung.
"Kejadian itu adalah sekitar sembilan bulan lalu. Jika saat itu aku melakukan perbuatan tidak senonoh itu kepada Nada,,, bukankah bisa jadi dia tengah mengandung bayiku??"
Tiba tiba pikiran itu terlintas.
...🌸🌸🌸🌸...
...bersambung,,,...
__ADS_1