I LOVE YOU, OM ODY

I LOVE YOU, OM ODY
Bersamamu


__ADS_3

...Selamat datang di karya baru author 🥰...


...Jangan lupa tebar bunga, like, komen dan vote buat karya author satu ini ya 🤗...


...Selamat membaca sayang sayangku...


...❤️❤️❤️...


🌸Pov Ody🌸


Villa yang bagus. Dengan pemandangan eksotis yang disuguhkan sepanjang mata memandang. Tapi entah kenapa semua keindahannya ini tidak mampu membuatku melupakan dan mengaburkan bayangan seseorang?


Nada sayang,,, Apa kabar? Kamu di mana sayang? Om rindu.


Bayangan Nada begitu menguat dalam benak sejak aku melihat pengantin wanita yang merupakan menantu bapak Artha. Akhirnya malam ini aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata.


Ku lihat jarum jam sudah menunjukkan pukul empat pagi dan aku belum tertidur sama sekali. Beruntungnya, besok aku belum mulai kerja. Kata bapak Artha, putranya perlu diberikan waktu untuk santai sejenak menikmati bulan madu mereka.


Aku paham dan ku jadikan saja momen santai ini sebagai momen mengingat Nada. Segala kenangan indah bersamanya,,, sifat rakusnya kalau sudah kubuatkan makanan,, canda tawanya,,,


Ah,, Om begitu merindukanmu gadis kecilku. Kembalilah pada om. Seandainya kamu tidak keberatan,, ingin rasanya menjadikanmu pengganti tantemu. Mungkin di matamu, om ini tidak tau malu. Tapi itulah kenyataannya. Om begitu kehilanganmu sayang. Maafkan Om yang begitu terlambat menyadari bahwa Om mencintaimu Nada.


Semoga Tuhan berbaik hati kepadaku. Semoga tuhan berkenan mempertemukan kami lagi. Terlepas dari kejadian malam itu,,, entah apa pun yang sudah kulakukan padanya,,, aku ingin meminta maaf. Aku ingin memperbaiki semuanya. Memulai lagi semuanya dari nol.


Bersamamu Nada,,,


🌸 Pov Dewa🌸


Mentari pagi menerobos masuk ke kamarku dengan beraninya. Mengganggu tidurku dan membuat mata yang masih berat mengerjap berulang ulang kemudian menyipit. Aku sempat merasa heran dengan tubuh yang terasa pegal dan sakit. Tidak biasanya bangun tidur seperti ini. Makin bertambah heran lagi ketika mendapati diri sendiri tertidur di sofa.


Kenapa aku tidur di sofa?


Ku paksa otak yang belum terpasang bautnya untuk berpikir. Sejurus kemudian ketika nyawa sudah terkumpul, aku bisa mengingat semuanya.


Melihat tubuh Na, calon ibu dari anak kami masih berada di ranjang dan tertutup selimut, aku jadi senyum senyum sendiri.


"Ternyata bukan mimpi. Ternyata aku benar benar menikahi Na." gumamku.


Lalu tak lupa menjitak kepala sendiri. Bisa bisanya pikun di hari pertama menjabat sebagai suami dari Nada Esmeralda yang sudah resmi ku persunting kemarin.


Ku hampiri Na. Ia tampak meringkuk kedinginan. Ku kecilkan temperatur Ac yang menunjukkan angka 18. Lalu kembali berjalan menghampirinya. Makin dekat bisa kulihat tubuhnya menggigil. Itu membuatku cemas.

__ADS_1


"Na,,, Bangun sayang. Na kenapa??" ku tempelkan punggung tanganku ke dahinya dan tidak panas sama sekali tapi kenapa ia menggigil seperti orang demam.


"Na,,, Na sakit ini. Ke dokter ya." aku berusaha menarik selimut dan membantunya bangun namun ia menolak. Na menarik selimutnya dan meringkuk kembali.


"Aduh,,, kakak bingung kalau begini. Kakak panggil saja dokternya biar datang dan memeriksa Na ya."


Sebuah helaan di pergelangan tangan ku rasakan ketika tubuh ini sudah memutar hendak keluar. Tangan Na mencengkeram erat pergelangan tanganku.


"Jangan pergi. Di sini saja kak. Temani Na." ucapnya lirih.


Bohong jika aku tak merasa girang mendengarnya. Rasanya ingin lompat lompat kegirangan. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk berlompatan.


"Tapi Na butuh pertolongan segera. Kakak gak bisa apa apa. Kakak bukan dokter." ucapku saking cemasnya.


"Pokoknya kakak di sini saja. Keberadaan kakak di dekat Na, membuat Na lega." ucapnya lagi yang mau tidak mau ku turuti saja dengan perasaan berbunga bunga.


"Baiklah."


Kuposisikan diri ini duduk bersandar tepat di sebelah Na setelah dirinya berusaha menggeser tubuhnya yang makin terasa berat dengan beban perut. Dia beralih agak ke tengah.


