
...Selamat datang di karya baru author 🥰...
...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...
...Selamat membaca sayang sayangku ...
...❤️❤️❤️...
🌸Pov Dewa🌸
“Biang tidak percaya kamu benar benar melakukannya.“
Ungkapan kekecewaan dari bibir Biang lumayan membuat hati dan diri ini merasa bersalah telah berbohong sekaligus membuat beliau kecewa.
Namun apalah daya diri ini yang terlanjur simpati pada idaman hati.
“Maafkan Dewa, Biang.” Lirihku.
“Bubar semua!! Sudah tidak ada yang bisa ditonton lagi. Kalian juga sudah dengar sendiri semuanya kan? Jadi bagi yang masih ingin membicarakan dan bergunjing tentang kami, silahkan lakukan di kamar masing masing. Puas puaslah membicarakan kami.”
Biang tidak merespon permintaan maafku tadi melainkan malah memberi perintah sekaligus sindiran kepada para penghuni kost. Untungnya beliau tidak perlu mengulang perkataannya atau sampai teriak teriak mengusir mereka karena mereka langsung pergi satu persatu, kembali ke kamar masing masing.
“Biang.”
Kupanggil wanita yang telah mengandung dan melahirkanku itu kala beliau melangkah menjauhi diri ini tanpa kata. Biang menghentikan langkah kakinya, berdiri membelakangiku, hanya menoleh sedikit saja sambil berkata,,,
“Biang kecewa padamu.”
Aku tertunduk lesu. Hanya bisa membiarkan beliau berlalu dari hadapan. Aku tak bisa memaksanya menerima keputusan yang begitu tiba tiba ku ambil ini.
Biarlah Biang pulang dulu.
Kemudian aku ingat ada dua nyawa yang sempat roboh akibat ulahku tadi. Aku memutuskan melihat kondisi mereka. Namun baru akan masuk ke kamar Nada, sebuah bogem mentah ku dapatkan tepat di wajah ini. Belum sempat menyadari siapa yang memukul, kembali wajah terkena serangan lagi. Ku rasakan perih dan darah segar mengalir di sudut bibirku.
“Breng*sek!!! Bang*sat!!” pekik yang memukuliku itu.Dari suaranya, kini aku tau siapa yang memukuliku.
Tentu saja Martin.
__ADS_1
Sang abang angkat yang rasa sayangnya bukan kaleng kaleng kepada Nada. Lelaki yang sempat ku curigai punya niatan buruk pada Nada itu, justru menunjukkan sikap berlawanan. Tapi aku bersyukur untuk itu.
BUGH,, BUGH,,,
Pukulan bertubi tubi terus kudapatkan dari Martin. Biarlah, lelaki ini pasti percaya dengan pernyataanku tadi dan sebagai seorang abang yang sangat menyayangi adiknya, bagiku tak berlebihan jika ia bersikap demikian.
Abang mana yang terima jika adik perempuannya dihamili dan dibiarkan menanggung aib sendiri? Benar bukan?
Namun bukan Martin saja yang merasakan hal demikian. Dari pertama kali tau bahwa Nada berbadan dua, diri ini merasa sangat tidak terima. Bersabar dan berharap kelak pria yang menghamilinya akan datang agar bisa kuhajar habis habisan seperti yang dilakukan Martin terhadapku. Karena aku juga sangat tidak terima idaman hatiku diperlakukan seperti itu.
Habis manis sepah dibuang!! Dasar pecundang!! Dia piker setelah memainkan pedangnya dia bias bebas menyarungkannya kembali dan merasa seolah tak terjadi apa apa???
“Hentikan!!!”
Suara Nada menghentikan gerakan dan pukulan Martin kepadaku. Baik aku dan Martin sama sama menoleh. Sama sama ingin mendekat kepada Nada yang rupanya sudah sadar dari pingsannya.
“Mau apa lo?? Belum puas lo buat dia sengsara selama ini??” Martin menahan langkahku mendekati Nada.
"Bang!! Sudah!!" titah Nada.
"Lo gak apa apa kan Nad??" Martin terlihat begitu mencemaskannya dan aku suka dengan sikapnya itu. Aku senang Nada memiliki pelindung selain aku.
“Terima kasih sebelumnya sudah menyelamatkanku dari pandangan buruk orang orang tapi tidak perlu sampai mengorbankan diri dan masa depanmu hanya untukku. Tapi tolong,,, Jangan menambah deretan panjang hutang budiku kepadamu.Aib ini akibat dari perbuatanku sendiri jadi biar ku tanggung sendiri. Aku dan bayiku,,, Kami, tidak membutuhkanmu.”
Nada menautkan sepuluh jarinya dan dengan derai airmatanya, ia menolak niat baikku menjadi sosok ayah untuk bayinya. Aku maklum dengan alasannya tapi aku tetap tak berniat melepaskannya.
“Mungkin kamu akan baik baik saja tanpa suami. Tapi bayimu?? Belum tentu. Ia butuh status. Baik dalam urusan sipil maupun kehidupan sehari hari. Ia akan dikucilkan jika orang tau asal usulnya yang masih tanda Tanya. Jadi jangan egois. Jangan menolakku. Akan kuanggap dia darah dagingku sendiri.” Ucapku.
“Dew,, aku,,,” Nada masih berusaha menolak jika kulihat dari raut wajahnya tapi segera diri ini menyela lagi,,,
“Menikahlah denganku Nada.”
Hilang sudah Dewa yang biasanya gengsi mengakui perasaannya. Dewa yang ini hanyalah Dewa yang mengikuti kata hatinya.
Nada tertegun. Tidak bergeming. Matanya berkaca kaca. Entah apa yang dipikirkannya saat ini tentangku. Yang jelas aku hanya berusaha melindunginya.
Lain Nada, lain pula sikap Martin. Lelaki yang sudah membuat wajah ini bonyok hanya bisa memandangiku dengan berkedip kedip tanpa henti. Si otak lemot itu pasti belum bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
“Aku,,, A,, Aku,,, aku tidak bisa menikah denganmu. Maaf. Bagaimana pun,,, Kamu bukan ayah dari bayiku dan aku tidak ingin menjebakmu dalam situasi ini. Sekali lagi, aku minta tolong,,, Tolong kalian pergi dari sini. Aku ingin sendiri.” Tanpa menunggu persetujuanku dan Martin, Nada menutup pintu kamarnya.
Aku hanya tertunduk menyesalkan penolakannya. Namun perasaan itu hanya sejenak saja bertengger dihatiku karena selanjutnya aku bisa mengerti kenapa ia menolakku.
Tentu saja karena ia masih terkejut dengan tingkah gilaku hari ini. Dia butuh waktu berpikir ulang. Jadi biarkan ia memiliki quality time untuk itu dulu sementara waktu.
Kulangkahkan kaki ini menuju ke kamar sebelah, kamar Martin, yang masih berdiri kaku menatapku dengan banyak tanya.
“Malam ini gue nginap di kamar lo.” Tukasku mendahuluinya masuk ke kamarnya.
Martin yang masih terlihat bodoh itu masih saja melongo di tempatnya berdiri sedari tadi namun kemudian segera menyusulku masuk.
“Gue gak paham dan lo harus jelasin. Sebenarnya ada apa ini?? Siapa ayah si bayi sebenarnya??” Tanya Martin begitu ia menutup pintu kamarnya.
Aku hanya mengendikkan bahu pertanda aku juga tak tau.
“Bukan lo?” aku menggeleng.
“Trus kenapa lo yang ngaku?” desaknya.
“Gue gak mau kehilangan Maharani lagi.” Jawabku singkat.
“Maharani lagi Maharani lagi. Maha emang udah hilang!!! Buka mata lo!! Nada bukan Maha!! Lo sadar gak sih akibat dari semua ini? Lo bisa kehilangan kasta lo,, lo bisa dikucilkan oleh Biang dan keluarga lo. Dan lagi,, tuh, si Nadanya malah ogah nerima lo. Gak jelas banget kan hidup lo sekarang?? Makanya mikir bro,, mikir dulu sebelum bertindak.” Petuah sok bijak itu hanya ku tanggapi dengan senyuman.
“Biang sama Nada hanya sama sama masih terkejut. Lambat laun juga mereka akan mengerti. Nada bukan tipe wanita yang akan mengorbankan kepentingan dan kebaikan anaknya. Terbukti dari kegigihannya menjaga kehamilannya hingga saat ini meski dirinya terus dirundung duka dan cacian. Dan Biang,,, Biang dan keluargaku juga bukan tipe orang yang tidak mendukung jika putranya ini ingin berbuat baik. Aku hanya perlu menjelaskannya dengan pelan pelan kepada mereka setelah ini. Lagipula, ku rasa setelah tau kebenarannya, mereka tidak akan menyesal atau malu mempunyai menantu hebat seperti Nada.”
Aku sangat yakin dengan pemikiranku itu. Semua hanya butuh waktu,,
“Gue gak paham ma isi kepala lo. Mungkin bogeman gue tadi memang udah bikin beberapa baut di kepala lo lepas. Tapi gue,,, sebagai salah satu orang yang menyayangi Nada, gue mau ucapkan terima kasih buat lo. Gue,,, salut sama lo.” Dengan dilema di hatinya, Martin berkata demikian.
Ia tak membenarkan tindakanku namun ia juga mendukungku.
“Gue juga mau ucap makasih nih buat lo. Bogeman lo sukses bikin gue buruk rupa!!!” gerutuku tapi itu malah membuatnya tertawa senang.
Dasar Martin,,,
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
...Bersambung,,,...