"Kak,,," panggilnya lagi.


"Na boleh pinjam tangan kakak?" tanyanya lirih.


"Pinjam? Maksudnya pinjam untuk apa Na?" aku tak paham.


Apa karena masih pagi dan otak belum benar benar sinkron?


"Pinjam. Na pingin pegang dan genggam tangan kakak. Boleh nggak kak?" tanyanya malu malu.


Waaahhh pertanda apakah ini?? Sinyal sinyal cintakah ini?? Aku gak mimpi kan??


Ku tepuk tepuk pipiku demi meyakinkan diri ini kalau aku tidak sedang mimpi. Itu membuat Na memandangku dengan penuh tanya.


"Kak,, Kenapa pipinya dipukul pukul begitu?" tanyanya heran.


"Kakak cuma memastikan kalau kakak gak mimpi hehehe,,," ku garuk kepalaku yang tidak gatal.


"Mimpi?" Na makin keheranan dengan jawabanku tadi.


"Sudahlah lupakan saja. Na mau pegang tangan kakak? Boleh,,, Tentu boleh. Tidak hanya tangan ini,,, semua yang kakak punya juga boleh Na minta. Kakak kan sudah jadi milik Na." ucapku membuat pipi putih istriku itu terlihat merona.

__ADS_1


"Maaf ya kak. Seharusnya Na bangun lebih awal dan menyiapkan segala sesuatu keperluan kakak tapi sedari tadi mood Na tiba tiba buruk sekali. Tidak biasanya Na bangun pagi dengan kondisi begini."


"Tidak apa apa. Jangan meminta maaf. Mungkin ini bawaan bayi kita yang maunya manja manjaan sama ayahnya ini." ku elus perlahan perut buncit yang sudah menjadi penopang kehidupan bayiku dengan tangan kiriku.


"Selamat pagi anak ayah. Jangan rewel dan gangguin ibu lama lama ya. Kalau gangguin ayah, boleh boleh saja." ku beranikan diri sedikit membungkuk dan mengecup perut itu dengan lembut.


Tidak ada penolakan dari Na. Ia malah makin mengeratkan genggamannya di tangan kananku. Ku lihat ia nyaman dengan posisi begitu. Ia bahkan kembali memejamkan mata dan tampaknya mulai tidur kembali.


Bayi ini sepertinya ngidam kasih sayang dariku. Ia begitu manja kepadaku tapi aku senang. Mungkin memang bayi ini ditakdirkan menjadi bayiku meski dengan cara yang tidak langsung berhubungan denganku. Benar,,, ini memang bayiku.


Bayiku,,,


Dia milikku dan tak akan ku biarkan siapa pun termasuk ayah biologisnya mengambilnya dariku. Bukan egosi tapi sudah semestinya lelaki biadab itu mendapatkan balasannya. Jika bukan dari tuhan, maka dariku. Dia pikir setelah sekian lama tak mencari keberadaan Na, tidak menikahinya,,, lantas ia bisa seenaknya mendapatkan Na dan anak ini lagi?


Tidak!! Tidak akan segampang itu. Kecuali,,,


"Maaf kak. Na malah ketiduran lagi." rupanya Na terbangun dan membuat semua lamunanku buyar.


"Kok bangun lagi? Tidur saja lagi ya. Hari ini kakak akan temani Na sepanjang hari sampai Na bosan sendiri." ucapku dengan mengerlingkan mata sebelah.


"Memangnya gak merepotkan kakak?" tanyanya tak percaya begitu saja.


"Sama sekali tidak. Kakak malah senang kalau Na dan anak kita,,, kalian berdua bermanja manja pada kakak. Mau seharian penuh?? 24 jam?? Siap!!!" aku membuat gerakan seperti tengah hormat bendera.


"Memangnya kakak gak kerja?" tanya Na usai dirinya sempat tertawa kecil.


"Kerja sih. Tapi kan masih dalam rangka cuti pernikahan hehehe,,," aku nyengir kuda.


Na tersenyum meski wajahnya terlihat masih pucat. Ku biarkan ia beristirahat lagi dengan tetap menggenggam tanganku. Tak urung itu membuat bulu buluku meremang. Ku rasakan sesuatu di pusat tubuhku bergerak perlahan dan mulai memberontak mencari celah untuk meregangkan otot ototnya. Aku jadi kelimpungan tidak nyaman demi tidak memperlihatkan si boy yang minta berdiri tegak.


Na makin mengeratkan genggamannya sambil sesekali tangan satunya mempermainkan jari jariku.


Duh Na,,, Jangan menggoda kakak begini. Kakak takut pertahanan kakak jebol lho,,, Sabar boy,, belum waktunya kamu beraksi.


Rasanya aku tak ingin waktu berputar. Biarkan saja tetap di titik ini karena aku sangat menikmatinya.


Menikmati waktu bersamamu Na,,,


...🌸🌸🌸🌸...


...bersambung,,,...

__ADS_1


__ADS_2